The holy Mecca

???????????????????????????????

Sudah lama sekali saya ingin bercerita tentang perjalanan menakjubkan yang pernah saya alami awal tahun 2014 lalu. Saya simpan cerita ini sampai saya benar-benar siap menceritakannya, dan selama bulan Ramadhan ini memori itu seringkali bermunculan, membuka kenangan indah yang saya miliki ketika bertamu ke rumahNya.

Saya selalu merinding dan terharu jika mengingat bagaimana perasaan saya ketika melangkahkan kaki menuju masjidil haram di Mekah. Sabtu, 19 Januari 2014 dini hari, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maha besar Allah, saya begitu kagum melihat salah satu kota di Saudi Arabia ini yang tidak pernah tidur. Umat muslim yang datang ke Baitullah seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya. Bagaimana tidak, rumahNya terdapat di kota ini, kota yang menjadi tujuan umat muslim untuk menabung pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Malam itu, doa talbiyah yang dilafadzkan umat muslim yang berjalan beriringan menuju masjid Al-Haram semakin membuat hati saya bergetar. Tanpa terasa, air mata pun mengalir. Alunan doa itu membuat langkah kaki saya semakin bertenaga dan tak sabar ingin segera menjalani ibadah umroh yang harus saya laksanakan malam itu juga begitu tiba di Mekah.

“Labbaikallohumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka laa syarika lak” [Doa Talbiyah]

Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, Aku datang memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu

“Aku datang memenuhi panggilanMu,”

Kalimat itu yang membuat airmata ini mengalir semakin deras. Apakah benar saya datang memenuhi undanganNya? Apakah benar Ia telah mengundangku untuk pulang, ya untuk pulang ke rumah yang pertama diciptakanNya bagi umat manusia untuk beribadah, seperti yang Ia sampaikan dalam surat Ali ‘imran:96

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”

Ya Alloh, begitu besar ni’mat yang Engkau beri. Masih terekam dalam ingatan apa yang saya rasakan ketika memasuki masjid Al Haram. Hati ini menangis seperti seorang anak yang baru saja bertemu orang tuanya setelah sekian lama terpisah, bahkan lebih dari itu. Sebuah bangunan berbentuk kubus, berlapiskan jubah hitam sudah mulai tampak, semakin dekat, semakin dekat…

???????????????????????????????

[Caption: Anggunnya Ka’bah di Masjid Al Haram]

Allohu Akbar!

Betapa agungnya ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia ini. “Maha suci Alloh, Maha besar Alloh, begitu agung rumahMu, begitu cantiknya rumah kami, rumah umat muslim yang dijaga langsung olehMu”.

“Allohumma zid haadzal baita tasyriifan wata’dziiman watakriiman wamahaabatan wazid man syarroffahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasriifan wata’dzhiiman watakriiman wabirran” [doa ketika melihat ka’bah]

Ya Alloh, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran, dan kebaikan.

Hati ini terasa begitu dekat denganNya ketika mata ini dipertemukan dengan ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia. Bismillah, saya memulai melaksanakan ibadah umroh dengan melaksanakan rukun-rukunnya yang diawali dengan ber-thawaf (mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran, dimulai dari hajar aswad). Beberapa hal yang langsung terlintas ketika melebur dalam lautan umat muslim dan melaksanakan thawaf adalah kesetaraan, persatuan, dan persaudaraan.

Doa dalam bahasa Al-qur’an (arab) itulah yang mempersatukan kami ketika sama-sama menjadi tamu Alloh. Dari negara manapun kami berasal, bahasa yang sama-sama kami ucapkan adalah bahasa Al-qur’an. Kami mengelilingi ka’bah berlawanan dengan arah jarum jam, malafadzkan tasbih, tahmid, takbir, sholawat nabi, dan doa keselamatan dunia dan akhirat. Energi itu terpusat di satu titik yang membuat kami seakan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Esa, Sang Maha Agung, Alloh SWT.

Saat putaran keempat, tanpa terasa saya terbawa arus ke arah ka’bah. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa melihatnya dari dekat dan menyentuhnya. Malam itu, saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencium kiswah (kain hitam yang menutupi ka’bah). Halus, harum, dan cantik sekali. “Allohu Akbar, Allohu Akbar” Ya Tuhan, bibir ini tak kuasa berhenti mengagungkan asmaMu dan mengucap syukur. Momen itu kembali menggetarkan hati saya, membuat saya seakan-akan sedang dipelukNya erat dan membuat saya terasa begitu dekat denganNya. Maha besar Alloh!

???????????????????????????????[Caption: Foto di depan Ka’bah setelah melaksanakan ibadah thawaf]

Salah satu rukun umroh sudah selesai saya jalani, dilanjutkan dengan sholat sunnah dua rakaat di belakang maqam Ibrahim (sebuah prasasti yang berisi jejak Nabi Ibrahim ketika membangun ka’bah). Anjuran ini pun sudah disampaikanNya melalui QS. Al-Baqarah:125

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat untuk sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku umtuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”

Menikmati sholat sunnah di belakang maqam Ibrahim mendatangkan ketenangan dan kekhusyukan tersendiri untuk berdialog denganNya, berdoa untuk orang-orang yang dicintai seraya memandangi ka’bah yang begitu indah. Subhanalloh, maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Salah satu rukun umroh yang harus saya laksanakan adalah melakukan sa’i (berlari-lari kecil dari bukit shafa ke bukit Marwah) sebanyak 7 kali. Setelah sa’I, rukun umroh yang terakhir adalah tahalul (mencukur rambut) yang harus dilakukan oleh jama’ah yang sudah selesai menyelesaikan seluruh rukun umroh.

???????????????????????????????[Caption: Suasana setelah melaksanakan ibadah sa’i]

Sebetulnya inti dari ibadah umroh adalah melaksanakan rukun-rukunnya begitu sampai di kota Mekah. Sebelum memasuki kota Mekah, kita harus mengenakan pakaian ihrom dan mengambil niat dari luar kota Mekah. Selebihnya adalah melaksanakan ibadah sehari-hari di kota Mekah dan Madinah. Disinilah umat muslim memiliki keutamaan untuk menabung pahala, karena sholat di masjid Nabawi di kota Madinah memiliki keutamaan 1000 kali dibanding sholat di masjid lainnya, kecuali masjidil haram dan sholat di masjidil haram memiliki keutamaan 100.000 kali dibanding sholat di masjid lainnya. Maha besar Alloh!

Menjalani hari-hari di kota Mekah seakan berada pada zona waktu yang begitu cepat. Empat-lima hari tinggal disana rasanya tidaklah cukup. Waktu yang ada banyak dihabiskan di dalam masjid. Bahkan, hal-hal yang berkaitan dengan persoalan duniawi tidak terlintas sedikit pun dalam benak. Bagaimana tidak, sebelum subuh saya sudah berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat malam hingga waktu subuh dan matahari terbit untuk sholat dhuha. Setelah itu di waktu dzuhur saya kembali ke masjid hingga waktu isya’ tiba, begitu seterusnya. Terkadang, saya melakukan ibadah thawaf.

Memegang Hajar Aswad dan rukun Yamani, dan berdoa di Hijr Ismail adalah kesempatan yang sangat diimpikan bagi seluruh umat muslim ketika datang ke masjidil haram, begitu pun dengan saya. Hajar Aswad adalah sebuah batu yang berasal dari surga. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Hajar Aswad diturunkan dari surga, saat itu warnanya lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa keturunan Adam membuatnya berubah menjadi hitam”

Nantinya, Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian Alloh akan memberinya mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara, memberikan persaksian terhadap orang yang menyentuhnya dengan kebenaran. Itulah keutamaanya yang mendorong umat muslim berlomba-lomba untuk dapat menciumnya. Sayangnya, setelah berusaha semaksimal mungkin saya belum diberi kesempatan olehNya.

Hajar Aswad terletak di salah satu sudut ka’bah, dan sudut itu selalu dipadati oleh umat muslim yang ingin memiliki kesempatan menciumnya. Bisa dibayangkan bukan? Secara logika, akan sulit untuk mencium Hajar Aswad dengan tenang, karena bisa jadi kepala kita didorong dan terluka. Namun, kenyataannya tidak. Beberapa teman yang berhasil mencium Hajar Aswad bercerita bahwa saat kepala mereka masuk dan mencium Hajar Aswad, mereka merasakan kelonggaran dan ketenangan karena tidak ada yang mengganggu sedikit pun. Ketika kepala keluar, barulah harus berjuang kembali untuk menyingkir dari keramaian. Subhanalloh!

Ada hal menarik yang saya alami ketika mencoba kembali untuk mencium Hajar Aswad. Saat itu, saya menyempatkan thawaf sebelum sholat subuh dan kembali mencoba menerobos kerumunan untuk mencium Hajar Aswad. Namun, saya dan sahabat saya-Ita terjepit di antara umat muslim yang juga ingin mencium Hajar Aswad. Kami tidak dapat bergerak sama sekali hingga tiba-tiba kami menyadari bahwa kami berada di antara Hajar Aswad dan pintu ka’bah yang dikenal dengan Multazam. Tempat itu sangat baik untuk berdoa. Alhamdulillah, meski tidak dapat mencium Hajar Aswad, namun kami dapat berdoa apapun di Multazam. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak berhasil mencium Hajar Aswad, Alhamdulillah saya bisa sholat di dalam Hijr Ismail, yaitu tempat dimana Nabi Ibrahim meletakkan istrinya Hajar dan putranya Ismail, ketika ia membawa mereka ke Mekah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Jika engkau ingin masuk ke Baitullah, maka sholatlah di sini (Hijr) karena ini adalah bagian dari Baitullah, karena kaummu menguranginya di saat membangunnya kembali”

Inilah keutamaannya, sholat di dalam Hijr Ismail sama dengan kita sholat di dalam ka’bah. Lagi-lagi, butuh perjuangan untuk dapat sholat di dalamnya karena selurum umat muslim berebut ingin memperoleh keutamaan sholat di Hijr Ismail. Setelah berusaha, Alhamdulillah saya sempat mengecap indahnya sholat di dalam ka’bah dan berdoa sambil menatap ka’bah dari dekat.

???????????????????????????????[Caption: Hijr Ismail (pondasi setengah lingkaran)]

Hari demi hari saya jalani dengan penuh suka cita. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk terus mengenali Alloh SWT, Tuhan yang Maha Esa, tunggal, dan tidak ada sekutu bagiNya. Perjalanan ini membuat saya semakin yakin terhadap agama yang menjadi tuntunan hidup saya saat ini, agama Islam dan meyakini bahwa Alloh SWT adalah Tuhan satu-satunya di dunia dan akhirat.

Saya menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan pembaharuan iman yang akan dirasakan oleh umat muslim setelah menjalani ibadah Haji dan Umroh. Ya, Pembaharuan Iman yang juga saya rasakan, yang membuat saya ingin belajar untuk mengusahakan apapun dalam mengutamakanNya. Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

???????????????????????????????[Caption: Pelataran masjidil Haram]

???????????????????????????????

[Caption: Foto di depan pintu masuk utama Masjidil Haram: King Abdul Aziz]

???????????????????????????????

[Caption: Suasana di dalam Masjidil Haram]

Salam,

At tachriirotul M.

Advertisements

Journey: Madina

I want to go to Mecca and Madina before going anywhere…

Dua kota itu yang ingin saya kunjungi sebelum pergi kemanapun. And I just realized that, 3 months ago. Gak pernah menyangka, doa yang saya pinta sejak awal 2013 lalu betul-betul diberikanNya. Dan Ia memberikan pada waktu yang saya minta – Januari 2014.

Perjalanan ini gak pernah terbayang sebelumnya, karna tabungan pun sebetulnya belum tercukupi sepenuhnya. Dan, Dia pun tak pernah membiarkan mimpi seorang hambaNya, karena Ia akan selalu memberi kemudahan melalui jalan yang lain, yang tak pernah disangka-sangka..

14 Januari 2014,

Saya berkumpul dengan rombongan yang lain di bandara International Soekarno Hatta, terminal 3. Penerbangan Jakarta – Abu dhabi – Jeddah menggunakan Etihad Airways pukul 5 pm dan memakan waktu sekitar 10 jam.

Etihad airways adalah maskapai penerbangan Abu dhabi. Pelayanannya pun sangat memuaskan, apalagi dengan adanya fasilitas hiburan umtuk membunuh kebosanan selama 10 jam di pesawat. Saya menghabiskan beberapa film selama perjalanan. Untuk masalah perut pun tidak usah khawatir karena pramugari tidak pernah berhenti menyodorkan makanan, entah itu snack atau main course yang sangat mengenyangkan dan bersahabat dengan lidah.

Kami tibah di Jeddah 15 Januari 2014 pukul 4 am waktu Jeddah. Disana beberapa orang sudah tampak mengenakan pakaian ihrom (pakaian untuk umroh). Rombongan kami belum mengenakan pakaian ihrom karena tujuan pertama kami adalah ke kota Nabi Muhammad SAW, Madina. Dari Jeddah ke Madina membutuhkan waktu sekitar 7 jam menggunakan transportasi darat. Pemandangan yang ditemui sepanjang perjalanan hanya padang pasir, jadi sebaiknya perjalanan Jeddah-Madinah dimanfaatkan untuk beristirahat saja.

Sampai di kota Madina, mata ini sudah tidak bisa dipejamkan lagi, terlebih ketika saya melihat payung masjid Nabawi sudah mulai tampak dari dalam bus. Rasanya, hati ini begitu bahagia dan terharu karena mimpi sudah di depan mata. Betapa anggunnya masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Sayangnya, ketakjuban itu harus ditunda untuk sementara waktu, karena kami harus check in hotel, bersih-bersih badan setelah perjalanan sehari penuh, dan mengisi perut. Kami tiba di Madina sekitar pukul 2 pm. Sayangnya, kami terpaksa sholat dzuhur dan ashar di hotel karena proses check in yang cukup lama.

Nyamannya kota Nabi Muhammad SAW,

???????????????????????????????

Setelah selesei membersihkan badan, adzan maghrib berkumandang. Kami pun bergegas menuju ke masjid untuk mengejar sholat maghrib berjamaah. Ketika berjalan menuju masjid Nabawi, perasaan senang, deg-degan, dan takjub datang bergantian. Bibir ini pun secara spontan mengucap Sholawat, Allohumma Sholli ‘Ala Muhammad, Wa’ala ‘Ali Sayyidina Muhammad, nikmat mana lagi yang bisa kami dustakan ketika memiliki kesempatan beribadah di masjid Nabawi bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW.

Pertama kali menginjakkan kaki di masjid Nabawi, saya cukup terkejut ketika melihat semua pedagang menutup tokonya ketika adzan dikumandangkan. Semua orang berbondong-bondong menuju masjid, berlomba-lomba mendapat shaff di dalam masjid. Saat itu, kami hampir tidak mendapat shaff karena penuh. Namun, kami terus berusaha menerobos ke depan. Rasanya kami tidak rela jika tidak mendapatkan shaff di hari pertama kami sholat di masjid Nabawi. Alhamdulillah, kami memperoleh barisan shaff paling depan dan begitupun pada saat sholat isya.

Subhanalloh, betapa agungnya masjid yang dibangun oleh kekasih Alloh ini dan betapa luar biasanya pemerintah Arab Saudi dalam menjaga dan merawatnya. Saya tertegun saat melihat para petugas kebersihan membersihkan seluruh area masjid. Semuanya bekerja secara professional dan cekatan. Mereka pun begitu tegas kepada pengunjung yang sekiranya menghambat pekerjaannya. Pernah suatu saat, saya sedang menunggu waktu dzuhur di masjid, dan ada beberapa petugas kebersihan sedang berbincang-bincang dengan bahasa yang cukup familiar, bahasa Sunda. Ya, ternyata banyak dari mereka yang merupakan Tenaga Kerja dari Indonesia. Sekiranya temen-temen berkesempatan kesana, sekali-kali bisa memberikan sedekah kepada mereka, meski hanya 1 riyal.

Madina, Kota Nabi Muhammad SAW..

???????????????????????????????

Kenapa Madina dianggap sebagai kota Nabi? Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya,

Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah dan hijrah ke Madina untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW diutus Alloh SWT untuk meninggalkan kota Mekkah untuk berdakwah di kota Madinah. Menjelang hijrah ke Madinah, kaum kafir quraisy berencana ingin membunuh Nabi Muhammad SAW, namun beliau mengelabuhi para pemuda kafir quraisy yang mengepung rumahnya dengan meminta Ali bin Abi Thalib mengenakan jubah miliknya dan tidur di ranjang milik Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menuju Madinah tidak mudah, beliau harus bersembunyi di dalam Gua Tsur yang terletak di selatan kota Makkah selama tiga hari dan menempuh perjalanan selama 7 hari melewati gurun dan padang pasir.

Di kota Madinah inilah Nabi Muhammad SAW membangun peradaban islam. Beliau membangun kota Madinah melalui tiga hal pokok: Membangun masjid, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian damai. Salah satu masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW adalah masjid Nabawi. Masjid ini dibangun di halaman rumah Nabi Muhammad SAW. Pada peristiwa hijrah inilah adzan pertama kali digunakan sebagai panggilan kepada umat muslim untuk menunaikan ibadah sholat.

Cerita di Rawdah,

???????????????????????????????Pintu menuju Rawdah: Suasana para jamaah perempuan sedang menunggu giliran untuk dapat memasuki Rawdah.

Pengalaman mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di Rawdah tidak akan pernah saya lupakan. Rawdah dikenal sebagai taman surga yang merupakan tempat di antara makam dan mimbar Nabi Muhammad SAW yang dibedakan dengan karpet berwarna hijau. Taman surga ini terletak di dalam masjid Nabawi, lebih tepatnya berada di shaff laki-laki. Para jamaah perempuan diberi kesempatan untuk mengunjungi Rawdah selepas sholat subuh dan selepas sholat isya. Rawdah dikenal sebagai tempat mulia dan mustajab untuk berdoa, untuk itulah umat muslim berkeinginan memiliki kesempatan berdoa di Rawdah, begitupun dengan saya.

Saya akui, butuh perjuangan untuk dapat berdoa di Rawdah. Untuk itu, terus niatkan hati agar diberi kesempatan oleh Alloh SWT untuk dapat beribadah di taman surga. Jangan lupa untuk memperbanyak membaca sholawat dan mengucapkan salam kepada kekasih Alloh SWT, Nabi Muhammad SAW. Di Rawdah, berusahalah untuk dapat melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat, sholat hajat, sholat dhuha (jika berkunjung pada saat waktu dhuha), dan sholat taubat. Ohya, untuk menghindari agar tidak terinjak orang lain saat sedang bersujud, sebaiknya ada yang menjaga kita ketika sedang sholat, dan dilakukan bergantian. Seramai apapun keadaan di Rawdah, mereka akan menghargai kita ketika sedang sholat, untuk itu, berdoalah ketika sujud atau sebelum salam. Biasanya, ketika kita sudah salam, para askar akan meminta kita untuk pergi dan bergantian dengan umat muslim yang lain.

Cerita lain tentang Madina…

???????????????????????????????

Selama berada di Madina, saya melihat banyak sekali masyarakat yang berwirausaha dengan berdagang. Setiap pedagang selalu memberikan penawaran terbaiknya dengan ramah, laiknya sedang meawarkan kerjasama kepada klien. Inilah perbedaan yang saya temui disana. Mereka sangat komunikatif dengan pembeli. Ohya, saat ingin membeli sesuatu, cobalah bersikap ramah dan iseng-iseng menawar, karena kadang mereka akan memberi harga lebih murah. Selepas sholat, banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di depan masjid Nabawi. Namun, jangan heran kalau tida-tiba mereka dikejar-kejar oleh Askar (polisi) karena mereka illegal. Harga yang ditawarkan oleh pedagang kaki lima ini memang lebih murah, namun kadang kualitas barang yang ditawarkan memang tidak sebagus di toko. Jadi, harus jeli dalam memilih barang yang akan dibeli ya….

City tour di Madina…

???????????????????????????????

Sudah sampai di Madina, jangan melewatkan kegiatan city tour ya…

Sebagian besar kegiatan city tour dilakukan selama setengah hari untuk mengejar waktu sholat dzuhur di masjid Nabawi. Tempat pertama yang kami datangi adalah masjid Kiblatain, masjid yang memiliki 2 kiblat. Sebelum kiblat mengarah ke Ka’bah (masjidil haram), kiblat umat muslim berada di Baitul Maqdis, Palestina. Disana, kami melaksanakan sholat Tahiyatul masjid dan sholat dhuha. Setelah itu, kami mengunjungi perkebunan kurma untuk belanja oleh-oleh coklat, kurma, kacang, dsb. Kami juga mengunjungi jabal magnet. Di tempat inilah terdapat saah satu keajaiban Alloh SWT. Di jabal magnet terdapat daya tarik menarik yang mempengaruhi laju kendaraan kami. Ketika kami berjalan berlawanan arah dengan medan magnet, laju kendaraan kami melambat meski sudah dengan kecepatan penuh. Namun, ketika kami berjalan searah dengan medan magnet, kendaraan kami melaju kencang hingga kecepatan 140 km/jam, padahal pengemudi tidak menginjak gas. Kami betul-betul tertegun dengan kebesaran Alloh SWT ini…

Berada di Madinah memang membuat hati terasa nyaman, apalagi para penduduk yang begitu ramah menyapa. Sesampai di tanah air pun, saya seringkali rindu ingin kembali lagi. Semoga, kedatangan saya saat itu bukan menjadi kedatangan terakhir bagi saya. Semoga temen-temen juga berkesempatan untuk dapat sholat di masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

[At tachriirotul M.]