The Only Limitation to Your Potential is the Only One You Make

It was around the year, that I had the moment where I called the low point in my life, where I lost the energy to do anything and I have no idea where to go or what to do in the future. Basically I felt that my life was going nowhere.

At the time I just finished my job and the clock was striking 5 pm, I turn off my computer then took my bag. I decided to return home early. I walked to my boarding house with some questions that disturbing my mind. “Why I couldn’t finish my job well?” “Why I haven’t already got a better job?” “Why I still couldn’t find my Passion?” and so on and so on.

Some of the things that happened in my past has triggered me to this kind of thinking. Some of the past events that I considered as a failure moments in my life:

1st,
When I was in Senior high school, I had intention to continue my study in Psychology. But, I don’t like to learn social science such as : Geography, History, or Economy. I have never tried to learn any social science that could give me so much opportunity to enter the Psychology Major. Because of my reluctance and lack of willing on learning those things, so I failed to enter Psychology Major in Gadjah Mada University.

My lack of tenacity made me missed the opportunity to be a psychologist. So I decided to enter another major in Gadjah Mada University, which is Pharmacy.

2nd,
When I was in college, I want to study abroad to earn my master degree. I wanted to apply for a scholarship, but I realized that my English was not good enough to get the scholarship. At that time, I still have 2 years to learn English, but I haven’t tried just because I have no confidence. Until I have graduated from Gadjah Mada University, I have never taken any English course to help me improve my English.

I miss the opportunity to apply for a scholarship, just because I didn’t try to improve my English.

What happened to me at the time was that I was over thinking and put more emphasize on my limitations and use them as an excuse instead of finding a solution.

At the moment of contemplation, I was laying down in my bed and thinking a lot, when I finally decided to open my laptop and surfing the internet. While I was surfing the internet I found this kind of picture!

Famous Failures,
Famous-Failures

Oprah Winfrey was demoted from her job as a news anchor because she “Wasn’t fit for television”. At that time, African Americans were seldom seen on television but Oprah started. What do you think If that time, Oprah was give up to pursue her dream? She would never become a Host of Multi award winning Talk Show and The Most Influential Woman in The World. Currently, She has television network, with name OWN – Oprah Winfrey Networking.

Steve Jobs, at 30 years old he left devastated and depressed after being unceremoniously removed from the company he started. But, he has never stopped to make an innovation and He became a co-founder of Apple Incorporate and co-founder of Pixar Animation Studios.

I love the quote in the picture that said: IF YOU HAVE NEVER FAILED, YOU HAVE NEVER TRIED ANYTHING NEW.

This picture has given me an AHA moment, where I realized that even the highly successful person such as Steve Jobs and Oprah Winfrey have been rejected and experienced the low points some times in their life. The only thing that make them incredible is they never looked back and kept on going.

Now, I decided to shift my way of thinking. Instead of thinking too much about my limitations in English, I need to find a solution to improve my English. So, I decided to join the Toastmaster. I still have no confidence in my English, the first time I decided to join this club. Honestly, I always tried to avoid any kind of roles or opportunities to be a speaker or being in the spotlight. I was hoping and praying for other club members not to choose me.

One day, I had my first opportunity to participated as a contestant in table topic & International Speech Contest, since I decided to join the Toastmaster in October 2013. I only had a month to prepare myself for contest. What I was thinking at the time is how to ran away from the contest. But, the other part of me has convinced me to stay and face the challenge.

Before the contest, I prepared myself by reading a lot of articles and books and did some rehearsal with my friend. I also gave a simple challenge to myself not to make a lot of pauses while delivering the speech. So, I decided to join the contest and I was happy that I finally succeeded to defeat my fear. Also, the other thing that made me happy was my friend who said to me that “Wow, you have improved a lot”.

My experience in joining Toastmaster has given me a huge lesson. That you can find solutions anywhere as long as you want to try. You would never know your potential until you start to try something new.

Just because your school basketball team has rejected you, doesn’t mean that NBA was thinking the same way. Just because the newspaper company told you that you were lacking of imagination doesn’t mean you can stop yourself to become the inspiration and source of imaginations to millions of children around the world. Just because you were not an African American and struggled with poverty and drug addict, doesn’t mean you can not be one of the most famous rapper alive.

So, enjoy your journey in life by trying anything new and positive. You might find your new talent that you might never know you have.

Because the only limitation to your potential is the only one you make

At Tachriirotul M.
Edited by. Niken Setyawati

Advertisements

Mendefinisikan Bahagia,

Jakarta,

Saya jatuh cinta dengan ibukota Indonesia ini. Dulu, saat pertama kali merantau ke Jakarta saya merasa pesimis bisa bertahan disini. Ya, meski sebetulnya saya ingin merasakan hidup bebas sebagai orang dewasa. Rasanya, sudah saatnya saya melepaskan diri dari ketiak orang tua dan menanggung biaya hidup secara mandiri.

Singkat cerita, saya turut memadati ibukota di akhir tahun 2012. Saat itu saya baru saja menjalani sumpah profesi Apoteker di Universitas Gadjah Mada. Seperti fresh graduate lainnya, saya sedang merasakan euphoria mendapat pekerjaan di Jakarta, pusat pemerintahan negara Indonesia. “Saya bisa berangkat sendiri bu,” kalimat itu yang saya ucapkan untuk menanggapi kekhawatiran ibu saat akan melepas putri pertamanya. Maklum, baru kali ini saya tinggal jauh dari ibu dan kedua adik saya. Berbekal alamat dan bantuan Zie, sahabat saya SMA, saya memutuskan berangkat ke Jakarta sendiri.

Saya sempat mengalami shock culture dan harus beradaptasi dengan lingkungan di Jakarta yang serba keras dan mudah tersulut emosi. Mungkin temen-temen bisa membayangkan perbedaan budaya di Jogja dan di Jakarta. Selama ini saya hidup di lingkungan dengan ritme slow motion dan sekarang harus beradaptasi dalam lingkungan yang seakan berjalan mengikuti ritme fast forward. Tapi, memang inilah lingkungan yang saya butuhkan saat itu.

Jika melihat kembali ke belakang, rasanya saya sangat bersyukur karena saat itu saya tidak mudah menyerah dan tidak terpengaruh oleh teman-teman yang beranggapan Jakarta is not a good place to grow, because of the traffic. Tapi, saya selalu meyakinkan diri sendiri kalau saat ini saya sedang membutuhkan tempat seperti Jakarta. Dan ternyata, I found my happiness here !

Semua berawal dari rasa balas dendam terhadap kehidupan saya di Jogja dulu. Ya, sebagai anak perempuan pertama di keluarga, ibu saya termasuk tipe orang tua yang sangat keras dan disiplin. Bisa dibilang saya anak rumahan yang harus tiba di rumah sebelum maghrib dan tidak boleh keluar rumah ketika malam hari, kecuali jika ada keperluan mendesak. Dulu, saya sering iri melihat teman-teman di kampus yang begitu aktif mengikuti kegiatan di luar kuliah. Sedangkan, saya hanya ikut kegiatan Pers Mahasiswa dan itupun setelah melalui negosisasi yang panjang dengan orangtua dan pemimpin redaksi Pers Mahasiswa UGM saat itu.

Seperti ayam baru dilepas dari kandangnya, mungkin itu pepatah yang sangat cocok untuk saya yang sedang menikmati euphoria menjadi anak kos. Rasanya semua aktivitas menjadi tak terbatasi dengan waktu. Out of nowhere, saya kembali ingat tujuan utama bermigrasi ke Jakarta: “Saya ingin membuat hidup saya lebih berwarna dan saya ingin memperkuat karakter diri saya” kalimat itu yang selalu saya tanamkan dalam-dalam di pikiran saya. Untuk urusan self development, saya memang suka lebai, bahkan deklarasi itu saya ketik dan saya bacakan di depan cermin. Terkadang, saya selalu membuat target-target kecil dalam hidup saya dan menulisnya, karena sampai hari ini saya masih ingat betul nasehat guru Bahasa Inggris saat SMA “Impian yang ditulis seakan memiliki power tersendiri, yang dapat memberi energi untuk kamu mewujudkannya.” And I still believe that!

Eventually, tibalah saatnya saya membuat maping kehidupan yang baru di Jakarta. Hal utama yang terlintas dalam pikiran saat itu adalah join dengan komunitas di Jakarta. Saya mulai mencari informasi tentang komunitas yang eksis di Jakarta dan komunitas pertama yang membuat saya jatuh cinta adalah “Komunitas Sukses Mulia” yang diinisiasi oleh Jamil Azzaini. KSM, sebutan akrab Komunitas Sukses Mulia aktif secara virtual dan sering mengadakan kopdar. Namun, karena masih buta arah, saya tidak mengikuti kopdar yang sering diadakan di daerah Jakarta Timur. Saya hanya pernah mengikuti kegiatan KSM sekali saat kegiatan Resolusi untuk negeri. Pada event tersebut, saya berpartisipasi pada lomba pembuatan proposal kegiatan sosial yang aplikatif. Kebetulan sekali, saat itu saya baru saja membuat kegiatan Dream Striver-penyelamat impian, bersama sahabat saya Tris.

Sedikit cerita tentang Dream Striver, kegiatan itu murni bermula dari pertemuan saya dengan anak-anak yang tinggal tidak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Suatu hari, saya sedang sholat maghrib di masjid dekat kantor dan senang sekali melihat anak-anak usia SD yang begitu antusias mengaji. Saya iseng mengajak ngobrol mereka tentang dimana tinggal, dimana sekolah, dan obrolan basa basi lainnya. Sampai akhirnya, saya mendapat cerita ada satu anak di antara mereka yang tidak bersekolah karena tidak memiliki akta kelahiran.

Dari situlah kontak emotional dalam hati saya mulai terjalin, sampai akhirnya saya ingin membantu mereka belajar di hari minggu. Ya, itung-itung untuk memulai mewarnai hidup saya! Ternyata, komitmen itu tidak mudah, karena godaan liburan di hari minggu selalu datang dengan persentase yang lebih besar ketimbang mengajar. Selain itu, saya menjalaninya sendiri yang terkadang membuat saya merasa lelah dan butuh teman yang memiliki semangat yang sama, meskipun terkadang ada beberapa teman kantor yang mau membantu, tapi selalu tidak continue. Lagi-lagi, saya hanya bersemangat seorang diri!

Ikatan batin yang terbentuk antara saya dan anak-anak seakan membuat saya menjadi lebih berguna. Setidaknya, saya tidak nyampah hidup di dunia ini, itu bahasa kasarnya. Sampai pada akhirnya, saya merasa sudah melunasi hutang saya kepada anak-anak untuk mengajaknya jalan-jalan ke museum. I wanna say Thank You to my best friend, Nur Haya Sophia yang sudah membantu saya menyediakan mobil dan mengantar kami jalan-jalan ke kota tua dan masjid Istiqlal. What an unforgettable moment that I ever had! Bayangkan saja, saya membawa sekitar 7 anak yang begitu senang diajak jalan-jalan keliling Jakarta. Saya masih ingat sekali ketika orang tua mereka mengantar dan memasrahkan anak-anaknya kepada kami, bahkan hampir seluruh anggota keluarganya turut mengantar ke mobil. Dan, saya menemukan satu definisi “bahagia” dari ekspresi keceriaan yang terpancar dari wajahnya dan menular di hati saya. I was happy to see them. Saya b-a-h-a-g-i-a.

Image[Caption: Anak-anak dream striver, Sahabat saya Sophia dan adiknya]

Saya menjadi ketagihan untuk tidak nyampah hidup di dunia, sampai akhirnya saya bertemu dengan komunitas Indonesia Menyala. Saya menemukan satu lagi definisi kebahagiaan, ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu: Ingin turut berpartisipasi membantu meningkatkan pendidikan anak-anak di Indonesia. Kami selalu berbagi keresahan terhadap apa yang kami temui, mengurainya, dan mencari solusi. Jika masih mengganjal, kami seakan memiliki PR yang harus segera diselesaikan. Di komunitas inilah saya mulai mengenal untuk tidak hanya pamer eksistensi di social media ketika sudah merasa berbuat sesuatu untuk orang lain. Saya betul-betul belajar berbuat tanpa pamrih dan bagaimana menjawab keresahan dengan kegiatan yang dibutuhkan. I am happy being part of Indonesia Menyala! Saya b-a-h-a-g-i-a.

Image[Caption: Bersama teman-teman di Indonesia Menyala: Dhani, Fitri, Chantika, Feliks, Renny ]

Hampir dua tahun tinggal di Jakarta dan akhirnya saya menemukan warna hidup yang membuat saya bahagia dan ingin terus saya jalani, yaitu: berbagi. Ya, berbagi memang bisa dalam bentuk uang, tapi uang belum tentu membuat orang lain bahagia. Terkadang, kita perlu mengasah empati dengan berinteraksi dengan orang-orang unfortune karena justru kita bisa belajar memaknai hidup dari interaksi dengan mereka, meski hanya dengan berjabat tangan. Ternyata, hidup saya di Jakarta lebih dari sekedar berwarna, it is wonderful!

Image

[Caption: Bersama siswa kelas 5 SD Tanah Sereal saat mengadakan sex education]

Masih ada pertanyaan yang selalu membuntuti pikiran saya: Are you the person you want yourself to be?

I’m not sure, I still find the answer!

Salam,

At tachriirotul M.