Selamat Hari Buku Nasional

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

PicsArt_1400331024979

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

 17 Mei 2014,

Hari ini adalah Hari Buku Nasional, begitulah yang saya tahu dari twitter seorang teman. Rasanya banyak sekali moment yang terlintas di pikiran saya ketika berbicara mengenai buku. Harus diakui, saya belum “menggilai” buku, namun bukan tanpa alasan kenapa “buku” menjadi cukup dekat dengan saya belakangan ini. Selain karena menyukai membaca, ada dua hal yang saya anggap sebagai “part of my life” dalam satu tahun ini, yaitu buku dan anak-anak. Bagaimana tidak, saya berinteraksi dengan keduanya di setiap akhir pekan. Sebetulnya, interaksi itu sangat sederhana karena kami hanya mendampingi anak-anak membaca, menjadi story teller, dan memfasilitasi keingin tahuan mereka.

Ada pertanyaan yang selalu melintas di pikiran saya: Kenapa saya mau melakukan itu?

Entahlah, sepertinya itu akan selalu menjadi pertanyaan retorik tanpa jawaban, karena saya hanya merasa bahagia saat melakukannya, tidak ada kata lain.

Hingar bingar perpustakaan, senyum dan antusias anak-anak ketika meminjam dan mengembalikan buku seolah menyapa saya secara bergantian malam ini. Banyak hal mengejutkan yang seringkali membuat kami tidak menyangka bahwa ternyata Buku memberikan banyak peran dalam pendidikan. Masih ingat pepatah “Buku adalah Jendela Dunia” yang kita kenal sejak di Sekolah Dasar? Ternyata peran buku lebih dari itu. Buku dapat melatih anak-anak untuk bertanggung jawab, dan itulah salah satu kejutan yang kami dapati di ruang interaksi kami.

Pernahkah kita berfikir bahwa buku bisa jadi tidak berfungsi apapun, dan adanya buku tidak dapat diidentikkan dengan minat baca begitu saja. Fungsi buku perlu diaktivasi, salah satunya dengan menumbuhkan kebutuhan membaca. Hal yang menarik dari interaksi yang saya lakukan adalah kondisi sosial-ekonomi di lingkungan tempat saya beraktivitas. Kondisi tersebut memang sangat berpengaruh terhadap sikap anak-anak dan tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan komunitas. Harapannya, melalui buku kami dapat menyalakan semangat belajar dan menanamkan bahwa siapapun berhak memiliki cita-cita.

Untuk mewujudkan harapan itu, kami tidak dapat bekerja sendirian. Masih terngiang betul dalam ingatan sebuah pesan bahwa “Mendidik adalah tugas seorang yang terdidik”. Ya, ini adalah tugas kita semua, orang-orang terdidik. Jadi, #Kapan terakhir Donasi Buku?

Ingat ! Donasi buku tidak sama dengan membuang buku. Jadi, bijaklah dalam memberi.

Selamat malam,

Selamat Hari Buku Nasional….

 

Salam,

At tachriirotul M.

 

Advertisements

“Ambil satu buku dan kau baca”

Sabtu, 23 November 2013

Badan ini rasanya masih lelah setelah mengikuti kegiatan perusahaan yang sedang berulangtahun ke-15. Mata pun masih ingin dipejamkan untuk hibernasi seharian. Namun, matahari pagi itu tampak begitu indah dan cerah, seakan memberi energy semangat buat saya. Senyum dan semangat anak-anak sekolah pun bergantian menyapa, menggusur ego dan rasa malas untuk enggan beranjak dari tempat tidur.

I don’t now, i just felt happy doing my social activity, meski harus berangkat pukul 06.00 pagi dan sampai di Tanah Seral sebelum pukul 07.30. I think, it is what people called with “me time” – my version to re-charge my energy. Pagi itu saya jauh lebih awal sampai di Sekolah, jadi masih bisa melihat semangat anak-anak yang sedang melakukan senam pagi, sekaligus sarapan semangat sebelum mengadakan Kelas Membaca di kelas 3.

Seperti biasa, saya menunggu di ruang guru. Masih sepi, hanya ada satu guru yang sedang memeriksa pekerjaan anak-anak. Beberapa menit kemudian, seorang wali murid masuk, berbisik ke guru tersebut. Kalau tidak salah dengar, wali murid itu meminta ijin untuk mengajak pulang seorang murid. “Ibunya meninggal, kena kanker rahim,” ujarnya. Saya bisa melihat mimik wajah guru tadi berubah, tak lama kemudian keluar beberapa kalimat dari bibirnya. “Padahal baru kemaren kami bicarakan, akhir-akhir ini anak itu gak seperti biasanya. Kasihan, sekarang berarti yatim piatu, padahal dia anak pertama dan masih punya satu adik,” kisahnya.

Saya pun hanya diam membayangkan anak itu, murid kelas 4 yang baru saja ditinggal ibunya, seorang gadis kecil yang kini yatim piatu. Namun, di satu sisi, berita pagi itu seolah mengingatkan saya agar terus bersemangat bertugas selama 6 bulan di Tanah Sereal. Bel sekolah berbunyi, membuyarkan lamunan saya, suara anak-anak pun mulai terdengar. Mereka berlarian memasuki kelas. Satu per satu murid kelas 3 berdatangan dan menyalami kami, tim Penyala Tanah Sereal. Hari itu kami mengadakan Kelas Membaca, kegiatan yang menjadi project pertama kami. Dua minggu yang lalu pun kami sudah mengadakan Kelas Membaca di kelas 1 dan kelas 2. Namun, di kelas 3 kami akan mencoba beberapa materi baru.

Seperti biasa, kami selalu memulai kegiatan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Iqbal, ketua kelas 3 tampak bersemangat memimpin teman-temannya. Sembari tangan diletakkan di dada sebelah kiri, kami melantunkan nyanyian kebangsaan Indonesia itu dengan penuh semangat. “Pasti akan menjadi hari yang istimewa,” gumam saya.

Ya, mereka memang terlihat antusias, apalagi ketika melihat video anak-anak di Aceh yang begitu senang membaca buku. Mereka menyimak dan mencermati isi video dengan mengeja pesan-pesan yang coba disampaikan, seperti: “Buku adalah jendela dunia,” “Buku adalah sumber energy,” “Buku dapat membawaku menjelajah dunia,” “Buku adalah sumber makanan buatku.” Begitulah arti buku untuk anak-anak Sekolah Dasar di Aceh. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa di Jakarta mereka akan lebih mudah memperoleh buku dan informasi melalui media lain seperti internet, sedangkan anak-anak di Aceh tidak. Untuk itu, mereka tidak boleh kalah semangat.

Kegiatan Indonesia Menyala fokus pada literasi anak. Lewat Kelas Membaca kami ingin mengajak murid Sekolah Dasar untuk lebih akrab dengan buku dan suka membaca. Kami pun mengajak anak-anak bermain dengan buku agar mereka lebih akrab dengan buku. Toni, salah seorang murid begitu antusias dengan permainan ini. Ia begitu bersemangat bercerita tentang Kancil, buku yang pernah dibacanya atau Fahri misalnya, ia membacakan cerita seperti yang ada di buku. Bahkan ada seorang murid yang tertarik dengan sebuah gambar yang bercerita tentang profesi arsitek, polisi, dan pilot pesawat. “Polisi itu tugasnya menilang ya kak?” tanyanya. Mungkin, ia sering mendengar berita tentang penilangan pengendara yang menerobos jalur busway, hehe. Dan, ia pun meminta dijelaskan tentang profesi-profesi itu.

Tak terasa, jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Anak-anak sudah terlihat lelah. Kami pun menyanyikan lagu sayonara bersama dan mengucapkan janji. Ya, mulai hari itu kami berjanji akan membaca buku agar bisa memeluk dunia. Pesan kami: Ambil satu buku dan kau baca!

Education is the most powerfull weapon we can use to change the world –Nelson Mandela-

Actually, we need more hands to help them raising their dreams. Let’s donate your 4 hours every week!

IMG_0114

IMG_0174

IMG_0126

Contact us: @attachriirotulM @Penyala ; 087771945049

Salam,

At tachriirotul M.