The miracle of 21st Chromosome

The miracle of 21st Chromosome

It’s an extra chromosome, it’s extra ordinary.

Karena tanggal 21 Maret bertepatan dengan hari Down Syndrome (DS) sedunia, maka saya ingin berbagi sedikit cerita tentang latar belakang DS yang membuat saya tertarik untuk menggali informasinya.

Pernahkah temen-temen mendengar istilah Kromosom ke-21?

Kromosom merupakan sepaket material genetik yang dimiliki oleh setiap individu. Secara normal, manusia memiliki 23 pasang kromosom (46 kromosom) yang diturunkan dari sel telur ibu dan sel sperma ayah, dimana masing-masing sel tersebut memiliki 23 kromosom. Pada case down syndrome, terdapat gangguan proses pembentukan sel reproduksi (sel telur atau sel sperma) sebelum pembuahan. Gangguan tersebut berupa kelebihan pembentukan kromosom ke-21, sehingga menyebabkan jumlah kromosom pada anak down syndrome berjumlah 47 kromosom.

Kromosom tersebut akan berperan dalam proses pembentukan sel yang kemudian akan berkembang menjadi jaringan dan organ-organ vital di dalam tubuh seperti: jantung, paru-paru, hati, otak, dsb. Material genetik akan terus berperan dalam proses perkembangan tubuh manusia seumur hidupnya. Adanya ekstra kromosom di dalam tubuh anak down syndrome menyebabkan proses perkembangan sel dan organ tubuh menjadi terhambat. Oleh karena itu, sebagian besar anak down syndrome mengalami gangguan pada beberapa aspek kesehatan seperti: (1) terhambatnya perkembangan otak, sehingga berpengaruh pada intellectual ability (2) gangguan pendengaran (3) gangguan pada saluran pencernaan, termasuk intoleransi terhadap gluten (4) karakteristik fisik seperti: flat face, eyes slanting up, dsb.

Hal yang sangat menarik adalah tidak adanya bukti ilmiah atau hasil penelitian yang dapat menjelaskan penyebab Down Syndrome, baik faktor resiko maupun penyebab khusus seperti faktor lingkungan. Gangguan pembentukan sel reproduksi (sel telur atau sel sperma) terjadi secara acak, namun sebagian besar terjadi pada pembentukan sel telur ibu (95%). Hal ini merupakan sebuah keajaiban Tuhan yang dapat terjadi pada 1 dari 1000 angka kelahiran di dunia (sumber: WHO).

Pada tahun 1900-an, anak down syndrome diprediksi hanya akan hidup selama kurang dari 10 tahun. Sekarang, lebih dari 50% anak down syndrome hidup hingga umur 50 tahun atau lebih. Kondisi down syndrome memang irreversible, namun hal terpenting bagi mereka adalah pendampingan dan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, learning environment yang memfasilitasi mereka untuk berkembang, serta penerimaan sosial. Selain itu, mereka harus melakukan monitor kesehatan fisik dan mental secara rutin.

Salam,

amuyassa

Advertisements

Anak di atas rata-rata

DSCF1898

[Dari kiri: Mayang, Nesa, Stephanie, Indra, Yofan]

Satu per satu aku bertemu dengan anak-anak yang namanya sudah kukenal melalui email, itupun aku terima dari seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Memang seringkali seperti ini, ketika aku mendapat kesempatan untuk melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Siklusnya selalu sama: networking-virtual meeting-direct communication-take an action-maintain relationship, dan aku selalu suka.

***

Sore itu, di tengah pekerjaan yang cukup membosankan, notifikasi email pribadi yang aku terima cukup membuatku kembali bergairah. Email itu memang lebih menarik daripada pekerjaan yang sedang aku selesaikan sore itu dan tentunya membuat naluri analisaku berfungsi (red: stalking). Email yang aku terima adalah email yang menjelaskan peran yang akan aku lakukan di kegiatan sosial pada sebuah organisasi non profit di Jakarta. “Spesial Olympics” itulah kata-kata yang sering aku temui di email yang sedang kubaca dan sayangnya kata itu tidak familiar buatku. Cukup lama aku mencerna isi dari email tersebut karena banyak hal yang belum aku ketahui dan aku sangat terbantu dengan search engine yang memberiku banyak informasi tentang Special Olympics.

Informasi yang aku peroleh dari hasil stalking melalui search engine tidak hanya membuatku menjadi tahu apa itu Special Olympics, namun mendatangkan kekaguman tersendiri pada nama anak-anak yang nantinya akan aku temui selama kurang lebih satu bulan. Hmm, aku mulai merinding membaca prestasi mereka dalam membanggakan Indonesia tercinta di ranah Internasional melalui ajang olimpiade olahraga khusus ini.

Kenapa khusus?

Special Olympics adalah sebuah organisasi internasional di bidang olahraga khusus untuk anak-anak dengan keterbatasan intelektual yang berarti memiliki keterbatasan secara fungsi intelektual dan kemampuan beradaptasi. Secara fungsi intelektual, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam penalaran, pemahaman, dan problem solving. Fungsi ini dapat diukur melalui IQ test, dimana anak-anak dengan keterbatasan fungsi intelektual memiliki IQ 70-75. Sedangkan, keterbatasan kemampuan beradaptasi terdiri dari beberapa kondisi seperti: kemampuan berfikir (keterbatasan dalam penggunaan bahasa, tulisan, waktu, dan arah), kemampuan sosial (keterbatasan dalam hubungan antar personal, tanggung jawab sosial, penerimaan diri, kemampuan dalam mengikuti aturan), serta kemampuan praktik (keterbatasan dalam melakukan rutinitas/daily activity, menjaga kesehatan, melakukan perjalanan, penggunaan uang). [Source : AAIDD – American Association on Intellectual Developmental Disabilities]

Jika tuna rungu memiliki alat bantu pendengaran, tuna netra memiliki alat bantu baca dengan huruf Braille, sedangkan anak berkebutuhan khusus (tuna grahita) hanya perlu pendampingan. That’s the point! PENDAMPINGAN. Dan, dari sinilah organisasi ini bermula.

Sejak tahun 1962, organisasi ini didirikan oleh Eunice Kennedy Shriver, adik dari Presiden Amerika Serikat ke-35 – John F. Kennedy. Saat itu, shriver melihat tidak adanya kesempatan untuk berkembang yang dimiliki oleh adiknya, Rosemary Kennedy yang memiliki keterbatasan intelektual. Keduanya sering melakukan olahraga bersama-sama dan Shriver menyadari bahwa olahraga adalah cara mudah untuk mempersatukan bermacam-macam orang, termasuk memberi ruang bagi adiknya Rosemary untuk berkembang.

Organisasi ini kian berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang dikenal dengan “Special Olympics Indonesia (SOINA),” tempat dimana aku pernah memiliki kesempatan untuk melibatkan diri. Bagiku, organisasi ini begitu mengagumkan karena memberikan wadah kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk tetap berkembang, bersosialisasi, bahkan berprestasi. SOINA memberikan perhatian khusus kepada kelompok minoritas yang terkadang kita tidak menyadari keberadaan mereka. Terkadang, kita tidak pernah peduli atau bahkan memikirkan kelompok minoritas ini di lingkungan sekitar kita. Aku pun demikian, sebelum aku mengenal organisasi ini.

***

Kembali pada cerita bagaimana aku pada akhirnya bertemu dengan mereka. Aku lebih suka menyebutnya sebagai teman baruku. Meski kami baru bertemu dua bulan terakhir ini, namun sikap mereka yang begitu natural membuat kami menjadi begitu dekat. Aku masih ingat betul saat pertama kali bertemu dengan mereka. Sapaan dan senyuman ramahnya seakan melunturkan rasa nervous yang sedang aku alami saat itu karena aku akan bertemu dengan para atlit yang sudah memberikan kontribusinya untuk negeri tercinta ini.

Nesa, Yofan, Indra, Mayang, dan Stephanie

Pertemuanku dengan mereka mematahkan stereotype yang berkembang di masyarakat dalam memandang kelompok minoritas ini. Mereka memiliki karakteristik masing-masing.

Nesa: ia aktif dalam berdiskusi dan selalu antusias untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Ia responsif sekali terhadap hal baru yang membuatnya tertarik untuk menyampaikan pendapatnya. Ia sangat percaya diri. Ia memiliki keinginan yang besar untuk diterima di masyarakat, tidak dipandang berbeda, dan memiliki kesempatan untuk bekerja. Ia selalu bersemangat untuk menyuarakan haknya.

11054424_10203964864138039_6628629361485233258_o

[Nesa bersama salah satu mentor dari Pakistan]

Yofan: ia memiliki potensi yang besar dalam berbagai hal. He is a good story teller, and he dream to inspire people through his words. He always good in delivering idea. Ia juga bagus dalam berpidato. Semangatnya selalu tinggi untuk maju, dan ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di tingkat perguruan tinggi.

10988292_10203964928739654_5357316672277976858_o

[Yofan saat berpidato di Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Indra: ia adalah seorang laki-laki yang pendiam, memang agak sulit untuk membaca dan menyampaikan pendapatnya. Namun, ia sangat bertanggung jawab. He is a good athlete! Saat dia sudah memegang raket bulu tangkis, kemampuannya mengalahkan kepribadiannya yang sangat pendiam. Guest what? Indra akan membawa nama Indonesia pada ajang Special Olympics World Games 2015 di Los Angeles, California pada 25 Juli – 2 Agustus mendatang. Dan, ia akan terbang ke Amerika untuk mempertaruhkan nama negeri tercinta ini pada ajang World Games pada cabang olahraga Bulu Tangkis. Good Luck Indra!

10321729_10203964889698678_988203864097122666_o

[Indra bersama tamu undangan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Mayang: ia seperti kakak untuk anak-anak yang lain. Ia bagus dalam presentasi dan memiliki ide yang cukup bagus dalam menyampaikan gagasan. Ia sangat ramah dan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ia saat ini berkeja di sebuah sekolah sebagai staff administrasi.

10830485_10203964833137264_5668392920281100947_o

[Mayang bersama salah satu board members]

Stephanie: siapa tidak mengenal Stephanie Handojo? Wajahnya beberapa kali menghiasi media Indonesia karena prestasinya sebagai peraih medali emas dalam ajang Special Olympics World Games 2011 di Athens, Greece pada cabang olahraga renang. Gadis 24 tahun ini adalah seorang pejuang tangguh, ia sangat bagus dalam berpidato, bahkan dalam bahasa Inggris. Saat ini, ia memegang peran sebagai International Global Messenger periode 2015-2019 bersama 12 atlit lain dari 12 negara. Ia berhasil melewati tes dan mengalahkan 73 partisipan dari 22 negara bagian dan 39 negara di seluruh dunia (sumber: specialolympics.org). Ia tidak hanya membawa nama Special Olympics, namun juga membawa negara Indonesia. So proud of you Stephanie! Yang lebih membanggakan lagi adalah, She is nice, care and still humble! I adore it!

DSCF2039

[Stephanie saat berpidato pada acara Asia Pacific Conference]

Aku belajar dari mereka bahwa Tuhan memang tidak pernah salah. Terkadang kitalah yang secara tidak sadar menyalahkan Tuhan atas hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kitalah yang menjalankan peran untuk memilih apakah kita hanya akan berhenti menatap ketidaksempurnaan yang ada dan meminta orang lain untuk mengerti keterbatasan yang kita milki. Atau, kita mulai bertindak untuk berubah dan menunjukkan pada orang lain bahwa ketidaksempurnaan fisik bukan tiket menuju kegagalan.

Masih ingat bukan dengan international speaker Nick Vujicic? Meskipun ia hidup tanpa lengan dan kaki, tapi semangatnya mengalahkan ketidaksempurnaannya. Because, your potential is limited only by your excuses!

This is song from Avril Lavigne that dedicated to Special Olympics. The song tittle: “FLY”

Salam,

[At Tachriirotul M.]

Bukan hanya sekedar “aku ingin menikah”

blank

Beberapa hari yang lalu, sahabat terdekat saya resmi menjadi seorang Ibu. Dia baru saja melahirkan putri pertamanya, namun hari ini putrinya harus dirawat di rumah sakit karena kadar bilirubinnya tinggi. Saya sangat terharu saat membaca chat darinya:

“Dedek di rumah sakit dan aku di rumah karena harus makan dan pumping ASI setiap 2 jam sekali, sedangkan suamiku harus bolak balik rumah dan rumah sakit setiap 2 jam untuk mengantar ASI”

Saya percaya, mereka pasangan yang hebat!

Cerita ini menempel terus di pikiran saya dan membuat saya menyadari satu hal: Ini lebih dari sekedar kata-kata “Aku ingin menikah” seperti yang selalu diucapkan oleh saya dan teman-teman lainnya. Saya menjadi semakin ingin belajar untuk memaknai arti “pernikahan” itu sendiri.

Berbicara tentang pernikahan, saya teringat kalimat dari Ayu Utami dalam bukunya “Parasit Lajang” :

“Berkeluarga itu kan tidak boleh main-main, sekali kamu menikah sebaiknya kamu tidak cerai. Sekali kamu punya anak, kamu tidak bisa memasukkannya lagi ke dalam perut dan mengurainya kembali kepada sperma dan sel telur. Berkeluarga adalah kontrak seumur hidup. Artinya, yang mampu silahkan melakukannya”

Mungkin kita bisa menyadari satu hal bahwa memutuskan menikah dan berkeluarga itu memerlukan tanggung jawab yang besar. Lantas, memilih untuk menikah sepertinya tidak boleh main-main karena kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Maka dari itu, yang dibutuhkan adalah kesadaran, bukan paksaan. That’s true, bukan paksaan keluarga apalagi lingkungan sosial.

Saat memutuskan berkeluarga, kita harus siap belajar. Saya percaya bahwa tingkat pendidikan dan kesalehan seseorang tidak linear dengan tingkat keberhasilannya dalam membina rumah tangga. Kita sama-sama menjadi pemain baru dalam fase kehidupan ini, untuk itu kita harus bisa menurunkan ego untuk sama-sama belajar bertanggung jawab.

Sebetulnya, membicarakan tentang pernikahan sepertinya memang agak tricky ya, apalagi yang menulis adalah orang yang belum pernah menikah, hehe. Namun, hari ini saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri apakah sebetulnya saya sudah siap menikah atau belum. Dan, sepertinya perkataan “aku ingin menikah” tidak sama dengan “aku siap menikah”. Menikah itu tentang kesiapan dan niat, bukan tentang status sosial.

Mungkin selama ini kita hanya fokus pada keinginan menikah itu sendiri, sedangkan tanpa disadari kita belum mempersiapkan apapun. Atau mungkin, selama ini kita terlalu fokus mencari pasangan, sedangkan kita lupa mempersiapkan diri dan lupa meminta kepada Tuhan agar dipantaskan. Ohya, mempersiapkan diri itu bukan hanya tentang mempersiapkan materi seperti rumah, kendaraan, penghasilan, dsb., namun juga mempersiapkan batin.

Sangat klise memang ketika banyak motivator mengatakan tentang teori “memantaskan diri”. Awalnya saya sering mengatakan “sedang memantaskan diri” setiap membahas tentang pasangan, menikah, dsb. Namun, yang saya lakukan sebetulnya belum benar-benar berusaha “memantaskan diri” dan sepertinya Tuhan pun melihat saya seperti itu, belum siap untuk menikah.

Coba deh kita pikirkan, sebetulnya mempersiapkan diri itu bisa dilakukan dengan banyak hal, misalnya: Kita mencoba lebih aware dengan lingkungan sekitar, karena awareness harus dilatih agar nantinya kita bisa lebih aware dengan pasangan dan keluarga. Untuk hal ini, saya sedang berusaha keras karena pada dasarnya saya orang yang cukup cuek. Saya belajar untuk lebih aware dengan sahabat-sahabat saya, memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sekitar, dan berusaha untuk tidak mudah melupakan sesuatu. Bagi orang-orang yang memiliki kesulitan untuk mengatakan hal apapun (seperti ketidaknyamanan, dsb), kita harus belajar untuk mengkomunikasikan hal tersebut dengan memulainya dari lingkungan sekitar kita. Komunikasi itu sangat penting dan kurangnya komunikasi menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan rumah tangga.

Di samping itu, kita juga bisa belajar untuk hidup sehat. Kita bisa memulai dari menjaga kesehatan diri kita dengan mengatur pola makan, masak masakan yang sehat, dsb. Sebetulnya banyak sekali proses belajar yang bisa dilakukan. Sebagai wanita muslim misalnya, kita bisa belajar tentang fiqih wanita dan mempelajari bagaimana peran wanita dalam keluarga. Ingat ya, wanita itu berperan penting dalam melahirkan generasi-generasi yang baik dan wanita juga berperan penting dalam keberhasilan seorang laki-laki. Seorang laki-laki juga bisa mempelajari perannya sebagai “pemimpin” dalam keluarga. Because, you will lead your family !

Hmm, it is just my personal opinion tentang proses mempersiapkan diri yang bisa kita lakukan di tengah-tengah usaha mencari pasangan itu sendiri. Kita jangan lupa untuk melibatkanNya dalam setiap usaha yang kita lakukan dengan tidak pernah putus berdoa dan meminta. Percaya, Tuhan pasti akan melihat usaha yang kita lakukan dan melihat bahwa kita sudah “siap” menikah.

Saya sangat suka sekali dengan kutipan kalimat dari salah satu penulis favorite saya, Tere Liye dalam novelnya: RINDU:

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika pun kau akhirnya tidak memiliki, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik”

Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak akan memutus jalan bagi umatNya untuk menikah, karena ini adalah salah satu bentuk ibadah. Kenapa islam sangat menganjurkan umatnya untuk hidup berpasang-pasangan dan memiliki keturunan? Ya, karena dari situlah akan lahir generasi-generasi baru yang akan menjaga bumi ini, masih ingat kan kenapa manusia diciptakan? Karena kita memiliki peran sebagai khalifah di bumi untuk menjaga ciptaanNya, termasuk menjalankan roda pemerintahan, menciptakan inovasi dan kemudahan-kemudahan bagi manusia, menjalankan roda perekonomian, dsb. Wow, ternyata tanggung jawab tersebut tidak main-main kan?

Percayalah,

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah namanya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau tidak bertemu, berarti bukan jodoh. Sederhana sekali.” [Kau, Aku, & Sepucuk Angpau Merah, Tere Liye]

Lantas, mari mempersiapkan diri dengan belajar apapun, sembari menanti kejutan apa yang akan Tuhan hadiahkan untuk orang-orang yang bersabar, yakin, dan optimis!

Salam,

amuyassa

Why do I Love Toastmasters [?]

Sunday, 26 October 2014….

HAPPY BIRTHDAY, Toastmasters International !
Breaking the Ice Since 1924!

???????????????????????????????

It has been 90 years, Toastmasters International was borned in this world. Ralph C. Smedley, founder of Toastmasters International said that In Toastmasters, we learn best in moments of enjoyment and I proved that. It was about a year I joined in this fabulous club and at that time I didn’t realized that Toastmasters will influence my life in a lot of aspect.

When I decided to join in this club last year, I only think that Toastmasters is the place that will help me to improve my English and help me to sharpening my public speaking skill. But, my journey in Toastmasters proved that I got more than my expectation in this learning environment. Yeay, I fall in love with this club and I proud to be part of this big Toastmasters family, especially in Jakarta and in my club, Essential Toastmasters Club.

I just remembered when the first time I came to Essential Toastmasters Club and participated in table topic session, the topic master was TM Ratu Gumelar. She asked me to give my opinion about zombie, but I can not move my tongue and only said “I am sorry, I can not speak anything”. But, all the members were encouraged me to try and made me didn’t felt intimidated.

In Toastmasters, it is not only about public speaking, we learn how to be a good communicator and a good leader. That’s why the tagline of Toastmasters International is : Where leaders are made. The former of Toastmasters International President said that leaders have many important attributes, but the two fundamental and universal are confidence and communication. Toastmasters help us to elevate our communication skill.

So, how we can learn to be a competent communicator in Toastmasters?
In Toastmasters, there are ten projects in basic manual competent communication. Each project has the different objective. It is start from the Ice breaker project that will help us to conquer the fear and nervousness when speak in public. In next project, we learn how to organize our speech from the opening, the body, and the conclusion. Then, we also learn how to deliver speech using body language, vocal variety, and visual aid. In 7th project, we have to research the topic and speech materials and in the end of this project we learn how to inspire the audience. Actually, in the process of completing basic manual project, our confidence will be increased naturally. After completing all the project in basic manual competent communication, we will declared as Competent Communicator from Toastmasters International. And the next journey to be more competent in communication is the journey in completing the advance communication project.

How about the leadership project in Toastmasters?
Beside communication skill, we also learn how to be a good leader by completing Competent Leadership project.
We have to take a part in the Toastmasters organization whether in a club level, area level, or division level. To completing leadership project, I participated in a club organization as a Vice President of Public Relation. My duty is to make an invitation of the meeting, build relationship inside and outside Toastmasters and also to manage all social media of my club. Yeay, I am the person behind my club’s social media on Facebook (Essential Toastmasters), Twitter (@essentialtmc) and Web (essentialtmc.wordpress.com). In this role, I learned how to manage social media to promote my club, because most of people get the information from the website. Beside Vice President of Public Relation, there are some position in club organization like : Club President, Vice President of Education (manage the education program of the club), Vice President of Membership (kind of Human Resource Development, manage the existing and new members), Treasurer, and Secretary.

Honestly, since joining Toastmasters in October 2013, I knew the essence of Competent Leadership Project after conducting the contest. It was about a month ago, I pointed as a Contest Chair of Humorous Speech and Evaluation Contests in Area Level (each area consists of about 5 clubs). At that time, I learned how to conducted the event from finding the venue and contest officers, budgeting, and running the contest itself. It was an unforgettable moment that I had! I learned a lot on how to build a good communication and relationship with people.

Both Communication and Leadership project are the main benefit that we can get in Toastmasters. As I mentioned before, I got a lot of positive things in Toastmasters that influenced a lot of aspect in my life. As a person and as a professional, Toastmasters helped me in developing my self. I learned how to be more responsible in any aspect, even it only small responsibility. I learned how to accept the input from other people and how to delivering the input to other people in a constructive way. I learned how to appreciate people. I learned how to build relationship. And the precious things that I got in Toastmasters are Networking and Family.

20141025_151719 20141025_103601

20141025_103801[With my best friends in Essential, the great speaker Stephen Fernando, and our beloved mom Ibu Mien]

20141025_152850[Essential Toastmasters Family]

HAPPY BIRTHDAY, my beloved Toastmasters !You helped people to grow for 90 years.

Cheers,
At Tachriirotul M.

The Only Limitation to Your Potential is the Only One You Make

It was around the year, that I had the moment where I called the low point in my life, where I lost the energy to do anything and I have no idea where to go or what to do in the future. Basically I felt that my life was going nowhere.

At the time I just finished my job and the clock was striking 5 pm, I turn off my computer then took my bag. I decided to return home early. I walked to my boarding house with some questions that disturbing my mind. “Why I couldn’t finish my job well?” “Why I haven’t already got a better job?” “Why I still couldn’t find my Passion?” and so on and so on.

Some of the things that happened in my past has triggered me to this kind of thinking. Some of the past events that I considered as a failure moments in my life:

1st,
When I was in Senior high school, I had intention to continue my study in Psychology. But, I don’t like to learn social science such as : Geography, History, or Economy. I have never tried to learn any social science that could give me so much opportunity to enter the Psychology Major. Because of my reluctance and lack of willing on learning those things, so I failed to enter Psychology Major in Gadjah Mada University.

My lack of tenacity made me missed the opportunity to be a psychologist. So I decided to enter another major in Gadjah Mada University, which is Pharmacy.

2nd,
When I was in college, I want to study abroad to earn my master degree. I wanted to apply for a scholarship, but I realized that my English was not good enough to get the scholarship. At that time, I still have 2 years to learn English, but I haven’t tried just because I have no confidence. Until I have graduated from Gadjah Mada University, I have never taken any English course to help me improve my English.

I miss the opportunity to apply for a scholarship, just because I didn’t try to improve my English.

What happened to me at the time was that I was over thinking and put more emphasize on my limitations and use them as an excuse instead of finding a solution.

At the moment of contemplation, I was laying down in my bed and thinking a lot, when I finally decided to open my laptop and surfing the internet. While I was surfing the internet I found this kind of picture!

Famous Failures,
Famous-Failures

Oprah Winfrey was demoted from her job as a news anchor because she “Wasn’t fit for television”. At that time, African Americans were seldom seen on television but Oprah started. What do you think If that time, Oprah was give up to pursue her dream? She would never become a Host of Multi award winning Talk Show and The Most Influential Woman in The World. Currently, She has television network, with name OWN – Oprah Winfrey Networking.

Steve Jobs, at 30 years old he left devastated and depressed after being unceremoniously removed from the company he started. But, he has never stopped to make an innovation and He became a co-founder of Apple Incorporate and co-founder of Pixar Animation Studios.

I love the quote in the picture that said: IF YOU HAVE NEVER FAILED, YOU HAVE NEVER TRIED ANYTHING NEW.

This picture has given me an AHA moment, where I realized that even the highly successful person such as Steve Jobs and Oprah Winfrey have been rejected and experienced the low points some times in their life. The only thing that make them incredible is they never looked back and kept on going.

Now, I decided to shift my way of thinking. Instead of thinking too much about my limitations in English, I need to find a solution to improve my English. So, I decided to join the Toastmaster. I still have no confidence in my English, the first time I decided to join this club. Honestly, I always tried to avoid any kind of roles or opportunities to be a speaker or being in the spotlight. I was hoping and praying for other club members not to choose me.

One day, I had my first opportunity to participated as a contestant in table topic & International Speech Contest, since I decided to join the Toastmaster in October 2013. I only had a month to prepare myself for contest. What I was thinking at the time is how to ran away from the contest. But, the other part of me has convinced me to stay and face the challenge.

Before the contest, I prepared myself by reading a lot of articles and books and did some rehearsal with my friend. I also gave a simple challenge to myself not to make a lot of pauses while delivering the speech. So, I decided to join the contest and I was happy that I finally succeeded to defeat my fear. Also, the other thing that made me happy was my friend who said to me that “Wow, you have improved a lot”.

My experience in joining Toastmaster has given me a huge lesson. That you can find solutions anywhere as long as you want to try. You would never know your potential until you start to try something new.

Just because your school basketball team has rejected you, doesn’t mean that NBA was thinking the same way. Just because the newspaper company told you that you were lacking of imagination doesn’t mean you can stop yourself to become the inspiration and source of imaginations to millions of children around the world. Just because you were not an African American and struggled with poverty and drug addict, doesn’t mean you can not be one of the most famous rapper alive.

So, enjoy your journey in life by trying anything new and positive. You might find your new talent that you might never know you have.

Because the only limitation to your potential is the only one you make

At Tachriirotul M.
Edited by. Niken Setyawati

The holy Mecca

???????????????????????????????

Sudah lama sekali saya ingin bercerita tentang perjalanan menakjubkan yang pernah saya alami awal tahun 2014 lalu. Saya simpan cerita ini sampai saya benar-benar siap menceritakannya, dan selama bulan Ramadhan ini memori itu seringkali bermunculan, membuka kenangan indah yang saya miliki ketika bertamu ke rumahNya.

Saya selalu merinding dan terharu jika mengingat bagaimana perasaan saya ketika melangkahkan kaki menuju masjidil haram di Mekah. Sabtu, 19 Januari 2014 dini hari, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maha besar Allah, saya begitu kagum melihat salah satu kota di Saudi Arabia ini yang tidak pernah tidur. Umat muslim yang datang ke Baitullah seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya. Bagaimana tidak, rumahNya terdapat di kota ini, kota yang menjadi tujuan umat muslim untuk menabung pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Malam itu, doa talbiyah yang dilafadzkan umat muslim yang berjalan beriringan menuju masjid Al-Haram semakin membuat hati saya bergetar. Tanpa terasa, air mata pun mengalir. Alunan doa itu membuat langkah kaki saya semakin bertenaga dan tak sabar ingin segera menjalani ibadah umroh yang harus saya laksanakan malam itu juga begitu tiba di Mekah.

“Labbaikallohumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka laa syarika lak” [Doa Talbiyah]

Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, Aku datang memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu

“Aku datang memenuhi panggilanMu,”

Kalimat itu yang membuat airmata ini mengalir semakin deras. Apakah benar saya datang memenuhi undanganNya? Apakah benar Ia telah mengundangku untuk pulang, ya untuk pulang ke rumah yang pertama diciptakanNya bagi umat manusia untuk beribadah, seperti yang Ia sampaikan dalam surat Ali ‘imran:96

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”

Ya Alloh, begitu besar ni’mat yang Engkau beri. Masih terekam dalam ingatan apa yang saya rasakan ketika memasuki masjid Al Haram. Hati ini menangis seperti seorang anak yang baru saja bertemu orang tuanya setelah sekian lama terpisah, bahkan lebih dari itu. Sebuah bangunan berbentuk kubus, berlapiskan jubah hitam sudah mulai tampak, semakin dekat, semakin dekat…

???????????????????????????????

[Caption: Anggunnya Ka’bah di Masjid Al Haram]

Allohu Akbar!

Betapa agungnya ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia ini. “Maha suci Alloh, Maha besar Alloh, begitu agung rumahMu, begitu cantiknya rumah kami, rumah umat muslim yang dijaga langsung olehMu”.

“Allohumma zid haadzal baita tasyriifan wata’dziiman watakriiman wamahaabatan wazid man syarroffahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasriifan wata’dzhiiman watakriiman wabirran” [doa ketika melihat ka’bah]

Ya Alloh, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran, dan kebaikan.

Hati ini terasa begitu dekat denganNya ketika mata ini dipertemukan dengan ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia. Bismillah, saya memulai melaksanakan ibadah umroh dengan melaksanakan rukun-rukunnya yang diawali dengan ber-thawaf (mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran, dimulai dari hajar aswad). Beberapa hal yang langsung terlintas ketika melebur dalam lautan umat muslim dan melaksanakan thawaf adalah kesetaraan, persatuan, dan persaudaraan.

Doa dalam bahasa Al-qur’an (arab) itulah yang mempersatukan kami ketika sama-sama menjadi tamu Alloh. Dari negara manapun kami berasal, bahasa yang sama-sama kami ucapkan adalah bahasa Al-qur’an. Kami mengelilingi ka’bah berlawanan dengan arah jarum jam, malafadzkan tasbih, tahmid, takbir, sholawat nabi, dan doa keselamatan dunia dan akhirat. Energi itu terpusat di satu titik yang membuat kami seakan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Esa, Sang Maha Agung, Alloh SWT.

Saat putaran keempat, tanpa terasa saya terbawa arus ke arah ka’bah. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa melihatnya dari dekat dan menyentuhnya. Malam itu, saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencium kiswah (kain hitam yang menutupi ka’bah). Halus, harum, dan cantik sekali. “Allohu Akbar, Allohu Akbar” Ya Tuhan, bibir ini tak kuasa berhenti mengagungkan asmaMu dan mengucap syukur. Momen itu kembali menggetarkan hati saya, membuat saya seakan-akan sedang dipelukNya erat dan membuat saya terasa begitu dekat denganNya. Maha besar Alloh!

???????????????????????????????[Caption: Foto di depan Ka’bah setelah melaksanakan ibadah thawaf]

Salah satu rukun umroh sudah selesai saya jalani, dilanjutkan dengan sholat sunnah dua rakaat di belakang maqam Ibrahim (sebuah prasasti yang berisi jejak Nabi Ibrahim ketika membangun ka’bah). Anjuran ini pun sudah disampaikanNya melalui QS. Al-Baqarah:125

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat untuk sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku umtuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”

Menikmati sholat sunnah di belakang maqam Ibrahim mendatangkan ketenangan dan kekhusyukan tersendiri untuk berdialog denganNya, berdoa untuk orang-orang yang dicintai seraya memandangi ka’bah yang begitu indah. Subhanalloh, maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Salah satu rukun umroh yang harus saya laksanakan adalah melakukan sa’i (berlari-lari kecil dari bukit shafa ke bukit Marwah) sebanyak 7 kali. Setelah sa’I, rukun umroh yang terakhir adalah tahalul (mencukur rambut) yang harus dilakukan oleh jama’ah yang sudah selesai menyelesaikan seluruh rukun umroh.

???????????????????????????????[Caption: Suasana setelah melaksanakan ibadah sa’i]

Sebetulnya inti dari ibadah umroh adalah melaksanakan rukun-rukunnya begitu sampai di kota Mekah. Sebelum memasuki kota Mekah, kita harus mengenakan pakaian ihrom dan mengambil niat dari luar kota Mekah. Selebihnya adalah melaksanakan ibadah sehari-hari di kota Mekah dan Madinah. Disinilah umat muslim memiliki keutamaan untuk menabung pahala, karena sholat di masjid Nabawi di kota Madinah memiliki keutamaan 1000 kali dibanding sholat di masjid lainnya, kecuali masjidil haram dan sholat di masjidil haram memiliki keutamaan 100.000 kali dibanding sholat di masjid lainnya. Maha besar Alloh!

Menjalani hari-hari di kota Mekah seakan berada pada zona waktu yang begitu cepat. Empat-lima hari tinggal disana rasanya tidaklah cukup. Waktu yang ada banyak dihabiskan di dalam masjid. Bahkan, hal-hal yang berkaitan dengan persoalan duniawi tidak terlintas sedikit pun dalam benak. Bagaimana tidak, sebelum subuh saya sudah berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat malam hingga waktu subuh dan matahari terbit untuk sholat dhuha. Setelah itu di waktu dzuhur saya kembali ke masjid hingga waktu isya’ tiba, begitu seterusnya. Terkadang, saya melakukan ibadah thawaf.

Memegang Hajar Aswad dan rukun Yamani, dan berdoa di Hijr Ismail adalah kesempatan yang sangat diimpikan bagi seluruh umat muslim ketika datang ke masjidil haram, begitu pun dengan saya. Hajar Aswad adalah sebuah batu yang berasal dari surga. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Hajar Aswad diturunkan dari surga, saat itu warnanya lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa keturunan Adam membuatnya berubah menjadi hitam”

Nantinya, Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian Alloh akan memberinya mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara, memberikan persaksian terhadap orang yang menyentuhnya dengan kebenaran. Itulah keutamaanya yang mendorong umat muslim berlomba-lomba untuk dapat menciumnya. Sayangnya, setelah berusaha semaksimal mungkin saya belum diberi kesempatan olehNya.

Hajar Aswad terletak di salah satu sudut ka’bah, dan sudut itu selalu dipadati oleh umat muslim yang ingin memiliki kesempatan menciumnya. Bisa dibayangkan bukan? Secara logika, akan sulit untuk mencium Hajar Aswad dengan tenang, karena bisa jadi kepala kita didorong dan terluka. Namun, kenyataannya tidak. Beberapa teman yang berhasil mencium Hajar Aswad bercerita bahwa saat kepala mereka masuk dan mencium Hajar Aswad, mereka merasakan kelonggaran dan ketenangan karena tidak ada yang mengganggu sedikit pun. Ketika kepala keluar, barulah harus berjuang kembali untuk menyingkir dari keramaian. Subhanalloh!

Ada hal menarik yang saya alami ketika mencoba kembali untuk mencium Hajar Aswad. Saat itu, saya menyempatkan thawaf sebelum sholat subuh dan kembali mencoba menerobos kerumunan untuk mencium Hajar Aswad. Namun, saya dan sahabat saya-Ita terjepit di antara umat muslim yang juga ingin mencium Hajar Aswad. Kami tidak dapat bergerak sama sekali hingga tiba-tiba kami menyadari bahwa kami berada di antara Hajar Aswad dan pintu ka’bah yang dikenal dengan Multazam. Tempat itu sangat baik untuk berdoa. Alhamdulillah, meski tidak dapat mencium Hajar Aswad, namun kami dapat berdoa apapun di Multazam. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak berhasil mencium Hajar Aswad, Alhamdulillah saya bisa sholat di dalam Hijr Ismail, yaitu tempat dimana Nabi Ibrahim meletakkan istrinya Hajar dan putranya Ismail, ketika ia membawa mereka ke Mekah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Jika engkau ingin masuk ke Baitullah, maka sholatlah di sini (Hijr) karena ini adalah bagian dari Baitullah, karena kaummu menguranginya di saat membangunnya kembali”

Inilah keutamaannya, sholat di dalam Hijr Ismail sama dengan kita sholat di dalam ka’bah. Lagi-lagi, butuh perjuangan untuk dapat sholat di dalamnya karena selurum umat muslim berebut ingin memperoleh keutamaan sholat di Hijr Ismail. Setelah berusaha, Alhamdulillah saya sempat mengecap indahnya sholat di dalam ka’bah dan berdoa sambil menatap ka’bah dari dekat.

???????????????????????????????[Caption: Hijr Ismail (pondasi setengah lingkaran)]

Hari demi hari saya jalani dengan penuh suka cita. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk terus mengenali Alloh SWT, Tuhan yang Maha Esa, tunggal, dan tidak ada sekutu bagiNya. Perjalanan ini membuat saya semakin yakin terhadap agama yang menjadi tuntunan hidup saya saat ini, agama Islam dan meyakini bahwa Alloh SWT adalah Tuhan satu-satunya di dunia dan akhirat.

Saya menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan pembaharuan iman yang akan dirasakan oleh umat muslim setelah menjalani ibadah Haji dan Umroh. Ya, Pembaharuan Iman yang juga saya rasakan, yang membuat saya ingin belajar untuk mengusahakan apapun dalam mengutamakanNya. Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

???????????????????????????????[Caption: Pelataran masjidil Haram]

???????????????????????????????

[Caption: Foto di depan pintu masuk utama Masjidil Haram: King Abdul Aziz]

???????????????????????????????

[Caption: Suasana di dalam Masjidil Haram]

Salam,

At tachriirotul M.

Mendefinisikan Bahagia,

Jakarta,

Saya jatuh cinta dengan ibukota Indonesia ini. Dulu, saat pertama kali merantau ke Jakarta saya merasa pesimis bisa bertahan disini. Ya, meski sebetulnya saya ingin merasakan hidup bebas sebagai orang dewasa. Rasanya, sudah saatnya saya melepaskan diri dari ketiak orang tua dan menanggung biaya hidup secara mandiri.

Singkat cerita, saya turut memadati ibukota di akhir tahun 2012. Saat itu saya baru saja menjalani sumpah profesi Apoteker di Universitas Gadjah Mada. Seperti fresh graduate lainnya, saya sedang merasakan euphoria mendapat pekerjaan di Jakarta, pusat pemerintahan negara Indonesia. “Saya bisa berangkat sendiri bu,” kalimat itu yang saya ucapkan untuk menanggapi kekhawatiran ibu saat akan melepas putri pertamanya. Maklum, baru kali ini saya tinggal jauh dari ibu dan kedua adik saya. Berbekal alamat dan bantuan Zie, sahabat saya SMA, saya memutuskan berangkat ke Jakarta sendiri.

Saya sempat mengalami shock culture dan harus beradaptasi dengan lingkungan di Jakarta yang serba keras dan mudah tersulut emosi. Mungkin temen-temen bisa membayangkan perbedaan budaya di Jogja dan di Jakarta. Selama ini saya hidup di lingkungan dengan ritme slow motion dan sekarang harus beradaptasi dalam lingkungan yang seakan berjalan mengikuti ritme fast forward. Tapi, memang inilah lingkungan yang saya butuhkan saat itu.

Jika melihat kembali ke belakang, rasanya saya sangat bersyukur karena saat itu saya tidak mudah menyerah dan tidak terpengaruh oleh teman-teman yang beranggapan Jakarta is not a good place to grow, because of the traffic. Tapi, saya selalu meyakinkan diri sendiri kalau saat ini saya sedang membutuhkan tempat seperti Jakarta. Dan ternyata, I found my happiness here !

Semua berawal dari rasa balas dendam terhadap kehidupan saya di Jogja dulu. Ya, sebagai anak perempuan pertama di keluarga, ibu saya termasuk tipe orang tua yang sangat keras dan disiplin. Bisa dibilang saya anak rumahan yang harus tiba di rumah sebelum maghrib dan tidak boleh keluar rumah ketika malam hari, kecuali jika ada keperluan mendesak. Dulu, saya sering iri melihat teman-teman di kampus yang begitu aktif mengikuti kegiatan di luar kuliah. Sedangkan, saya hanya ikut kegiatan Pers Mahasiswa dan itupun setelah melalui negosisasi yang panjang dengan orangtua dan pemimpin redaksi Pers Mahasiswa UGM saat itu.

Seperti ayam baru dilepas dari kandangnya, mungkin itu pepatah yang sangat cocok untuk saya yang sedang menikmati euphoria menjadi anak kos. Rasanya semua aktivitas menjadi tak terbatasi dengan waktu. Out of nowhere, saya kembali ingat tujuan utama bermigrasi ke Jakarta: “Saya ingin membuat hidup saya lebih berwarna dan saya ingin memperkuat karakter diri saya” kalimat itu yang selalu saya tanamkan dalam-dalam di pikiran saya. Untuk urusan self development, saya memang suka lebai, bahkan deklarasi itu saya ketik dan saya bacakan di depan cermin. Terkadang, saya selalu membuat target-target kecil dalam hidup saya dan menulisnya, karena sampai hari ini saya masih ingat betul nasehat guru Bahasa Inggris saat SMA “Impian yang ditulis seakan memiliki power tersendiri, yang dapat memberi energi untuk kamu mewujudkannya.” And I still believe that!

Eventually, tibalah saatnya saya membuat maping kehidupan yang baru di Jakarta. Hal utama yang terlintas dalam pikiran saat itu adalah join dengan komunitas di Jakarta. Saya mulai mencari informasi tentang komunitas yang eksis di Jakarta dan komunitas pertama yang membuat saya jatuh cinta adalah “Komunitas Sukses Mulia” yang diinisiasi oleh Jamil Azzaini. KSM, sebutan akrab Komunitas Sukses Mulia aktif secara virtual dan sering mengadakan kopdar. Namun, karena masih buta arah, saya tidak mengikuti kopdar yang sering diadakan di daerah Jakarta Timur. Saya hanya pernah mengikuti kegiatan KSM sekali saat kegiatan Resolusi untuk negeri. Pada event tersebut, saya berpartisipasi pada lomba pembuatan proposal kegiatan sosial yang aplikatif. Kebetulan sekali, saat itu saya baru saja membuat kegiatan Dream Striver-penyelamat impian, bersama sahabat saya Tris.

Sedikit cerita tentang Dream Striver, kegiatan itu murni bermula dari pertemuan saya dengan anak-anak yang tinggal tidak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Suatu hari, saya sedang sholat maghrib di masjid dekat kantor dan senang sekali melihat anak-anak usia SD yang begitu antusias mengaji. Saya iseng mengajak ngobrol mereka tentang dimana tinggal, dimana sekolah, dan obrolan basa basi lainnya. Sampai akhirnya, saya mendapat cerita ada satu anak di antara mereka yang tidak bersekolah karena tidak memiliki akta kelahiran.

Dari situlah kontak emotional dalam hati saya mulai terjalin, sampai akhirnya saya ingin membantu mereka belajar di hari minggu. Ya, itung-itung untuk memulai mewarnai hidup saya! Ternyata, komitmen itu tidak mudah, karena godaan liburan di hari minggu selalu datang dengan persentase yang lebih besar ketimbang mengajar. Selain itu, saya menjalaninya sendiri yang terkadang membuat saya merasa lelah dan butuh teman yang memiliki semangat yang sama, meskipun terkadang ada beberapa teman kantor yang mau membantu, tapi selalu tidak continue. Lagi-lagi, saya hanya bersemangat seorang diri!

Ikatan batin yang terbentuk antara saya dan anak-anak seakan membuat saya menjadi lebih berguna. Setidaknya, saya tidak nyampah hidup di dunia ini, itu bahasa kasarnya. Sampai pada akhirnya, saya merasa sudah melunasi hutang saya kepada anak-anak untuk mengajaknya jalan-jalan ke museum. I wanna say Thank You to my best friend, Nur Haya Sophia yang sudah membantu saya menyediakan mobil dan mengantar kami jalan-jalan ke kota tua dan masjid Istiqlal. What an unforgettable moment that I ever had! Bayangkan saja, saya membawa sekitar 7 anak yang begitu senang diajak jalan-jalan keliling Jakarta. Saya masih ingat sekali ketika orang tua mereka mengantar dan memasrahkan anak-anaknya kepada kami, bahkan hampir seluruh anggota keluarganya turut mengantar ke mobil. Dan, saya menemukan satu definisi “bahagia” dari ekspresi keceriaan yang terpancar dari wajahnya dan menular di hati saya. I was happy to see them. Saya b-a-h-a-g-i-a.

Image[Caption: Anak-anak dream striver, Sahabat saya Sophia dan adiknya]

Saya menjadi ketagihan untuk tidak nyampah hidup di dunia, sampai akhirnya saya bertemu dengan komunitas Indonesia Menyala. Saya menemukan satu lagi definisi kebahagiaan, ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu: Ingin turut berpartisipasi membantu meningkatkan pendidikan anak-anak di Indonesia. Kami selalu berbagi keresahan terhadap apa yang kami temui, mengurainya, dan mencari solusi. Jika masih mengganjal, kami seakan memiliki PR yang harus segera diselesaikan. Di komunitas inilah saya mulai mengenal untuk tidak hanya pamer eksistensi di social media ketika sudah merasa berbuat sesuatu untuk orang lain. Saya betul-betul belajar berbuat tanpa pamrih dan bagaimana menjawab keresahan dengan kegiatan yang dibutuhkan. I am happy being part of Indonesia Menyala! Saya b-a-h-a-g-i-a.

Image[Caption: Bersama teman-teman di Indonesia Menyala: Dhani, Fitri, Chantika, Feliks, Renny ]

Hampir dua tahun tinggal di Jakarta dan akhirnya saya menemukan warna hidup yang membuat saya bahagia dan ingin terus saya jalani, yaitu: berbagi. Ya, berbagi memang bisa dalam bentuk uang, tapi uang belum tentu membuat orang lain bahagia. Terkadang, kita perlu mengasah empati dengan berinteraksi dengan orang-orang unfortune karena justru kita bisa belajar memaknai hidup dari interaksi dengan mereka, meski hanya dengan berjabat tangan. Ternyata, hidup saya di Jakarta lebih dari sekedar berwarna, it is wonderful!

Image

[Caption: Bersama siswa kelas 5 SD Tanah Sereal saat mengadakan sex education]

Masih ada pertanyaan yang selalu membuntuti pikiran saya: Are you the person you want yourself to be?

I’m not sure, I still find the answer!

Salam,

At tachriirotul M.

Selamat Hari Buku Nasional

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

PicsArt_1400331024979

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

 17 Mei 2014,

Hari ini adalah Hari Buku Nasional, begitulah yang saya tahu dari twitter seorang teman. Rasanya banyak sekali moment yang terlintas di pikiran saya ketika berbicara mengenai buku. Harus diakui, saya belum “menggilai” buku, namun bukan tanpa alasan kenapa “buku” menjadi cukup dekat dengan saya belakangan ini. Selain karena menyukai membaca, ada dua hal yang saya anggap sebagai “part of my life” dalam satu tahun ini, yaitu buku dan anak-anak. Bagaimana tidak, saya berinteraksi dengan keduanya di setiap akhir pekan. Sebetulnya, interaksi itu sangat sederhana karena kami hanya mendampingi anak-anak membaca, menjadi story teller, dan memfasilitasi keingin tahuan mereka.

Ada pertanyaan yang selalu melintas di pikiran saya: Kenapa saya mau melakukan itu?

Entahlah, sepertinya itu akan selalu menjadi pertanyaan retorik tanpa jawaban, karena saya hanya merasa bahagia saat melakukannya, tidak ada kata lain.

Hingar bingar perpustakaan, senyum dan antusias anak-anak ketika meminjam dan mengembalikan buku seolah menyapa saya secara bergantian malam ini. Banyak hal mengejutkan yang seringkali membuat kami tidak menyangka bahwa ternyata Buku memberikan banyak peran dalam pendidikan. Masih ingat pepatah “Buku adalah Jendela Dunia” yang kita kenal sejak di Sekolah Dasar? Ternyata peran buku lebih dari itu. Buku dapat melatih anak-anak untuk bertanggung jawab, dan itulah salah satu kejutan yang kami dapati di ruang interaksi kami.

Pernahkah kita berfikir bahwa buku bisa jadi tidak berfungsi apapun, dan adanya buku tidak dapat diidentikkan dengan minat baca begitu saja. Fungsi buku perlu diaktivasi, salah satunya dengan menumbuhkan kebutuhan membaca. Hal yang menarik dari interaksi yang saya lakukan adalah kondisi sosial-ekonomi di lingkungan tempat saya beraktivitas. Kondisi tersebut memang sangat berpengaruh terhadap sikap anak-anak dan tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan komunitas. Harapannya, melalui buku kami dapat menyalakan semangat belajar dan menanamkan bahwa siapapun berhak memiliki cita-cita.

Untuk mewujudkan harapan itu, kami tidak dapat bekerja sendirian. Masih terngiang betul dalam ingatan sebuah pesan bahwa “Mendidik adalah tugas seorang yang terdidik”. Ya, ini adalah tugas kita semua, orang-orang terdidik. Jadi, #Kapan terakhir Donasi Buku?

Ingat ! Donasi buku tidak sama dengan membuang buku. Jadi, bijaklah dalam memberi.

Selamat malam,

Selamat Hari Buku Nasional….

 

Salam,

At tachriirotul M.

 

Journey: Madina

I want to go to Mecca and Madina before going anywhere…

Dua kota itu yang ingin saya kunjungi sebelum pergi kemanapun. And I just realized that, 3 months ago. Gak pernah menyangka, doa yang saya pinta sejak awal 2013 lalu betul-betul diberikanNya. Dan Ia memberikan pada waktu yang saya minta – Januari 2014.

Perjalanan ini gak pernah terbayang sebelumnya, karna tabungan pun sebetulnya belum tercukupi sepenuhnya. Dan, Dia pun tak pernah membiarkan mimpi seorang hambaNya, karena Ia akan selalu memberi kemudahan melalui jalan yang lain, yang tak pernah disangka-sangka..

14 Januari 2014,

Saya berkumpul dengan rombongan yang lain di bandara International Soekarno Hatta, terminal 3. Penerbangan Jakarta – Abu dhabi – Jeddah menggunakan Etihad Airways pukul 5 pm dan memakan waktu sekitar 10 jam.

Etihad airways adalah maskapai penerbangan Abu dhabi. Pelayanannya pun sangat memuaskan, apalagi dengan adanya fasilitas hiburan umtuk membunuh kebosanan selama 10 jam di pesawat. Saya menghabiskan beberapa film selama perjalanan. Untuk masalah perut pun tidak usah khawatir karena pramugari tidak pernah berhenti menyodorkan makanan, entah itu snack atau main course yang sangat mengenyangkan dan bersahabat dengan lidah.

Kami tibah di Jeddah 15 Januari 2014 pukul 4 am waktu Jeddah. Disana beberapa orang sudah tampak mengenakan pakaian ihrom (pakaian untuk umroh). Rombongan kami belum mengenakan pakaian ihrom karena tujuan pertama kami adalah ke kota Nabi Muhammad SAW, Madina. Dari Jeddah ke Madina membutuhkan waktu sekitar 7 jam menggunakan transportasi darat. Pemandangan yang ditemui sepanjang perjalanan hanya padang pasir, jadi sebaiknya perjalanan Jeddah-Madinah dimanfaatkan untuk beristirahat saja.

Sampai di kota Madina, mata ini sudah tidak bisa dipejamkan lagi, terlebih ketika saya melihat payung masjid Nabawi sudah mulai tampak dari dalam bus. Rasanya, hati ini begitu bahagia dan terharu karena mimpi sudah di depan mata. Betapa anggunnya masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Sayangnya, ketakjuban itu harus ditunda untuk sementara waktu, karena kami harus check in hotel, bersih-bersih badan setelah perjalanan sehari penuh, dan mengisi perut. Kami tiba di Madina sekitar pukul 2 pm. Sayangnya, kami terpaksa sholat dzuhur dan ashar di hotel karena proses check in yang cukup lama.

Nyamannya kota Nabi Muhammad SAW,

???????????????????????????????

Setelah selesei membersihkan badan, adzan maghrib berkumandang. Kami pun bergegas menuju ke masjid untuk mengejar sholat maghrib berjamaah. Ketika berjalan menuju masjid Nabawi, perasaan senang, deg-degan, dan takjub datang bergantian. Bibir ini pun secara spontan mengucap Sholawat, Allohumma Sholli ‘Ala Muhammad, Wa’ala ‘Ali Sayyidina Muhammad, nikmat mana lagi yang bisa kami dustakan ketika memiliki kesempatan beribadah di masjid Nabawi bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW.

Pertama kali menginjakkan kaki di masjid Nabawi, saya cukup terkejut ketika melihat semua pedagang menutup tokonya ketika adzan dikumandangkan. Semua orang berbondong-bondong menuju masjid, berlomba-lomba mendapat shaff di dalam masjid. Saat itu, kami hampir tidak mendapat shaff karena penuh. Namun, kami terus berusaha menerobos ke depan. Rasanya kami tidak rela jika tidak mendapatkan shaff di hari pertama kami sholat di masjid Nabawi. Alhamdulillah, kami memperoleh barisan shaff paling depan dan begitupun pada saat sholat isya.

Subhanalloh, betapa agungnya masjid yang dibangun oleh kekasih Alloh ini dan betapa luar biasanya pemerintah Arab Saudi dalam menjaga dan merawatnya. Saya tertegun saat melihat para petugas kebersihan membersihkan seluruh area masjid. Semuanya bekerja secara professional dan cekatan. Mereka pun begitu tegas kepada pengunjung yang sekiranya menghambat pekerjaannya. Pernah suatu saat, saya sedang menunggu waktu dzuhur di masjid, dan ada beberapa petugas kebersihan sedang berbincang-bincang dengan bahasa yang cukup familiar, bahasa Sunda. Ya, ternyata banyak dari mereka yang merupakan Tenaga Kerja dari Indonesia. Sekiranya temen-temen berkesempatan kesana, sekali-kali bisa memberikan sedekah kepada mereka, meski hanya 1 riyal.

Madina, Kota Nabi Muhammad SAW..

???????????????????????????????

Kenapa Madina dianggap sebagai kota Nabi? Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya,

Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah dan hijrah ke Madina untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW diutus Alloh SWT untuk meninggalkan kota Mekkah untuk berdakwah di kota Madinah. Menjelang hijrah ke Madinah, kaum kafir quraisy berencana ingin membunuh Nabi Muhammad SAW, namun beliau mengelabuhi para pemuda kafir quraisy yang mengepung rumahnya dengan meminta Ali bin Abi Thalib mengenakan jubah miliknya dan tidur di ranjang milik Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menuju Madinah tidak mudah, beliau harus bersembunyi di dalam Gua Tsur yang terletak di selatan kota Makkah selama tiga hari dan menempuh perjalanan selama 7 hari melewati gurun dan padang pasir.

Di kota Madinah inilah Nabi Muhammad SAW membangun peradaban islam. Beliau membangun kota Madinah melalui tiga hal pokok: Membangun masjid, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian damai. Salah satu masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW adalah masjid Nabawi. Masjid ini dibangun di halaman rumah Nabi Muhammad SAW. Pada peristiwa hijrah inilah adzan pertama kali digunakan sebagai panggilan kepada umat muslim untuk menunaikan ibadah sholat.

Cerita di Rawdah,

???????????????????????????????Pintu menuju Rawdah: Suasana para jamaah perempuan sedang menunggu giliran untuk dapat memasuki Rawdah.

Pengalaman mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di Rawdah tidak akan pernah saya lupakan. Rawdah dikenal sebagai taman surga yang merupakan tempat di antara makam dan mimbar Nabi Muhammad SAW yang dibedakan dengan karpet berwarna hijau. Taman surga ini terletak di dalam masjid Nabawi, lebih tepatnya berada di shaff laki-laki. Para jamaah perempuan diberi kesempatan untuk mengunjungi Rawdah selepas sholat subuh dan selepas sholat isya. Rawdah dikenal sebagai tempat mulia dan mustajab untuk berdoa, untuk itulah umat muslim berkeinginan memiliki kesempatan berdoa di Rawdah, begitupun dengan saya.

Saya akui, butuh perjuangan untuk dapat berdoa di Rawdah. Untuk itu, terus niatkan hati agar diberi kesempatan oleh Alloh SWT untuk dapat beribadah di taman surga. Jangan lupa untuk memperbanyak membaca sholawat dan mengucapkan salam kepada kekasih Alloh SWT, Nabi Muhammad SAW. Di Rawdah, berusahalah untuk dapat melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat, sholat hajat, sholat dhuha (jika berkunjung pada saat waktu dhuha), dan sholat taubat. Ohya, untuk menghindari agar tidak terinjak orang lain saat sedang bersujud, sebaiknya ada yang menjaga kita ketika sedang sholat, dan dilakukan bergantian. Seramai apapun keadaan di Rawdah, mereka akan menghargai kita ketika sedang sholat, untuk itu, berdoalah ketika sujud atau sebelum salam. Biasanya, ketika kita sudah salam, para askar akan meminta kita untuk pergi dan bergantian dengan umat muslim yang lain.

Cerita lain tentang Madina…

???????????????????????????????

Selama berada di Madina, saya melihat banyak sekali masyarakat yang berwirausaha dengan berdagang. Setiap pedagang selalu memberikan penawaran terbaiknya dengan ramah, laiknya sedang meawarkan kerjasama kepada klien. Inilah perbedaan yang saya temui disana. Mereka sangat komunikatif dengan pembeli. Ohya, saat ingin membeli sesuatu, cobalah bersikap ramah dan iseng-iseng menawar, karena kadang mereka akan memberi harga lebih murah. Selepas sholat, banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di depan masjid Nabawi. Namun, jangan heran kalau tida-tiba mereka dikejar-kejar oleh Askar (polisi) karena mereka illegal. Harga yang ditawarkan oleh pedagang kaki lima ini memang lebih murah, namun kadang kualitas barang yang ditawarkan memang tidak sebagus di toko. Jadi, harus jeli dalam memilih barang yang akan dibeli ya….

City tour di Madina…

???????????????????????????????

Sudah sampai di Madina, jangan melewatkan kegiatan city tour ya…

Sebagian besar kegiatan city tour dilakukan selama setengah hari untuk mengejar waktu sholat dzuhur di masjid Nabawi. Tempat pertama yang kami datangi adalah masjid Kiblatain, masjid yang memiliki 2 kiblat. Sebelum kiblat mengarah ke Ka’bah (masjidil haram), kiblat umat muslim berada di Baitul Maqdis, Palestina. Disana, kami melaksanakan sholat Tahiyatul masjid dan sholat dhuha. Setelah itu, kami mengunjungi perkebunan kurma untuk belanja oleh-oleh coklat, kurma, kacang, dsb. Kami juga mengunjungi jabal magnet. Di tempat inilah terdapat saah satu keajaiban Alloh SWT. Di jabal magnet terdapat daya tarik menarik yang mempengaruhi laju kendaraan kami. Ketika kami berjalan berlawanan arah dengan medan magnet, laju kendaraan kami melambat meski sudah dengan kecepatan penuh. Namun, ketika kami berjalan searah dengan medan magnet, kendaraan kami melaju kencang hingga kecepatan 140 km/jam, padahal pengemudi tidak menginjak gas. Kami betul-betul tertegun dengan kebesaran Alloh SWT ini…

Berada di Madinah memang membuat hati terasa nyaman, apalagi para penduduk yang begitu ramah menyapa. Sesampai di tanah air pun, saya seringkali rindu ingin kembali lagi. Semoga, kedatangan saya saat itu bukan menjadi kedatangan terakhir bagi saya. Semoga temen-temen juga berkesempatan untuk dapat sholat di masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

[At tachriirotul M.]

The Holstee Manifesto: Lifecycle

 

THIS IS YOUR LIFE, Do what you love, and do it Often. If you don’t like Something, CHANGE IT. If you don’t like your Job, QUIT. If you don’t have enough time, stop watching TV. If you are looking for the love of your life, STOP. They will be waiting for you when you START DOING THINGS YOU LOVE. Stop over analyzing, LIFE IS SIMPLE. All emotions are beautiful. When you eat, appreciate every last bite. Open your mind, arms, and heart to new things and people. We Are United in our differences. Ask the next Person you see What their Passion is, and SHARE your Inspiring Dream With Them. TRAVEL OFTEN, Getting Lost will help you find yourself. Some opportunities only come once, seize them. LIFE IS ABOUT THE PEOPLE YOU MEET, AND THE THINGS YOU CREATE WITH THEM, SO GO OUT AND START CREATING. LIFE IS SHORT. Live Your Dream and Share Your PASSION!

-Holstee Manifesto-