The Only Limitation to Your Potential is the Only One You Make

It was around the year, that I had the moment where I called the low point in my life, where I lost the energy to do anything and I have no idea where to go or what to do in the future. Basically I felt that my life was going nowhere.

At the time I just finished my job and the clock was striking 5 pm, I turn off my computer then took my bag. I decided to return home early. I walked to my boarding house with some questions that disturbing my mind. “Why I couldn’t finish my job well?” “Why I haven’t already got a better job?” “Why I still couldn’t find my Passion?” and so on and so on.

Some of the things that happened in my past has triggered me to this kind of thinking. Some of the past events that I considered as a failure moments in my life:

1st,
When I was in Senior high school, I had intention to continue my study in Psychology. But, I don’t like to learn social science such as : Geography, History, or Economy. I have never tried to learn any social science that could give me so much opportunity to enter the Psychology Major. Because of my reluctance and lack of willing on learning those things, so I failed to enter Psychology Major in Gadjah Mada University.

My lack of tenacity made me missed the opportunity to be a psychologist. So I decided to enter another major in Gadjah Mada University, which is Pharmacy.

2nd,
When I was in college, I want to study abroad to earn my master degree. I wanted to apply for a scholarship, but I realized that my English was not good enough to get the scholarship. At that time, I still have 2 years to learn English, but I haven’t tried just because I have no confidence. Until I have graduated from Gadjah Mada University, I have never taken any English course to help me improve my English.

I miss the opportunity to apply for a scholarship, just because I didn’t try to improve my English.

What happened to me at the time was that I was over thinking and put more emphasize on my limitations and use them as an excuse instead of finding a solution.

At the moment of contemplation, I was laying down in my bed and thinking a lot, when I finally decided to open my laptop and surfing the internet. While I was surfing the internet I found this kind of picture!

Famous Failures,
Famous-Failures

Oprah Winfrey was demoted from her job as a news anchor because she “Wasn’t fit for television”. At that time, African Americans were seldom seen on television but Oprah started. What do you think If that time, Oprah was give up to pursue her dream? She would never become a Host of Multi award winning Talk Show and The Most Influential Woman in The World. Currently, She has television network, with name OWN – Oprah Winfrey Networking.

Steve Jobs, at 30 years old he left devastated and depressed after being unceremoniously removed from the company he started. But, he has never stopped to make an innovation and He became a co-founder of Apple Incorporate and co-founder of Pixar Animation Studios.

I love the quote in the picture that said: IF YOU HAVE NEVER FAILED, YOU HAVE NEVER TRIED ANYTHING NEW.

This picture has given me an AHA moment, where I realized that even the highly successful person such as Steve Jobs and Oprah Winfrey have been rejected and experienced the low points some times in their life. The only thing that make them incredible is they never looked back and kept on going.

Now, I decided to shift my way of thinking. Instead of thinking too much about my limitations in English, I need to find a solution to improve my English. So, I decided to join the Toastmaster. I still have no confidence in my English, the first time I decided to join this club. Honestly, I always tried to avoid any kind of roles or opportunities to be a speaker or being in the spotlight. I was hoping and praying for other club members not to choose me.

One day, I had my first opportunity to participated as a contestant in table topic & International Speech Contest, since I decided to join the Toastmaster in October 2013. I only had a month to prepare myself for contest. What I was thinking at the time is how to ran away from the contest. But, the other part of me has convinced me to stay and face the challenge.

Before the contest, I prepared myself by reading a lot of articles and books and did some rehearsal with my friend. I also gave a simple challenge to myself not to make a lot of pauses while delivering the speech. So, I decided to join the contest and I was happy that I finally succeeded to defeat my fear. Also, the other thing that made me happy was my friend who said to me that “Wow, you have improved a lot”.

My experience in joining Toastmaster has given me a huge lesson. That you can find solutions anywhere as long as you want to try. You would never know your potential until you start to try something new.

Just because your school basketball team has rejected you, doesn’t mean that NBA was thinking the same way. Just because the newspaper company told you that you were lacking of imagination doesn’t mean you can stop yourself to become the inspiration and source of imaginations to millions of children around the world. Just because you were not an African American and struggled with poverty and drug addict, doesn’t mean you can not be one of the most famous rapper alive.

So, enjoy your journey in life by trying anything new and positive. You might find your new talent that you might never know you have.

Because the only limitation to your potential is the only one you make

At Tachriirotul M.
Edited by. Niken Setyawati

The holy Mecca

???????????????????????????????

Sudah lama sekali saya ingin bercerita tentang perjalanan menakjubkan yang pernah saya alami awal tahun 2014 lalu. Saya simpan cerita ini sampai saya benar-benar siap menceritakannya, dan selama bulan Ramadhan ini memori itu seringkali bermunculan, membuka kenangan indah yang saya miliki ketika bertamu ke rumahNya.

Saya selalu merinding dan terharu jika mengingat bagaimana perasaan saya ketika melangkahkan kaki menuju masjidil haram di Mekah. Sabtu, 19 Januari 2014 dini hari, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maha besar Allah, saya begitu kagum melihat salah satu kota di Saudi Arabia ini yang tidak pernah tidur. Umat muslim yang datang ke Baitullah seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya. Bagaimana tidak, rumahNya terdapat di kota ini, kota yang menjadi tujuan umat muslim untuk menabung pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Malam itu, doa talbiyah yang dilafadzkan umat muslim yang berjalan beriringan menuju masjid Al-Haram semakin membuat hati saya bergetar. Tanpa terasa, air mata pun mengalir. Alunan doa itu membuat langkah kaki saya semakin bertenaga dan tak sabar ingin segera menjalani ibadah umroh yang harus saya laksanakan malam itu juga begitu tiba di Mekah.

“Labbaikallohumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka laa syarika lak” [Doa Talbiyah]

Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, Aku datang memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu

“Aku datang memenuhi panggilanMu,”

Kalimat itu yang membuat airmata ini mengalir semakin deras. Apakah benar saya datang memenuhi undanganNya? Apakah benar Ia telah mengundangku untuk pulang, ya untuk pulang ke rumah yang pertama diciptakanNya bagi umat manusia untuk beribadah, seperti yang Ia sampaikan dalam surat Ali ‘imran:96

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”

Ya Alloh, begitu besar ni’mat yang Engkau beri. Masih terekam dalam ingatan apa yang saya rasakan ketika memasuki masjid Al Haram. Hati ini menangis seperti seorang anak yang baru saja bertemu orang tuanya setelah sekian lama terpisah, bahkan lebih dari itu. Sebuah bangunan berbentuk kubus, berlapiskan jubah hitam sudah mulai tampak, semakin dekat, semakin dekat…

???????????????????????????????

[Caption: Anggunnya Ka’bah di Masjid Al Haram]

Allohu Akbar!

Betapa agungnya ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia ini. “Maha suci Alloh, Maha besar Alloh, begitu agung rumahMu, begitu cantiknya rumah kami, rumah umat muslim yang dijaga langsung olehMu”.

“Allohumma zid haadzal baita tasyriifan wata’dziiman watakriiman wamahaabatan wazid man syarroffahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasriifan wata’dzhiiman watakriiman wabirran” [doa ketika melihat ka’bah]

Ya Alloh, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran, dan kebaikan.

Hati ini terasa begitu dekat denganNya ketika mata ini dipertemukan dengan ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia. Bismillah, saya memulai melaksanakan ibadah umroh dengan melaksanakan rukun-rukunnya yang diawali dengan ber-thawaf (mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran, dimulai dari hajar aswad). Beberapa hal yang langsung terlintas ketika melebur dalam lautan umat muslim dan melaksanakan thawaf adalah kesetaraan, persatuan, dan persaudaraan.

Doa dalam bahasa Al-qur’an (arab) itulah yang mempersatukan kami ketika sama-sama menjadi tamu Alloh. Dari negara manapun kami berasal, bahasa yang sama-sama kami ucapkan adalah bahasa Al-qur’an. Kami mengelilingi ka’bah berlawanan dengan arah jarum jam, malafadzkan tasbih, tahmid, takbir, sholawat nabi, dan doa keselamatan dunia dan akhirat. Energi itu terpusat di satu titik yang membuat kami seakan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Esa, Sang Maha Agung, Alloh SWT.

Saat putaran keempat, tanpa terasa saya terbawa arus ke arah ka’bah. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa melihatnya dari dekat dan menyentuhnya. Malam itu, saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencium kiswah (kain hitam yang menutupi ka’bah). Halus, harum, dan cantik sekali. “Allohu Akbar, Allohu Akbar” Ya Tuhan, bibir ini tak kuasa berhenti mengagungkan asmaMu dan mengucap syukur. Momen itu kembali menggetarkan hati saya, membuat saya seakan-akan sedang dipelukNya erat dan membuat saya terasa begitu dekat denganNya. Maha besar Alloh!

???????????????????????????????[Caption: Foto di depan Ka’bah setelah melaksanakan ibadah thawaf]

Salah satu rukun umroh sudah selesai saya jalani, dilanjutkan dengan sholat sunnah dua rakaat di belakang maqam Ibrahim (sebuah prasasti yang berisi jejak Nabi Ibrahim ketika membangun ka’bah). Anjuran ini pun sudah disampaikanNya melalui QS. Al-Baqarah:125

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat untuk sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku umtuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”

Menikmati sholat sunnah di belakang maqam Ibrahim mendatangkan ketenangan dan kekhusyukan tersendiri untuk berdialog denganNya, berdoa untuk orang-orang yang dicintai seraya memandangi ka’bah yang begitu indah. Subhanalloh, maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Salah satu rukun umroh yang harus saya laksanakan adalah melakukan sa’i (berlari-lari kecil dari bukit shafa ke bukit Marwah) sebanyak 7 kali. Setelah sa’I, rukun umroh yang terakhir adalah tahalul (mencukur rambut) yang harus dilakukan oleh jama’ah yang sudah selesai menyelesaikan seluruh rukun umroh.

???????????????????????????????[Caption: Suasana setelah melaksanakan ibadah sa’i]

Sebetulnya inti dari ibadah umroh adalah melaksanakan rukun-rukunnya begitu sampai di kota Mekah. Sebelum memasuki kota Mekah, kita harus mengenakan pakaian ihrom dan mengambil niat dari luar kota Mekah. Selebihnya adalah melaksanakan ibadah sehari-hari di kota Mekah dan Madinah. Disinilah umat muslim memiliki keutamaan untuk menabung pahala, karena sholat di masjid Nabawi di kota Madinah memiliki keutamaan 1000 kali dibanding sholat di masjid lainnya, kecuali masjidil haram dan sholat di masjidil haram memiliki keutamaan 100.000 kali dibanding sholat di masjid lainnya. Maha besar Alloh!

Menjalani hari-hari di kota Mekah seakan berada pada zona waktu yang begitu cepat. Empat-lima hari tinggal disana rasanya tidaklah cukup. Waktu yang ada banyak dihabiskan di dalam masjid. Bahkan, hal-hal yang berkaitan dengan persoalan duniawi tidak terlintas sedikit pun dalam benak. Bagaimana tidak, sebelum subuh saya sudah berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat malam hingga waktu subuh dan matahari terbit untuk sholat dhuha. Setelah itu di waktu dzuhur saya kembali ke masjid hingga waktu isya’ tiba, begitu seterusnya. Terkadang, saya melakukan ibadah thawaf.

Memegang Hajar Aswad dan rukun Yamani, dan berdoa di Hijr Ismail adalah kesempatan yang sangat diimpikan bagi seluruh umat muslim ketika datang ke masjidil haram, begitu pun dengan saya. Hajar Aswad adalah sebuah batu yang berasal dari surga. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Hajar Aswad diturunkan dari surga, saat itu warnanya lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa keturunan Adam membuatnya berubah menjadi hitam”

Nantinya, Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian Alloh akan memberinya mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara, memberikan persaksian terhadap orang yang menyentuhnya dengan kebenaran. Itulah keutamaanya yang mendorong umat muslim berlomba-lomba untuk dapat menciumnya. Sayangnya, setelah berusaha semaksimal mungkin saya belum diberi kesempatan olehNya.

Hajar Aswad terletak di salah satu sudut ka’bah, dan sudut itu selalu dipadati oleh umat muslim yang ingin memiliki kesempatan menciumnya. Bisa dibayangkan bukan? Secara logika, akan sulit untuk mencium Hajar Aswad dengan tenang, karena bisa jadi kepala kita didorong dan terluka. Namun, kenyataannya tidak. Beberapa teman yang berhasil mencium Hajar Aswad bercerita bahwa saat kepala mereka masuk dan mencium Hajar Aswad, mereka merasakan kelonggaran dan ketenangan karena tidak ada yang mengganggu sedikit pun. Ketika kepala keluar, barulah harus berjuang kembali untuk menyingkir dari keramaian. Subhanalloh!

Ada hal menarik yang saya alami ketika mencoba kembali untuk mencium Hajar Aswad. Saat itu, saya menyempatkan thawaf sebelum sholat subuh dan kembali mencoba menerobos kerumunan untuk mencium Hajar Aswad. Namun, saya dan sahabat saya-Ita terjepit di antara umat muslim yang juga ingin mencium Hajar Aswad. Kami tidak dapat bergerak sama sekali hingga tiba-tiba kami menyadari bahwa kami berada di antara Hajar Aswad dan pintu ka’bah yang dikenal dengan Multazam. Tempat itu sangat baik untuk berdoa. Alhamdulillah, meski tidak dapat mencium Hajar Aswad, namun kami dapat berdoa apapun di Multazam. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak berhasil mencium Hajar Aswad, Alhamdulillah saya bisa sholat di dalam Hijr Ismail, yaitu tempat dimana Nabi Ibrahim meletakkan istrinya Hajar dan putranya Ismail, ketika ia membawa mereka ke Mekah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Jika engkau ingin masuk ke Baitullah, maka sholatlah di sini (Hijr) karena ini adalah bagian dari Baitullah, karena kaummu menguranginya di saat membangunnya kembali”

Inilah keutamaannya, sholat di dalam Hijr Ismail sama dengan kita sholat di dalam ka’bah. Lagi-lagi, butuh perjuangan untuk dapat sholat di dalamnya karena selurum umat muslim berebut ingin memperoleh keutamaan sholat di Hijr Ismail. Setelah berusaha, Alhamdulillah saya sempat mengecap indahnya sholat di dalam ka’bah dan berdoa sambil menatap ka’bah dari dekat.

???????????????????????????????[Caption: Hijr Ismail (pondasi setengah lingkaran)]

Hari demi hari saya jalani dengan penuh suka cita. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk terus mengenali Alloh SWT, Tuhan yang Maha Esa, tunggal, dan tidak ada sekutu bagiNya. Perjalanan ini membuat saya semakin yakin terhadap agama yang menjadi tuntunan hidup saya saat ini, agama Islam dan meyakini bahwa Alloh SWT adalah Tuhan satu-satunya di dunia dan akhirat.

Saya menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan pembaharuan iman yang akan dirasakan oleh umat muslim setelah menjalani ibadah Haji dan Umroh. Ya, Pembaharuan Iman yang juga saya rasakan, yang membuat saya ingin belajar untuk mengusahakan apapun dalam mengutamakanNya. Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

???????????????????????????????[Caption: Pelataran masjidil Haram]

???????????????????????????????

[Caption: Foto di depan pintu masuk utama Masjidil Haram: King Abdul Aziz]

???????????????????????????????

[Caption: Suasana di dalam Masjidil Haram]

Salam,

At tachriirotul M.

Mendefinisikan Bahagia,

Jakarta,

Saya jatuh cinta dengan ibukota Indonesia ini. Dulu, saat pertama kali merantau ke Jakarta saya merasa pesimis bisa bertahan disini. Ya, meski sebetulnya saya ingin merasakan hidup bebas sebagai orang dewasa. Rasanya, sudah saatnya saya melepaskan diri dari ketiak orang tua dan menanggung biaya hidup secara mandiri.

Singkat cerita, saya turut memadati ibukota di akhir tahun 2012. Saat itu saya baru saja menjalani sumpah profesi Apoteker di Universitas Gadjah Mada. Seperti fresh graduate lainnya, saya sedang merasakan euphoria mendapat pekerjaan di Jakarta, pusat pemerintahan negara Indonesia. “Saya bisa berangkat sendiri bu,” kalimat itu yang saya ucapkan untuk menanggapi kekhawatiran ibu saat akan melepas putri pertamanya. Maklum, baru kali ini saya tinggal jauh dari ibu dan kedua adik saya. Berbekal alamat dan bantuan Zie, sahabat saya SMA, saya memutuskan berangkat ke Jakarta sendiri.

Saya sempat mengalami shock culture dan harus beradaptasi dengan lingkungan di Jakarta yang serba keras dan mudah tersulut emosi. Mungkin temen-temen bisa membayangkan perbedaan budaya di Jogja dan di Jakarta. Selama ini saya hidup di lingkungan dengan ritme slow motion dan sekarang harus beradaptasi dalam lingkungan yang seakan berjalan mengikuti ritme fast forward. Tapi, memang inilah lingkungan yang saya butuhkan saat itu.

Jika melihat kembali ke belakang, rasanya saya sangat bersyukur karena saat itu saya tidak mudah menyerah dan tidak terpengaruh oleh teman-teman yang beranggapan Jakarta is not a good place to grow, because of the traffic. Tapi, saya selalu meyakinkan diri sendiri kalau saat ini saya sedang membutuhkan tempat seperti Jakarta. Dan ternyata, I found my happiness here !

Semua berawal dari rasa balas dendam terhadap kehidupan saya di Jogja dulu. Ya, sebagai anak perempuan pertama di keluarga, ibu saya termasuk tipe orang tua yang sangat keras dan disiplin. Bisa dibilang saya anak rumahan yang harus tiba di rumah sebelum maghrib dan tidak boleh keluar rumah ketika malam hari, kecuali jika ada keperluan mendesak. Dulu, saya sering iri melihat teman-teman di kampus yang begitu aktif mengikuti kegiatan di luar kuliah. Sedangkan, saya hanya ikut kegiatan Pers Mahasiswa dan itupun setelah melalui negosisasi yang panjang dengan orangtua dan pemimpin redaksi Pers Mahasiswa UGM saat itu.

Seperti ayam baru dilepas dari kandangnya, mungkin itu pepatah yang sangat cocok untuk saya yang sedang menikmati euphoria menjadi anak kos. Rasanya semua aktivitas menjadi tak terbatasi dengan waktu. Out of nowhere, saya kembali ingat tujuan utama bermigrasi ke Jakarta: “Saya ingin membuat hidup saya lebih berwarna dan saya ingin memperkuat karakter diri saya” kalimat itu yang selalu saya tanamkan dalam-dalam di pikiran saya. Untuk urusan self development, saya memang suka lebai, bahkan deklarasi itu saya ketik dan saya bacakan di depan cermin. Terkadang, saya selalu membuat target-target kecil dalam hidup saya dan menulisnya, karena sampai hari ini saya masih ingat betul nasehat guru Bahasa Inggris saat SMA “Impian yang ditulis seakan memiliki power tersendiri, yang dapat memberi energi untuk kamu mewujudkannya.” And I still believe that!

Eventually, tibalah saatnya saya membuat maping kehidupan yang baru di Jakarta. Hal utama yang terlintas dalam pikiran saat itu adalah join dengan komunitas di Jakarta. Saya mulai mencari informasi tentang komunitas yang eksis di Jakarta dan komunitas pertama yang membuat saya jatuh cinta adalah “Komunitas Sukses Mulia” yang diinisiasi oleh Jamil Azzaini. KSM, sebutan akrab Komunitas Sukses Mulia aktif secara virtual dan sering mengadakan kopdar. Namun, karena masih buta arah, saya tidak mengikuti kopdar yang sering diadakan di daerah Jakarta Timur. Saya hanya pernah mengikuti kegiatan KSM sekali saat kegiatan Resolusi untuk negeri. Pada event tersebut, saya berpartisipasi pada lomba pembuatan proposal kegiatan sosial yang aplikatif. Kebetulan sekali, saat itu saya baru saja membuat kegiatan Dream Striver-penyelamat impian, bersama sahabat saya Tris.

Sedikit cerita tentang Dream Striver, kegiatan itu murni bermula dari pertemuan saya dengan anak-anak yang tinggal tidak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Suatu hari, saya sedang sholat maghrib di masjid dekat kantor dan senang sekali melihat anak-anak usia SD yang begitu antusias mengaji. Saya iseng mengajak ngobrol mereka tentang dimana tinggal, dimana sekolah, dan obrolan basa basi lainnya. Sampai akhirnya, saya mendapat cerita ada satu anak di antara mereka yang tidak bersekolah karena tidak memiliki akta kelahiran.

Dari situlah kontak emotional dalam hati saya mulai terjalin, sampai akhirnya saya ingin membantu mereka belajar di hari minggu. Ya, itung-itung untuk memulai mewarnai hidup saya! Ternyata, komitmen itu tidak mudah, karena godaan liburan di hari minggu selalu datang dengan persentase yang lebih besar ketimbang mengajar. Selain itu, saya menjalaninya sendiri yang terkadang membuat saya merasa lelah dan butuh teman yang memiliki semangat yang sama, meskipun terkadang ada beberapa teman kantor yang mau membantu, tapi selalu tidak continue. Lagi-lagi, saya hanya bersemangat seorang diri!

Ikatan batin yang terbentuk antara saya dan anak-anak seakan membuat saya menjadi lebih berguna. Setidaknya, saya tidak nyampah hidup di dunia ini, itu bahasa kasarnya. Sampai pada akhirnya, saya merasa sudah melunasi hutang saya kepada anak-anak untuk mengajaknya jalan-jalan ke museum. I wanna say Thank You to my best friend, Nur Haya Sophia yang sudah membantu saya menyediakan mobil dan mengantar kami jalan-jalan ke kota tua dan masjid Istiqlal. What an unforgettable moment that I ever had! Bayangkan saja, saya membawa sekitar 7 anak yang begitu senang diajak jalan-jalan keliling Jakarta. Saya masih ingat sekali ketika orang tua mereka mengantar dan memasrahkan anak-anaknya kepada kami, bahkan hampir seluruh anggota keluarganya turut mengantar ke mobil. Dan, saya menemukan satu definisi “bahagia” dari ekspresi keceriaan yang terpancar dari wajahnya dan menular di hati saya. I was happy to see them. Saya b-a-h-a-g-i-a.

Image[Caption: Anak-anak dream striver, Sahabat saya Sophia dan adiknya]

Saya menjadi ketagihan untuk tidak nyampah hidup di dunia, sampai akhirnya saya bertemu dengan komunitas Indonesia Menyala. Saya menemukan satu lagi definisi kebahagiaan, ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu: Ingin turut berpartisipasi membantu meningkatkan pendidikan anak-anak di Indonesia. Kami selalu berbagi keresahan terhadap apa yang kami temui, mengurainya, dan mencari solusi. Jika masih mengganjal, kami seakan memiliki PR yang harus segera diselesaikan. Di komunitas inilah saya mulai mengenal untuk tidak hanya pamer eksistensi di social media ketika sudah merasa berbuat sesuatu untuk orang lain. Saya betul-betul belajar berbuat tanpa pamrih dan bagaimana menjawab keresahan dengan kegiatan yang dibutuhkan. I am happy being part of Indonesia Menyala! Saya b-a-h-a-g-i-a.

Image[Caption: Bersama teman-teman di Indonesia Menyala: Dhani, Fitri, Chantika, Feliks, Renny ]

Hampir dua tahun tinggal di Jakarta dan akhirnya saya menemukan warna hidup yang membuat saya bahagia dan ingin terus saya jalani, yaitu: berbagi. Ya, berbagi memang bisa dalam bentuk uang, tapi uang belum tentu membuat orang lain bahagia. Terkadang, kita perlu mengasah empati dengan berinteraksi dengan orang-orang unfortune karena justru kita bisa belajar memaknai hidup dari interaksi dengan mereka, meski hanya dengan berjabat tangan. Ternyata, hidup saya di Jakarta lebih dari sekedar berwarna, it is wonderful!

Image

[Caption: Bersama siswa kelas 5 SD Tanah Sereal saat mengadakan sex education]

Masih ada pertanyaan yang selalu membuntuti pikiran saya: Are you the person you want yourself to be?

I’m not sure, I still find the answer!

Salam,

At tachriirotul M.

Selamat Hari Buku Nasional

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

PicsArt_1400331024979

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

 17 Mei 2014,

Hari ini adalah Hari Buku Nasional, begitulah yang saya tahu dari twitter seorang teman. Rasanya banyak sekali moment yang terlintas di pikiran saya ketika berbicara mengenai buku. Harus diakui, saya belum “menggilai” buku, namun bukan tanpa alasan kenapa “buku” menjadi cukup dekat dengan saya belakangan ini. Selain karena menyukai membaca, ada dua hal yang saya anggap sebagai “part of my life” dalam satu tahun ini, yaitu buku dan anak-anak. Bagaimana tidak, saya berinteraksi dengan keduanya di setiap akhir pekan. Sebetulnya, interaksi itu sangat sederhana karena kami hanya mendampingi anak-anak membaca, menjadi story teller, dan memfasilitasi keingin tahuan mereka.

Ada pertanyaan yang selalu melintas di pikiran saya: Kenapa saya mau melakukan itu?

Entahlah, sepertinya itu akan selalu menjadi pertanyaan retorik tanpa jawaban, karena saya hanya merasa bahagia saat melakukannya, tidak ada kata lain.

Hingar bingar perpustakaan, senyum dan antusias anak-anak ketika meminjam dan mengembalikan buku seolah menyapa saya secara bergantian malam ini. Banyak hal mengejutkan yang seringkali membuat kami tidak menyangka bahwa ternyata Buku memberikan banyak peran dalam pendidikan. Masih ingat pepatah “Buku adalah Jendela Dunia” yang kita kenal sejak di Sekolah Dasar? Ternyata peran buku lebih dari itu. Buku dapat melatih anak-anak untuk bertanggung jawab, dan itulah salah satu kejutan yang kami dapati di ruang interaksi kami.

Pernahkah kita berfikir bahwa buku bisa jadi tidak berfungsi apapun, dan adanya buku tidak dapat diidentikkan dengan minat baca begitu saja. Fungsi buku perlu diaktivasi, salah satunya dengan menumbuhkan kebutuhan membaca. Hal yang menarik dari interaksi yang saya lakukan adalah kondisi sosial-ekonomi di lingkungan tempat saya beraktivitas. Kondisi tersebut memang sangat berpengaruh terhadap sikap anak-anak dan tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan komunitas. Harapannya, melalui buku kami dapat menyalakan semangat belajar dan menanamkan bahwa siapapun berhak memiliki cita-cita.

Untuk mewujudkan harapan itu, kami tidak dapat bekerja sendirian. Masih terngiang betul dalam ingatan sebuah pesan bahwa “Mendidik adalah tugas seorang yang terdidik”. Ya, ini adalah tugas kita semua, orang-orang terdidik. Jadi, #Kapan terakhir Donasi Buku?

Ingat ! Donasi buku tidak sama dengan membuang buku. Jadi, bijaklah dalam memberi.

Selamat malam,

Selamat Hari Buku Nasional….

 

Salam,

At tachriirotul M.

 

Journey: Madina

I want to go to Mecca and Madina before going anywhere…

Dua kota itu yang ingin saya kunjungi sebelum pergi kemanapun. And I just realized that, 3 months ago. Gak pernah menyangka, doa yang saya pinta sejak awal 2013 lalu betul-betul diberikanNya. Dan Ia memberikan pada waktu yang saya minta – Januari 2014.

Perjalanan ini gak pernah terbayang sebelumnya, karna tabungan pun sebetulnya belum tercukupi sepenuhnya. Dan, Dia pun tak pernah membiarkan mimpi seorang hambaNya, karena Ia akan selalu memberi kemudahan melalui jalan yang lain, yang tak pernah disangka-sangka..

14 Januari 2014,

Saya berkumpul dengan rombongan yang lain di bandara International Soekarno Hatta, terminal 3. Penerbangan Jakarta – Abu dhabi – Jeddah menggunakan Etihad Airways pukul 5 pm dan memakan waktu sekitar 10 jam.

Etihad airways adalah maskapai penerbangan Abu dhabi. Pelayanannya pun sangat memuaskan, apalagi dengan adanya fasilitas hiburan umtuk membunuh kebosanan selama 10 jam di pesawat. Saya menghabiskan beberapa film selama perjalanan. Untuk masalah perut pun tidak usah khawatir karena pramugari tidak pernah berhenti menyodorkan makanan, entah itu snack atau main course yang sangat mengenyangkan dan bersahabat dengan lidah.

Kami tibah di Jeddah 15 Januari 2014 pukul 4 am waktu Jeddah. Disana beberapa orang sudah tampak mengenakan pakaian ihrom (pakaian untuk umroh). Rombongan kami belum mengenakan pakaian ihrom karena tujuan pertama kami adalah ke kota Nabi Muhammad SAW, Madina. Dari Jeddah ke Madina membutuhkan waktu sekitar 7 jam menggunakan transportasi darat. Pemandangan yang ditemui sepanjang perjalanan hanya padang pasir, jadi sebaiknya perjalanan Jeddah-Madinah dimanfaatkan untuk beristirahat saja.

Sampai di kota Madina, mata ini sudah tidak bisa dipejamkan lagi, terlebih ketika saya melihat payung masjid Nabawi sudah mulai tampak dari dalam bus. Rasanya, hati ini begitu bahagia dan terharu karena mimpi sudah di depan mata. Betapa anggunnya masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Sayangnya, ketakjuban itu harus ditunda untuk sementara waktu, karena kami harus check in hotel, bersih-bersih badan setelah perjalanan sehari penuh, dan mengisi perut. Kami tiba di Madina sekitar pukul 2 pm. Sayangnya, kami terpaksa sholat dzuhur dan ashar di hotel karena proses check in yang cukup lama.

Nyamannya kota Nabi Muhammad SAW,

???????????????????????????????

Setelah selesei membersihkan badan, adzan maghrib berkumandang. Kami pun bergegas menuju ke masjid untuk mengejar sholat maghrib berjamaah. Ketika berjalan menuju masjid Nabawi, perasaan senang, deg-degan, dan takjub datang bergantian. Bibir ini pun secara spontan mengucap Sholawat, Allohumma Sholli ‘Ala Muhammad, Wa’ala ‘Ali Sayyidina Muhammad, nikmat mana lagi yang bisa kami dustakan ketika memiliki kesempatan beribadah di masjid Nabawi bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW.

Pertama kali menginjakkan kaki di masjid Nabawi, saya cukup terkejut ketika melihat semua pedagang menutup tokonya ketika adzan dikumandangkan. Semua orang berbondong-bondong menuju masjid, berlomba-lomba mendapat shaff di dalam masjid. Saat itu, kami hampir tidak mendapat shaff karena penuh. Namun, kami terus berusaha menerobos ke depan. Rasanya kami tidak rela jika tidak mendapatkan shaff di hari pertama kami sholat di masjid Nabawi. Alhamdulillah, kami memperoleh barisan shaff paling depan dan begitupun pada saat sholat isya.

Subhanalloh, betapa agungnya masjid yang dibangun oleh kekasih Alloh ini dan betapa luar biasanya pemerintah Arab Saudi dalam menjaga dan merawatnya. Saya tertegun saat melihat para petugas kebersihan membersihkan seluruh area masjid. Semuanya bekerja secara professional dan cekatan. Mereka pun begitu tegas kepada pengunjung yang sekiranya menghambat pekerjaannya. Pernah suatu saat, saya sedang menunggu waktu dzuhur di masjid, dan ada beberapa petugas kebersihan sedang berbincang-bincang dengan bahasa yang cukup familiar, bahasa Sunda. Ya, ternyata banyak dari mereka yang merupakan Tenaga Kerja dari Indonesia. Sekiranya temen-temen berkesempatan kesana, sekali-kali bisa memberikan sedekah kepada mereka, meski hanya 1 riyal.

Madina, Kota Nabi Muhammad SAW..

???????????????????????????????

Kenapa Madina dianggap sebagai kota Nabi? Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya,

Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah dan hijrah ke Madina untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW diutus Alloh SWT untuk meninggalkan kota Mekkah untuk berdakwah di kota Madinah. Menjelang hijrah ke Madinah, kaum kafir quraisy berencana ingin membunuh Nabi Muhammad SAW, namun beliau mengelabuhi para pemuda kafir quraisy yang mengepung rumahnya dengan meminta Ali bin Abi Thalib mengenakan jubah miliknya dan tidur di ranjang milik Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menuju Madinah tidak mudah, beliau harus bersembunyi di dalam Gua Tsur yang terletak di selatan kota Makkah selama tiga hari dan menempuh perjalanan selama 7 hari melewati gurun dan padang pasir.

Di kota Madinah inilah Nabi Muhammad SAW membangun peradaban islam. Beliau membangun kota Madinah melalui tiga hal pokok: Membangun masjid, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian damai. Salah satu masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW adalah masjid Nabawi. Masjid ini dibangun di halaman rumah Nabi Muhammad SAW. Pada peristiwa hijrah inilah adzan pertama kali digunakan sebagai panggilan kepada umat muslim untuk menunaikan ibadah sholat.

Cerita di Rawdah,

???????????????????????????????Pintu menuju Rawdah: Suasana para jamaah perempuan sedang menunggu giliran untuk dapat memasuki Rawdah.

Pengalaman mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di Rawdah tidak akan pernah saya lupakan. Rawdah dikenal sebagai taman surga yang merupakan tempat di antara makam dan mimbar Nabi Muhammad SAW yang dibedakan dengan karpet berwarna hijau. Taman surga ini terletak di dalam masjid Nabawi, lebih tepatnya berada di shaff laki-laki. Para jamaah perempuan diberi kesempatan untuk mengunjungi Rawdah selepas sholat subuh dan selepas sholat isya. Rawdah dikenal sebagai tempat mulia dan mustajab untuk berdoa, untuk itulah umat muslim berkeinginan memiliki kesempatan berdoa di Rawdah, begitupun dengan saya.

Saya akui, butuh perjuangan untuk dapat berdoa di Rawdah. Untuk itu, terus niatkan hati agar diberi kesempatan oleh Alloh SWT untuk dapat beribadah di taman surga. Jangan lupa untuk memperbanyak membaca sholawat dan mengucapkan salam kepada kekasih Alloh SWT, Nabi Muhammad SAW. Di Rawdah, berusahalah untuk dapat melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat, sholat hajat, sholat dhuha (jika berkunjung pada saat waktu dhuha), dan sholat taubat. Ohya, untuk menghindari agar tidak terinjak orang lain saat sedang bersujud, sebaiknya ada yang menjaga kita ketika sedang sholat, dan dilakukan bergantian. Seramai apapun keadaan di Rawdah, mereka akan menghargai kita ketika sedang sholat, untuk itu, berdoalah ketika sujud atau sebelum salam. Biasanya, ketika kita sudah salam, para askar akan meminta kita untuk pergi dan bergantian dengan umat muslim yang lain.

Cerita lain tentang Madina…

???????????????????????????????

Selama berada di Madina, saya melihat banyak sekali masyarakat yang berwirausaha dengan berdagang. Setiap pedagang selalu memberikan penawaran terbaiknya dengan ramah, laiknya sedang meawarkan kerjasama kepada klien. Inilah perbedaan yang saya temui disana. Mereka sangat komunikatif dengan pembeli. Ohya, saat ingin membeli sesuatu, cobalah bersikap ramah dan iseng-iseng menawar, karena kadang mereka akan memberi harga lebih murah. Selepas sholat, banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di depan masjid Nabawi. Namun, jangan heran kalau tida-tiba mereka dikejar-kejar oleh Askar (polisi) karena mereka illegal. Harga yang ditawarkan oleh pedagang kaki lima ini memang lebih murah, namun kadang kualitas barang yang ditawarkan memang tidak sebagus di toko. Jadi, harus jeli dalam memilih barang yang akan dibeli ya….

City tour di Madina…

???????????????????????????????

Sudah sampai di Madina, jangan melewatkan kegiatan city tour ya…

Sebagian besar kegiatan city tour dilakukan selama setengah hari untuk mengejar waktu sholat dzuhur di masjid Nabawi. Tempat pertama yang kami datangi adalah masjid Kiblatain, masjid yang memiliki 2 kiblat. Sebelum kiblat mengarah ke Ka’bah (masjidil haram), kiblat umat muslim berada di Baitul Maqdis, Palestina. Disana, kami melaksanakan sholat Tahiyatul masjid dan sholat dhuha. Setelah itu, kami mengunjungi perkebunan kurma untuk belanja oleh-oleh coklat, kurma, kacang, dsb. Kami juga mengunjungi jabal magnet. Di tempat inilah terdapat saah satu keajaiban Alloh SWT. Di jabal magnet terdapat daya tarik menarik yang mempengaruhi laju kendaraan kami. Ketika kami berjalan berlawanan arah dengan medan magnet, laju kendaraan kami melambat meski sudah dengan kecepatan penuh. Namun, ketika kami berjalan searah dengan medan magnet, kendaraan kami melaju kencang hingga kecepatan 140 km/jam, padahal pengemudi tidak menginjak gas. Kami betul-betul tertegun dengan kebesaran Alloh SWT ini…

Berada di Madinah memang membuat hati terasa nyaman, apalagi para penduduk yang begitu ramah menyapa. Sesampai di tanah air pun, saya seringkali rindu ingin kembali lagi. Semoga, kedatangan saya saat itu bukan menjadi kedatangan terakhir bagi saya. Semoga temen-temen juga berkesempatan untuk dapat sholat di masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

[At tachriirotul M.]

The Holstee Manifesto: Lifecycle

 

THIS IS YOUR LIFE, Do what you love, and do it Often. If you don’t like Something, CHANGE IT. If you don’t like your Job, QUIT. If you don’t have enough time, stop watching TV. If you are looking for the love of your life, STOP. They will be waiting for you when you START DOING THINGS YOU LOVE. Stop over analyzing, LIFE IS SIMPLE. All emotions are beautiful. When you eat, appreciate every last bite. Open your mind, arms, and heart to new things and people. We Are United in our differences. Ask the next Person you see What their Passion is, and SHARE your Inspiring Dream With Them. TRAVEL OFTEN, Getting Lost will help you find yourself. Some opportunities only come once, seize them. LIFE IS ABOUT THE PEOPLE YOU MEET, AND THE THINGS YOU CREATE WITH THEM, SO GO OUT AND START CREATING. LIFE IS SHORT. Live Your Dream and Share Your PASSION!

-Holstee Manifesto-

Brainlifting

2.07 am

Masih dalam waktu menikmati long weekend yang hanya Saya habiskan di Jakarta, dan malam ini saya masih ingin menikmati malam Senin tanpa beban apapun. Tapi, entah kenapa hal yang muncul dalam kepala saya untuk ditulis di blog adalah “Brainlifting”. Hmm, sepertinya sekarang kepala saya mulai cukup terbebani dengan bahasan ini.

Saya mengenal kata “Brainlifting”  dari majalah Toastmaster, club Bahasa Inggris yang sedang saya ikuti. Ternyata, tidak hanya tubuh yang memerlukan exercise agar tetap fit, sehat, dan bugar, melainkan juga Otak manusia.

“How brain exercise boost the ability to generate ideas”

Ide selalu muncul tak terduga dari setiap pemikiran manusia. Kita semua diciptakan dengan tingkat kreativitas dan imajinasi yang sama. Kemudian, Apakah otak manusia akan berkembang atau bahkan menurun tergantung dari kemampuan genetik manusia, kebiasaan, dan aktivitas sehari-hari.

Tahun 2012 lalu, sebuah penelitian menunjukkan adanya perbedaan struktur otak pada sekelompok orang yang diminta mempelajari three ball juggling selama 3 bulan dan sekelompok orang yang hidup normal. Sebelum melaksanakan tantangan tersebut, kedua kelompok mengikuti proses scan otak. Setelah tiga bulan, keduanya mengikuti scan otak kedua kalinya. And the result shown that: Pada otak sekelompok orang yang mempelajari three ball juggling  mengalami peningkatan jumlah neurons pada bagian otak yang berkaitan dengan sensitivitas gerak dan perhatian visual-spasial. Sedangkan, pada otak sekelompok orang yang hidup normal tidak mengalami perubahan.

Penelitian yang dilakukan tidak berhenti disitu saja. Tiga bulan kemudian, scan otak dilakukan kembali untuk ketiga kalinya pada sekelompok orang yang tidak melanjutkan lagi mempelajari three ball juggling. Hasilnya adalah, jumlah neurons tadi is getting lost.  Artinya, workout yang dilakukan harus terus menerus dan jangan sampai berhenti.

Inti dari Brainlifting adalah bagaimana membiasakan otak selalu di-upgrade. Caranya? Coba deh untuk melakukan beberapa hal berikut ini: (1) Work your memory, bisa banget dengan ngisi TTS atau main game yang melatih kita untuk recall memory (2) Do something different, setiap hari coba untuk melakukan sesuatu yang baru, cari dan cari hal apa yang belum pernah kamu lakukan and write it down your feelings after do that! (3) Learn something new, coba open mind dengan sesuatu yang baru, then you will curious to explore that thingsit will influence your brain to thinking! (4) Follow a bran training program, coba deh sesekali mampir ke Lumosity.com that is one of solution for daily brain training exercises. Saya pernah mencoba dan itu membuat saya ketagihan untuk train my brain everyday. 

Then, are you ready to train your brain? Just try and feel the effect…!

Regards,

At tachriirotul M.