Parenting dan Filosofi Teras

https://www.pexels.com/photo/lemonade-juice-filled-white-ceramic-cup-with-saucer-877701/

Sebagai seorang ibu, pernah gak sih mom bertanya-tanya, ingin menjadi ibu seperti apa sih kita?

Sampai saat ini, saya masih terus bertanya dan mencari tipe ibu seperti apa yang paling nyaman untuk diri saya. Dan jawaban itu mulai tercerahkan ketika tanpa sengaja saya membaca caption dari @Ingetumiwa_bachren tentang dinamika parenting yang dialaminya.

Long story short, Inge sangat kecewa ketika anaknya (12 tahun) mendapat nilai rendah pada aspek: integrity, compassion, respect, dan excellence (C dan D). Baginya, keempat aspek itu adalah nilai kehidupan yang selalu diterapkan di rumahnya. Gurunya pun memberi catatan baik, sehingga dia terus bertanya sebenarnya apa sih standar penilaian keempat aspek itu dan siapa yang melakukan penilaian?

Akhirnya, Inge memutuskan untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah dan memilih homeschooling (HS). Ia mengambil peran sentral dalam menyusun program HS putrinya day by day. Baginya, HS tidak hanya memanggil guru untuk mengajarkan mata pelajaran di rumah, tapi untuk memberi putrinya kesempatan belajar dan mengasah minat, bakat, soft skills, life skills, dan karakter. Sehingga, Inge dan suaminya mengambil peran sebagai guru utama. Untuk memberi added value pada hal yang disukai putrinya, ia menyediakan sesi ekstra baik itu coach atau kursus.

Saya suka sekali menyimak perjalanan putrinya yang kini mulai fokus berkiprah di seni peran. Dari ceritanya, saya mulai memiliki gambaran ingin menjadi ibu yang…

Menjadi tempat bersandar

Saya ingin menjadi tempat yang tidak akan memberi “judgement” apapun ke anak, apalagi menyalahkannya saat mereka sedang jatuh, bermasalah, ataupun gagal. Saya ingin menjadi pendengar yang baik, sebagai sumber kekuatan baginya dan membimbingnya menemukan jalan keluar. Namun, saya akan memilih berjalan 2 langkah di belakangnya untuk memberi arahan dan dukungan agar mereka tetap belajar berhadapan dengan tantangan dan masalah. Saya ingin mereka belajar bahwa kita tidak boleh menghindari kegagalan karena ini adalah bagian dari proses perjalanan.

Tidak berorientasi pada hasil

Saya sedang membiasakan diri untuk berani berproses. Jujur, saya termasuk orang yang takut memulai karena takut gagal. Selama ini saya cenderung menghindari kegagalan sehingga kurang bertumbuh. Mungkin mindset ini sudah tertanam sejak kecil karena dulu orang tua saya sangat mementingkan peringkat atau prestasi. Ketika dulu saya mendapat nilai pelajaran 8, orang tua saya masih menuntut mendapat nilai 9. Sampai akhirnya saya pernah berbohong saat kelas 3 SD karena mendapat peringkat di bawah 5. Saya berbohong bahwa sebetulnya saya peringkat 3 tapi wali kelas tidak bisa merubahnya karena sudah tertandatangi kepala sekolah. Orang tua saya percaya dan kebohongan itu baru terungkap setelah saya punya anak, hahaha.

Hal-hal seperti itu sebetulnya dapat menumbuhkan fixed mindset (mental yang tetap) pada anak, sehingga anak akan terus berjuang mempertahankan label “anak pintar” dan menghindari kegagalan. Jika gagal, mereka akan cenderung menganggap dirinya bodoh dan bisa jadi kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.

Sampai sekarang pun saya masih merasa terjebak dengan mindset itu. Saya akan memilih menghindar ketika harus melakukan sesuatu yang membuat saya tidak tampak pintar, jika itu terjadi saya bisa blaming myself berhari-hari.  

Kebalikan dari fixed mindset, kita perlu membuat anak kita memiliki growth mindset (mental yang bertumbuh). Kita perlu menanamkan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi lebih baik.

Salah satu kebiasaan yang bisa ditanamkan adalah dengan tidak hanya memuji hasil yang dicapai sang buah hati, melainkan usaha yang telah dilakukannya. Misal, ketika anak menjadi juara kelas, sebaiknya kita memujinya dengan kata “Hore, akhirnya usaha dan perjuangan kamu belajar membuahkan hasil ya”, bukan hanya dengan “Wah, kamu pintar dan hebat sekali!”. Sehingga anak memahami bahwa sebuah usaha, kerja keras, dan pengorbanan dapat mengantarkan pada keberhasilan.

Mempersiapkan anak berhadapan dengan ketidaknyaman

Apa sih yang membuat kita tidak nyaman?

Perlakuan buruk? Kegagalan?

Ternyata mental ini perlu dipersiapkan. Menanamkan kepada anak bahwa di dunia ini hanya diisi oleh orang yang baik ternyata tidak tepat.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengenalkan buku cerita sad ending. Anak-anak perlu belajar bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita dan kita perlu berdamai dengannya.

Di Denmark (salah satu negara paling bahagia di dunia), film atau cerita TV dengan akhir cerita tidak bahagia dikenalkan kepada anak-anak agar mereka belajar bahwa hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bahwa ada dua sisi kehidupan dan berbagai ekspresi emosi manusia.

Tidak menuntut

Saya masih belajar.

Tanpa disadari, mungkin saya menuntut anak menjadi sempurna. Saya sering kawatir berlebihan ketika anak saya belum mencapai milestone tertentu, padahal sudah distimulasi. Ternyata parenting itu adalah bagaimana berdamai dengan hal yang tidak bisa dikendalikan. Jika anak belum mau melakukannya (selagi masih dalam range usia perkembangannya), berarti memang belum mencapai milestone tersebut. Jangan sampai kita memaksa sedemikian rupa dan membuat anak trauma.

Saya akan berupaya untuk tidak menuntutnya. Jangan sampai mereka menjalankan obsesi orang tua dengan terpaksa. Untuk apa sukses jika perjalanannya dilakukan dengan terpaksa? Saya ingin anak saya mengenali apa yang diminatinya dan memperjuangkan mimpinya dengan sukarela dan bahagia.

Menertawakan diri sendiri

Last but not least,

Saya ingin anak saya bisa menertawakan dirinya sendiri, terutama saat dia berbuat salah. Menurut saya, ini adalah hal sehat yang patut ditularkan.

We are human, right?

Daripada menertawakan orang lain lebih baik menertawakan diri sendiri karena ini adalah bentuk penerimaan diri yang paling sederhana, namun penuh makna.

*Cerita ini terinspirasi dari salah satu bab di Filosofi Teras karya Henry Manampiring “Menjadi Orang Tua”

Salam,

amuyassa

Advertisements

Nak, Ibu masih belajar

Siapa yang merasa kalau perkembangan anak itu terasa cepat sekali?

Bulan lalu, anak saya berumur 18 bulan. Sebagai ibu yang bisa dibilang available hampir 7/24, saya gak menyangka kalau angka itu bertambah secepat ini. Beberapa bulan lagi anak saya sudah mau 2 tahun aja. Saya agak menyesal kenapa banyak cerita yang tidak saya tuangkan disini, padahal nanti bisa dipakai untuk bahan nostalgia. Mungkin saat itu saya masih struggle berdamai dengan emosi internal yang nano-nano ini.

Bisa dibilang, 18 bulan adalah milestone yang penting untuk perkembangan anak. Di umur ini kita harus mengevaluasi tumbuh kembang anak, apakah sudah sesuai dengan grafik pertumbuhannya dan apakah ada tahap yang perlu stimulasi lebih intensif.

Buat anak saya, perkembangan bahasanya perlu mendapat porsi lebih banyak lagi. Sejauh ini, perkembangan bahasa responsifnya lebih dominan. Dia sudah mengerti perintah-perintah sederhana yang diberikan. Dia pun beberapa kali melakukan aksi spontan tanpa diminta, seperti membuang sampah yang dilihatnya di taman, mengambil sendok saat saya menyiapkan makan, menutup hidung saat truk sampah lewat di depan rumah, dsb.

Perkembangan bahasa ekspresifnya masih terus distimulasi, namun beberapa kali tampak belum antusias dan konsisten. Di suatu waktu dia bilang mobil, kereta, roda, cicak, kerja, dsb. Tapi, di suatu waktu dia gak tertarik menjawab waktu ditanya. Hahahaha. Oke nak, kita harus terus berusaha. Ganbate!

Nah, salah satu tantangan yang cukup berat dalam membersamai anak adalah “mengelola ekspektasi”. Kenapa?

Di era sosial media, pernah gak sih merasa parenting terkadang melelahkan.

Eh, melelahkan buat siapa ya, jangan-jangan cuma saya aja nih, hahaha.

Melelahkan buat kita yang tidak bisa mengontrol diri dan emosi. Apalagi ketika melihat anak-anak lucu, menggemaskan, pintar, gemuk, sehat, dan viral di sosial media. Hmm, bisa jadi memunculkan “standar” kelucuan dan kepintaran anak, menjadi obsesi kita, dan membuat kita membandingkan dengan sang buah hati. Biasanya, hati menjadi cemas, memandang sang buah hati dengan cara yang berbeda, kemudian menyalahkan diri sendiri.

Belum lagi, banyaknya teori dan metode parenting yang terus berseliweran di Instagram. Lalu menjadi kelimpungan memilih sekolah yang bagus dan merasa galau kalau tidak bisa mengikuti trend.

That was me!

Saya merasa perlu membentengi mental saya yang mudah ter-influence (cie, influencer-nya berhasil nih). Saya terus berupaya mengelola ekspektasi dan tidak mudah membandingkan anak saya dengan yang lain. Jangan sampai, tanpa disadari saya menjadikan ini sebagai sebuah kompetisi. Padahal, anak kan dilahirkan bersama dengan fitrahnya masing-masing.

Saya jadi teringat kata Agstried Piethers, salah satu co-founder Rumah Dandelion. Katanya, tugas kita sebagai orang tua adalah terus melakukan stimulasi. Jika sudah dilakukan, kita hanya bisa menunggu. Parenting itu adalah memilih untuk berdamai dengan hal-hal yang bisa kita kontrol atau tidak.

Well said.

Saya pun akhirnya menyadari bahwa visi dan misi keluarga itu perlu dikuatkan dan terus divalidasi. Jangan sampai, anak menjadi korban ke-labil-an orang tuanya. Nah, visi misi ini dapat mendorong kita memilih metode parenting yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Begitupun saat kita memilih sekolah. Kita perlu menyesuaikan visi misi keluarga dan potensi anak agar tidak tergiur dengan berbagai program unggulan yang ditawarkan setiap sekolah. Aapalagi, sekolah sekarang mahal buibu (apa kabar tahun anak saya nanti ya T.T), jangan sampai sudah bayar mahal ternyata kurikulumnya tidak sesuai dengan yang kita butuhkan.

Salam,

amuyassa

Memberi MPASI Instan bukan Kesalahan

Bisa dibilang, idealisme menjadi ibu baru yang ingin ideal membuat saya pernah anti dengan makanan bayi instan. Bagi saya, MPASI homemade is the best serve for my son. Sejujurnya, itu hanya dampak dari ketidaktahuan yang haqiqi. *facepalm

Nyatanya, makanan bayi instan atau terfortifikasi telah diatur oleh WHO (World Health Organization) dan FAO (Food and Agricultural Organization), which mean seluruh produsen makanan bayi harus mengikuti konsensus yang telah ditetapkan. Selain itu, produk yang beredar di pasaran harus lolos perizinan lembaga pemerintah terkait seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan. Indonesia) dan FDA (Food and Drug Administration, US).

Seluruh proses mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, quality control, dan perhitungan angka kebutuhan gizi (AKG) harus mengikuti peraturan yang ditetapkan. Sehingga, kandungan gizi dan keamanannya sudah tidak diragukan lagi.

Seandainya bisa mengulang waktu, saya pasti akan memberi MPASI anak saya dengan makanan bayi instan sampai dia bosan, haha. Pastinya dengan selingan MPASI rumahan agar anak saya mengenal variasi makanan mulai dari bentuk, rasa, dan teksturnya. Sayangnya, saya baru mengenal makanan bayi instan saat anak saya berumur 8,5 bulan T.T.

Padahal, masa kritis MPASI adalah saat bayi berusia 6-9 bulan. Pada masa tersebut, kita harus memastikan proses pengenalan MPASI berjalan lancar, dari tekstur, jenis, dan kebutuhan gizi. Jika pada usia tersebut proses pemberian MPASI bermasalah, dapat berdampak pada tumbuh kembang bayi di usia berikutnya (gagal tumbuh, stunting, dsb).

Kenapa makanan bayi instan ada?

Ternyata, ini adalah salah satu strategi yang dipilih WHO untuk mengatasi malnutrisi micronutrient (ex. Zn, Iodine, Zat Besi, dan Vitamin A, Zn, Kalsium) yang terus meningkat di dunia saat itu (est. 2000). Malnutrisi micronutrient pada bayi menjadi faktor resiko bagi banyak penyakit, termasuk dikaitkan dengan meningkatnya penyakit HIV/AIDS, malaria, TBC, dan penyakit kronis lainnya yang berkaitan dengan asupan makanan.

WHO menilai, pemberian makanan bayi instan menjadi strategi paling efektif dibandingkan strategi lain seperti: meningkatkan variasi makanan rumahan dan suplementasi vitamin. Hasil trial yang dilakukan menunjukkan bahwa pemberian makanan bayi instan menunjukkan peningkatan status micronutrient loh. No doubt.

Memang apa kelebihannya?

Bagi ibu-ibu yang suka ragu dengan asupan gizi sang buah hati saat memulai MPASI, makanan bayi instan menjadi solusi terbaik. Kenapa? Karena nilai gizinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan bayi di usia tertentu.

Menurut WHO, sumber makanan hewani yang dikonsumsi oleh bayi berumur 6-12 bulan tidak dapat memenuhi kebutuhan Zat besi, Zn, Calcium. Dimana, ketiga kandungan mikronutrien tersebut sangat penting bagi pertumbuhan bayi, termasuk mencegah stunting.

Apakah aman?

Melalui Peraturan BPOM No. 1, tahun 2018 tentang Pengawasan Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus pembuatan bubur bayi instan harus mengikuti standar yang ditetapkan, mulai dari komposisi, kualitas, dan keamanannya. FAO pun juga menetapkan standarnya melalui CODEX STAN 074-1981, Rev. 1-2006 tentang Standard for Processed Cereal-Based Foods for Infants and Young Children. Artinya, jika tidak sesuai standar, maka BPOM tidak akan memberi nomor izin edar.

Jadi, makanan bayi instan sangat aman dikonsumsi ya bu.

Apa yang tidak terpenuhi oleh makanan bayi instan?

Makanan bayi terfortifikasi dapat membatasi anak mengenal berbagai variasi rasa, bentuk dan tekstur makanan asli. Sebaiknya, selingi dengan MPASI rumahan untuk melengkapi kebutuhan macronutrient (karbohidrat, protein, lemak, serat).

Nah, sebagai ibu masa kini yang gampang tergiur iklan makanan bayi dengan harga yang fantastis di Instagram, kita tetap harus cermat ya untuk memastikan kualitas, keamanan, dan kandungan gizinya. Kalau saya lebih memilih makanan bayi terfortifikasi yang berada di pasaran, karena sudah pasti aman dan memiliki ijin edar dari BPOM. Dan yang pasti, lebih bersahabat (harganya), hahaha.

Referensi:

Codex Standard for Processed Cereal-Based Foods for Infants and Young Children – CODEX STAN 074-1981, Rev. 1-2006, FAO, 2006

Guidlines on Food Fortifications with Micronutrients, Joint WHO/FAO, 2006

Guiding Principles for Complementary Feeding of the Breastfed Child, Washington, DC, Pan American Health Organization, 2003

Kepmenkes No. 224/Menkes/SK/II/2007 tentang Spesifikasi Teknis MPASI, Jakarta,Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2007

Peraturan BPOM No. 1, 2018 tentang Pengawasan Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus, Jakarta,Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2018

Belajar dari Denmark: BERMAIN

boy-child-dry-leaves-36965 (2)

Siang itu sinar matahari tampak begitu terik, membuat tubuh memproduksi keringat dengan bau yang khas.

Bau matahari.

Bau yang seringkali tercium dari tubuh anak-anak yang suka bermain di siang bolong.

Seperti siang itu, sekelompok anak-anak tampak sedang asik bermain bersama di halaman masjid yang sangat luas. Ada yang bermain petak umpet dan ada yang bermain benthik atau gatrik, permainan tradisional yang dimainkan oleh dua kelompok menggunakan potongan bambu.

Sekitar 10 anak berusia sekolah dasar dan menengah pertama memilih bermain benthik, mungkin karena permainan ini lebih menantang. Mereka menentukan kelompok dengan melakukan pingsut. Anak yang menang berkumpul menjadi satu kelompok, begitupun dengan yang kalah. Kedua tim sudah terbentuk yang terdiri dari tim pemain dan penjaga.

Setiap tim sudah berada di posisi masing-masing, permainan pun siap dimulai. Dua batu bata ditata berjarak, membentuk sebuah lubang. Stik kayu pendek berukuran sekitar 10 cm ditempatkan di atas batu bata layaknya sebuah jembatan. Si pemain pertama bertugas melemparnya menggunakan stik kayu panjang berukuran 20-30 cm dengan posisi tegak lurus. Setelah stik pendek terlempar, stik panjang diletakkan di atas batu bata dengan posisi yang sama.

Tim penjaga bertugas menangkap stik kayu yang dilempar. Jika berhasil menangkap, maka mereka berhak menggantikan posisi tim pemain.

Dalam permainan ini setiap kelompok mengumpulkan poin dari tiga tahap permainan. Tim penjaga dapat mengumpulkan poin dengan menangkap stik kayu pendek yang dilempar. Tim pemain dapat mengumpulkan poin dengan melempar stik kayu pendek sejauh mungkin di akhir permainan. Jumlah poin akan dikumpulkan sampai permainan selesai.

***

Dulu, pulang sekolah menjadi waktu yang paling aku tunggu karena bisa bermain bersama teman-teman di rumah. Aku masih bisa membayangkan rasanya bermain engklek, petak umpet, lompat tali, masak-masakan, lempar sandal, dan benthik. Bahagia sekali rasanya. Sebagai anak yang tak mau kalah, aku sering bermain curang, ngotot sekali membuat aturan permainan yang menguntungkan, tapi nyatanya selalu kalah.

Sayangnya itu dulu ya.

Sekarang rasanya banyak waktu bermain anak yang kita interupsi.

Di kota besar seperti Jakarta misalnya, pergaulan di luar rumah menjadi hal yang sangat dikhawatirkan. Akhirnya pergaulan anak-anak terseleksi oleh lingkungan. Atau malah kita yang telah menginterupsinya dengan memberi segudang kegiatan ekstra yang menuntut mereka berprestasi di usia dini, tanpa memedulikan emosinya.

Karena terkadang kita merasa sudah menjadi orang tua yang bertanggung jawab ketika mendaftarkan anak-anak di berbagai kelas edukasi. Dan, kita akan merasa bangga ketika anak-anak memiliki segudang prestasi di usia dini.

***

Baru-baru ini aku membaca buku “The Danish Way of Parenting” karya Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah latar belakang penulisnya, Jessica. Ia adalah orang Amerika yang menikah dengan orang Denmark. Ia sangat mengagumi sikap suaminya dalam menghadapi masalah, terutama dalam pengasuhan anak. Kekaguman itulah yang membuatnya tertarik untuk mencari tahu rahasia negara Denmark, yang dinobatkan oleh World Happiness Report (WHR) sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia selama bertahun-tahun.

Ternyata pola pengasuhan anak menjadi faktor yang sangat berperan di Denmark untuk menciptakan negara yang bahagia. Dan pola pengasuhan anak paling sederhana yang diterapkan adalah memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain bebas. Sesederhana itu.

Kenapa harus bermain?

Bagi Dane (orang Denmark), bermain adalah kegiatan belajar yang sesungguhnya untuk anak-anak. Tanpa kita sadari, permainan adalah wadah yang sangat efektif bagi anak-anak untuk belajar keterampilan hidup. Dengan bermain, mereka akan berinteaksi dengan teman-teman seusianya, berhadapan dengan masalah, dan belajar bagaimana menyelesaikan masalahnya sendiri. Nah, terkadang orang tua suka gatal ingin ikut campur ke dalam dunia mereka. Padahal, ada baiknya kita harus memberi ruang kepada anak-anak untuk tumbuh, berhadapan dengan ketidaknyamanan dan berdamai dengan situasi itu.

Kenapa bukan mengikutsertakan anak pada banyak kegiatan ekstra yang menunjang prestasi?

Dane melihat jika anak-anak selalu mengerjakan sesuatu karena dorongan lingkungan (external factor) seperti mendapatkan nilai yang baik, penghargaan, atau pujian dari guru maupun orang tua, mereka tidak bisa mengembangkan dorongan pribadi (internal control). Kelak, mereka akan mudah kecewa, cemas, dan depresi sebagaimana yang banyak terjadi di Amerika.

Mereka percaya bahwa anak-anak membutuhkan ruang dan kepercayaan untuk menguasai banyak hal yang berguna saat membuat dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kepercayaan ini akan menumbuhkan harga diri dan ketangguhan sejati, karena dukungannya berasal dari diri mereka sendiri, bukan orang lain.

Banyak hal ataupun konsep yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh orang tua kita dulu. Dimana, saat kecil kita hanya mengenal bermain. Sekolah formal pun baru dimulai dari taman kanak-kanak, bahkan banyak juga yang langsung lompat ke sekolah dasar.

Jangan sampai persaingan pendidikan yang saat ini begitu kompetitif membuat kita mengabaikan pendidikan sosial-emosional anak yang tak kalah penting. Semoga kita bukan menjadi orang tua yang menginterupsi hak anak-anak untuk bermain.

Biarkan mereka bermain bebas bersama teman-temannya,

Biarkan mereka berlarian, balap sepeda, sepak bola, naik ke atas pohon, dan hal membahagiakan lainnya yang kita rasakan dulu.

Karena bermain itu, Membahagiakan.

Salam,

amuyassa

Wow, Digital Services Mulai Menyasar Segmen Kesehatan!

adult-africa-african-1035588

Di bulan Oktober ini, profesi Apoteker di Indonesia sempat dikejutkan oleh peluncuran aplikasi digital Go-Med, layanan penghubung pasien dan jaringan apotek di beberapa wilayah di Indonesia. Perusahaan yang menelurkan layanan digital Go-Med adalah perusahaan teknologi besar di Indonesia yang mengklaim sebagai perusahaan teknologi berjiwa sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja di berbagai sektor informal di Indonesia, GO-JEK.

Perkembangan aplikasi digital di Indonesia saat ini bisa dikatakan mulai bersifat segmented, bahkan mulai menjalari bidang kesehatan. Sebelumnya, GO-JEK dikabarkan baru saja mengakuisisi healthcare startup asal India, Pianta, dimana startup tersebut menyediakan layanan pencarian tenaga kesehatan dan pengaturan jadwal home visit, termasuk layanan terapi, perawatan, dan pengumpulan sampel laboratorium. Tidak hanya itu, keputusan GO-JEK untuk melebarkan bisnisnya di bidang kesehatan pun tak lepas dari investasi yang dilakukannya pada startup healthcare di Indonesia, yaitu HaloDoc. Wow, I think, there will so many surprises from GO-JEK in expanding their business into healthcare.

Berbicara mengenai Go-Med, perlu ditekankan bahwa layanan ini bukan merupakan Apotek online seperti medicastore dan goapotik yang ditelurkan oleh dua perusahaan farmasi besar di Indonesia. Go-Med merupakan on-demand services yang menggunakan jasa layanan transportasinya untuk menghubungkan pengguna yang memerlukan akses pada apotek/obat. Aplikasi Go-Med menawarkan kemudahan layanan bagi pengguna untuk membeli obat-obatan, vitamin, dan kebutuhan medis lainnya dari Apotek berlisensi terdekat. Go-Med bisa dikatakan merupakan transformasi dari layanan Apotik Antar yang berada di bawah payung yang sama dengan HaloDoc. Keduanya masih berkaitan dengan salah satu distributor farmasi besar di Indonesia, yaitu PT. Mensa. Hmm, There is strong networking, right?

Ada dua nilai positif yang dapat kita lihat dari aplikasi digital ini:

  • Penggolongan kategori obat pada menu Go-Med memiliki nilai plus, karena dapat membantu meminimalisir penyerahan obat golongan keras tanpa resep dokter.
  • Layanan ini akan membantu Apotek kecil berlisensi untuk memperluas jangkauan pasien, karena Go-Med dapat menghubungkan pengguna dengan Apotek terdekat.

Sayangnya, kemudahan layanan ini tidak senada dengan upaya yang dilakukan profesi Apoteker untuk mengaktivasi perannya dalam memberikan edukasi pada pasien. Jika melihat pada undang-undang, aturan bakunya adalah: Penyerahan dan pelayanan obat dengan resep dokter harus dilakukan oleh Apoteker dengan menerapkan standard pelayanan kefarmasian. Dimana, pelayanan harus dilakukan secara langsung dan bertanggung jawab kepada pasien. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien termasuk melindungi pasien dari penggunaan obat yang tidak rasional demi keselamatan pasien itu sendiri.

Jika Go-Med hanya menyediakan layanan on demand services, salah satu startup healthcare, mClinica membuat saya berdecak kagum. Startup yang didirikan oleh Faraouk Meralli, lulusan health policy-Harvard ini mencoba membidik nilai sosial dengan memanfaatkan jaringan perusahaan farmasi melalui sistem supply chain digital. Melalui jaringan tersebut, masyarakat ekonomi menengah ke bawah dapat memperoleh obat dengan harga yang lebih murah. Menariknya, apotek yang terdaftar pada jaringan tersebut harus mendaftarkan pasien dalam program konsultasi agar pasien tersebut lebih memahami perkembangan kondisi kesehatannya. Faktanya, mClinica pun sudah mulai memasuki pasar di Indonesia.

Melihat hal tersebut, harus diakui bahwa kita tidak dapat menutup mata terhadap perkembangan teknologi yang mulai tersegmentasi dan menyasar bidang kesehatan. Sebagai profesi yang merasa ranahnya mulai terusik dengan inovasi teknologi, sebaiknya kita turut berbenah dan tidak hanya berteriak mengkritisi. Pemerintah pun harus mempersiapkan diri untuk dapat mengimbangi inovasi teknologi yang mulai menyasar bidang kesehatan. Sehingga, diharapkan terdapat kebijakan yang jelas agar perlindungan terhadap pasien dan kemudahan yang ditawarkan melalui inovasi ini dapat berjalan beriringan. So, menurut teman-teman Apoteker, kira-kira kebijakan apa ya yang sebaiknya dibuat? Lets give a thought!

Salam,

amuyassa

The miracle of 21st Chromosome

The miracle of 21st Chromosome

It’s an extra chromosome, it’s extra ordinary.

Karena tanggal 21 Maret bertepatan dengan hari Down Syndrome (DS) sedunia, maka saya ingin berbagi sedikit cerita tentang latar belakang DS yang membuat saya tertarik untuk menggali informasinya.

Pernahkah temen-temen mendengar istilah Kromosom ke-21?

Kromosom merupakan sepaket material genetik yang dimiliki oleh setiap individu. Secara normal, manusia memiliki 23 pasang kromosom (46 kromosom) yang diturunkan dari sel telur ibu dan sel sperma ayah, dimana masing-masing sel tersebut memiliki 23 kromosom. Pada case down syndrome, terdapat gangguan proses pembentukan sel reproduksi (sel telur atau sel sperma) sebelum pembuahan. Gangguan tersebut berupa kelebihan pembentukan kromosom ke-21, sehingga menyebabkan jumlah kromosom pada anak down syndrome berjumlah 47 kromosom.

Kromosom tersebut akan berperan dalam proses pembentukan sel yang kemudian akan berkembang menjadi jaringan dan organ-organ vital di dalam tubuh seperti: jantung, paru-paru, hati, otak, dsb. Material genetik akan terus berperan dalam proses perkembangan tubuh manusia seumur hidupnya. Adanya ekstra kromosom di dalam tubuh anak down syndrome menyebabkan proses perkembangan sel dan organ tubuh menjadi terhambat. Oleh karena itu, sebagian besar anak down syndrome mengalami gangguan pada beberapa aspek kesehatan seperti: (1) terhambatnya perkembangan otak, sehingga berpengaruh pada intellectual ability (2) gangguan pendengaran (3) gangguan pada saluran pencernaan, termasuk intoleransi terhadap gluten (4) karakteristik fisik seperti: flat face, eyes slanting up, dsb.

Hal yang sangat menarik adalah tidak adanya bukti ilmiah atau hasil penelitian yang dapat menjelaskan penyebab Down Syndrome, baik faktor resiko maupun penyebab khusus seperti faktor lingkungan. Gangguan pembentukan sel reproduksi (sel telur atau sel sperma) terjadi secara acak, namun sebagian besar terjadi pada pembentukan sel telur ibu (95%). Hal ini merupakan sebuah keajaiban Tuhan yang dapat terjadi pada 1 dari 1000 angka kelahiran di dunia (sumber: WHO).

Pada tahun 1900-an, anak down syndrome diprediksi hanya akan hidup selama kurang dari 10 tahun. Sekarang, lebih dari 50% anak down syndrome hidup hingga umur 50 tahun atau lebih. Kondisi down syndrome memang irreversible, namun hal terpenting bagi mereka adalah pendampingan dan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, learning environment yang memfasilitasi mereka untuk berkembang, serta penerimaan sosial. Selain itu, mereka harus melakukan monitor kesehatan fisik dan mental secara rutin.

Salam,

amuyassa

Bukan hanya sekedar “aku ingin menikah”

blank

Beberapa hari yang lalu, sahabat terdekat saya resmi menjadi seorang Ibu. Dia baru saja melahirkan putri pertamanya, namun hari ini putrinya harus dirawat di rumah sakit karena kadar bilirubinnya tinggi. Saya sangat terharu saat membaca chat darinya:

“Dedek di rumah sakit dan aku di rumah karena harus makan dan pumping ASI setiap 2 jam sekali, sedangkan suamiku harus bolak balik rumah dan rumah sakit setiap 2 jam untuk mengantar ASI”

Saya percaya, mereka pasangan yang hebat!

Cerita ini menempel terus di pikiran saya dan membuat saya menyadari satu hal: Ini lebih dari sekedar kata-kata “Aku ingin menikah” seperti yang selalu diucapkan oleh saya dan teman-teman lainnya. Saya menjadi semakin ingin belajar untuk memaknai arti “pernikahan” itu sendiri.

Berbicara tentang pernikahan, saya teringat kalimat dari Ayu Utami dalam bukunya “Parasit Lajang” :

“Berkeluarga itu kan tidak boleh main-main, sekali kamu menikah sebaiknya kamu tidak cerai. Sekali kamu punya anak, kamu tidak bisa memasukkannya lagi ke dalam perut dan mengurainya kembali kepada sperma dan sel telur. Berkeluarga adalah kontrak seumur hidup. Artinya, yang mampu silahkan melakukannya”

Mungkin kita bisa menyadari satu hal bahwa memutuskan menikah dan berkeluarga itu memerlukan tanggung jawab yang besar. Lantas, memilih untuk menikah sepertinya tidak boleh main-main karena kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Maka dari itu, yang dibutuhkan adalah kesadaran, bukan paksaan. That’s true, bukan paksaan keluarga apalagi lingkungan sosial.

Saat memutuskan berkeluarga, kita harus siap belajar. Saya percaya bahwa tingkat pendidikan dan kesalehan seseorang tidak linear dengan tingkat keberhasilannya dalam membina rumah tangga. Kita sama-sama menjadi pemain baru dalam fase kehidupan ini, untuk itu kita harus bisa menurunkan ego untuk sama-sama belajar bertanggung jawab.

Sebetulnya, membicarakan tentang pernikahan sepertinya memang agak tricky ya, apalagi yang menulis adalah orang yang belum pernah menikah, hehe. Namun, hari ini saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri apakah sebetulnya saya sudah siap menikah atau belum. Dan, sepertinya perkataan “aku ingin menikah” tidak sama dengan “aku siap menikah”. Menikah itu tentang kesiapan dan niat, bukan tentang status sosial.

Mungkin selama ini kita hanya fokus pada keinginan menikah itu sendiri, sedangkan tanpa disadari kita belum mempersiapkan apapun. Atau mungkin, selama ini kita terlalu fokus mencari pasangan, sedangkan kita lupa mempersiapkan diri dan lupa meminta kepada Tuhan agar dipantaskan. Ohya, mempersiapkan diri itu bukan hanya tentang mempersiapkan materi seperti rumah, kendaraan, penghasilan, dsb., namun juga mempersiapkan batin.

Sangat klise memang ketika banyak motivator mengatakan tentang teori “memantaskan diri”. Awalnya saya sering mengatakan “sedang memantaskan diri” setiap membahas tentang pasangan, menikah, dsb. Namun, yang saya lakukan sebetulnya belum benar-benar berusaha “memantaskan diri” dan sepertinya Tuhan pun melihat saya seperti itu, belum siap untuk menikah.

Coba deh kita pikirkan, sebetulnya mempersiapkan diri itu bisa dilakukan dengan banyak hal, misalnya: Kita mencoba lebih aware dengan lingkungan sekitar, karena awareness harus dilatih agar nantinya kita bisa lebih aware dengan pasangan dan keluarga. Untuk hal ini, saya sedang berusaha keras karena pada dasarnya saya orang yang cukup cuek. Saya belajar untuk lebih aware dengan sahabat-sahabat saya, memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sekitar, dan berusaha untuk tidak mudah melupakan sesuatu. Bagi orang-orang yang memiliki kesulitan untuk mengatakan hal apapun (seperti ketidaknyamanan, dsb), kita harus belajar untuk mengkomunikasikan hal tersebut dengan memulainya dari lingkungan sekitar kita. Komunikasi itu sangat penting dan kurangnya komunikasi menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan rumah tangga.

Di samping itu, kita juga bisa belajar untuk hidup sehat. Kita bisa memulai dari menjaga kesehatan diri kita dengan mengatur pola makan, masak masakan yang sehat, dsb. Sebetulnya banyak sekali proses belajar yang bisa dilakukan. Sebagai wanita muslim misalnya, kita bisa belajar tentang fiqih wanita dan mempelajari bagaimana peran wanita dalam keluarga. Ingat ya, wanita itu berperan penting dalam melahirkan generasi-generasi yang baik dan wanita juga berperan penting dalam keberhasilan seorang laki-laki. Seorang laki-laki juga bisa mempelajari perannya sebagai “pemimpin” dalam keluarga. Because, you will lead your family !

Hmm, it is just my personal opinion tentang proses mempersiapkan diri yang bisa kita lakukan di tengah-tengah usaha mencari pasangan itu sendiri. Kita jangan lupa untuk melibatkanNya dalam setiap usaha yang kita lakukan dengan tidak pernah putus berdoa dan meminta. Percaya, Tuhan pasti akan melihat usaha yang kita lakukan dan melihat bahwa kita sudah “siap” menikah.

Saya sangat suka sekali dengan kutipan kalimat dari salah satu penulis favorite saya, Tere Liye dalam novelnya: RINDU:

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika pun kau akhirnya tidak memiliki, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik”

Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak akan memutus jalan bagi umatNya untuk menikah, karena ini adalah salah satu bentuk ibadah. Kenapa islam sangat menganjurkan umatnya untuk hidup berpasang-pasangan dan memiliki keturunan? Ya, karena dari situlah akan lahir generasi-generasi baru yang akan menjaga bumi ini, masih ingat kan kenapa manusia diciptakan? Karena kita memiliki peran sebagai khalifah di bumi untuk menjaga ciptaanNya, termasuk menjalankan roda pemerintahan, menciptakan inovasi dan kemudahan-kemudahan bagi manusia, menjalankan roda perekonomian, dsb. Wow, ternyata tanggung jawab tersebut tidak main-main kan?

Percayalah,

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah namanya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau tidak bertemu, berarti bukan jodoh. Sederhana sekali.” [Kau, Aku, & Sepucuk Angpau Merah, Tere Liye]

Lantas, mari mempersiapkan diri dengan belajar apapun, sembari menanti kejutan apa yang akan Tuhan hadiahkan untuk orang-orang yang bersabar, yakin, dan optimis!

Salam,

amuyassa

Brainlifting

https://www.pexels.com/photo/photo-of-person-reading-book-on-beach-1730560/

2.07 am

Masih dalam waktu menikmati long weekend yang hanya Saya habiskan di Jakarta, dan malam ini saya masih ingin menikmati malam Senin tanpa beban apapun. Tapi, entah kenapa hal yang muncul dalam kepala saya untuk ditulis di blog adalah “Brainlifting”. Hmm, sepertinya sekarang kepala saya mulai cukup terbebani dengan bahasan ini.

Saya mengenal kata “Brainlifting”  dari majalah Toastmaster, club Bahasa Inggris yang sedang saya ikuti. Ternyata, tidak hanya tubuh yang memerlukan exercise agar tetap fit, sehat, dan bugar, melainkan juga Otak manusia.

“How brain exercise boost the ability to generate ideas”

Ide selalu muncul tak terduga dari setiap pemikiran manusia. Kita semua diciptakan dengan tingkat kreativitas dan imajinasi yang sama. Kemudian, Apakah otak manusia akan berkembang atau bahkan menurun tergantung dari kemampuan genetik manusia, kebiasaan, dan aktivitas sehari-hari.

Tahun 2012 lalu, sebuah penelitian menunjukkan adanya perbedaan struktur otak pada sekelompok orang yang diminta mempelajari three ball juggling selama 3 bulan dan sekelompok orang yang hidup normal. Sebelum melaksanakan tantangan tersebut, kedua kelompok mengikuti proses scan otak. Setelah tiga bulan, keduanya mengikuti scan otak kedua kalinya. And the result shown that: Pada otak sekelompok orang yang mempelajari three ball juggling  mengalami peningkatan jumlah neurons pada bagian otak yang berkaitan dengan sensitivitas gerak dan perhatian visual-spasial. Sedangkan, pada otak sekelompok orang yang hidup normal tidak mengalami perubahan.

Penelitian yang dilakukan tidak berhenti disitu saja. Tiga bulan kemudian, scan otak dilakukan kembali untuk ketiga kalinya pada sekelompok orang yang tidak melanjutkan lagi mempelajari three ball juggling. Hasilnya adalah, jumlah neurons tadi is getting lost.  Artinya, workout yang dilakukan harus terus menerus dan jangan sampai berhenti.

Inti dari Brainlifting adalah bagaimana membiasakan otak selalu di-upgrade. Caranya? Coba deh untuk melakukan beberapa hal berikut ini:

(1) Work your memory, bisa banget dengan ngisi TTS atau main game yang melatih kita untuk recall memory

(2) Do something different, setiap hari coba untuk melakukan sesuatu yang baru, cari dan cari hal apa yang belum pernah kamu lakukan and write it down your feelings after do that!

(3) Learn something new, coba open mind dengan sesuatu yang baru, then you will curious to explore that thingsit will influence your brain to thinking! 

(4) Follow a brain training program, coba deh sesekali mampir ke Lumosity.com that is one of solution for daily brain training exercises. Saya pernah mencoba dan itu membuat saya ketagihan untuk train my brain everyday. 

Then, are you ready to train your brain? Just try and feel the effect…!

Regards,

At tachriirotul M.