Anak di atas rata-rata

DSCF1898[Dari kiri: Mayang, Nesa, Stephanie, Indra, Yofan]

Satu per satu aku bertemu dengan anak-anak yang namanya sudah kukenal melalui email, itupun aku terima dari seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Memang seringkali seperti ini, ketika aku mendapat kesempatan untuk melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Siklusnya selalu sama: networking-virtual meeting-direct communication-take an action-maintain relationship, dan aku selalu suka.

***

Sore itu, di tengah pekerjaan yang cukup membosankan, notifikasi email pribadi yang aku terima cukup membuatku kembali bergairah. Email itu memang lebih menarik daripada pekerjaan yang sedang aku selesaikan sore itu dan tentunya membuat naluri analisaku berfungsi (red: stalking). Email yang aku terima adalah email yang menjelaskan peran yang akan aku lakukan di kegiatan sosial pada sebuah organisasi non profit di Jakarta. “Spesial Olympics” itulah kata-kata yang sering aku temui di email yang sedang kubaca dan sayangnya kata itu tidak familiar buatku. Cukup lama aku mencerna isi dari email tersebut karena banyak hal yang belum aku ketahui dan aku sangat terbantu dengan search engine yang memberiku banyak informasi tentang Special Olympics.

Informasi yang aku peroleh dari hasil stalking melalui search engine tidak hanya membuatku menjadi tahu apa itu Special Olympics, namun mendatangkan kekaguman tersendiri pada nama anak-anak yang nantinya akan aku temui selama kurang lebih satu bulan. Hmm, aku mulai merinding membaca prestasi mereka dalam membanggakan Indonesia tercinta di ranah Internasional melalui ajang olimpiade olahraga khusus ini.

Kenapa khusus?

Special Olympics adalah sebuah organisasi internasional di bidang olahraga khusus untuk anak-anak dengan keterbatasan intelektual yang berarti memiliki keterbatasan secara fungsi intelektual dan kemampuan beradaptasi. Secara fungsi intelektual, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam penalaran, pemahaman, dan problem solving. Fungsi ini dapat diukur melalui IQ test, dimana anak-anak dengan keterbatasan fungsi intelektual memiliki IQ 70-75. Sedangkan, keterbatasan kemampuan beradaptasi terdiri dari beberapa kondisi seperti: kemampuan berfikir (keterbatasan dalam penggunaan bahasa, tulisan, waktu, dan arah), kemampuan sosial (keterbatasan dalam hubungan antar personal, tanggung jawab sosial, penerimaan diri, kemampuan dalam mengikuti aturan), serta kemampuan praktik (keterbatasan dalam melakukan rutinitas/daily activity, menjaga kesehatan, melakukan perjalanan, penggunaan uang). [Source : AAIDD – American Association on Intellectual Developmental Disabilities]

Jika tuna rungu memiliki alat bantu pendengaran, tuna netra memiliki alat bantu baca dengan huruf Braille, sedangkan anak berkebutuhan khusus (tuna grahita) hanya perlu pendampingan. That’s the point! PENDAMPINGAN. Dan, dari sinilah organisasi ini bermula.

Sejak tahun 1962, organisasi ini didirikan oleh Eunice Kennedy Shriver, adik dari Presiden Amerika Serikat ke-35 – John F. Kennedy. Saat itu, shriver melihat tidak adanya kesempatan untuk berkembang yang dimiliki oleh adiknya, Rosemary Kennedy yang memiliki keterbatasan intelektual. Keduanya sering melakukan olahraga bersama-sama dan Shriver menyadari bahwa olahraga adalah cara mudah untuk mempersatukan bermacam-macam orang, termasuk memberi ruang bagi adiknya Rosemary untuk berkembang.

Organisasi ini kian berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang dikenal dengan “Special Olympics Indonesia (SOINA),” tempat dimana aku pernah memiliki kesempatan untuk melibatkan diri. Bagiku, organisasi ini begitu mengagumkan karena memberikan wadah kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk tetap berkembang, bersosialisasi, bahkan berprestasi. SOINA memberikan perhatian khusus kepada kelompok minoritas yang terkadang kita tidak menyadari keberadaan mereka. Terkadang, kita tidak pernah peduli atau bahkan memikirkan kelompok minoritas ini di lingkungan sekitar kita. Aku pun demikian, sebelum aku mengenal organisasi ini.

***

Kembali pada cerita bagaimana aku pada akhirnya bertemu dengan mereka. Aku lebih suka menyebutnya sebagai teman baruku. Meski kami baru bertemu dua bulan terakhir ini, namun sikap mereka yang begitu natural membuat kami menjadi begitu dekat. Aku masih ingat betul saat pertama kali bertemu dengan mereka. Sapaan dan senyuman ramahnya seakan melunturkan rasa nervous yang sedang aku alami saat itu karena aku akan bertemu dengan para atlit yang sudah memberikan kontribusinya untuk negeri tercinta ini.

Nesa, Yofan, Indra, Mayang, dan Stephanie

Pertemuanku dengan mereka mematahkan stereotype yang berkembang di masyarakat dalam memandang kelompok minoritas ini. Mereka memiliki karakteristik masing-masing.

Nesa: ia aktif dalam berdiskusi dan selalu antusias untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Ia responsif sekali terhadap hal baru yang membuatnya tertarik untuk menyampaikan pendapatnya. Ia sangat percaya diri. Ia memiliki keinginan yang besar untuk diterima di masyarakat, tidak dipandang berbeda, dan memiliki kesempatan untuk bekerja. Ia selalu bersemangat untuk menyuarakan haknya.

11054424_10203964864138039_6628629361485233258_o[Nesa bersama salah satu mentor dari Pakistan]

Yofan: ia memiliki potensi yang besar dalam berbagai hal. He is a good story teller, and he dream to inspire people through his words. He always good in delivering idea. Ia juga bagus dalam berpidato. Semangatnya selalu tinggi untuk maju, dan ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di tingkat perguruan tinggi.

10988292_10203964928739654_5357316672277976858_o[Yofan saat berpidato di Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Indra: ia adalah seorang laki-laki yang pendiam, memang agak sulit untuk membaca dan menyampaikan pendapatnya. Namun, ia sangat bertanggung jawab. He is a good athlete! Saat dia sudah memegang raket bulu tangkis, kemampuannya mengalahkan kepribadiannya yang sangat pendiam. Guest what? Indra akan membawa nama Indonesia pada ajang Special Olympics World Games 2015 di Los Angeles, California pada 25 Juli – 2 Agustus mendatang. Dan, ia akan terbang ke Amerika untuk mempertaruhkan nama negeri tercinta ini pada ajang World Games pada cabang olahraga Bulu Tangkis. Good Luck Indra!

10321729_10203964889698678_988203864097122666_o[Indra bersama tamu undangan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Mayang: ia seperti kakak untuk anak-anak yang lain. Ia bagus dalam presentasi dan memiliki ide yang cukup bagus dalam menyampaikan gagasan. Ia sangat ramah dan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ia saat ini berkeja di sebuah sekolah sebagai staff administrasi.

10830485_10203964833137264_5668392920281100947_o[Mayang bersama salah satu board members]

Stephanie: siapa tidak mengenal Stephanie Handojo? Wajahnya beberapa kali menghiasi media Indonesia karena prestasinya sebagai peraih medali emas dalam ajang Special Olympics World Games 2011 di Athens, Greece pada cabang olahraga renang. Gadis 24 tahun ini adalah seorang pejuang tangguh, ia sangat bagus dalam berpidato, bahkan dalam bahasa Inggris. Saat ini, ia memegang peran sebagai International Global Messenger periode 2015-2019 bersama 12 atlit lain dari 12 negara. Ia berhasil melewati tes dan mengalahkan 73 partisipan dari 22 negara bagian dan 39 negara di seluruh dunia (sumber: specialolympics.org). Ia tidak hanya membawa nama Special Olympics, namun juga membawa negara Indonesia. So proud of you Stephanie! Yang lebih membanggakan lagi adalah, She is nice, care and still humble! I adore it!

DSCF2039[Stephanie saat berpidato pada acara Asia Pacific Conference]

Aku belajar dari mereka bahwa Tuhan memang tidak pernah salah. Terkadang kitalah yang secara tidak sadar menyalahkan Tuhan atas hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kitalah yang menjalankan peran untuk memilih apakah kita hanya akan berhenti menatap ketidaksempurnaan yang ada dan meminta orang lain untuk mengerti keterbatasan yang kita milki. Atau, kita mulai bertindak untuk berubah dan menunjukkan pada orang lain bahwa ketidaksempurnaan fisik bukan tiket menuju kegagalan.

Masih ingat bukan dengan international speaker Nick Vujicic? Meskipun ia hidup tanpa lengan dan kaki, tapi semangatnya mengalahkan ketidaksempurnaannya. Because, your potential is limited only by your excuses!

This is song from Avril Lavigne that dedicated to Special Olympics. The song tittle: “FLY”

Salam,

[At Tachriirotul M.]

Advertisements

Bukan hanya sekedar “aku ingin menikah”…

Saturday, 14 February 2015

LOVE

Di tengah mencari ide dan menyusun draft speech untuk contest di Toastmasters club dua minggu lagi, tiba-tiba tangan saya ingin sekali menulis tentang hal yang tiba-tiba muncul di kepala saya malam ini.

Beberapa hari yang lalu, sahabat terdekat saya resmi menjadi seorang Ibu. Dia baru saja melahirkan putri pertamanya, namun hari ini putrinya harus dirawat di rumah sakit karena kadar bilirubinnya tinggi. Saya sangat terharu saat membaca chat darinya:

“Dedek di rumah sakit dan aku di rumah karena harus makan dan pumping ASI setiap 2 jam sekali, sedangkan suamiku harus bolak balik rumah dan rumah sakit setiap 2 jam untuk mengantar ASI”

Saya percaya, mereka pasangan yang hebat!

Cerita ini menempel terus di pikiran saya dan membuat saya menyadari satu hal: Ini lebih dari sekedar kata-kata “Aku ingin menikah” seperti yang selalu diucapkan oleh saya dan teman-teman lainnya. Saya menjadi semakin ingin belajar untuk memaknai arti “pernikahan” itu sendiri.

Berbicara tentang pernikahan, saya teringat kalimat dari Ayu Utami dalam bukunya “Parasit Lajang” :

“Berkeluarga itu kan tidak boleh main-main, sekali kamu menikah sebaiknya kamu tidak cerai. Sekali kamu punya anak, kamu tidak bisa memasukkannya lagi ke dalam perut dan mengurainya kembali kepada sperma dan sel telur. Berkeluarga adalah kontrak seumur hidup. Artinya, yang mampu silahkan melakukannya”

Mungkin kita bisa menyadari satu hal bahwa memutuskan menikah dan berkeluarga itu memerlukan tanggung jawab yang besar. Lantas, memilih untuk menikah sepertinya tidak boleh main-main karena kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Maka dari itu, yang dibutuhkan adalah kesadaran, bukan paksaan. That’s true, bukan paksaan keluarga apalagi lingkungan sosial.

Saat memutuskan berkeluarga, kita harus siap belajar. Saya percaya bahwa tingkat pendidikan dan kesalehan seseorang tidak linear dengan tingkat keberhasilannya dalam membina rumah tangga. Kita sama-sama menjadi pemain baru dalam fase kehidupan ini, untuk itu kita harus bisa menurunkan ego untuk sama-sama belajar bertanggung jawab.

Sebetulnya, membicarakan tentang pernikahan sepertinya memang agak tricky ya, apalagi yang menulis adalah orang yang belum pernah menikah, hehe. Namun, hari ini saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri apakah sebetulnya saya sudah siap menikah atau belum. Dan, sepertinya perkataan “aku ingin menikah” tidak sama dengan “aku siap menikah”. Menikah itu tentang kesiapan dan niat, bukan tentang status sosial.

Mungkin selama ini kita hanya fokus pada keinginan menikah itu sendiri, sedangkan tanpa disadari kita belum mempersiapkan apapun. Atau mungkin, selama ini kita terlalu fokus mencari pasangan, sedangkan kita lupa mempersiapkan diri dan lupa meminta kepada Tuhan agar dipantaskan. Ohya, mempersiapkan diri itu bukan hanya tentang mempersiapkan materi seperti rumah, kendaraan, penghasilan, dsb., namun juga mempersiapkan batin.

Sangat klise memang ketika banyak motivator mengatakan tentang teori “memantaskan diri”. Awalnya saya sering mengatakan “sedang memantaskan diri” setiap membahas tentang pasangan, menikah, dsb. Namun, yang saya lakukan sebetulnya belum benar-benar berusaha “memantaskan diri” dan sepertinya Tuhan pun melihat saya seperti itu, belum siap untuk menikah.

Coba deh kita pikirkan, sebetulnya mempersiapkan diri itu bisa dilakukan dengan banyak hal, misalnya: Kita mencoba lebih aware dengan lingkungan sekitar, karena awareness harus dilatih agar nantinya kita bisa lebih aware dengan pasangan dan keluarga. Untuk hal ini, saya sedang berusaha keras karena pada dasarnya saya orang yang cukup cuek. Saya belajar untuk lebih aware dengan sahabat-sahabat saya, memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sekitar, dan berusaha untuk tidak mudah melupakan sesuatu. Bagi orang-orang yang memiliki kesulitan untuk mengatakan hal apapun (seperti ketidaknyamanan, dsb), kita harus belajar untuk mengkomunikasikan hal tersebut dengan memulainya dari lingkungan sekitar kita. Komunikasi itu sangat penting dan kurangnya komunikasi menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan rumah tangga.

Di samping itu, kita juga bisa belajar untuk hidup sehat. Kita bisa memulai dari menjaga kesehatan diri kita dengan mengatur pola makan, masak masakan yang sehat, dsb. Sebetulnya banyak sekali proses belajar yang bisa dilakukan. Sebagai wanita muslim misalnya, kita bisa belajar tentang fiqih wanita dan mempelajari bagaimana peran wanita dalam keluarga. Ingat ya, wanita itu berperan penting dalam melahirkan generasi-generasi yang baik dan wanita juga berperan penting dalam keberhasilan seorang laki-laki. Seorang laki-laki juga bisa mempelajari perannya sebagai “pemimpin” dalam keluarga. Because, you will lead your family !

Hmm, it is just my personal opinion tentang proses mempersiapkan diri yang bisa kita lakukan di tengah-tengah usaha mencari pasangan itu sendiri. Kita jangan lupa untuk melibatkanNya dalam setiap usaha yang kita lakukan dengan tidak pernah putus berdoa dan meminta. Percaya, Tuhan pasti akan melihat usaha yang kita lakukan dan melihat bahwa kita sudah “siap” menikah.

Saya sangat suka sekali dengan kutipan kalimat dari salah satu penulis favorite saya, Tere Liye dalam novelnya: RINDU:

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika pun kau akhirnya tidak memiliki, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik”

Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak akan memutus jalan bagi umatNya untuk menikah, karena ini adalah salah satu bentuk ibadah. Kenapa islam sangat menganjurkan umatnya untuk hidup berpasang-pasangan dan memiliki keturunan? Ya, karena dari situlah akan lahir generasi-generasi baru yang akan menjaga bumi ini, masih ingat kan kenapa manusia diciptakan? Karena kita memiliki peran sebagai khalifah di bumi untuk menjaga ciptaanNya, termasuk menjalankan roda pemerintahan, menciptakan inovasi dan kemudahan-kemudahan bagi manusia, menjalankan roda perekonomian, dsb. Wow, ternyata tanggung jawab tersebut tidak main-main kan?

Percayalah,

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah namanya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau tidak bertemu, berarti bukan jodoh. Sederhana sekali.” [Kau, Aku, & Sepucuk Angpau Merah, Tere Liye]

Lantas, mari mempersiapkan diri dengan belajar apapun, sembari menanti kejutan apa yang akan Tuhan hadiahkan untuk orang-orang yang bersabar, yakin, dan optimis!

Salam,

[At Tachriirotul M.]

The Only Limitation to Your Potential is the Only One You Make

It was around the year, that I had the moment where I called the low point in my life, where I lost the energy to do anything and I have no idea where to go or what to do in the future. Basically I felt that my life was going nowhere.

At the time I just finished my job and the clock was striking 5 pm, I turn off my computer then took my bag. I decided to return home early. I walked to my boarding house with some questions that disturbing my mind. “Why I couldn’t finish my job well?” “Why I haven’t already got a better job?” “Why I still couldn’t find my Passion?” and so on and so on.

Some of the things that happened in my past has triggered me to this kind of thinking. Some of the past events that I considered as a failure moments in my life:

1st,
When I was in Senior high school, I had intention to continue my study in Psychology. But, I don’t like to learn social science such as : Geography, History, or Economy. I have never tried to learn any social science that could give me so much opportunity to enter the Psychology Major. Because of my reluctance and lack of willing on learning those things, so I failed to enter Psychology Major in Gadjah Mada University.

My lack of tenacity made me missed the opportunity to be a psychologist. So I decided to enter another major in Gadjah Mada University, which is Pharmacy.

2nd,
When I was in college, I want to study abroad to earn my master degree. I wanted to apply for a scholarship, but I realized that my English was not good enough to get the scholarship. At that time, I still have 2 years to learn English, but I haven’t tried just because I have no confidence. Until I have graduated from Gadjah Mada University, I have never taken any English course to help me improve my English.

I miss the opportunity to apply for a scholarship, just because I didn’t try to improve my English.

What happened to me at the time was that I was over thinking and put more emphasize on my limitations and use them as an excuse instead of finding a solution.

At the moment of contemplation, I was laying down in my bed and thinking a lot, when I finally decided to open my laptop and surfing the internet. While I was surfing the internet I found this kind of picture!

Famous Failures,
Famous-Failures

Oprah Winfrey was demoted from her job as a news anchor because she “Wasn’t fit for television”. At that time, African Americans were seldom seen on television but Oprah started. What do you think If that time, Oprah was give up to pursue her dream? She would never become a Host of Multi award winning Talk Show and The Most Influential Woman in The World. Currently, She has television network, with name OWN – Oprah Winfrey Networking.

Steve Jobs, at 30 years old he left devastated and depressed after being unceremoniously removed from the company he started. But, he has never stopped to make an innovation and He became a co-founder of Apple Incorporate and co-founder of Pixar Animation Studios.

I love the quote in the picture that said: IF YOU HAVE NEVER FAILED, YOU HAVE NEVER TRIED ANYTHING NEW.

This picture has given me an AHA moment, where I realized that even the highly successful person such as Steve Jobs and Oprah Winfrey have been rejected and experienced the low points some times in their life. The only thing that make them incredible is they never looked back and kept on going.

Now, I decided to shift my way of thinking. Instead of thinking too much about my limitations in English, I need to find a solution to improve my English. So, I decided to join the Toastmaster. I still have no confidence in my English, the first time I decided to join this club. Honestly, I always tried to avoid any kind of roles or opportunities to be a speaker or being in the spotlight. I was hoping and praying for other club members not to choose me.

One day, I had my first opportunity to participated as a contestant in table topic & International Speech Contest, since I decided to join the Toastmaster in October 2013. I only had a month to prepare myself for contest. What I was thinking at the time is how to ran away from the contest. But, the other part of me has convinced me to stay and face the challenge.

Before the contest, I prepared myself by reading a lot of articles and books and did some rehearsal with my friend. I also gave a simple challenge to myself not to make a lot of pauses while delivering the speech. So, I decided to join the contest and I was happy that I finally succeeded to defeat my fear. Also, the other thing that made me happy was my friend who said to me that “Wow, you have improved a lot”.

My experience in joining Toastmaster has given me a huge lesson. That you can find solutions anywhere as long as you want to try. You would never know your potential until you start to try something new.

Just because your school basketball team has rejected you, doesn’t mean that NBA was thinking the same way. Just because the newspaper company told you that you were lacking of imagination doesn’t mean you can stop yourself to become the inspiration and source of imaginations to millions of children around the world. Just because you were not an African American and struggled with poverty and drug addict, doesn’t mean you can not be one of the most famous rapper alive.

So, enjoy your journey in life by trying anything new and positive. You might find your new talent that you might never know you have.

Because the only limitation to your potential is the only one you make

At Tachriirotul M.
Edited by. Niken Setyawati

The Holstee Manifesto: Lifecycle

 

THIS IS YOUR LIFE, Do what you love, and do it Often. If you don’t like Something, CHANGE IT. If you don’t like your Job, QUIT. If you don’t have enough time, stop watching TV. If you are looking for the love of your life, STOP. They will be waiting for you when you START DOING THINGS YOU LOVE. Stop over analyzing, LIFE IS SIMPLE. All emotions are beautiful. When you eat, appreciate every last bite. Open your mind, arms, and heart to new things and people. We Are United in our differences. Ask the next Person you see What their Passion is, and SHARE your Inspiring Dream With Them. TRAVEL OFTEN, Getting Lost will help you find yourself. Some opportunities only come once, seize them. LIFE IS ABOUT THE PEOPLE YOU MEET, AND THE THINGS YOU CREATE WITH THEM, SO GO OUT AND START CREATING. LIFE IS SHORT. Live Your Dream and Share Your PASSION!

-Holstee Manifesto-

Brainlifting

2.07 am

Masih dalam waktu menikmati long weekend yang hanya Saya habiskan di Jakarta, dan malam ini saya masih ingin menikmati malam Senin tanpa beban apapun. Tapi, entah kenapa hal yang muncul dalam kepala saya untuk ditulis di blog adalah “Brainlifting”. Hmm, sepertinya sekarang kepala saya mulai cukup terbebani dengan bahasan ini.

Saya mengenal kata “Brainlifting”  dari majalah Toastmaster, club Bahasa Inggris yang sedang saya ikuti. Ternyata, tidak hanya tubuh yang memerlukan exercise agar tetap fit, sehat, dan bugar, melainkan juga Otak manusia.

“How brain exercise boost the ability to generate ideas”

Ide selalu muncul tak terduga dari setiap pemikiran manusia. Kita semua diciptakan dengan tingkat kreativitas dan imajinasi yang sama. Kemudian, Apakah otak manusia akan berkembang atau bahkan menurun tergantung dari kemampuan genetik manusia, kebiasaan, dan aktivitas sehari-hari.

Tahun 2012 lalu, sebuah penelitian menunjukkan adanya perbedaan struktur otak pada sekelompok orang yang diminta mempelajari three ball juggling selama 3 bulan dan sekelompok orang yang hidup normal. Sebelum melaksanakan tantangan tersebut, kedua kelompok mengikuti proses scan otak. Setelah tiga bulan, keduanya mengikuti scan otak kedua kalinya. And the result shown that: Pada otak sekelompok orang yang mempelajari three ball juggling  mengalami peningkatan jumlah neurons pada bagian otak yang berkaitan dengan sensitivitas gerak dan perhatian visual-spasial. Sedangkan, pada otak sekelompok orang yang hidup normal tidak mengalami perubahan.

Penelitian yang dilakukan tidak berhenti disitu saja. Tiga bulan kemudian, scan otak dilakukan kembali untuk ketiga kalinya pada sekelompok orang yang tidak melanjutkan lagi mempelajari three ball juggling. Hasilnya adalah, jumlah neurons tadi is getting lost.  Artinya, workout yang dilakukan harus terus menerus dan jangan sampai berhenti.

Inti dari Brainlifting adalah bagaimana membiasakan otak selalu di-upgrade. Caranya? Coba deh untuk melakukan beberapa hal berikut ini: (1) Work your memory, bisa banget dengan ngisi TTS atau main game yang melatih kita untuk recall memory (2) Do something different, setiap hari coba untuk melakukan sesuatu yang baru, cari dan cari hal apa yang belum pernah kamu lakukan and write it down your feelings after do that! (3) Learn something new, coba open mind dengan sesuatu yang baru, then you will curious to explore that thingsit will influence your brain to thinking! (4) Follow a bran training program, coba deh sesekali mampir ke Lumosity.com that is one of solution for daily brain training exercises. Saya pernah mencoba dan itu membuat saya ketagihan untuk train my brain everyday. 

Then, are you ready to train your brain? Just try and feel the effect…!

Regards,

At tachriirotul M.