Anak di atas rata-rata

DSCF1898[Dari kiri: Mayang, Nesa, Stephanie, Indra, Yofan]

Satu per satu aku bertemu dengan anak-anak yang namanya sudah kukenal melalui email, itupun aku terima dari seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Memang seringkali seperti ini, ketika aku mendapat kesempatan untuk melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Siklusnya selalu sama: networking-virtual meeting-direct communication-take an action-maintain relationship, dan aku selalu suka.

***

Sore itu, di tengah pekerjaan yang cukup membosankan, notifikasi email pribadi yang aku terima cukup membuatku kembali bergairah. Email itu memang lebih menarik daripada pekerjaan yang sedang aku selesaikan sore itu dan tentunya membuat naluri analisaku berfungsi (red: stalking). Email yang aku terima adalah email yang menjelaskan peran yang akan aku lakukan di kegiatan sosial pada sebuah organisasi non profit di Jakarta. “Spesial Olympics” itulah kata-kata yang sering aku temui di email yang sedang kubaca dan sayangnya kata itu tidak familiar buatku. Cukup lama aku mencerna isi dari email tersebut karena banyak hal yang belum aku ketahui dan aku sangat terbantu dengan search engine yang memberiku banyak informasi tentang Special Olympics.

Informasi yang aku peroleh dari hasil stalking melalui search engine tidak hanya membuatku menjadi tahu apa itu Special Olympics, namun mendatangkan kekaguman tersendiri pada nama anak-anak yang nantinya akan aku temui selama kurang lebih satu bulan. Hmm, aku mulai merinding membaca prestasi mereka dalam membanggakan Indonesia tercinta di ranah Internasional melalui ajang olimpiade olahraga khusus ini.

Kenapa khusus?

Special Olympics adalah sebuah organisasi internasional di bidang olahraga khusus untuk anak-anak dengan keterbatasan intelektual yang berarti memiliki keterbatasan secara fungsi intelektual dan kemampuan beradaptasi. Secara fungsi intelektual, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam penalaran, pemahaman, dan problem solving. Fungsi ini dapat diukur melalui IQ test, dimana anak-anak dengan keterbatasan fungsi intelektual memiliki IQ 70-75. Sedangkan, keterbatasan kemampuan beradaptasi terdiri dari beberapa kondisi seperti: kemampuan berfikir (keterbatasan dalam penggunaan bahasa, tulisan, waktu, dan arah), kemampuan sosial (keterbatasan dalam hubungan antar personal, tanggung jawab sosial, penerimaan diri, kemampuan dalam mengikuti aturan), serta kemampuan praktik (keterbatasan dalam melakukan rutinitas/daily activity, menjaga kesehatan, melakukan perjalanan, penggunaan uang). [Source : AAIDD – American Association on Intellectual Developmental Disabilities]

Jika tuna rungu memiliki alat bantu pendengaran, tuna netra memiliki alat bantu baca dengan huruf Braille, sedangkan anak berkebutuhan khusus (tuna grahita) hanya perlu pendampingan. That’s the point! PENDAMPINGAN. Dan, dari sinilah organisasi ini bermula.

Sejak tahun 1962, organisasi ini didirikan oleh Eunice Kennedy Shriver, adik dari Presiden Amerika Serikat ke-35 – John F. Kennedy. Saat itu, shriver melihat tidak adanya kesempatan untuk berkembang yang dimiliki oleh adiknya, Rosemary Kennedy yang memiliki keterbatasan intelektual. Keduanya sering melakukan olahraga bersama-sama dan Shriver menyadari bahwa olahraga adalah cara mudah untuk mempersatukan bermacam-macam orang, termasuk memberi ruang bagi adiknya Rosemary untuk berkembang.

Organisasi ini kian berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang dikenal dengan “Special Olympics Indonesia (SOINA),” tempat dimana aku pernah memiliki kesempatan untuk melibatkan diri. Bagiku, organisasi ini begitu mengagumkan karena memberikan wadah kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk tetap berkembang, bersosialisasi, bahkan berprestasi. SOINA memberikan perhatian khusus kepada kelompok minoritas yang terkadang kita tidak menyadari keberadaan mereka. Terkadang, kita tidak pernah peduli atau bahkan memikirkan kelompok minoritas ini di lingkungan sekitar kita. Aku pun demikian, sebelum aku mengenal organisasi ini.

***

Kembali pada cerita bagaimana aku pada akhirnya bertemu dengan mereka. Aku lebih suka menyebutnya sebagai teman baruku. Meski kami baru bertemu dua bulan terakhir ini, namun sikap mereka yang begitu natural membuat kami menjadi begitu dekat. Aku masih ingat betul saat pertama kali bertemu dengan mereka. Sapaan dan senyuman ramahnya seakan melunturkan rasa nervous yang sedang aku alami saat itu karena aku akan bertemu dengan para atlit yang sudah memberikan kontribusinya untuk negeri tercinta ini.

Nesa, Yofan, Indra, Mayang, dan Stephanie

Pertemuanku dengan mereka mematahkan stereotype yang berkembang di masyarakat dalam memandang kelompok minoritas ini. Mereka memiliki karakteristik masing-masing.

Nesa: ia aktif dalam berdiskusi dan selalu antusias untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Ia responsif sekali terhadap hal baru yang membuatnya tertarik untuk menyampaikan pendapatnya. Ia sangat percaya diri. Ia memiliki keinginan yang besar untuk diterima di masyarakat, tidak dipandang berbeda, dan memiliki kesempatan untuk bekerja. Ia selalu bersemangat untuk menyuarakan haknya.

11054424_10203964864138039_6628629361485233258_o[Nesa bersama salah satu mentor dari Pakistan]

Yofan: ia memiliki potensi yang besar dalam berbagai hal. He is a good story teller, and he dream to inspire people through his words. He always good in delivering idea. Ia juga bagus dalam berpidato. Semangatnya selalu tinggi untuk maju, dan ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di tingkat perguruan tinggi.

10988292_10203964928739654_5357316672277976858_o[Yofan saat berpidato di Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Indra: ia adalah seorang laki-laki yang pendiam, memang agak sulit untuk membaca dan menyampaikan pendapatnya. Namun, ia sangat bertanggung jawab. He is a good athlete! Saat dia sudah memegang raket bulu tangkis, kemampuannya mengalahkan kepribadiannya yang sangat pendiam. Guest what? Indra akan membawa nama Indonesia pada ajang Special Olympics World Games 2015 di Los Angeles, California pada 25 Juli – 2 Agustus mendatang. Dan, ia akan terbang ke Amerika untuk mempertaruhkan nama negeri tercinta ini pada ajang World Games pada cabang olahraga Bulu Tangkis. Good Luck Indra!

10321729_10203964889698678_988203864097122666_o[Indra bersama tamu undangan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Mayang: ia seperti kakak untuk anak-anak yang lain. Ia bagus dalam presentasi dan memiliki ide yang cukup bagus dalam menyampaikan gagasan. Ia sangat ramah dan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ia saat ini berkeja di sebuah sekolah sebagai staff administrasi.

10830485_10203964833137264_5668392920281100947_o[Mayang bersama salah satu board members]

Stephanie: siapa tidak mengenal Stephanie Handojo? Wajahnya beberapa kali menghiasi media Indonesia karena prestasinya sebagai peraih medali emas dalam ajang Special Olympics World Games 2011 di Athens, Greece pada cabang olahraga renang. Gadis 24 tahun ini adalah seorang pejuang tangguh, ia sangat bagus dalam berpidato, bahkan dalam bahasa Inggris. Saat ini, ia memegang peran sebagai International Global Messenger periode 2015-2019 bersama 12 atlit lain dari 12 negara. Ia berhasil melewati tes dan mengalahkan 73 partisipan dari 22 negara bagian dan 39 negara di seluruh dunia (sumber: specialolympics.org). Ia tidak hanya membawa nama Special Olympics, namun juga membawa negara Indonesia. So proud of you Stephanie! Yang lebih membanggakan lagi adalah, She is nice, care and still humble! I adore it!

DSCF2039[Stephanie saat berpidato pada acara Asia Pacific Conference]

Aku belajar dari mereka bahwa Tuhan memang tidak pernah salah. Terkadang kitalah yang secara tidak sadar menyalahkan Tuhan atas hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kitalah yang menjalankan peran untuk memilih apakah kita hanya akan berhenti menatap ketidaksempurnaan yang ada dan meminta orang lain untuk mengerti keterbatasan yang kita milki. Atau, kita mulai bertindak untuk berubah dan menunjukkan pada orang lain bahwa ketidaksempurnaan fisik bukan tiket menuju kegagalan.

Masih ingat bukan dengan international speaker Nick Vujicic? Meskipun ia hidup tanpa lengan dan kaki, tapi semangatnya mengalahkan ketidaksempurnaannya. Because, your potential is limited only by your excuses!

This is song from Avril Lavigne that dedicated to Special Olympics. The song tittle: “FLY”

Salam,

[At Tachriirotul M.]

Advertisements

Selamat Hari Buku Nasional

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

PicsArt_1400331024979

#Kapan Terakhir Donasi Buku?

 17 Mei 2014,

Hari ini adalah Hari Buku Nasional, begitulah yang saya tahu dari twitter seorang teman. Rasanya banyak sekali moment yang terlintas di pikiran saya ketika berbicara mengenai buku. Harus diakui, saya belum “menggilai” buku, namun bukan tanpa alasan kenapa “buku” menjadi cukup dekat dengan saya belakangan ini. Selain karena menyukai membaca, ada dua hal yang saya anggap sebagai “part of my life” dalam satu tahun ini, yaitu buku dan anak-anak. Bagaimana tidak, saya berinteraksi dengan keduanya di setiap akhir pekan. Sebetulnya, interaksi itu sangat sederhana karena kami hanya mendampingi anak-anak membaca, menjadi story teller, dan memfasilitasi keingin tahuan mereka.

Ada pertanyaan yang selalu melintas di pikiran saya: Kenapa saya mau melakukan itu?

Entahlah, sepertinya itu akan selalu menjadi pertanyaan retorik tanpa jawaban, karena saya hanya merasa bahagia saat melakukannya, tidak ada kata lain.

Hingar bingar perpustakaan, senyum dan antusias anak-anak ketika meminjam dan mengembalikan buku seolah menyapa saya secara bergantian malam ini. Banyak hal mengejutkan yang seringkali membuat kami tidak menyangka bahwa ternyata Buku memberikan banyak peran dalam pendidikan. Masih ingat pepatah “Buku adalah Jendela Dunia” yang kita kenal sejak di Sekolah Dasar? Ternyata peran buku lebih dari itu. Buku dapat melatih anak-anak untuk bertanggung jawab, dan itulah salah satu kejutan yang kami dapati di ruang interaksi kami.

Pernahkah kita berfikir bahwa buku bisa jadi tidak berfungsi apapun, dan adanya buku tidak dapat diidentikkan dengan minat baca begitu saja. Fungsi buku perlu diaktivasi, salah satunya dengan menumbuhkan kebutuhan membaca. Hal yang menarik dari interaksi yang saya lakukan adalah kondisi sosial-ekonomi di lingkungan tempat saya beraktivitas. Kondisi tersebut memang sangat berpengaruh terhadap sikap anak-anak dan tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan komunitas. Harapannya, melalui buku kami dapat menyalakan semangat belajar dan menanamkan bahwa siapapun berhak memiliki cita-cita.

Untuk mewujudkan harapan itu, kami tidak dapat bekerja sendirian. Masih terngiang betul dalam ingatan sebuah pesan bahwa “Mendidik adalah tugas seorang yang terdidik”. Ya, ini adalah tugas kita semua, orang-orang terdidik. Jadi, #Kapan terakhir Donasi Buku?

Ingat ! Donasi buku tidak sama dengan membuang buku. Jadi, bijaklah dalam memberi.

Selamat malam,

Selamat Hari Buku Nasional….

 

Salam,

At tachriirotul M.

 

“Ambil satu buku dan kau baca”

Sabtu, 23 November 2013

Badan ini rasanya masih lelah setelah mengikuti kegiatan perusahaan yang sedang berulangtahun ke-15. Mata pun masih ingin dipejamkan untuk hibernasi seharian. Namun, matahari pagi itu tampak begitu indah dan cerah, seakan memberi energy semangat buat saya. Senyum dan semangat anak-anak sekolah pun bergantian menyapa, menggusur ego dan rasa malas untuk enggan beranjak dari tempat tidur.

I don’t now, i just felt happy doing my social activity, meski harus berangkat pukul 06.00 pagi dan sampai di Tanah Seral sebelum pukul 07.30. I think, it is what people called with “me time” – my version to re-charge my energy. Pagi itu saya jauh lebih awal sampai di Sekolah, jadi masih bisa melihat semangat anak-anak yang sedang melakukan senam pagi, sekaligus sarapan semangat sebelum mengadakan Kelas Membaca di kelas 3.

Seperti biasa, saya menunggu di ruang guru. Masih sepi, hanya ada satu guru yang sedang memeriksa pekerjaan anak-anak. Beberapa menit kemudian, seorang wali murid masuk, berbisik ke guru tersebut. Kalau tidak salah dengar, wali murid itu meminta ijin untuk mengajak pulang seorang murid. “Ibunya meninggal, kena kanker rahim,” ujarnya. Saya bisa melihat mimik wajah guru tadi berubah, tak lama kemudian keluar beberapa kalimat dari bibirnya. “Padahal baru kemaren kami bicarakan, akhir-akhir ini anak itu gak seperti biasanya. Kasihan, sekarang berarti yatim piatu, padahal dia anak pertama dan masih punya satu adik,” kisahnya.

Saya pun hanya diam membayangkan anak itu, murid kelas 4 yang baru saja ditinggal ibunya, seorang gadis kecil yang kini yatim piatu. Namun, di satu sisi, berita pagi itu seolah mengingatkan saya agar terus bersemangat bertugas selama 6 bulan di Tanah Sereal. Bel sekolah berbunyi, membuyarkan lamunan saya, suara anak-anak pun mulai terdengar. Mereka berlarian memasuki kelas. Satu per satu murid kelas 3 berdatangan dan menyalami kami, tim Penyala Tanah Sereal. Hari itu kami mengadakan Kelas Membaca, kegiatan yang menjadi project pertama kami. Dua minggu yang lalu pun kami sudah mengadakan Kelas Membaca di kelas 1 dan kelas 2. Namun, di kelas 3 kami akan mencoba beberapa materi baru.

Seperti biasa, kami selalu memulai kegiatan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Iqbal, ketua kelas 3 tampak bersemangat memimpin teman-temannya. Sembari tangan diletakkan di dada sebelah kiri, kami melantunkan nyanyian kebangsaan Indonesia itu dengan penuh semangat. “Pasti akan menjadi hari yang istimewa,” gumam saya.

Ya, mereka memang terlihat antusias, apalagi ketika melihat video anak-anak di Aceh yang begitu senang membaca buku. Mereka menyimak dan mencermati isi video dengan mengeja pesan-pesan yang coba disampaikan, seperti: “Buku adalah jendela dunia,” “Buku adalah sumber energy,” “Buku dapat membawaku menjelajah dunia,” “Buku adalah sumber makanan buatku.” Begitulah arti buku untuk anak-anak Sekolah Dasar di Aceh. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa di Jakarta mereka akan lebih mudah memperoleh buku dan informasi melalui media lain seperti internet, sedangkan anak-anak di Aceh tidak. Untuk itu, mereka tidak boleh kalah semangat.

Kegiatan Indonesia Menyala fokus pada literasi anak. Lewat Kelas Membaca kami ingin mengajak murid Sekolah Dasar untuk lebih akrab dengan buku dan suka membaca. Kami pun mengajak anak-anak bermain dengan buku agar mereka lebih akrab dengan buku. Toni, salah seorang murid begitu antusias dengan permainan ini. Ia begitu bersemangat bercerita tentang Kancil, buku yang pernah dibacanya atau Fahri misalnya, ia membacakan cerita seperti yang ada di buku. Bahkan ada seorang murid yang tertarik dengan sebuah gambar yang bercerita tentang profesi arsitek, polisi, dan pilot pesawat. “Polisi itu tugasnya menilang ya kak?” tanyanya. Mungkin, ia sering mendengar berita tentang penilangan pengendara yang menerobos jalur busway, hehe. Dan, ia pun meminta dijelaskan tentang profesi-profesi itu.

Tak terasa, jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Anak-anak sudah terlihat lelah. Kami pun menyanyikan lagu sayonara bersama dan mengucapkan janji. Ya, mulai hari itu kami berjanji akan membaca buku agar bisa memeluk dunia. Pesan kami: Ambil satu buku dan kau baca!

Education is the most powerfull weapon we can use to change the world –Nelson Mandela-

Actually, we need more hands to help them raising their dreams. Let’s donate your 4 hours every week!

IMG_0114

IMG_0174

IMG_0126

Contact us: @attachriirotulM @Penyala ; 087771945049

Salam,

At tachriirotul M.

Turun Gunung Part 1

Sebulan yang lalu saya janji akan menulis tentang kegiatan Indonesia Menyala secara rutin. Padahal, tim Indonesia Menyala sudah berjalan kurang lebih selama 4 minggu. Ohya, biasanya kami mengistilahkan “turun gunung” ketika terjun ke titik penempatan Taman Baca Indonesia Menyala. Jadi, saya akan membayar hutang malam ini D:

Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat…

Daerah itu akan menjadi tempat bercengkrama saya dan anak-anak sekolah setiap weekend, terutama di hari Sabtu. Saya, Wahyu, dan Feliks adalah tim Penyala di Taman Baca SDN Tanah Sereal, kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Daerah tersebut mungkin tidak begitu familiar karena terletak di pinggiran Jakarta Barat yang dengan jumlah penduduk sangat padat.

1384371_10200774686465591_99879558_nDari kiri: Wahyu, Feliks, Saya

Pagi itu, Sabtu (21/09) adalah hari pertama kami turun gunung. Karena merupakan pilot project, agenda kami adalah survey lokasi. Sebetulnya kami belum punya konsep matang, karena tujuan pilot project ini adalah mencari formula untuk menghidupkan Taman Baca Indonesia Menyala. Kalau temen-temen di Indonesia Mengajar selalu mengistilahkannya dengan nyemplung, setelah basah baru memikirkan strateginya.

Setibanya di TKP, kami sangat terkejut karena daerah ini sangat padat. Kalau kata Feliks, Tanah Sereal merupakan kawasan padat penduduk se-Asia Tenggara (ehem, saya belum surfing di google sih, mungkin ini hiperbolis D:). SDN Tanah Sereah berada di lingkungan pasar, jadi bisa dibayangkan bagaimana keramaian di lingkungan sekolah ini. Pada dasarnya, pasar bukan lingkungan yang mendukung pergaulan anak-anak sekolah. But, it was happen…!

Sekitar pukul Sembilan, kami menemui guru dan Kepala Sekolah untuk beramah tamah sekaligus menjelaskan project Indonesia Menyala. Alhamdulillah, pihak sekolah sangat mendukung kegiatan ini. Kami mengunjungi perpustakaan sekolah yang sudah lama mati suri. Bisa dibayangkan sih jika keadaan perpustakaan sekolah tidak diurus, pasti anak-anak enggan mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku. Let me to describe: ruangan berukuran kecil (untuk perpustakaan), tanpa sirkulasi udara, dan panas. Apalagi, setelah kami melakukan inventarisasi buku, guess what we found?

Banyak buku yang menurut kami tidak pas dengan usia anak Sekolah Dasar. Beberapa buku yang kami temui seperti: Deteksi dini terorisme, Terorisme sebuah pemahaman bagi masyarakat, Cara mengatasi stress, Generasi muda taat hukum, Membawa nasionalisme-nasionalisme Indonesia, dsb. Kalau saya di posisi mereka, pasti malas sekali membaca buku-buku itu. Padahal, anak-anak sangat antusias membaca buku. Sayangnya, selama ini perpustakaan tidak pernah dibuka.

Dilihat dari background sosial, sebagian besar siswa tinggal di perkampungan padat penduduk di kelurahan Tanah Sereal, kecamatan Tambora itu. Rumah mereka hanya berukuran sekitar 6 x 4 meter, tanpa halaman rumah, dan tidak ada ruang terbuka bagi anak-anak untuk bermain. Kapan-kapan saya foto deh kawasannya, karena sejauh ini masih belum berani capture, takut menyinggung masyarakat setempat. Jika dilihat dari hasil observasi sederhana kami, tingkat ekonomi masyarakat adalah menengah ke bawah. Jadi, anak-anak pun tidak memiliki kesempatan memiliki buku di rumahnya. Hiburan mereka hanya televisi dan handphone, atau kadang mereka pergi ke warnet.

Sayang sekali bukan kalau kesempatan membaca buku yang dimiliki anak-anak di sekolah tidak didukung dengan fasilitas yang memadai? Itulah yang menjadi salah satu PR bagi tim Penyala Tanah Sereal. Dari hasil survey itu kami akan memetakan kebutuhan dan persoalan yang ditemui di lapangan. Kadang, ketika melihat semangat belajar anak-anak yang begitu besar, rasanya cupu banget kalau kita tidak melakukan apapun.

Alfin misalnya,

Murid kelas 6 Sekolah Dasar yang begitu semangat membantu tim Penyala ketika kerjabakti mendata dan menyusun buku. Saat selesei kerjabakti, saya menanyai anak-anak satu per satu, apakah mereka sudah menemukan buku yang membuatnya tertarik. And, Alfin give the fast response…

“Aku sudah kak Atta, aku pengen membaca buku ini,” ujarnya sambil menunjukkan buku berjudul ‘Perjuangan seorang Anak’

“Kenapa kamu memilih buku itu?” tanyaku.

“Aku pengen belajar dari buku ini biar bisa membantu kedua orangtuaku”

Waw, semangat itulah yang selalu saya suka setiap bertemu dengan anak-anak. Kadang, kepolosan dan ketulusan jiwa mereka bisa mengajarkan kita banyak hal. Nah, kalau sudah dapet semangatnya, pasti mereka akan lebih mudah diarahkan.

1383247_10200782499260906_506091749_nTeam kerjabakti: Alfin (bawah, laki-laki)

Dari hasil survey itu, kami sedang dalam tahap menyusun langkah berikutnya. Ohya, untuk melaksanakan kegiatan sosial ini, kami sangat membutuhkan banyak relawan untuk mendukung kegiatan kami. Kalau temen-temen berdomisili di Jakarta dan ingin mendonasikan waktu nya saat weekend, bisa banget lho ! Kami tunggu ya…

Let’s donate your 4 hours every week….!!!

Salam,

Attachriirotul M.

Finally, Indonesia Menyala…

Image

Finally, I join with Indonesia Menyala…

Mengajar,

Entah kenapa saya menjadi jatuh cinta dengan mengajar. Bisa dibilang ini memang obsesi dan cita-cita masa kecil saya. “Aku pengen jadi dosen” kira-kira itulah jawaban saya ketika ditanya oleh orang-orang saat masih kecil dulu. Emm, atau bisa jadi gen kedua orang  tua saya yang sempat menjadi dosen masih mengalir dalam darah saya. Kalau tidak salah, saya pernah membaca artikel kakek Jamil Azzaini yang mengatakan bahwa Passion/karakter/Fenotipe (sifat yang tampak pada diri kita) merupakan hasil dari Genotipe (gen) + Lingkungan + Reaksi keduanya (Genotipe-Lingkungan).

Sudah sudah, bukan itu yang ingin saya ceritakan, D:

Alhamdulillah, saya lolos seleksi program Indonesia menyala yang merupakan salah satu program dari yayasan Indonesia Mengajar. Dari dulu saya sangat mengagumi pencetus gerakan ini, Bapak Anies Baswedan. Meskipun tidak sebesar kegiatan Indonesia Mengajar, namun saya sangat senang bisa menjadi bagian dari keluarga besar @penyala (sebutan bagi relawan Indonesia menyala) dan @pengajarmuda (sebutan bagi pengajar Indonesia Mengajar). Memang, masih banyak yang belum mengenal Indonesia Menyala. Jadi, mau tau, apa mau tau banget? (hehehe), I will explain

Indonesia Menyala adalah salah satu program yang diinisiasi oleh para pengajar Indonesia Mengajar. Kegiatan ini bermula dari keprihatinan para pengajar muda terhadap minimnya minat baca dan fasilitas baca seperti perpustakaan di daerah penempatan para pengajar muda – Indonesia Mengajar. Sebetulnya program ini sudah berjalan sejak 2011 lalu dengan menggerakkan para sukarelawan untuk mengumpulkan buku dan menyalurkannya pada taman baca atau perpustakaan di beberapa titik di Indonesia. Tujuannya? Meningkatkan minat baca anak dan membudayakan membaca.

Kenapa Indonesia Menyala? Pak Anies Baswedan berharap,

“Anak-anak desa yang menyala akal dan budinya karena membaca buku yang baik bersama para Pengajar Muda, bagaikan ribuan dan jutaan lampu yang menyalakan Indonesia”

Dua tahun berjalan, para pengajar muda melakukan evaluasi terus menerus, hingga akhirnya disadari bahwa penyaluran buku tidak semata-mata dapat membantu meningkatkan minat baca anak. Bisa saja buku tersebut hanya tergeletak di rak-rak buku tanpa disentuh sedikitpun oleh anak-anak. Lantas, mereka mencoba membuat formula kegiatan untuk dapat menularkan budaya membaca di kalangan anak-anak. Untuk itu, tahun 2013 ini para pengajar muda mengadakan program Taman Baca Indonesia Mengajar #TBIM di Jakarta.

Kegiatan ini masih merupakan pilot project yang nantinya akan diimplementasikan di beberapa Taman Baca Indonesia Mengajar di seluruh Indonesia. Bulan Juli-Agustus 2013 lalu, tim Indonesia Menyala mengadakan open recruitment bagi @penyala untuk membantu mewujudkan pilot project ini. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu @penyala yang lolos seleksi. Proses tersebut memang sangat sederhana, hanya melalui proses seleksi essay yang dikirimkan kepada panitia open recruitment. Essay tersebut tidak jauh dari tema pendidikan anak dan budaya membaca di Indonesia.

Kegiatan ini dilakukan selama enam bulan di 12 titik di Jakarta. Setiap titik ditugaskan 2-3 @penyala yang memiliki tugas menghidupkan taman baca dengan mendampingi siswa dan aktor-aktor lain secara intensif untuk menumbuhkan budaya membaca di suatu wilayah taman baca, mendesain, dan mengelola kegiatannya secara mandiri. Outputnya adalah: Taman baca tersebut akan tetap berjalan meski program Indonesia Menyala telah selesai.

Para penyala diharapkan dapat mengembangkan ide-ide untuk pengembangan Taman Baca Indonesia Mengajar. Tentunya, para penyala juga diharapkan mampu melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar Taman Baca seperti guru, orang tua, pemuda, dsb untuk turut peduli dengan literasi anak di lingkungannya.

Menarik bukan?

Terkadang, kepedulian terhadap sesama manusia di lingkungan sekitar dapat membuat hidup menjadi lebih membahagiakan. Let’s try to donate (your) 4 hours every week.

Image[Foto: Indonesia Menyala]

Saatnya turun tangan !

Regards,

At tachriirotul M.

Forum Peduli Anak Sekolah (FPAS)

Image

Akhirnya, Forum Peduli Anak Sekolah (FPAS) bisa berjalan selama satu periode sejak Januari 2013 lalu. Big thanks to all donatur yang sudah bersedia menyisihkan sebagian uangnya untuk beasiswa pendidikan anak-anak SMP di Parakan-Temanggung, Jawa Tengah. Ohya, saya lupa memperkenalkan FPAS. Forum Peduli Anak Sekolah adalah forum independen, bermula dari pemikiran beberapa mahasiswa Farmasi UGM yang ingin membantu biaya pendidikan bagi anak-anak SMP tidak mampu di Jogja. Kenapa SMP? karena mengacu pada wajib belajar 9 tahun.

Pada perjalanannya, pemberian beasiswa yang saat itu berjalan berbarengan dengan program Biaya Operasional Sekolah (BOS) bagi seluruh siswa SMP tak terkecuali. Di tahun kedua, target beasiswa FPAS pun beralih kepada siswa SMA di jogja, dengan sistem yang masih sama. Tiga tahun program itu berjalan sampai 2011. Kebetulan, saya pernah menjadi koordinator FPAS tahun 2010 dan sangat menyayangkan jika forum tersebut mati.

Awal 2013, muncullah ide untuk kembali menghidupkan FPAS dengan visi misi yang  masih sama, namun target yang berbeda yaitu menyasar anak-anak sekolah di daerah kecil yang (mungkin) masih memerlukan bantuan biaya pendidikan. Sasaran FPAS 2013 ini adalah MTS N 01 Parakan, Temanggung.

Langkah awal cukup berat karena saya bekerja di Jakarta, sedangkan program tersebut akan dilaksanakan di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Saya mencoba mengutarakan ide tersebut kepada teman lama dan akhirnya ia bersedia membantu. Btw, Thanks so much to my best friend, Hatta for all supporting. Dengan bantuan teman-teman donatur yang terjaring, FPAS bisa memberi bantuan biaya pendidikan kepada 19 siswa SMP. Dana yang didonasikan didistribusikan setiap bulan di tanggal 10.

Upaya itu terbayar dengan sambutan kepala sekolah yang sangat baik. Harapan mereka terhadap program ini juga besar, semoga tidak hanya berhenti pada pemberian beasiswa, melainkan juga dapat memberikan motivasi dan semangat belajar kepada siswa. We will try ro relize it, pak !

Ohya, FPAS juga sedang mencoba membuat program FPAS peduli perpustakaan. Lagi-lagi, dana dari donatur menjadi salah satu sumber donasi kami. Program ini sudah berjalan satu, yaitu ditujukan pada siswa siswi SD di daerah yang sama, Parakan, Temanggung. Program ini kami prioritaskan bagi daerah yang tidak memiliki akses mudah seperti toko buku besar seperti gramedia. Padahal, buku dapat menjadi sumber ilmu tanpa batas. Sebetulnya target kami sederhana, hanya ingin mengakrabkan mereka dengan buku. Dan saat ini, kami sedang menjalankan program FPAS peduli perpustakaan untuk siswa siswa SMK di desa Kamipang, Kalimantan Tengah.

Tanggung jawab itu memang cukup berat, karena kami dipercaya oleh para donatur untuk menyalurkan dananya. Nah, konsisten menjadi komitmen yang sangat berat. Dan, kami pun menyadari, bahwa sebetulnya pemberian beasiswa dan buku bukan sebuah jaminan dalam meningkatkan pendidikan anak. Namun, kami masih perlu menggerakkan dan memberdayakan siswa maupun guru agar dapat mendorong minat belajar dan minat baca siswa, sehingga tercipta lingkungan yang mandiri.

But, I believe, Someday It will happen !

Salam,

FPAS