Makna Ulang

Tiga Puluh Tahun

Angka yang membuatku sedikit takut.

Aku menyapa kembali waktu yang sudah tak bisa kupegang, bertanya kepada masa lalu apa yang sudah kulewatkan selama ini?

Aku juga berdialog dengan bayangan masa depan, bayangan yang beragam. Ada yang jelas, dan ada juga yang samar. Ternyata impianku belum memudar, masih terlihat jelas dan terus memanggilku untuk mencapainya.

Buatku, hanya ada 1 perubahan besar yang kualami, yaitu tanggung jawab yang tidak lagi sederhana.

Menjadi istri dan ibu membuatku melakukan hal-hal magic yang sebelumnya tidak bisa dan tidak pernah aku lakukan. Aku menjadi bergairah untuk berproses menjadi individu yang lebih baik. Sejauh ini masih didominasi oleh hal-hal yang positif, semoga seterusnya.

Tujuan hidup lebih mengerucut

Buatku, berkeluarga membuat tujuan hidup semakin mengerucut. Apapun yang kita lakukan, keluarga pasti menjadi prioritas utama. Apalagi setelah memutuskan beraktivitas di ranah domestik. Prioritas utamaku saat ini adalah suami dan anak. Aktivitas lainnya adalah bonus.

Memilih menjadi ibu domestik memberiku banyak momen untuk menggali emosi diri lebih dalam. Bagiku, berdamai dengan diri sendiri adalah kunci utama untuk bisa menjalankan peran ini dengan lebih maksimal dan professional. Sehingga, peranku dapat dirasakan oleh Customer utamaku yaitu suami dan anak.

Being present

Kebiasaan suami yang selalu memberikan jiwa dan raganya di setiap momen mulai membuatku tertarik. Dia selalu menikmati momen tanpa memedulikan feeds sosial media. Mengambil foto pun seperlunya untuk dokumentasi pribadi.

Akhirnya, aku tertular dan aku sangat mengapresiasi perubahanku ini.

Di setiap momen, aku menjadi enggan menyibukkan diri dengan berfoto dan lebih ingin “hadir” dalam momen itu. Entah saat pergi ke suatu tempat atau ketika bercengkrama dengan teman. Satu hal yang bisa membuatku kecewa adalah ketika sedang mengobrol dengan teman dan mereka malah sibuk dengan gadget.

Menghargai kualitas pertemanan.

Siapa yang setuju kalau menjadi ibu domestik membuat lingkar pertemanan berkurang?

Aku sih sangat setuju. Untuk itu, aku belajar menjaga kualitas pertemanan yang aku punya. Meski temanku menjadi sangat sedikit, aku akan berupaya untuk menjaga kualitasnya.

Birthday is only a matter of time

Salah satu tanda menua yang aku alami adalah tidak menganggap ulang tahun sebagai sesuatu yang “wah” lagi.

Sepertinya aku yang terlalu apatis, entah kenapa aku tidak sebaper itu lagi dengan selebrasinya. Bagiku, momen ini adalah pengingat untuk merefleksikan diri, apakah waktu yang kita gunakan sudah cukup berkualitas? Sekaligus mengingatkan, bekal apa yang sudah aku persiapkan untuk bertemu batas akhir tugasku di dunia ini?

My wish in my 30s

Bisa terus memperkaya diri dengan hal baru dan positif, menggunakan waktu dengan produktif, dan terus berkarya!

Dan pastinya ingin hidup lebih sehat.

Salam,

amuyassa

Advertisements

Nostalgia Keluarga Cemara

whatsapp image 2019-01-24 at 2.27.44 pm

Suatu pagi di tahun 2002,

Hari itu adalah hari yang spesial buatku, hari pertama libur kenaikan kelas. Akhirnya aku bisa kembali ke pelukan keluarga setelah terpisah selama kurang lebih enam bulan. Maklum, aku hanya punya jatah libur 2x setahun karena bersekolah di pondok pesantren. Sisanya aku menghabiskan hariku di dalam pondok yang berjarak sekitar 125 km dari rumah.

Setiap liburan, saudaraku selalu datang ke rumah dan mengajakku membeli lupis, makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dan dibungkus daun pisang. Sepanjang jalan kami asik bercerita dan bertukar tawa. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa selepas ini, apalagi sambil menikmati jajanan kesukaanku.

Bercerita dengan saudara perempuan yang hanya berbeda 1 tahun membuat kami lupa waktu. Setibanya di rumah, ternyata ibuku sedang menunggu di ruang tv. Aku melihat ekspresi wajahnya yang tak biasa. Ada kekhawatiran yang turut menyapaku lewat senyumnya yang dipaksakan.

“Minggu depan kita akan ke Jogja ya,” tuturnya.

Tanpa menghiraukan nada suaranya, aku terlanjur merasa senang. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke rumah kakek di Jogja.

“Kita akan tinggal di Jogja,” Imbuhnya.

Anak berumur 13 tahun itu masih berusaha mencerna kalimat yang disampaikan ibu.

Tak kuasa membiarkan putrinya terdiam dengan tanda tanya, ia pun memeluknya.

“Bapak dan Ibu harus berpisah,” tuturnya dengan getaran suara yang tak stabil.

Aku melepaskan pelukannya. Air mataku mengalir, dadaku sesak. Aku hanya membenturkan kepalaku terus menerus di dinding. Aku kembali teringat dua kata yang terus kuucapkan saat itu.

“Kalian jahat, kalian jahat”

Dengan perasaan yang berkecamuk aku pergi dari rumah, lari kencang dengan tangis yang tak mampu kuhentikan. Aku tak peduli dengan banyaknya mata yang memandangku heran ketika kami berpapasan.

Semua bayangan keluarga ideal yang kurasakan selama ini seketika memudar.

Aku benci orang tuaku.

***

Yogyakarta, seminggu kemudian  

Di sinilah aku sekarang. Meski tempat ini tidak begitu asing, aku belum mengenalnya dengan baik. Kami mulai membereskan barang-barang yang kami bawa dari tempat lama. Aku belum bisa berdamai dengan luka yang digoreskan kedua orang tuaku. Namun, aku tidak ingin menambah beban ibu. Sekarang tidak ada lagi frasa “keluarga harmonis” dalam kamusku. Frasa itu telah tergantikan oleh frasa yang baru, yaitu “broken home”.

Di Jogja kami harus memulai kehidupan baru. Dulu, keluarga kami sangat berkecukupan. Orangtuaku memiliki usaha yang berkembang dengan jumlah karyawan sekitar 15 orang. Sekarang kami harus berdamai dengan keadaan. Tidak ada kendaraan, tidak ada orang yang membantu, dan ibu belum memiliki sumber penghasilan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu saat itu. Meski dalam keadaan rapuh, ia harus menguatkan mental anak-anaknya. Mengembalikan mental “ada” menjadi “tidak ada” bukan perkara mudah, butuh waktu yang tak sebentar.

Ibu harus membesarkan 3 anak sendirian, usia 13 tahun, 7 tahun, dan 3 tahun. Aku masih harus tinggal di pesantren selama satu tahun. Di situlah masa-masa yang paling sulit untukku. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku kembali dengan cerita yang berbeda, certia yang tak lagi kumiliki.

Selama di pesantren, hari Jumat menjadi hari yang selalu ingin kuhindari. Bagi teman-temanku, hari Jumat adalah hari yang ditunggu karena libur sekolah dan keluarga boleh datang menjenguk. Aku tak pernah sanggup melihat teman-temanku bercengkrama bersama seluruh keluarga yang datang. Aku hanya bisa berandai-andai, berharap aku bisa duduk bersama keluargaku yang utuh. Nyatanya, itu tak pernah terjadi. Aku memilih menyendiri di masjid, berdoa dan menangis.

Semua masa sulit itu terekam utuh di ingatan, meninggalkan jejak trauma yang sangat dalam. Aku pernah menjadi orang yang membenci laki-laki dan tidak ingin menikah. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menghapus kebencian itu dari dalam hati.

Ayahku seorang tokoh masyarakat. Ia pendiri sekolah Muhammadiyah dan ketua organisasi Muhammadiyah di daerah tempat tinggal kami. Aku sampai pada kesimpulan bahwa kesalehan seseorang bukan jaminan memiliki keluarga yang sempurna. Bahkan, aku pernah berucap tidak ingin mencari imam keluarga yang memiliki pengetahuan agama mendalam karena itu hanya akan menyakiti.

Setiap kebencian itu datang lagi, Ibu selalu mengingatkan. “Dinamika keluarga itu macam-macam. Ada yang diuji melalui harta, penyakit, anak, ataupun keutuhan keluarga. Semua mendapat jatah masing-masing. Yang membedakan adalah iman. Jika kita menyikapi dengan taqwa, Insha Alloh akan menjadi pahala,” katanya.

Sejak kejadian itu, ibu tak pernah luput menguatkanku dengan nasehat. Ibu selalu berusaha menjaga mentalku, karena aku anak tertua. Setelah lulus sekolah dan kembali ke Jogja, aku dan ibu berbagi peran. Aku mengambil peran dalam pengasuhan dan pendidikan adek, sedangkan ibu mengambil peran mencari nafkah. Saat SMA dan kuliah, aku memutuskan untuk membatasi pergaulan, karena waktuku telah terbagi dengan sebuah tanggung jawab di rumah. Dan itu tidak mudah.

Akhirnya ibu memiliki sumber penghasilan yang tetap. Kami melewati hari dengan saling menguatkan. Semua dikondisikan tercukupi. Ibu selalu menanamkan kepada kami untuk terus bermimpi dan menjadi anak yang tetap percaya diri.

“Ibu tidak bisa membekali kamu dengan harta, ibu hanya bisa menyekolahkan. Orang kaya, orang pandai bisa sama nasibnya dengan orang beruntung. Kamu tidak kaya, kamu juga mungkin tidak pandai, tapi keberuntungan itu bisa ditanam dan pupuknya adalah kebaikan,” ujarnya menasehati.

***

Setelah dewasa, kebencian itu semakin hilang. Ibu selalu memintaku untuk tetap menghormati ayah. Akupun berusana berdamai dengan masa lalu dan menjadikannya bekal di masa depan.

Kejadian yang menimpa kedua orang tuaku membuatku lebih belajar. Ternyata berkeluarga itu membutuhkan peran “saling”. Harus ada dua kepala yang saling melibatkan diri. Aku juga semakin percaya bahwa komunikasi adalah faktor utama yang wajib dibangun. Keterbukaan harus dibiasakan. Sekecil apapun rasa tidak nyaman harus diungkapkan, karena memendamnya akan meninggalkan penyakit hati yang tak berkesudahan.

Ternyata berkeluarga itu harus diimbangi dengan saling mengisi ilmu dan saling ridha. Jika tujuan kita adalah pahala, Insha Alloh akan menambah nilai ibadah.

“Harta itu jangan hanya disimpan. Kalau saatnya harus dikeluarkan, keluarkanlah. Jika harus dibagi, dibagilah. Jika tidak, Alloh akan mengeluarkan secara terpaksa entah melalui penyakit atau musibah. Nikmatilah harta itu, jangan pelit. Bagi dengan orang lain yang membutuhkan. Harta itu tidak abadi, pahala yang kelak akan memberi kemudahan dalam hidupmu,” Pesan ibu yang selalu kuingat.

Salam,

amuyassa

Dunia Kita

Slide1

“Posisi miom ibu bersebelahan dengan kepala bayi. Ada dua kemungkinan, bisa dilahirkan secara spontan atau sc,”

Kalimat dokter itu membuatku dan suami saling bertatapan. Sebenarnya kemungkinan ini sudah kami persiapkan sejak melihat hasil USG pertamaku. Tanpa adanya gejala apapun yang kualami sebelumnya, ternyata ada miom yang bersarang di tubuhku. Untungnya, miom ini tidak tumbuh di dalam rahim melainkan di luar dinding rahim sehingga resiko menghambat pertumbuhan bayi sangat kecil.

“Pertimbangan lainnya apa dok,” tanya suamiku.

“Jika memilih secara spontan, ada resiko miom menghambat keluarnya kepala bayi karena ukurannya yang cukup besar. Jika terjadi, akan langsung dilakukan tindakan operasi. Jika tidak menghambat, miom ibu akan tetap di dalam tubuh. Jika memilih sc, miom dan bayi dapat dikeluarkan dalam waktu yang bersamaan sehingga proses pemulihan menjadi lebih efektif. Ibu pun akan lebih sehat dan tidak ada resiko di kehamilan berikutnya. Silahkan dipertimbangkan secara matang, diskusikan berdua dengan suami,” jawabnya.

***

29 Desember 2017

Hari itu adalah hari terpanjang buatku. Wajahku mulai memanas, jantungku seakan memaksakan diri bekerja terlalu keras dan membuat detaknya semakin tak berirama. Kulirik wajah di sampingku, ada kecemasan yang hinggap.

“Aku ingin yang terbaik untuk kamu, aku ingin kamu sehat,” katanya lirih.

Sejenak aku merasa luruh. Segala konsep melahirkan ideal secara normal yang selama ini kuinginkan harus kuredam perlahan. Aku tak siap menyiarkan kabar ini kepada orang-orang terdekat yang selalu berpesan agar aku melahirkan secara normal. Entah kenapa mentalku menjadi lemah. Aku ingin menutupi kabar ini dari siapapun.

Sesampainya di rumah, kami hanya memberi kabar kepada orang tua kami. Meski ada tanya yang harus dijawab, aku tak ingin menjelaskannya. Biar suamiku saja. Aku teringat pesan dari sahabatku. “Tugasmu hanya fokus pada diri sendiri dan bayi, biarkan suami yang mengurus hal lainnya.’

Rasa yang singgah hari itu sama seperti yang kurasakan ketika dokter menyatakan aku Tokso IGM positif. Aku tak kuasa membayangkan resiko keguguran dan hidrosefalus yang dapat terjadi. Bahagia hari itu berubah seketika menjadi rasa bersalah yang tak berkesudahan yang telah mengambil alih rasa syukur yang seharusnya aku rasakan.

“Tuhan, kuatkanlah janinku.”

***

03 Januari 2018

Tak pernah kusangka, aku akan bertemu dengan makhluk kecil ini dalam hitungan jam. Rasanya tak terdefinisikan.

Pagi itu Jakarta tampak masih sepi. Udara segar tak berpolusi masih kurasakan, seolah mengingatkanku untuk menarik nafas panjang. Semalam aku tak bisa tidur nyenyak membayangkan apa yang akan kuhadapi nanti. Aku berusaha menampikkan segala kekhawatiran dengan doa. Hanya satu harapan yang selalu kuminta kepada Sang Pencipta.

Semoga bayiku sehat.

“Jam 8 pagi mulai puasa ya bu,” pesan bidan yang bertugas hari itu.

Karena adanya indikasi medis, memutuskan proses persalinan sc memang berdampak positif pada mentalku. Setidaknya aku memiliki waktu empat hari untuk berdamai dengan diri sendiri. Aku menyadari bahwa yang melelahkan itu adalah bersikeras dengan idealisme dan persepsi orang lain.

“Sekeras apapun kemauan kita, Tuhan akan tetap memiliki cara terbaikNya,” ujar ibu menenangkan.

Pukul 3 sore, bidan, dan dokter mulai bergantian masuk ke ruang inap. Detak jantungku mulai terganggu membuat kalimat yang mereka lontarkan lewat begitu saja. Kurasakan wajahku mulai menghangat, tanganku mulai dingin. Seorang perawat membuyarkan pikiranku, ia meminta persetujuan untuk memasang selang infus di punggung tangan. Aku tak menyangka bahwa serangkaian prosedur operasi ini begitu mendebarkan.

Kucoba berdialog dengan rasa takut yang mendominasi. Hanya doa satu satunya kekuatan yang kupunya. Aku akan menghadapinya seorang diri, bersama makhluk kecil yang masih bersembunyi dalam rahimku. Aku yakin, ia pun sedang menanti pertemuan ini. Semoga kamu tidak trauma ya nak, kita terpaksa bertemu pada waktu yang bukan menjadi pilihanmu.

Pukul 4 sore, aku dibawa menuju ruang operasi. Aku ingin sekali ditemani oleh genggaman tangan suamiku. Namun apa daya, ia hanya bisa menemani lewat doa dan kekhawatiran yang harus ia tenangkan sendiri. Sore itu, berbekal restu ibu dan suami aku masuk ke dalam ruang operasi seorang diri.

Di dalam rasanya dingin sekali. Suara monitor elektrokardiogram yang terdengar jelas membuat nyali ini menciut. Perawat mulai memasang selang oksigen di hidungku, elektroda di dada, dan memasukkan ilarutan infus ke dalam tubuhku. Aku pasrah tak berdaya. Setelah semua alat pendukung selesai dipasang, dokter anestesi menghampiriku menjelaskan prosedur anestesi yang akan dilakukan. Dengan meyakinkan, dokter memintaku duduk sambil memeluk bantal dan mengambil nafas panjang. “Kita kerjasama ya bu. Ibu hanya perlu rileks,” ujarnya.

Aku merasakan tusukan di tulang belakangku, diikuti rasa mual yang menjalar ke tenggorokan. Rasanya aku ingin muntah. Aku memberi tau kepada perawat apa yang aku rasakan dan sepertinya mereka memberiku anti mual seiring rasa mual itu kian mereda. Separuh tubuhku mati rasa. Aku kembali berpasrah.

Keteganganku mulai buyar ketika seseorang mengusap wajahku. “Saya dokter anak yang bertugas ya bu,” ujar dokter Mira. “Everything gonna be okay,” tambahnya. Tiba-tiba air mataku meluap ketika kudengar suara tangis menyapa duniaku sore itu.

***

Hai anakku,

Tepat satu tahun yang lalu mata kita bertemu pertama kali. Ibu masih ingat, tangismu terjeda sejenak tatkala semesta memberi waktu kita bertatapan mata.

Hanya ada “cinta” yang tumbuh kala itu. Tatapanmu masih terekam utuh dalam memori dan hati ibu hingga hari ini dan sampai kapanpun.

Hai anakku,

Ibu ingin bercerita bagaimana kamu bisa hadir di dunia ini, dunia bapak dan ibu. Kamu lahir dari sebuah harapan yang kita pinta dalam bentuk doa kepada Sang Pencipta. Cinta kami telah tumbuh bahkan sebelum benihmu tercipta. Cinta itu yang memupuk harapan dan menumbuhkannya menjadi nyata.

Hai anakku,

Saat benih cinta mulai tertanam di tubuh ibu, banyak doa baik yang menyambutmu. Sebelum Tuhan membuatmu bernyawa, ibu panjatkan segala doa terbaik untukmu. Ibu meminta agar usia, rezeki, dan jodoh yang ditetapkan kepadamu selalu mendapat ridha dan keberkahan. Semoga Alloh mendengarnya dan mencatatakan doa ibu dalam Lauh Mahfudz untukmu.

Hai anakku,

Tuhan begitu baik karena kamu diberikan kepada Ibu dalam keadaan sehat. Itu lebih dari cukup untuk Ibu. Bersyukurlah selalu kepadaNya, semoga kamu senang berada di dunia Bapak dan Ibu.

Hai anakku,

Hanya satu pesan Bapak dan Ibu.

Jagalah agama fitrahmu sampai mati ya nak, karena itulah tugas utama bapak dan ibu dari Sang Pencipta.

I love You,

Untukmu Ibu

lime

Ibu,

29 tahun yang lalu, Alloh menitipkanku melalui rahim-mu. Alloh pasti memiliki alasan kenapa amanah ini dibebankan kepadamu. Aku merasa beruntung karena melalu ketegasanmu aku dibesarkan, melalui nasehatmu aku dididik dan melalui air mata yang mengalir dalam setiap sujudmu Alloh mengirimkan keberkahan dalam setiap langkah hidupku.

Ibu,

Setiap kupanjatkan doa untukmu, Alloh senantiasa memutar kembali potret perjuanganmu membesarkan kami seorang diri. 15 tahun yang lalu, saat engkau harus mengalami perubahan hidup yang tak mudah dengan peran baru sebagai single parent, engkau selalu menyuguhkan optimisme kepada kami. Meski itu tidak mudah bagimu, engkau ingin putra putrimu menjalani hidup dengan mental yang utuh.

Ibu,

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana kala itu kita saling menguatkan, saling berbagi peran, saling meyakinkan bahwa Alloh tidak pernah tidur. “Letakkan semuanya di atas sajadah, tugas kita hanya berusaha dan berdoa. Biarlah Alloh yang menyelesaikan” katamu. Sejak saat itu, aku selalu belajar untuk mengandalkan doa dalam setiap keputusan yang aku ambil.

Ibu,

Aku tak akan pernah mampu membalasnya. Aku hanya bisa menitipkan pesan melalui-Nya untuk senantiasa mengangkat derajatmu di mata-Nya. Seperti katamu, kita tidak perlu mengharapkan penghargaan manusia bukan?

Meski banyak duri yang membuat hatimu terluka, ingatlah selalu bahwa doa dari putra putrimu Insha Alloh cukup untuk menerangimu kelak.

Ibu,

Tanamkanlah dalam hati bahwa kami sayang, kami bangga, dan kami akan selalu meneladanimu,

Ibu,

Terimakasih karena engkau ridho aku memilih menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga, meski aku tau banyak harapan lain yang tersisip di hatimu. Doakan aku agar bisa menjalankan peran ini dengan amanah, agar engkau turut teraliri pahala karena telah membesarkan anak perempuan yang mampu menjalankan perannya dengan baik. Aku akan terus belajar dan berusaha bu, seperti nasehat yang selalu engkau sampaikan.

“Jadilah istri dan ibu yang amanah, jangan lupa menjalani dengan ikhlas dan mengharap pahala dari-Nya”

Dari anakmu,

amuyassa

Sebuah Pilihan: Ibu Domestik

Slide1

20 April 2018

Akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan swasta. Ternyata rasanya nano-nano ya ketika harus mengorbankan ambisi pribadi untuk prioritas lain yang (menurut saya) tidak kalah penting. Menjadi Ibu ternyata membuat hidup menjadi lebih dinamis dan mengundang berbagai konsekuensi yang harus dipertimbangkan dengan matang. Saya ingin sekali berbagi cerita tentang proses yang saya alami sampai akhirnya memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga.

Deep Breath

Satu hal yang pasti, memutuskan berhenti bekerja akan mengundang reaksi positif dan negatif dari orang terdekat, terutama keluarga. Banyak yang menyayangkan keputusan ini. Saya sudah sekolah tinggi, sudah memiliki penghasilan sendiri, akan kehilangan karir, dan tidak akan memiliki tempat untuk aktualisasi diri.

Betul, rasanya memang sayang sekali.

Itulah kenapa, proses yang paling sulit dijalani adalah: negosiasi dengan diri sendiri.

Ketika menjalani masa kehamilan, saya dan suami seringkali membahas tentang siapa yang nanti akan menjaga anak kami setelah lahir. Namun, berkali-kali kami berdiskusi dan berkali-kali juga hati kecil saya selalu menginginkan untuk merawatnya sendiri.

Di lain waktu, kami mencoba mencari lagi siapa orang yang tepat dan dapat dipercaya untuk merawat anak kami, dan lagi-lagi hati kecil saya mengatakan bahwa saya adalah orang yang paling tepat dan bisa dipercaya.

Your Heart Know Things that Your Mind Can’t Explain.

Untuk lebih meyakinkan diri, saya meminta pandangan temen-temen yang memilih bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Temen-temen memiliki alasan dan pertimbangan yang sangat personal, sesuai dengan kondisi keluarga masing-masing. Akhirnya saya mencoba merenungi lagi kebutuhan saya dan keluarga dengan berdiskusi bersama suami.

Dalam proses perenungan itu, saya mencoba mencari dari sudut pandang agama mengenai peran wanita dalam keluarga. Entah kenapa, bahasan ini membuat hati saya berdebar-debar dan tertampar. Intinya, sebagai wanita saya harus bisa mengenali peran saya sebagai individu, istri, ibu, dan anak.

Saat ini, saya bekerja sebagai karyawan swasta yang akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, sehingga waktu yang saya miliki untuk berinteraksi dengan anak sangatlah terbatas. Selain itu, bidang pekerjaan saya bukanlah yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Saya bukan seorang tenaga medis, pendidik, bekerja di pemerintahan, dsb sehingga anak saya lebih membutuhkan kehadiran saya. Selain itu, jika saya bekerja semata-mata bukan untuk mencari nafkah, karena Insha Alloh sudah dicukupkan melalui suami saya.

Menohok ya?

Memang,

Saat itupun saya masih denial, sedikit menyesal kenapa gak jadi dosen aja atau bekerja di layanan masyarakat, dsb. Namun, akhirnya suami mengingatkan saya untuk sholat istikharah (sholat untuk meminta petunjuk kepada Alloh SWT agar dituntun pada pilihan terbaik).

Maha besar Alloh SWT, Dia memberikan jawaban atas keraguan saya melalui mimpi dengan gambaran yang sangat jelas. Dalam mimpi itu, anak saya sedang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi sarang laba-laba sendirian dengan pandangan kosong. Sepulang kerja, saya menghampirinya dan dia langsung menangis tersedu-sedu, memeluk saya erat sekali seakan merindukan kasih sayang. Tanpa sadar, saya menangis tersedu-sedu hingga suami saya membangunkan saya karena mendengar saya menangis.

Saat itu juga, saya langsung berkata kepada suami kalau saya ingin merawat anak saya sendiri.

Entah kenapa, mimpi yang sama selalu datang ketika saya kembali ragu.

Karena mimpi itu, saya mejadi yakin bahwa saat ini pilihan yang terbaik adalah: Berhenti bekerja dan belajar menjalankan peran sebagai istri dan ibu yang baik.

4 bulan menjadi Ibu Rumah Tangga

Jenuh gak?

Iya, pastinya.

Menyesal gak?

Insha Alloh enggak.

Rasa jenuh memang menjadi salah satu negative effect, sampai saat ini saya masih terus menyusun manajemen waktu yang tepat agar peran ini bisa dijalani dengan lebih produktif dan menyenangkan. Saya juga masih mencari ruang agar tetap bisa aktualisasi diri.

Kalau boleh melihat rumput tetangga, saya sangat mengagumi temen-temen yang sudah mempunyai passion/kesibukan (yang menghasilkan), namun tetap bisa memprioritaskan sang buah hati. Semoga suatu saat saya bisa segera menyusul. Amin YRA.

Salam,

amuyassa

Metamorfosa: Ibu

Slide1

Setelah berubah peran sebagai ibu, saya kian mengerti kenapa Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menghormati ibu, ibu, dan ibu, baru kemudian ayah. Kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang yang tak terbatas seakan-akan menjadi hal magic yang tumbuh dalam diri kita tanpa kita sadari.

Terharu rasanya ketika teringat bagaimana tangisan itu memecahkan ketegangan yang menghantui saya beberapa hari sebelum persalinan. Lega rasanya ketika makhluk kecil yang tumbuh di dalam rahim saya akhirnya lahir di dunia ini diiringi dengan sapaan tangisan yang menggetarkan hati dan membuat air mata ini mengalir. Masya Allah, Allahu Akbar. Akhirnya tiba saatnya kita saling menatap tanpa kata, mewakili segala rasa cinta yang selama ini tumbuh dalam hati kita masing-masing. Dan sejak saat itu, saya jatuh cinta setiap hari dengannya.

Melihat ada seorang makhluk hidup yang lahir dari rahim saya menyadarkan saya bahwa Tuhan itu ada. He does really exist. He creates human being through our body and He has chosen us to taking care of his creation. Amanah ini luar biasa besar, karena diberikan langsung oleh Sang Maha Pencipta.

“You will learn to lower your expectations about what you can accomplish in a day. Some days, it will be all you can do to keep BABY safe, warm, and fed. And that will be enough” [Google]

“Everything changed”

Menjadi Ibu berarti segala hal menjadi berubah dan terbatasi. It sounds scare at the first time, and of course at next! Hahaha.

Menjadi Ibu berarti harus siap berperang dengan sisi egosentris kita. That’s really hard. To me, battle with pleasure become the hardest part. Karena, waktu yang kita punya sudah diakuisisi oleh baby.

Menjadi Ibu berarti harus belajar menata hati. Karena rasa capek, stres, emosi, dan segala bentuk tegangan tinggi yang lainnya hanya bisa diatasi dengan hati yang kita tata.

Menjadi Ibu berarti harus siap mengalokasikan sebagian besar waktu kita untuk sang buah hati. Biasanya, perubahan ini yang membuat tingkat stres, emosi, dan rasa bosan meningkat. Anggap saja kita sedang rehat sejenak dari kebebasan yang pernah kita punya dan sedang mengerjakan project baru (D:).

Begitulah wanita berproses menjadi wanita seutuhnya sebagaimana ibu kita mengalaminya lebih dulu.

Namun,

Menjadi Ibu berarti akan ada seseorang yang kelak akan memberikan doa terbaiknya untuk kita.

Menjadi Ibu berarti akan ada seseorang yang tumbuh dengan karakter yang kita bangun, yang akan mengamalkan apa yang kita tanamkan dan ajarkan kepadanya.

Menjadi Ibu berarti akan ada seseorang yang kelak akan menghampiri kita, hanyut dalam pelukan kita, dan merindukan segala nasehat kita.

Menjadi Ibu membuat kita menjadi seseorang yang memiliki arti dan peran.

Menjadi Ibu membuat kita memiliki investasi pahala yang tak terhenti.

Dan disinilah surga kita bermuara, yang akan terus mengaliri dan menerangi kita kelak.

Amin YRA.

Salam,

amuyassa

Untitled, 20 September 2015

blank (1)

Jakarta, 00.00 WIB

Ketika pikiran menari tanpa jeda

Kesempatan yang datang dan muncul di depan mata itu memang selalu tidak pernah bisa diduga: kapan, melalui siapa, dan bagaimana datangnya. Terkadang, kesempatan datang saat kita sudah berada pada titik keputus asaan atas segala usaha dan doa yang sudah dilakukan. Tapi, satu hal yang selalu saya yakini adalah bahwa kesempatan datang dengan alasan.

Kesempatan dan tantangan itu terkadang datang beriringan. Bisa jadi mereka datang saat kita belum siap. Belum siap atas segala resiko, konsekuensi, ataupun komitmen yang harus dijalani. Akan tetapi, jika kita menghindari kesempatan yang datang, bisa jadi kita menghindari kesempatan untuk berkembang dan berproses menjadi diri yang lebih berkualitas. Terkadang memang menjadi dilema ketika kesempatan yang datang di depan mata itu bukanlah sebuah kesempatan yang sejalan dengan apa yang kita rencanakan. Kemudian, muncullah dilema atau keraguan dalam menentukan prioritas hidup. Apakah mendahulukan yang sudah di depan mata atau yang menjadi keinginan?

Semakin dewasa, kita memang tidak akan terlepas dari sebuah proses yang menyulitkan. Entah itu masalah keluarga, pekerjaan dan tanggung jawab yang semakin berat, pertemanan yang semakin menguatkan pada problema ego, hubungan dua insan manusia yang seakan dikejar oleh waktu dan tuntutan untuk segera menikah, ataupun interaksi sosial yang semakin tak terbatasi oleh segala dimensi. Kembali lagi, semua membutuhkan karakter yang kuat dari masing-masing individu. Semua itu adalah proses pendewasaan dan proses penguatan karakter agar pijakan kita sebagai sebuah individu dapat semakin kuat, dan tentunya semakin bijak.

Kesempatan yang datang itu pasti akan membuat tidur tidak nyenyak, membuat hati selalu dipenuhi keresahan, membuat waktu menjadi kian sempit karena terbagi oleh kewajiban dan berhadapan dengan konsekuensi itu sendiri, membuat tenaga menjadi lebih terkuras, membuat kecewa saat tidak sejalan dengan yang diharapkan. Namun, menaruh harapan tertinggi pada Sang Pencipta akan menjadi sebuah pilihan yang menenangkan.

Semua yang terjadi dalam hidup ini merupakan rangkaian dari sebuah pilihan. Kesempatan yang datang pun adalah hasil dari sebuah pilihan. Saat sudah menjatuhkan pilihan, artinya kita siap dengan segala konsekuensinya. Saat kita memilih berhenti bekerja untuk pekerjaan lain yang lebih baik, sebaiknya tidak mengeluh saat ternyata konsekuensi yang diterima lebih besar. Saat kita sudah memilih untuk menikah muda sehingga waktu yang dimiliki untuk bersosialisasi menjadi berkurang, sebaiknya kita tidak mengeluh terhadap pilihan yang sudah diputuskan. Saat kita tidak memulai untuk membuka diri dalam sebuah interaksi sosial, ya sebaiknya tidak iri saat melihat orang lain memiliki lingkaran interaksi sosial yang lebih besar.

Memilih memiliki kesempatan adalah tanda bahwa hidup kita bernyawa. Ya, bernyawa untuk menjadi berkembang dan siap memiliki karakter yang lebih kuat. Dengan itu semua, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk memilih untuk berbuat banyak bagi orang lain.

Salam,

amuyassa