Dunia Kita

Slide1

“Posisi miom ibu bersebelahan dengan kepala bayi. Ada dua kemungkinan, bisa dilahirkan secara spontan atau sc,”

Kalimat dokter itu membuatku dan suami saling bertatapan. Sebenarnya kemungkinan ini sudah kami persiapkan sejak melihat hasil USG pertamaku. Tanpa adanya gejala apapun yang kualami sebelumnya, ternyata ada miom yang bersarang di tubuhku. Untungnya, miom ini tidak tumbuh di dalam rahim melainkan di luar dinding rahim sehingga resiko menghambat pertumbuhan bayi sangat kecil.

“Pertimbangan lainnya apa dok,” tanya suamiku.

“Jika memilih secara spontan, ada resiko miom menghambat keluarnya kepala bayi karena ukurannya yang cukup besar. Jika terjadi, akan langsung dilakukan tindakan operasi. Jika tidak menghambat, miom ibu akan tetap di dalam tubuh. Jika memilih sc, miom dan bayi dapat dikeluarkan dalam waktu yang bersamaan sehingga proses pemulihan menjadi lebih efektif. Ibu pun akan lebih sehat dan tidak ada resiko di kehamilan berikutnya. Silahkan dipertimbangkan secara matang, diskusikan berdua dengan suami,” jawabnya.

***

29 Desember 2017

Hari itu adalah hari terpanjang buatku. Wajahku mulai memanas, jantungku seakan memaksakan diri bekerja terlalu keras dan membuat detaknya semakin tak berirama. Kulirik wajah di sampingku, ada kecemasan yang hinggap.

“Aku ingin yang terbaik untuk kamu, aku ingin kamu sehat,” katanya lirih.

Sejenak aku merasa luruh. Segala konsep melahirkan ideal secara normal yang selama ini kuinginkan harus kuredam perlahan. Aku tak siap menyiarkan kabar ini kepada orang-orang terdekat yang selalu berpesan agar aku melahirkan secara normal. Entah kenapa mentalku menjadi lemah. Aku ingin menutupi kabar ini dari siapapun.

Sesampainya di rumah, kami hanya memberi kabar kepada orang tua kami. Meski ada tanya yang harus dijawab, aku tak ingin menjelaskannya. Biar suamiku saja. Aku teringat pesan dari sahabatku. “Tugasmu hanya fokus pada diri sendiri dan bayi, biarkan suami yang mengurus hal lainnya.’

Rasa yang singgah hari itu sama seperti yang kurasakan ketika dokter menyatakan aku Tokso IGM positif. Aku tak kuasa membayangkan resiko keguguran dan hidrosefalus yang dapat terjadi. Bahagia hari itu berubah seketika menjadi rasa bersalah yang tak berkesudahan yang telah mengambil alih rasa syukur yang seharusnya aku rasakan.

“Tuhan, kuatkanlah janinku.”

***

03 Januari 2018

Tak pernah kusangka, aku akan bertemu dengan makhluk kecil ini dalam hitungan jam. Rasanya tak terdefinisikan.

Pagi itu Jakarta tampak masih sepi. Udara segar tak berpolusi masih kurasakan, seolah mengingatkanku untuk menarik nafas panjang. Semalam aku tak bisa tidur nyenyak membayangkan apa yang akan kuhadapi nanti. Aku berusaha menampikkan segala kekhawatiran dengan doa. Hanya satu harapan yang selalu kuminta kepada Sang Pencipta.

Semoga bayiku sehat.

“Jam 8 pagi mulai puasa ya bu,” pesan bidan yang bertugas hari itu.

Karena adanya indikasi medis, memutuskan proses persalinan sc memang berdampak positif pada mentalku. Setidaknya aku memiliki waktu empat hari untuk berdamai dengan diri sendiri. Aku menyadari bahwa yang melelahkan itu adalah bersikeras dengan idealisme dan persepsi orang lain.

“Sekeras apapun kemauan kita, Tuhan akan tetap memiliki cara terbaikNya,” ujar ibu menenangkan.

Pukul 3 sore, bidan, dan dokter mulai bergantian masuk ke ruang inap. Detak jantungku mulai terganggu membuat kalimat yang mereka lontarkan lewat begitu saja. Kurasakan wajahku mulai menghangat, tanganku mulai dingin. Seorang perawat membuyarkan pikiranku, ia meminta persetujuan untuk memasang selang infus di punggung tangan. Aku tak menyangka bahwa serangkaian prosedur operasi ini begitu mendebarkan.

Kucoba berdialog dengan rasa takut yang mendominasi. Hanya doa satu satunya kekuatan yang kupunya. Aku akan menghadapinya seorang diri, bersama makhluk kecil yang masih bersembunyi dalam rahimku. Aku yakin, ia pun sedang menanti pertemuan ini. Semoga kamu tidak trauma ya nak, kita terpaksa bertemu pada waktu yang bukan menjadi pilihanmu.

Pukul 4 sore, aku dibawa menuju ruang operasi. Aku ingin sekali ditemani oleh genggaman tangan suamiku. Namun apa daya, ia hanya bisa menemani lewat doa dan kekhawatiran yang harus ia tenangkan sendiri. Sore itu, berbekal restu ibu dan suami aku masuk ke dalam ruang operasi seorang diri.

Di dalam rasanya dingin sekali. Suara monitor elektrokardiogram yang terdengar jelas membuat nyali ini menciut. Perawat mulai memasang selang oksigen di hidungku, elektroda di dada, dan memasukkan ilarutan infus ke dalam tubuhku. Aku pasrah tak berdaya. Setelah semua alat pendukung selesai dipasang, dokter anestesi menghampiriku menjelaskan prosedur anestesi yang akan dilakukan. Dengan meyakinkan, dokter memintaku duduk sambil memeluk bantal dan mengambil nafas panjang. “Kita kerjasama ya bu. Ibu hanya perlu rileks,” ujarnya.

Aku merasakan tusukan di tulang belakangku, diikuti rasa mual yang menjalar ke tenggorokan. Rasanya aku ingin muntah. Aku memberi tau kepada perawat apa yang aku rasakan dan sepertinya mereka memberiku anti mual seiring rasa mual itu kian mereda. Separuh tubuhku mati rasa. Aku kembali berpasrah.

Keteganganku mulai buyar ketika seseorang mengusap wajahku. “Saya dokter anak yang bertugas ya bu,” ujar dokter Mira. “Everything gonna be okay,” tambahnya. Tiba-tiba air mataku meluap ketika kudengar suara tangis menyapa duniaku sore itu.

***

Hai anakku,

Tepat satu tahun yang lalu mata kita bertemu pertama kali. Ibu masih ingat, tangismu terjeda sejenak tatkala semesta memberi waktu kita bertatapan mata.

Hanya ada “cinta” yang tumbuh kala itu. Tatapanmu masih terekam utuh dalam memori dan hati ibu hingga hari ini dan sampai kapanpun.

Hai anakku,

Ibu ingin bercerita bagaimana kamu bisa hadir di dunia ini, dunia bapak dan ibu. Kamu lahir dari sebuah harapan yang kita pinta dalam bentuk doa kepada Sang Pencipta. Cinta kami telah tumbuh bahkan sebelum benihmu tercipta. Cinta itu yang memupuk harapan dan menumbuhkannya menjadi nyata.

Hai anakku,

Saat benih cinta mulai tertanam di tubuh ibu, banyak doa baik yang menyambutmu. Sebelum Tuhan membuatmu bernyawa, ibu panjatkan segala doa terbaik untukmu. Ibu meminta agar usia, rezeki, dan jodoh yang ditetapkan kepadamu selalu mendapat ridha dan keberkahan. Semoga Alloh mendengarnya dan mencatatakan doa ibu dalam Lauh Mahfudz untukmu.

Hai anakku,

Tuhan begitu baik karena kamu diberikan kepada Ibu dalam keadaan sehat. Itu lebih dari cukup untuk Ibu. Bersyukurlah selalu kepadaNya, semoga kamu senang berada di dunia Bapak dan Ibu.

Hai anakku,

Hanya satu pesan Bapak dan Ibu.

Jagalah agama fitrahmu sampai mati ya nak, karena itulah tugas utama bapak dan ibu dari Sang Pencipta.

I love You,

Advertisements

Sebuah Pilihan: Ibu Domestik

Slide1

20 April 2018

Akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan swasta. Ternyata rasanya nano-nano ya ketika harus mengorbankan ambisi pribadi untuk prioritas lain yang (menurut saya) tidak kalah penting. Menjadi Ibu ternyata membuat hidup menjadi lebih dinamis dan mengundang berbagai konsekuensi yang harus dipertimbangkan dengan matang. Saya ingin sekali berbagi cerita tentang proses yang saya alami sampai akhirnya memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga.

Deep Breath

Satu hal yang pasti, memutuskan berhenti bekerja akan mengundang reaksi positif dan negatif dari orang terdekat, terutama keluarga. Banyak yang menyayangkan keputusan ini. Saya sudah sekolah tinggi, sudah memiliki penghasilan sendiri, akan kehilangan karir, dan tidak akan memiliki tempat untuk aktualisasi diri.

Betul, rasanya memang sayang sekali.

Itulah kenapa, proses yang paling sulit dijalani adalah: negosiasi dengan diri sendiri.

Ketika menjalani masa kehamilan, saya dan suami seringkali membahas tentang siapa yang nanti akan menjaga anak kami setelah lahir. Namun, berkali-kali kami berdiskusi dan berkali-kali juga hati kecil saya selalu menginginkan untuk merawatnya sendiri.

Di lain waktu, kami mencoba mencari lagi siapa orang yang tepat dan dapat dipercaya untuk merawat anak kami, dan lagi-lagi hati kecil saya mengatakan bahwa saya adalah orang yang paling tepat dan bisa dipercaya.

Your Heart Know Things that Your Mind Can’t Explain.

Untuk lebih meyakinkan diri, saya meminta pandangan temen-temen yang memilih bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Temen-temen memiliki alasan dan pertimbangan yang sangat personal, sesuai dengan kondisi keluarga masing-masing. Akhirnya saya mencoba merenungi lagi kebutuhan saya dan keluarga dengan berdiskusi bersama suami.

Dalam proses perenungan itu, saya mencoba mencari dari sudut pandang agama mengenai peran wanita dalam keluarga. Entah kenapa, bahasan ini membuat hati saya berdebar-debar dan tertampar. Intinya, sebagai wanita saya harus bisa mengenali peran saya sebagai individu, istri, ibu, dan anak.

Saat ini, saya bekerja sebagai karyawan swasta yang akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, sehingga waktu yang saya miliki untuk berinteraksi dengan anak sangatlah terbatas. Selain itu, bidang pekerjaan saya bukanlah yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Saya bukan seorang tenaga medis, pendidik, bekerja di pemerintahan, dsb sehingga anak saya lebih membutuhkan kehadiran saya. Selain itu, jika saya bekerja semata-mata bukan untuk mencari nafkah, karena Insha Alloh sudah dicukupkan melalui suami saya.

Menohok ya?

Memang,

Saat itupun saya masih denial, sedikit menyesal kenapa gak jadi dosen aja atau bekerja di layanan masyarakat, dsb. Namun, akhirnya suami mengingatkan saya untuk sholat istikharah (sholat untuk meminta petunjuk kepada Alloh SWT agar dituntun pada pilihan terbaik).

Maha besar Alloh SWT, Dia memberikan jawaban atas keraguan saya melalui mimpi dengan gambaran yang sangat jelas. Dalam mimpi itu, anak saya sedang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi sarang laba-laba sendirian dengan pandangan kosong. Sepulang kerja, saya menghampirinya dan dia langsung menangis tersedu-sedu, memeluk saya erat sekali seakan merindukan kasih sayang. Tanpa sadar, saya menangis tersedu-sedu hingga suami saya membangunkan saya karena mendengar saya menangis.

Saat itu juga, saya langsung berkata kepada suami kalau saya ingin merawat anak saya sendiri.

Entah kenapa, mimpi yang sama selalu datang ketika saya kembali ragu.

Karena mimpi itu, saya mejadi yakin bahwa saat ini pilihan yang terbaik adalah: Berhenti bekerja dan belajar menjalankan peran sebagai istri dan ibu yang baik.

4 bulan menjadi Ibu Rumah Tangga

Jenuh gak?

Iya, pastinya.

Menyesal gak?

Insha Alloh enggak.

Rasa jenuh memang menjadi salah satu negative effect, sampai saat ini saya masih terus menyusun manajemen waktu yang tepat agar peran ini bisa dijalani dengan lebih produktif dan menyenangkan. Saya juga masih mencari ruang agar tetap bisa aktualisasi diri.

Kalau boleh melihat rumput tetangga, saya sangat mengagumi temen-temen yang sudah mempunyai passion/kesibukan (yang menghasilkan), namun tetap bisa memprioritaskan sang buah hati. Semoga suatu saat saya bisa segera menyusul. Amin YRA.

Salam,

amuyassa

 

 

 

 

 

Why do I Love Toastmasters [?]

Sunday, 26 October 2014….

HAPPY BIRTHDAY, Toastmasters International !
Breaking the Ice Since 1924!

???????????????????????????????

It has been 90 years, Toastmasters International was borned in this world. Ralph C. Smedley, founder of Toastmasters International said that In Toastmasters, we learn best in moments of enjoyment and I proved that. It was about a year I joined in this fabulous club and at that time I didn’t realized that Toastmasters will influence my life in a lot of aspect.

When I decided to join in this club last year, I only think that Toastmasters is the place that will help me to improve my English and help me to sharpening my public speaking skill. But, my journey in Toastmasters proved that I got more than my expectation in this learning environment. Yeay, I fall in love with this club and I proud to be part of this big Toastmasters family, especially in Jakarta and in my club, Essential Toastmasters Club.

I just remembered when the first time I came to Essential Toastmasters Club and participated in table topic session, the topic master was TM Ratu Gumelar. She asked me to give my opinion about zombie, but I can not move my tongue and only said “I am sorry, I can not speak anything”. But, all the members were encouraged me to try and made me didn’t felt intimidated.

In Toastmasters, it is not only about public speaking, we learn how to be a good communicator and a good leader. That’s why the tagline of Toastmasters International is : Where leaders are made. The former of Toastmasters International President said that leaders have many important attributes, but the two fundamental and universal are confidence and communication. Toastmasters help us to elevate our communication skill.

So, how we can learn to be a competent communicator in Toastmasters?
In Toastmasters, there are ten projects in basic manual competent communication. Each project has the different objective. It is start from the Ice breaker project that will help us to conquer the fear and nervousness when speak in public. In next project, we learn how to organize our speech from the opening, the body, and the conclusion. Then, we also learn how to deliver speech using body language, vocal variety, and visual aid. In 7th project, we have to research the topic and speech materials and in the end of this project we learn how to inspire the audience. Actually, in the process of completing basic manual project, our confidence will be increased naturally. After completing all the project in basic manual competent communication, we will declared as Competent Communicator from Toastmasters International. And the next journey to be more competent in communication is the journey in completing the advance communication project.

How about the leadership project in Toastmasters?
Beside communication skill, we also learn how to be a good leader by completing Competent Leadership project.
We have to take a part in the Toastmasters organization whether in a club level, area level, or division level. To completing leadership project, I participated in a club organization as a Vice President of Public Relation. My duty is to make an invitation of the meeting, build relationship inside and outside Toastmasters and also to manage all social media of my club. Yeay, I am the person behind my club’s social media on Facebook (Essential Toastmasters), Twitter (@essentialtmc) and Web (essentialtmc.wordpress.com). In this role, I learned how to manage social media to promote my club, because most of people get the information from the website. Beside Vice President of Public Relation, there are some position in club organization like : Club President, Vice President of Education (manage the education program of the club), Vice President of Membership (kind of Human Resource Development, manage the existing and new members), Treasurer, and Secretary.

Honestly, since joining Toastmasters in October 2013, I knew the essence of Competent Leadership Project after conducting the contest. It was about a month ago, I pointed as a Contest Chair of Humorous Speech and Evaluation Contests in Area Level (each area consists of about 5 clubs). At that time, I learned how to conducted the event from finding the venue and contest officers, budgeting, and running the contest itself. It was an unforgettable moment that I had! I learned a lot on how to build a good communication and relationship with people.

Both Communication and Leadership project are the main benefit that we can get in Toastmasters. As I mentioned before, I got a lot of positive things in Toastmasters that influenced a lot of aspect in my life. As a person and as a professional, Toastmasters helped me in developing my self. I learned how to be more responsible in any aspect, even it only small responsibility. I learned how to accept the input from other people and how to delivering the input to other people in a constructive way. I learned how to appreciate people. I learned how to build relationship. And the precious things that I got in Toastmasters are Networking and Family.

20141025_151719 20141025_103601

20141025_103801[With my best friends in Essential, the great speaker Stephen Fernando, and our beloved mom Ibu Mien]

20141025_152850[Essential Toastmasters Family]

HAPPY BIRTHDAY, my beloved Toastmasters !You helped people to grow for 90 years.

Cheers,
At Tachriirotul M.

Journey: Madina

I want to go to Mecca and Madina before going anywhere…

Dua kota itu yang ingin saya kunjungi sebelum pergi kemanapun. And I just realized that, 3 months ago. Gak pernah menyangka, doa yang saya pinta sejak awal 2013 lalu betul-betul diberikanNya. Dan Ia memberikan pada waktu yang saya minta – Januari 2014.

Perjalanan ini gak pernah terbayang sebelumnya, karna tabungan pun sebetulnya belum tercukupi sepenuhnya. Dan, Dia pun tak pernah membiarkan mimpi seorang hambaNya, karena Ia akan selalu memberi kemudahan melalui jalan yang lain, yang tak pernah disangka-sangka..

14 Januari 2014,

Saya berkumpul dengan rombongan yang lain di bandara International Soekarno Hatta, terminal 3. Penerbangan Jakarta – Abu dhabi – Jeddah menggunakan Etihad Airways pukul 5 pm dan memakan waktu sekitar 10 jam.

Etihad airways adalah maskapai penerbangan Abu dhabi. Pelayanannya pun sangat memuaskan, apalagi dengan adanya fasilitas hiburan umtuk membunuh kebosanan selama 10 jam di pesawat. Saya menghabiskan beberapa film selama perjalanan. Untuk masalah perut pun tidak usah khawatir karena pramugari tidak pernah berhenti menyodorkan makanan, entah itu snack atau main course yang sangat mengenyangkan dan bersahabat dengan lidah.

Kami tibah di Jeddah 15 Januari 2014 pukul 4 am waktu Jeddah. Disana beberapa orang sudah tampak mengenakan pakaian ihrom (pakaian untuk umroh). Rombongan kami belum mengenakan pakaian ihrom karena tujuan pertama kami adalah ke kota Nabi Muhammad SAW, Madina. Dari Jeddah ke Madina membutuhkan waktu sekitar 7 jam menggunakan transportasi darat. Pemandangan yang ditemui sepanjang perjalanan hanya padang pasir, jadi sebaiknya perjalanan Jeddah-Madinah dimanfaatkan untuk beristirahat saja.

Sampai di kota Madina, mata ini sudah tidak bisa dipejamkan lagi, terlebih ketika saya melihat payung masjid Nabawi sudah mulai tampak dari dalam bus. Rasanya, hati ini begitu bahagia dan terharu karena mimpi sudah di depan mata. Betapa anggunnya masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Sayangnya, ketakjuban itu harus ditunda untuk sementara waktu, karena kami harus check in hotel, bersih-bersih badan setelah perjalanan sehari penuh, dan mengisi perut. Kami tiba di Madina sekitar pukul 2 pm. Sayangnya, kami terpaksa sholat dzuhur dan ashar di hotel karena proses check in yang cukup lama.

Nyamannya kota Nabi Muhammad SAW,

???????????????????????????????

Setelah selesei membersihkan badan, adzan maghrib berkumandang. Kami pun bergegas menuju ke masjid untuk mengejar sholat maghrib berjamaah. Ketika berjalan menuju masjid Nabawi, perasaan senang, deg-degan, dan takjub datang bergantian. Bibir ini pun secara spontan mengucap Sholawat, Allohumma Sholli ‘Ala Muhammad, Wa’ala ‘Ali Sayyidina Muhammad, nikmat mana lagi yang bisa kami dustakan ketika memiliki kesempatan beribadah di masjid Nabawi bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW.

Pertama kali menginjakkan kaki di masjid Nabawi, saya cukup terkejut ketika melihat semua pedagang menutup tokonya ketika adzan dikumandangkan. Semua orang berbondong-bondong menuju masjid, berlomba-lomba mendapat shaff di dalam masjid. Saat itu, kami hampir tidak mendapat shaff karena penuh. Namun, kami terus berusaha menerobos ke depan. Rasanya kami tidak rela jika tidak mendapatkan shaff di hari pertama kami sholat di masjid Nabawi. Alhamdulillah, kami memperoleh barisan shaff paling depan dan begitupun pada saat sholat isya.

Subhanalloh, betapa agungnya masjid yang dibangun oleh kekasih Alloh ini dan betapa luar biasanya pemerintah Arab Saudi dalam menjaga dan merawatnya. Saya tertegun saat melihat para petugas kebersihan membersihkan seluruh area masjid. Semuanya bekerja secara professional dan cekatan. Mereka pun begitu tegas kepada pengunjung yang sekiranya menghambat pekerjaannya. Pernah suatu saat, saya sedang menunggu waktu dzuhur di masjid, dan ada beberapa petugas kebersihan sedang berbincang-bincang dengan bahasa yang cukup familiar, bahasa Sunda. Ya, ternyata banyak dari mereka yang merupakan Tenaga Kerja dari Indonesia. Sekiranya temen-temen berkesempatan kesana, sekali-kali bisa memberikan sedekah kepada mereka, meski hanya 1 riyal.

Madina, Kota Nabi Muhammad SAW..

???????????????????????????????

Kenapa Madina dianggap sebagai kota Nabi? Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya,

Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah dan hijrah ke Madina untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW diutus Alloh SWT untuk meninggalkan kota Mekkah untuk berdakwah di kota Madinah. Menjelang hijrah ke Madinah, kaum kafir quraisy berencana ingin membunuh Nabi Muhammad SAW, namun beliau mengelabuhi para pemuda kafir quraisy yang mengepung rumahnya dengan meminta Ali bin Abi Thalib mengenakan jubah miliknya dan tidur di ranjang milik Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menuju Madinah tidak mudah, beliau harus bersembunyi di dalam Gua Tsur yang terletak di selatan kota Makkah selama tiga hari dan menempuh perjalanan selama 7 hari melewati gurun dan padang pasir.

Di kota Madinah inilah Nabi Muhammad SAW membangun peradaban islam. Beliau membangun kota Madinah melalui tiga hal pokok: Membangun masjid, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian damai. Salah satu masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW adalah masjid Nabawi. Masjid ini dibangun di halaman rumah Nabi Muhammad SAW. Pada peristiwa hijrah inilah adzan pertama kali digunakan sebagai panggilan kepada umat muslim untuk menunaikan ibadah sholat.

Cerita di Rawdah,

???????????????????????????????Pintu menuju Rawdah: Suasana para jamaah perempuan sedang menunggu giliran untuk dapat memasuki Rawdah.

Pengalaman mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di Rawdah tidak akan pernah saya lupakan. Rawdah dikenal sebagai taman surga yang merupakan tempat di antara makam dan mimbar Nabi Muhammad SAW yang dibedakan dengan karpet berwarna hijau. Taman surga ini terletak di dalam masjid Nabawi, lebih tepatnya berada di shaff laki-laki. Para jamaah perempuan diberi kesempatan untuk mengunjungi Rawdah selepas sholat subuh dan selepas sholat isya. Rawdah dikenal sebagai tempat mulia dan mustajab untuk berdoa, untuk itulah umat muslim berkeinginan memiliki kesempatan berdoa di Rawdah, begitupun dengan saya.

Saya akui, butuh perjuangan untuk dapat berdoa di Rawdah. Untuk itu, terus niatkan hati agar diberi kesempatan oleh Alloh SWT untuk dapat beribadah di taman surga. Jangan lupa untuk memperbanyak membaca sholawat dan mengucapkan salam kepada kekasih Alloh SWT, Nabi Muhammad SAW. Di Rawdah, berusahalah untuk dapat melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat, sholat hajat, sholat dhuha (jika berkunjung pada saat waktu dhuha), dan sholat taubat. Ohya, untuk menghindari agar tidak terinjak orang lain saat sedang bersujud, sebaiknya ada yang menjaga kita ketika sedang sholat, dan dilakukan bergantian. Seramai apapun keadaan di Rawdah, mereka akan menghargai kita ketika sedang sholat, untuk itu, berdoalah ketika sujud atau sebelum salam. Biasanya, ketika kita sudah salam, para askar akan meminta kita untuk pergi dan bergantian dengan umat muslim yang lain.

Cerita lain tentang Madina…

???????????????????????????????

Selama berada di Madina, saya melihat banyak sekali masyarakat yang berwirausaha dengan berdagang. Setiap pedagang selalu memberikan penawaran terbaiknya dengan ramah, laiknya sedang meawarkan kerjasama kepada klien. Inilah perbedaan yang saya temui disana. Mereka sangat komunikatif dengan pembeli. Ohya, saat ingin membeli sesuatu, cobalah bersikap ramah dan iseng-iseng menawar, karena kadang mereka akan memberi harga lebih murah. Selepas sholat, banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di depan masjid Nabawi. Namun, jangan heran kalau tida-tiba mereka dikejar-kejar oleh Askar (polisi) karena mereka illegal. Harga yang ditawarkan oleh pedagang kaki lima ini memang lebih murah, namun kadang kualitas barang yang ditawarkan memang tidak sebagus di toko. Jadi, harus jeli dalam memilih barang yang akan dibeli ya….

City tour di Madina…

???????????????????????????????

Sudah sampai di Madina, jangan melewatkan kegiatan city tour ya…

Sebagian besar kegiatan city tour dilakukan selama setengah hari untuk mengejar waktu sholat dzuhur di masjid Nabawi. Tempat pertama yang kami datangi adalah masjid Kiblatain, masjid yang memiliki 2 kiblat. Sebelum kiblat mengarah ke Ka’bah (masjidil haram), kiblat umat muslim berada di Baitul Maqdis, Palestina. Disana, kami melaksanakan sholat Tahiyatul masjid dan sholat dhuha. Setelah itu, kami mengunjungi perkebunan kurma untuk belanja oleh-oleh coklat, kurma, kacang, dsb. Kami juga mengunjungi jabal magnet. Di tempat inilah terdapat saah satu keajaiban Alloh SWT. Di jabal magnet terdapat daya tarik menarik yang mempengaruhi laju kendaraan kami. Ketika kami berjalan berlawanan arah dengan medan magnet, laju kendaraan kami melambat meski sudah dengan kecepatan penuh. Namun, ketika kami berjalan searah dengan medan magnet, kendaraan kami melaju kencang hingga kecepatan 140 km/jam, padahal pengemudi tidak menginjak gas. Kami betul-betul tertegun dengan kebesaran Alloh SWT ini…

Berada di Madinah memang membuat hati terasa nyaman, apalagi para penduduk yang begitu ramah menyapa. Sesampai di tanah air pun, saya seringkali rindu ingin kembali lagi. Semoga, kedatangan saya saat itu bukan menjadi kedatangan terakhir bagi saya. Semoga temen-temen juga berkesempatan untuk dapat sholat di masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

[At tachriirotul M.]