Inspiration from PhD Mama

Hai mom,

Apa sih hal yang menjadi tantangan dalam menjalankan peran di rumah?

Kalau saya, produktivitas menjadi hal yang paling menantang. Setelah memutuskan beraktivitas di ranah domestik, saya masing struggle untuk mengatur waktu agar tetap produktif. Godaan terbesar beraktivitas di rumah itu adalah tentang utilize waktu. Tidak jarang waktu berjalan begitu aja tanpa ada aktivitas yang bermakna.

Nah, kali ini saya punya kesempatan untuk ngobrol dengan salah satu teman sekolah dulu yang saat ini sedang menjalankan multi peran. Nabila As’ad (30 th), ibu milenial yang sedang mengambil pendidikan PhD di Portugal. Selain sekolah, dia juga membawa keluarganya tinggal disana. Yuk simak obrolan kami tentang bagaimana Bela menjalankan multi peran di negeri Eropa.

Hai Bel, apa kabar? Lagi sibuk apa nih?

Alhamdulillah lagi sibuk jadi istri, ibu, dan pelajar s3 nihh.

Aisha umur berapa ya? Gimana perkembangannya?

Sekarang sudah 18 bulan. Aku berasa punya teman dekat yang mungil. Aisha sudah bisa merespon perintah dan komunikasi denganku (dengan bahasa yang masih terbatas ya), makan sendiri, lepas sepatu dan menaruh sepatu ke rak, dll. Enaknya juga sudah bisa diajakin kemana-mana, bahkan seringnya ingin jalan sendiri dan gamau naik stroller, haha. 

Saat pindah ke Lisbon, kamu kan dalam keadaan hamil. Apa sih yang dulu kamu bayangkan ketika kamu akan melahirkan disana dan sekolah? Kenyataannya gimana, apakah lebih mudah dari yang dibayangkan atau sebaliknya?

Yang kubayangkan dulu adalah ”doing a PhD with a baby is going to an awesome journey.”

Kenyataannya: penuh tantangan, ahaha! Aku berasa punya dua bayi: Aisha dan riset PhD-ku. Kehamilan dan melahirkan di Portugal itu menyenangkan. Karena selain dibiayai oleh Pemerintah (gratis), semua progres kehamilannya dipantau. Bedanya, disini periksa ke puskesmas dengan Dokter Umum (disebutnya juga family doctor) dan suster, bukan ke SPOG. Kecuali untuk kehamilan yang berisiko ya. Cerita tentang kehamilan dan proses kelahiranku bisa dibaca di blog aku 😉

Baca: Being a pregnant woman in portugal: The administration check up

Kesulitan utama yang aku alami dulu adalah enggak ada bayangan mengenai proses administrasinya. Jadilah sempat panik karena jika proses administrasinya belom beres, kami harus membayar biaya yang tidak sedikit untuk cek kehamilan. Untuk itulah aku menulis blog post tersebut, semoga ibu2 yang nantinya pindah ke Portugal tidak mengalami kepanikan seperti aku dulu. 

Bagaimana manajemen waktu harian kamu, dan bagaimana membagi peran dengan pasangan?

Sejak Aisha masuk ke daycare, manajemen waktu jadi terasa lebih ‘mudah’. Selama jam kantor, aku dan suami kerja di kantor masing-masing. Aku yang antar dan jemput Aisha karena lokasi daycare yang dekat dengan kampusku. Aku sebisa mungkin fokus ke risetku dan target harianku. Yang menantang itu manajemen energi, karena biasanya aku sudah capek sehabis pulang kantor (jam 18.00). Selain itu, aku fokus dengan peranku sebagai ibu dan istri selama di apartemen (misalkan cuci piring, masak, menyiapkan makan Aisha, dkk). Hal yang jarang aku publikasikan di socmed adalah hidup di LN itu semua serba mandiri. Disini gak ada warteg dengan harga terjangkau jadi harus masak. Jasa ART pun mahal, jadi semua pekerjaan rumah (bersih2, masak, dsb) dilakukan oleh aku dan suamiku. Kami berbagi tugas mengenai hal ini. Alhamdulillah suamiku dulu pernah tinggal di LN sebelumnya, jadi dia sudah tidak kaget dengan ‘hidup mandiri’ ini. 

Prinsip apa yang akhirnya kamu sesuaikan dalam proses parenting ini, mengingat disana kamu punya banyak hal yang harus dibagi, terutama dalam segi waktu?

Pertama, tidak membandingkan hidup kami dengan orang lain, terutama yang tinggal di Indonesia. Menurut kami gak apple to apple.

Kedua, being present. Ini menantang ya karena terkadang aku dan suamiku suka sibuk sendiri dengan laptop atau hape di rumah (entah socmed atau urusan kerjaan), sementara ada Aisha yang sedang gemar bermain. Aku dan suamiku sebisa mungkin mengurangi waktu kami di layar dan lebih banyak meluangkan waktu untuk mengajak Aisha main di outdoor playground.

Ketiga, less perfectionist dalam hal kerapian rumah, haha. 

Kira-kira ada yang beda gak sih dinamika parenting disana dan di Indonesia?

Apa ya, secara kami hanya pernah beberapa bulan mengalami parenting di Indonesia ketika berlibur Agustus kemarin. Yang berasa beda adalah disini orang-orang tidak gampang men-judge gaya parenting kami. Jadi kami pun merasa tidak ada yang mengekang dan lebih fokus menikmati belajar membesarkan Aisha bersama-sama. 

Aisha masuk daycare ya? Boleh dong sharing daycare disana gimana sih?

Yupss. Daycare disini ada yang milik pemerintah dan swasta. Dengan fasilitas yang kurang lebih sama, milik pemerintah lebih murah karena disubsidi. Namun antriannya panjang. Beberapa ibu sudah mendaftarkan diri di antrian sejak mereka mengandung. Lengkapnya sudah pernah aku tulis di blog, cek disini aja yaaa:D 

Baca: One Mamas Review Daycare

Kamu pernah merasa bersalah gak sih bhel ke Aisha, bagaimana cara kamu berdamai dengan rasa bersalah itu?

Sudah pasti pernah, terutama ketika dulu Aisha sempat kehilangan BB karena diare dan infeksi telinga. Duh sedih banget. Aku absen seminggu gak ke kampus, kerjaan pun keteteran. Rasanya dobel bersalahnya karena pikiranku terbagi ke Aisha dan riset. Aku berusaha sebisa mungkin gak memendam perasaan bersalahku. Aku bilang ke suamiku, dan yang paling penting juga ke supervisorku karena aku bekerja dengannya. 

Berdamai dengan rasa bersalah? Ini seperti berdamai dengan masalah kalo buatku. Aku akan mencapai titik sedih dan tak jarang aku menangis. Lalu aku pelan-pelan menerima kondisi tersebut dan berusaha membuat strategi untuk bangkit. 

solving this starts from me, not from others ;)” 

Dengan kesibukan kamu, masih bisa me time gak?

Syusyaaaah, ahaha. Terkadang aku negosiasi dengan suamiku, misalkan dia me time kapan dan aku kapan. Jadi ada salah seorang menemani Aisha sementara yang satunya me time. Jika aku jenuh dengan riset atau rutinitasku, aku biasanya take a break with doing nothing. Misalkan, ke taman atau ke tepi pantai sambil baca buku atau bener2 ga ngapa2in sambil dengerin kicauan burung camar yang berisik, haha. 

Thank you Bela for sharing. Dari ceritanya saya semakin percaya bahwa kerjasama dengan pasangan menjadi poin penting dalam mewujudkan impian berkeluarga. Sebagai perempuan, berkeluarga dan memiliki buah hati tidak berarti berhenti bermimpi karena kita berhak beraktualisasi. Hanya saja, setiap individu memiliki versi nya masing-masing.

Hmm, saya seperti diingatkan untuk moving forward. Meski porsi perannya berbeda dan sudah memilih beraktivitas di ranah domestik, kita perlu tetap bermimpi. Karena impian tak bersekat dan tak terbatasi apapun selagi kita masih menghuni bumi.

Salam,

amuyassa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.