Menyesal menjadi Ibu tidak proaktif

Setiap ibu pasti punya turning point masing-masing yang membuatnya belajar dan berproses. Saya pun demikian, menjalani hari demi hari bersama sang buah hati memberi saya kesempatan untuk berproses menjadi lebih baik. Akhir-akhir ini banyak kejadian yang menguras rasa dan membuat saya terus instropeksi diri.

Saya merasa belum optimal merawat anak. Selama ini saya terlalu santai dan kurang proaktif. Saya hanya mengandalkan sumber informasi dari dokter tanpa melibatkan diri mencari dan menggali informasi dari sumber yang lain. Hal itu tidak lepas dari kebiasaan lama saya yang tidak ingin ribet. Jadi, selama dokter tidak memberi “warning” atau catatan tertentu tentang tumbuh kembang anak, saya dan suami menganggapnya baik-baik saja. Untungnya Tuhan sering mengirimkan sinyal melalui feeling yang kuat ketika ada sesuatu yang tidak beres dan seringkali feeling ibu tidak pernah salah.

Seperti yang terjadi pada anak kami beberapa waktu lalu yang membuat saya tak henti menyalahkan diri sendiri. Kami mencoba percaya bahwa everything happens for a reason. Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran untuk ibu yang lain.

1. Opname saat bayi berumur 10 hari

Ibu pasti tau gimana rasanya harus berpisah dengan bayi mungilnya yang masih berumur 10 hari. Saat itu anak kami harus dirawat karena demam tinggi. Setelah diobservasi melalui darah dan urin, jumlah leukosit dan kadar bilirubinnya sangat tinggi. Selain itu, terdapat banyak bakteri di dalam urinnya. Anak saya terkena ISK berat dan kuning, sehingga harus mendapat perawatan intensif.

Ketika melihat sang buah hati berada di ruang NICU dengan infus dan alat deteksi jantung, rasanya dunia saya runtuh seketika. Rasa bersalah terus berdatangan. Saya berusaha membangun mental positif agar ASI tetap terproduksi. Sampai akhirnya saya teringat pesan seorang teman bahwa saat itu NICU adalah tempat yang tepat untuk anak saya, karena segala yang dibutuhkan tersedia.

Lesson learned:

Demam tinggi pada bayi di bawah 1 bulan tidak boleh diabaikan. Jika tidak kunjung membaik setelah diberi obat antipiretik (penurun panas) seperti paracetamol, sebaiknya segera mendapat intervensi medis.

Saya merasa bahwa salah satu penyebab ISK nya adalah proses pembersihan “penis” nya yang kurang maksimal. Pasca melahirkan, saya kurang proaktif mencari informasi cara merawat bayi baru lahir termasuk cara membersihkan alat kelaminnya. Ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membersihkan penis bayi laki-laki, seperti menarik kulit penis agar tidak ada kotoran yang tersumbat dan membersihkan dari atas ke bawah. Di usia 6 bulan, anak saya terkena fimosis. Saat dokter menarik kulit penisnya agak dalam, ternyata sudah bernanah. Akhirnya, kami memutuskan untuk sirkumsisi anak kami di umur 6 bulan.

Jika bunda punya rejeki, sebaiknya sirkumsisi bayi sebelum berumur 1 bulan agar proses penyembuhan dan perawatannya lebih mudah. Di samping itu, lebih banyak manfaatnya untuk kesehatan karena bisa mencegah ISK dan fimosis.

2. Berat Badang (BB) – Tinggi Badan (TB) seret

Tantangan terbesar yang saya alami selama merawat sang buah hati adalah persoalan BB-TB. Seandainya saya lebih aware dan proaktif, mungkin ceritanya akan lain. Saya berusaha damai dengan keadaan dan fokus pada ikhtiar yang bisa dilakukan.

Saya bersyukur bahwa Tuhan memberi alarm BB dan TB saat anak kami berumur 15 bulan. Jadi, saya masih memiliki kesempatan untuk mengejar ketertinggalan sebelum anak saya berumur 2 tahun.

Entah kenapa saya tidak aware dengan pertumbuhan TB yang stagnan di umur 12 ke 15 bulan. Saat itu saya menganggap perawat salah ukur karena TB turun (panjang badan gak mungkin menyusut kan). Anak saya sering berontak ketika diukur panjang badannya. Dokter pun tidak menyinggung apapun tentang itu. Jadi, saya terlalu santai dan menganggapnya baik-baik saja. Selain TB, BB juga menurun di umur 12 ke 15 bulan.

Saat itu saya coba mengulik lagi grafik pertumbuhan anak saya. Ternyata, trend grafik pertumbuhannya mulai bermasalah sejak umur 4 bulan dan terus menurun sampai umur 8 bulan. Saat itu saya masih santai karena status gizinya normal dan baik, padahal grafiknya jelek atau mengalami weight flatering (berat bertambah tapi tidak seperti seharusnya).

Berdasarkan sumber berikut, growth faltering sering terjadi sejak bayi berumur 6 bulan atau sejak mulai makan. Kenapa? Karena jumlah dan kualitas makanannya tidak mencukupi kebutuhan, selain itu adanya pengaruh lingkungan yang dapat memicu penyakit.

Saat itu upaya sudah dilakukan dan grafiknya pun mulai membaik di umur 9–12 bulan. Sayangnya, grafiknya kembali turun di umur 12-15 bulan karena ISK dan ADB. Alhamdulillah, sekarang grafiknya mulai naik lagi. Setelah saya cermati, ternyata grafik pertumbuhannya sejalan dengan tantangan Aqla makan yang pernah saya tulis disini.

[Baca: Makan yang Menantang Part 1]

Saya merasa bersalah karena memutuskan menerapkan BLW ketika anak tidak mau makan (sejak umur 7 bulan), untungnya BLW hanya berlangsung 1,5 bulan. Saat saya memberi MPASI instan di umur 9 bulan, BB nya naik signifikan dan grafik pertumbuhannya mulai membaik.

Lesson learn:

Mengamati trend grafik pertumbuhan anak sangat penting. Jangan terlena dengan status gizi baik/normal saja, sebaiknya perhatikan trend naik turun pertumbuhannya. Jangan mudah puas dengan kenaikan berat badan minimalis di usia < 1 tahun. Di usia tersebut, upayakan semaksimal mungkin kenaikan BB anak yang seharusnya. Tidak ada salahnya kita mengacu pada standar kenaikan BB (dalam gram) versi WHO berikut.

Kenaikan BB pada bayi berusia 0 – 12 bulan dilakukan setiap bulan, dimana kenaikan BB harus di atas 5th centile atau -2SD.

3. ADB (Anemia Defisiensi Besi) tahap 1

Ini bermula dari berat badan anak kami yang menurun saat umur 15 bulan. Ternyata, di urinnya terdapat bakteri dan kadar cadangan ferritinnya menurun. Anak kami didiagnosa ISK dan ADB tahap 1. Jadi, selama ini energi yang masuk digunakan sebagai pertahanan diri untuk melawan bakteri. Dokter meresepkan antibiotik dan zat besi. Alhamdulillah, setelah mengkonsumsi Antibiotik selama seminggu BB kembali naik.

Ternyata ada beberapa silent disease yang dapat terjadi pada bayi dan membuat BB nya sulit naik. Jika BB anak bunda stagnan atau cenderung turun dalam kurun waktu 3 bulan, tidak mau makan dalam kurun waktu yang lama, sebaiknya segera dilakukan observasi. Setidaknya kita berusaha mencari tau penyebabnya, terutama sebelum anak berusia 2 tahun. Beberapa silent disease tersebut adalah ADB, ISK, TBC, alergi, dsb.

Lesson learn:

Kandungan zat besi pada ASI mulai menurun 4 bulan pasca melahirkan, sehingga suplementasi zat besi pada bayi (6-23 bulan) sangat penting untuk mencegah anemia, defisiensi zat besi, dan anemia defisiensi zat besi (WHO, 2006). Suplementasi sangat dianjurkan pada bayi dengan riwayat ibu anemia (saat hamil), kenaikan berat badan bayi stagnan selama 2-3 bulan, dan prevalensi ADB di negara tersebut >40%. Menurut IDAI, prevalensi ADB di Indonesia masih sekitar 40-50%.

Saat bayi berumur 4 atau 6 bulan, sebaiknya komunikasikan dengan dokter apakah perlu suplementasi zat besi, berapa dosis yang dibutuhkan, dan berapa lama perlu mengkonsumsinya. Saat anak berumur 1 tahun, sebaiknya lakukan pemeriksaan darah lengkap yang mencakup kadar Ferritin.

Zat besi ini sangat penting bagi pertumbuhan anak, terutama perkembangan sistem syarafnya. Sehingga, kurangnya zat besi dapat berpengaruh pada kemampuan kognitif anak.

Let’s be aware, never too late

4. Pentingnya Mikronutrient (Nutrisi Mikro)

Masalah pertumbuhan yang banyak dialami anak-anak Indonesia adalah stunting, underweight, dan kognitif. Bayangkan, 1 dari 3 anak di Indonesia stunting. So scary!

Ternyata, faktor terbesarnya adalah kurangnya asupan 4 mikronutrien berikut: Vitamin A, Zat besi, Iodin, dan Zn.

Lesson learn:

Saat bayi mulai makan, tidak ada salahnya memberikan kombinasi MPASI instan dan masakan rumahan. WHO pun menilai kombinasi itu sangat penting karena dapat melengkapi kebutuhan nutrisi bayi. MPASI instan dapat membantu memenuhi kebutuhun mikronutrient, sedangkan masakan rumahan dapat membantu memenuhi kebutuhan makronutrient. Saya pernah membahasnya disini.

Selain itu, sebaiknya diskusikan dengan dokter apakah anak membutuhkan suplementasi mikronutrien. Jangan lupa tanyakan jenis vitamin yang tepat, berapa lama vitamin tersebut perlu dikonsumsi, dan apakah aman bagi kondisi masing-masing anak.

Saat ini saya masih terus berupaya menyelamatkan anak saya dari stunting sebelum berumur 2 tahun. Suplementasi mikronutrien yang saat ini dikonsumsi anak saya adalah Zat besi, Zn, Vitamin C, Kalsium, dan Vitamin D.

Sejujurnya cerita ini cukup sensitif bagi saya, namun saya ingin kesalahan saya dapat menjadi pelajaran bagi ibu yang lain. Selama ini saya sering skeptis dan ingin meminimalisir penggunaan obat, vitamin, atau produk kesehatan lain untuk anak saya (karena saya orang farmasi). Ternyata, saya hanya kurang justifikasi informasi, sehingga skeptis harus diimbangi dengan lebih proaktif.

Mari bersemangat demi masa depan anak kita.

Salam,

amuyassa

8 thoughts on “Menyesal menjadi Ibu tidak proaktif

  1. Makasih mba… Dah sharing. Btw… Kalo anaknya makannya ok, tapi berat badannya naik sedikit gimana ya? Anak keduaku juga gitu soalnya. Mesti ke dokter kah?

    #jadicurcol

    1. Makasih mb ren udh berkenan baca 😊. Umur brp ya mb? Kalau udh setahun memang agak seret dan lihatnya dlm 2 atau 3 bulan. Kalau dlm 3 bulan gak naik sama sekali atau turun, nah ini perlu waspada mb.

  2. Terimakasih mba sharingnya. Anak pertama langsung saya kasih zat besi karena susaaaahhh banget makannya. Naik sih tetep naik, cuma ya gitu ngga banyak makan. On off sejak 4 bulan hingga 1 botol habis. Setelahnya ngga lagi. Anak kedua udah 9 bulan tapi belum ada rencana ngasih zat besi, belum nimbang lagi soalnya. Mungkin saya kasih bulan ini. Saya penganut dr. Tiwi soalnya, kasih aja untuk pencegahan, kalo pun berlebih, akan dikeluarkan lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.