Nostalgia Keluarga Cemara

whatsapp image 2019-01-24 at 2.27.44 pm

Suatu pagi di tahun 2002,

Hari itu adalah hari yang spesial buatku, hari pertama libur kenaikan kelas. Akhirnya aku bisa kembali ke pelukan keluarga setelah terpisah selama kurang lebih enam bulan. Maklum, aku hanya punya jatah libur 2x setahun karena bersekolah di pondok pesantren. Sisanya aku menghabiskan hariku di dalam pondok yang berjarak sekitar 125 km dari rumah.

Setiap liburan, saudaraku selalu datang ke rumah dan mengajakku membeli lupis, makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dan dibungkus daun pisang. Sepanjang jalan kami asik bercerita dan bertukar tawa. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa selepas ini, apalagi sambil menikmati jajanan kesukaanku.

Bercerita dengan saudara perempuan yang hanya berbeda 1 tahun membuat kami lupa waktu. Setibanya di rumah, ternyata ibuku sedang menunggu di ruang tv. Aku melihat ekspresi wajahnya yang tak biasa. Ada kekhawatiran yang turut menyapaku lewat senyumnya yang dipaksakan.

“Minggu depan kita akan ke Jogja ya,” tuturnya.

Tanpa menghiraukan nada suaranya, aku terlanjur merasa senang. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke rumah kakek di Jogja.

“Kita akan tinggal di Jogja,” Imbuhnya.

Anak berumur 13 tahun itu masih berusaha mencerna kalimat yang disampaikan ibu.

Tak kuasa membiarkan putrinya terdiam dengan tanda tanya, ia pun memeluknya.

“Bapak dan Ibu harus berpisah,” tuturnya dengan getaran suara yang tak stabil.

Aku melepaskan pelukannya. Air mataku mengalir, dadaku sesak. Aku hanya membenturkan kepalaku terus menerus di dinding. Aku kembali teringat dua kata yang terus kuucapkan saat itu.

“Kalian jahat, kalian jahat”

Dengan perasaan yang berkecamuk aku pergi dari rumah, lari kencang dengan tangis yang tak mampu kuhentikan. Aku tak peduli dengan banyaknya mata yang memandangku heran ketika kami berpapasan.

Semua bayangan keluarga ideal yang kurasakan selama ini seketika memudar.

Aku benci orang tuaku.

***

Yogyakarta, seminggu kemudian  

Di sinilah aku sekarang. Meski tempat ini tidak begitu asing, aku belum mengenalnya dengan baik. Kami mulai membereskan barang-barang yang kami bawa dari tempat lama. Aku belum bisa berdamai dengan luka yang digoreskan kedua orang tuaku. Namun, aku tidak ingin menambah beban ibu. Sekarang tidak ada lagi frasa “keluarga harmonis” dalam kamusku. Frasa itu telah tergantikan oleh frasa yang baru, yaitu “broken home”.

Di Jogja kami harus memulai kehidupan baru. Dulu, keluarga kami sangat berkecukupan. Orangtuaku memiliki usaha yang berkembang dengan jumlah karyawan sekitar 15 orang. Sekarang kami harus berdamai dengan keadaan. Tidak ada kendaraan, tidak ada orang yang membantu, dan ibu belum memiliki sumber penghasilan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu saat itu. Meski dalam keadaan rapuh, ia harus menguatkan mental anak-anaknya. Mengembalikan mental “ada” menjadi “tidak ada” bukan perkara mudah, butuh waktu yang tak sebentar.

Ibu harus membesarkan 3 anak sendirian, usia 13 tahun, 7 tahun, dan 3 tahun. Aku masih harus tinggal di pesantren selama satu tahun. Di situlah masa-masa yang paling sulit untukku. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku kembali dengan cerita yang berbeda, certia yang tak lagi kumiliki.

Selama di pesantren, hari Jumat menjadi hari yang selalu ingin kuhindari. Bagi teman-temanku, hari Jumat adalah hari yang ditunggu karena libur sekolah dan keluarga boleh datang menjenguk. Aku tak pernah sanggup melihat teman-temanku bercengkrama bersama seluruh keluarga yang datang. Aku hanya bisa berandai-andai, berharap aku bisa duduk bersama keluargaku yang utuh. Nyatanya, itu tak pernah terjadi. Aku memilih menyendiri di masjid, berdoa dan menangis.

Semua masa sulit itu terekam utuh di ingatan, meninggalkan jejak trauma yang sangat dalam. Aku pernah menjadi orang yang membenci laki-laki dan tidak ingin menikah. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menghapus kebencian itu dari dalam hati.

Ayahku seorang tokoh masyarakat. Ia pendiri sekolah Muhammadiyah dan ketua organisasi Muhammadiyah di daerah tempat tinggal kami. Aku sampai pada kesimpulan bahwa kesalehan seseorang bukan jaminan memiliki keluarga yang sempurna. Bahkan, aku pernah berucap tidak ingin mencari imam keluarga yang memiliki pengetahuan agama mendalam karena itu hanya akan menyakiti.

Setiap kebencian itu datang lagi, Ibu selalu mengingatkan. “Dinamika keluarga itu macam-macam. Ada yang diuji melalui harta, penyakit, anak, ataupun keutuhan keluarga. Semua mendapat jatah masing-masing. Yang membedakan adalah iman. Jika kita menyikapi dengan taqwa, Insha Alloh akan menjadi pahala,” katanya.

Sejak kejadian itu, ibu tak pernah luput menguatkanku dengan nasehat. Ibu selalu berusaha menjaga mentalku, karena aku anak tertua. Setelah lulus sekolah dan kembali ke Jogja, aku dan ibu berbagi peran. Aku mengambil peran dalam pengasuhan dan pendidikan adek, sedangkan ibu mengambil peran mencari nafkah. Saat SMA dan kuliah, aku memutuskan untuk membatasi pergaulan, karena waktuku telah terbagi dengan sebuah tanggung jawab di rumah. Dan itu tidak mudah.

Akhirnya ibu memiliki sumber penghasilan yang tetap. Kami melewati hari dengan saling menguatkan. Semua dikondisikan tercukupi. Ibu selalu menanamkan kepada kami untuk terus bermimpi dan menjadi anak yang tetap percaya diri.

“Ibu tidak bisa membekali kamu dengan harta, ibu hanya bisa menyekolahkan. Orang kaya, orang pandai bisa sama nasibnya dengan orang beruntung. Kamu tidak kaya, kamu juga mungkin tidak pandai, tapi keberuntungan itu bisa ditanam dan pupuknya adalah kebaikan,” ujarnya menasehati.

***

Setelah dewasa, kebencian itu semakin hilang. Ibu selalu memintaku untuk tetap menghormati ayah. Akupun berusana berdamai dengan masa lalu dan menjadikannya bekal di masa depan.

Kejadian yang menimpa kedua orang tuaku membuatku lebih belajar. Ternyata berkeluarga itu membutuhkan peran “saling”. Harus ada dua kepala yang saling melibatkan diri. Aku juga semakin percaya bahwa komunikasi adalah faktor utama yang wajib dibangun. Keterbukaan harus dibiasakan. Sekecil apapun rasa tidak nyaman harus diungkapkan, karena memendamnya akan meninggalkan penyakit hati yang tak berkesudahan.

Ternyata berkeluarga itu harus diimbangi dengan saling mengisi ilmu dan saling ridha. Jika tujuan kita adalah pahala, Insha Alloh akan menambah nilai ibadah.

“Harta itu jangan hanya disimpan. Kalau saatnya harus dikeluarkan, keluarkanlah. Jika harus dibagi, dibagilah. Jika tidak, Alloh akan mengeluarkan secara terpaksa entah melalui penyakit atau musibah. Nikmatilah harta itu, jangan pelit. Bagi dengan orang lain yang membutuhkan. Harta itu tidak abadi, pahala yang kelak akan memberi kemudahan dalam hidupmu,” Pesan ibu yang selalu kuingat.

Salam,

amuyassa

Advertisements