Belajar dari Denmark: BERMAIN

boy-child-dry-leaves-36965 (2)

Siang itu sinar matahari tampak begitu terik, membuat tubuh memproduksi keringat dengan bau yang khas.

Bau matahari.

Bau yang seringkali tercium dari tubuh anak-anak yang suka bermain di siang bolong.

Seperti siang itu, sekelompok anak-anak tampak sedang asik bermain bersama di halaman masjid yang sangat luas. Ada yang bermain petak umpet dan ada yang bermain benthik atau gatrik, permainan tradisional yang dimainkan oleh dua kelompok menggunakan potongan bambu.

Sekitar 10 anak berusia sekolah dasar dan menengah pertama memilih bermain benthik, mungkin karena permainan ini lebih menantang. Mereka menentukan kelompok dengan melakukan pingsut. Anak yang menang berkumpul menjadi satu kelompok, begitupun dengan yang kalah. Kedua tim sudah terbentuk yang terdiri dari tim pemain dan penjaga.

Setiap tim sudah berada di posisi masing-masing, permainan pun siap dimulai. Dua batu bata ditata berjarak, membentuk sebuah lubang. Stik kayu pendek berukuran sekitar 10 cm ditempatkan di atas batu bata layaknya sebuah jembatan. Si pemain pertama bertugas melemparnya menggunakan stik kayu panjang berukuran 20-30 cm dengan posisi tegak lurus. Setelah stik pendek terlempar, stik panjang diletakkan di atas batu bata dengan posisi yang sama.

Tim penjaga bertugas menangkap stik kayu yang dilempar. Jika berhasil menangkap, maka mereka berhak menggantikan posisi tim pemain.

Dalam permainan ini setiap kelompok mengumpulkan poin dari tiga tahap permainan. Tim penjaga dapat mengumpulkan poin dengan menangkap stik kayu pendek yang dilempar. Tim pemain dapat mengumpulkan poin dengan melempar stik kayu pendek sejauh mungkin di akhir permainan. Jumlah poin akan dikumpulkan sampai permainan selesai.

***

Dulu, pulang sekolah menjadi waktu yang paling aku tunggu karena bisa bermain bersama teman-teman di rumah. Aku masih bisa membayangkan rasanya bermain engklek, petak umpet, lompat tali, masak-masakan, lempar sandal, dan benthik. Bahagia sekali rasanya. Sebagai anak yang tak mau kalah, aku sering bermain curang, ngotot sekali membuat aturan permainan yang menguntungkan, tapi nyatanya selalu kalah.

Sayangnya itu dulu ya.

Sekarang rasanya banyak waktu bermain anak yang kita interupsi.

Di kota besar seperti Jakarta misalnya, pergaulan di luar rumah menjadi hal yang sangat dikhawatirkan. Akhirnya pergaulan anak-anak terseleksi oleh lingkungan. Atau malah kita yang telah menginterupsinya dengan memberi segudang kegiatan ekstra yang menuntut mereka berprestasi di usia dini, tanpa memedulikan emosinya.

Karena terkadang kita merasa sudah menjadi orang tua yang bertanggung jawab ketika mendaftarkan anak-anak di berbagai kelas edukasi. Dan, kita akan merasa bangga ketika anak-anak memiliki segudang prestasi di usia dini.

***

Baru-baru ini aku membaca buku “The Danish Way of Parenting” karya Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah latar belakang penulisnya, Jessica. Ia adalah orang Amerika yang menikah dengan orang Denmark. Ia sangat mengagumi sikap suaminya dalam menghadapi masalah, terutama dalam pengasuhan anak. Kekaguman itulah yang membuatnya tertarik untuk mencari tahu rahasia negara Denmark, yang dinobatkan oleh World Happiness Report (WHR) sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia selama bertahun-tahun.

Ternyata pola pengasuhan anak menjadi faktor yang sangat berperan di Denmark untuk menciptakan negara yang bahagia. Dan pola pengasuhan anak paling sederhana yang diterapkan adalah memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain bebas. Sesederhana itu.

Kenapa harus bermain?

Bagi Dane (orang Denmark), bermain adalah kegiatan belajar yang sesungguhnya untuk anak-anak. Tanpa kita sadari, permainan adalah wadah yang sangat efektif bagi anak-anak untuk belajar keterampilan hidup. Dengan bermain, mereka akan berinteaksi dengan teman-teman seusianya, berhadapan dengan masalah, dan belajar bagaimana menyelesaikan masalahnya sendiri. Nah, terkadang orang tua suka gatal ingin ikut campur ke dalam dunia mereka. Padahal, ada baiknya kita harus memberi ruang kepada anak-anak untuk tumbuh, berhadapan dengan ketidaknyamanan dan berdamai dengan situasi itu.

Kenapa bukan mengikutsertakan anak pada banyak kegiatan ekstra yang menunjang prestasi?

Dane melihat jika anak-anak selalu mengerjakan sesuatu karena dorongan lingkungan (external factor) seperti mendapatkan nilai yang baik, penghargaan, atau pujian dari guru maupun orang tua, mereka tidak bisa mengembangkan dorongan pribadi (internal control). Kelak, mereka akan mudah kecewa, cemas, dan depresi sebagaimana yang banyak terjadi di Amerika.

Mereka percaya bahwa anak-anak membutuhkan ruang dan kepercayaan untuk menguasai banyak hal yang berguna saat membuat dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kepercayaan ini akan menumbuhkan harga diri dan ketangguhan sejati, karena dukungannya berasal dari diri mereka sendiri, bukan orang lain.

Banyak hal ataupun konsep yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh orang tua kita dulu. Dimana, saat kecil kita hanya mengenal bermain. Sekolah formal pun baru dimulai dari taman kanak-kanak, bahkan banyak juga yang langsung lompat ke sekolah dasar.

Jangan sampai persaingan pendidikan yang saat ini begitu kompetitif membuat kita mengabaikan pendidikan sosial-emosional anak yang tak kalah penting. Semoga kita bukan menjadi orang tua yang menginterupsi hak anak-anak untuk bermain.

Biarkan mereka bermain bebas bersama teman-temannya,

Biarkan mereka berlarian, balap sepeda, sepak bola, naik ke atas pohon, dan hal membahagiakan lainnya yang kita rasakan dulu.

Karena bermain itu, Membahagiakan.

Salam,

amuyassa

Advertisements