Sebuah Pilihan: Ibu Domestik

Slide1

20 April 2018

Akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan swasta. Ternyata rasanya nano-nano ya ketika harus mengorbankan ambisi pribadi untuk prioritas lain yang (menurut saya) tidak kalah penting. Menjadi Ibu ternyata membuat hidup menjadi lebih dinamis dan mengundang berbagai konsekuensi yang harus dipertimbangkan dengan matang. Saya ingin sekali berbagi cerita tentang proses yang saya alami sampai akhirnya memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga.

Deep Breath

Satu hal yang pasti, memutuskan berhenti bekerja akan mengundang reaksi positif dan negatif dari orang terdekat, terutama keluarga. Banyak yang menyayangkan keputusan ini. Saya sudah sekolah tinggi, sudah memiliki penghasilan sendiri, akan kehilangan karir, dan tidak akan memiliki tempat untuk aktualisasi diri.

Betul, rasanya memang sayang sekali.

Itulah kenapa, proses yang paling sulit dijalani adalah: negosiasi dengan diri sendiri.

Ketika menjalani masa kehamilan, saya dan suami seringkali membahas tentang siapa yang nanti akan menjaga anak kami setelah lahir. Namun, berkali-kali kami berdiskusi dan berkali-kali juga hati kecil saya selalu menginginkan untuk merawatnya sendiri.

Di lain waktu, kami mencoba mencari lagi siapa orang yang tepat dan dapat dipercaya untuk merawat anak kami, dan lagi-lagi hati kecil saya mengatakan bahwa saya adalah orang yang paling tepat dan bisa dipercaya.

Your Heart Know Things that Your Mind Can’t Explain.

Untuk lebih meyakinkan diri, saya meminta pandangan temen-temen yang memilih bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Temen-temen memiliki alasan dan pertimbangan yang sangat personal, sesuai dengan kondisi keluarga masing-masing. Akhirnya saya mencoba merenungi lagi kebutuhan saya dan keluarga dengan berdiskusi bersama suami.

Dalam proses perenungan itu, saya mencoba mencari dari sudut pandang agama mengenai peran wanita dalam keluarga. Entah kenapa, bahasan ini membuat hati saya berdebar-debar dan tertampar. Intinya, sebagai wanita saya harus bisa mengenali peran saya sebagai individu, istri, ibu, dan anak.

Saat ini, saya bekerja sebagai karyawan swasta yang akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, sehingga waktu yang saya miliki untuk berinteraksi dengan anak sangatlah terbatas. Selain itu, bidang pekerjaan saya bukanlah yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Saya bukan seorang tenaga medis, pendidik, bekerja di pemerintahan, dsb sehingga anak saya lebih membutuhkan kehadiran saya. Selain itu, jika saya bekerja semata-mata bukan untuk mencari nafkah, karena Insha Alloh sudah dicukupkan melalui suami saya.

Menohok ya?

Memang,

Saat itupun saya masih denial, sedikit menyesal kenapa gak jadi dosen aja atau bekerja di layanan masyarakat, dsb. Namun, akhirnya suami mengingatkan saya untuk sholat istikharah (sholat untuk meminta petunjuk kepada Alloh SWT agar dituntun pada pilihan terbaik).

Maha besar Alloh SWT, Dia memberikan jawaban atas keraguan saya melalui mimpi dengan gambaran yang sangat jelas. Dalam mimpi itu, anak saya sedang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi sarang laba-laba sendirian dengan pandangan kosong. Sepulang kerja, saya menghampirinya dan dia langsung menangis tersedu-sedu, memeluk saya erat sekali seakan merindukan kasih sayang. Tanpa sadar, saya menangis tersedu-sedu hingga suami saya membangunkan saya karena mendengar saya menangis.

Saat itu juga, saya langsung berkata kepada suami kalau saya ingin merawat anak saya sendiri.

Entah kenapa, mimpi yang sama selalu datang ketika saya kembali ragu.

Karena mimpi itu, saya mejadi yakin bahwa saat ini pilihan yang terbaik adalah: Berhenti bekerja dan belajar menjalankan peran sebagai istri dan ibu yang baik.

4 bulan menjadi Ibu Rumah Tangga

Jenuh gak?

Iya, pastinya.

Menyesal gak?

Insha Alloh enggak.

Rasa jenuh memang menjadi salah satu negative effect, sampai saat ini saya masih terus menyusun manajemen waktu yang tepat agar peran ini bisa dijalani dengan lebih produktif dan menyenangkan. Saya juga masih mencari ruang agar tetap bisa aktualisasi diri.

Kalau boleh melihat rumput tetangga, saya sangat mengagumi temen-temen yang sudah mempunyai passion/kesibukan (yang menghasilkan), namun tetap bisa memprioritaskan sang buah hati. Semoga suatu saat saya bisa segera menyusul. Amin YRA.

Salam,

amuyassa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s