Dunia Kita

Slide1

“Posisi miom ibu bersebelahan dengan kepala bayi. Ada dua kemungkinan, bisa dilahirkan secara spontan atau sc,”

Kalimat dokter itu membuatku dan suami saling bertatapan. Sebenarnya kemungkinan ini sudah kami persiapkan sejak melihat hasil USG pertamaku. Tanpa adanya gejala apapun yang kualami sebelumnya, ternyata ada miom yang bersarang di tubuhku. Untungnya, miom ini tidak tumbuh di dalam rahim melainkan di luar dinding rahim sehingga resiko menghambat pertumbuhan bayi sangat kecil.

“Pertimbangan lainnya apa dok,” tanya suamiku.

“Jika memilih secara spontan, ada resiko miom menghambat keluarnya kepala bayi karena ukurannya yang cukup besar. Jika terjadi, akan langsung dilakukan tindakan operasi. Jika tidak menghambat, miom ibu akan tetap di dalam tubuh. Jika memilih sc, miom dan bayi dapat dikeluarkan dalam waktu yang bersamaan sehingga proses pemulihan menjadi lebih efektif. Ibu pun akan lebih sehat dan tidak ada resiko di kehamilan berikutnya. Silahkan dipertimbangkan secara matang, diskusikan berdua dengan suami,” jawabnya.

***

29 Desember 2017

Hari itu adalah hari terpanjang buatku. Wajahku mulai memanas, jantungku seakan memaksakan diri bekerja terlalu keras dan membuat detaknya semakin tak berirama. Kulirik wajah di sampingku, ada kecemasan yang hinggap.

“Aku ingin yang terbaik untuk kamu, aku ingin kamu sehat,” katanya lirih.

Sejenak aku merasa luruh. Segala konsep melahirkan ideal secara normal yang selama ini kuinginkan harus kuredam perlahan. Aku tak siap menyiarkan kabar ini kepada orang-orang terdekat yang selalu berpesan agar aku melahirkan secara normal. Entah kenapa mentalku menjadi lemah. Aku ingin menutupi kabar ini dari siapapun.

Sesampainya di rumah, kami hanya memberi kabar kepada orang tua kami. Meski ada tanya yang harus dijawab, aku tak ingin menjelaskannya. Biar suamiku saja. Aku teringat pesan dari sahabatku. “Tugasmu hanya fokus pada diri sendiri dan bayi, biarkan suami yang mengurus hal lainnya.’

Rasa yang singgah hari itu sama seperti yang kurasakan ketika dokter menyatakan aku Tokso IGM positif. Aku tak kuasa membayangkan resiko keguguran dan hidrosefalus yang dapat terjadi. Bahagia hari itu berubah seketika menjadi rasa bersalah yang tak berkesudahan yang telah mengambil alih rasa syukur yang seharusnya aku rasakan.

“Tuhan, kuatkanlah janinku.”

***

03 Januari 2018

Tak pernah kusangka, aku akan bertemu dengan makhluk kecil ini dalam hitungan jam. Rasanya tak terdefinisikan.

Pagi itu Jakarta tampak masih sepi. Udara segar tak berpolusi masih kurasakan, seolah mengingatkanku untuk menarik nafas panjang. Semalam aku tak bisa tidur nyenyak membayangkan apa yang akan kuhadapi nanti. Aku berusaha menampikkan segala kekhawatiran dengan doa. Hanya satu harapan yang selalu kuminta kepada Sang Pencipta.

Semoga bayiku sehat.

“Jam 8 pagi mulai puasa ya bu,” pesan bidan yang bertugas hari itu.

Karena adanya indikasi medis, memutuskan proses persalinan sc memang berdampak positif pada mentalku. Setidaknya aku memiliki waktu empat hari untuk berdamai dengan diri sendiri. Aku menyadari bahwa yang melelahkan itu adalah bersikeras dengan idealisme dan persepsi orang lain.

“Sekeras apapun kemauan kita, Tuhan akan tetap memiliki cara terbaikNya,” ujar ibu menenangkan.

Pukul 3 sore, bidan, dan dokter mulai bergantian masuk ke ruang inap. Detak jantungku mulai terganggu membuat kalimat yang mereka lontarkan lewat begitu saja. Kurasakan wajahku mulai menghangat, tanganku mulai dingin. Seorang perawat membuyarkan pikiranku, ia meminta persetujuan untuk memasang selang infus di punggung tangan. Aku tak menyangka bahwa serangkaian prosedur operasi ini begitu mendebarkan.

Kucoba berdialog dengan rasa takut yang mendominasi. Hanya doa satu satunya kekuatan yang kupunya. Aku akan menghadapinya seorang diri, bersama makhluk kecil yang masih bersembunyi dalam rahimku. Aku yakin, ia pun sedang menanti pertemuan ini. Semoga kamu tidak trauma ya nak, kita terpaksa bertemu pada waktu yang bukan menjadi pilihanmu.

Pukul 4 sore, aku dibawa menuju ruang operasi. Aku ingin sekali ditemani oleh genggaman tangan suamiku. Namun apa daya, ia hanya bisa menemani lewat doa dan kekhawatiran yang harus ia tenangkan sendiri. Sore itu, berbekal restu ibu dan suami aku masuk ke dalam ruang operasi seorang diri.

Di dalam rasanya dingin sekali. Suara monitor elektrokardiogram yang terdengar jelas membuat nyali ini menciut. Perawat mulai memasang selang oksigen di hidungku, elektroda di dada, dan memasukkan ilarutan infus ke dalam tubuhku. Aku pasrah tak berdaya. Setelah semua alat pendukung selesai dipasang, dokter anestesi menghampiriku menjelaskan prosedur anestesi yang akan dilakukan. Dengan meyakinkan, dokter memintaku duduk sambil memeluk bantal dan mengambil nafas panjang. “Kita kerjasama ya bu. Ibu hanya perlu rileks,” ujarnya.

Aku merasakan tusukan di tulang belakangku, diikuti rasa mual yang menjalar ke tenggorokan. Rasanya aku ingin muntah. Aku memberi tau kepada perawat apa yang aku rasakan dan sepertinya mereka memberiku anti mual seiring rasa mual itu kian mereda. Separuh tubuhku mati rasa. Aku kembali berpasrah.

Keteganganku mulai buyar ketika seseorang mengusap wajahku. “Saya dokter anak yang bertugas ya bu,” ujar dokter Mira. “Everything gonna be okay,” tambahnya. Tiba-tiba air mataku meluap ketika kudengar suara tangis menyapa duniaku sore itu.

***

Hai anakku,

Tepat satu tahun yang lalu mata kita bertemu pertama kali. Ibu masih ingat, tangismu terjeda sejenak tatkala semesta memberi waktu kita bertatapan mata.

Hanya ada “cinta” yang tumbuh kala itu. Tatapanmu masih terekam utuh dalam memori dan hati ibu hingga hari ini dan sampai kapanpun.

Hai anakku,

Ibu ingin bercerita bagaimana kamu bisa hadir di dunia ini, dunia bapak dan ibu. Kamu lahir dari sebuah harapan yang kita pinta dalam bentuk doa kepada Sang Pencipta. Cinta kami telah tumbuh bahkan sebelum benihmu tercipta. Cinta itu yang memupuk harapan dan menumbuhkannya menjadi nyata.

Hai anakku,

Saat benih cinta mulai tertanam di tubuh ibu, banyak doa baik yang menyambutmu. Sebelum Tuhan membuatmu bernyawa, ibu panjatkan segala doa terbaik untukmu. Ibu meminta agar usia, rezeki, dan jodoh yang ditetapkan kepadamu selalu mendapat ridha dan keberkahan. Semoga Alloh mendengarnya dan mencatatakan doa ibu dalam Lauh Mahfudz untukmu.

Hai anakku,

Tuhan begitu baik karena kamu diberikan kepada Ibu dalam keadaan sehat. Itu lebih dari cukup untuk Ibu. Bersyukurlah selalu kepadaNya, semoga kamu senang berada di dunia Bapak dan Ibu.

Hai anakku,

Hanya satu pesan Bapak dan Ibu.

Jagalah agama fitrahmu sampai mati ya nak, karena itulah tugas utama bapak dan ibu dari Sang Pencipta.

I love You,

Advertisements

Untukmu Ibu

lime

Ibu,

29 tahun yang lalu, Alloh menitipkanku melalui rahim-mu. Alloh pasti memiliki alasan kenapa amanah ini dibebankan kepadamu. Aku merasa beruntung karena melalu ketegasanmu aku dibesarkan, melalui nasehatmu aku dididik dan melalui air mata yang mengalir dalam setiap sujudmu Alloh mengirimkan keberkahan dalam setiap langkah hidupku.

Ibu,

Setiap kupanjatkan doa untukmu, Alloh senantiasa memutar kembali potret perjuanganmu membesarkan kami seorang diri. 15 tahun yang lalu, saat engkau harus mengalami perubahan hidup yang tak mudah dengan peran baru sebagai single parent, engkau selalu menyuguhkan optimisme kepada kami. Meski itu tidak mudah bagimu, engkau ingin putra putrimu menjalani hidup dengan mental yang utuh.

Ibu,

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana kala itu kita saling menguatkan, saling berbagi peran, saling meyakinkan bahwa Alloh tidak pernah tidur. “Letakkan semuanya di atas sajadah, tugas kita hanya berusaha dan berdoa. Biarlah Alloh yang menyelesaikan” katamu. Sejak saat itu, aku selalu belajar untuk mengandalkan doa dalam setiap keputusan yang aku ambil.

Ibu,

Aku tak akan pernah mampu membalasnya. Aku hanya bisa menitipkan pesan melalui-Nya untuk senantiasa mengangkat derajatmu di mata-Nya. Seperti katamu, kita tidak perlu mengharapkan penghargaan manusia bukan?

Meski banyak duri yang membuat hatimu terluka, ingatlah selalu bahwa doa dari putra putrimu Insha Alloh cukup untuk menerangimu kelak.

Ibu,

Tanamkanlah dalam hati bahwa kami sayang, kami bangga, dan kami akan selalu meneladanimu,

Ibu,

Terimakasih karena engkau ridho aku memilih menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga, meski aku tau banyak harapan lain yang tersisip di hatimu. Doakan aku agar bisa menjalankan peran ini dengan amanah, agar engkau turut teraliri pahala karena telah membesarkan anak perempuan yang mampu menjalankan perannya dengan baik. Aku akan terus belajar dan berusaha bu, seperti nasehat yang selalu engkau sampaikan.

“Jadilah istri dan ibu yang amanah, jangan lupa menjalani dengan ikhlas dan mengharap pahala dari-Nya”

Dari anakmu,

amuyassa

Sebuah Pilihan: Ibu Domestik

Slide1

20 April 2018

Akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan swasta. Ternyata rasanya nano-nano ya ketika harus mengorbankan ambisi pribadi untuk prioritas lain yang (menurut saya) tidak kalah penting. Menjadi Ibu ternyata membuat hidup menjadi lebih dinamis dan mengundang berbagai konsekuensi yang harus dipertimbangkan dengan matang. Saya ingin sekali berbagi cerita tentang proses yang saya alami sampai akhirnya memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga.

Deep Breath

Satu hal yang pasti, memutuskan berhenti bekerja akan mengundang reaksi positif dan negatif dari orang terdekat, terutama keluarga. Banyak yang menyayangkan keputusan ini. Saya sudah sekolah tinggi, sudah memiliki penghasilan sendiri, akan kehilangan karir, dan tidak akan memiliki tempat untuk aktualisasi diri.

Betul, rasanya memang sayang sekali.

Itulah kenapa, proses yang paling sulit dijalani adalah: negosiasi dengan diri sendiri.

Ketika menjalani masa kehamilan, saya dan suami seringkali membahas tentang siapa yang nanti akan menjaga anak kami setelah lahir. Namun, berkali-kali kami berdiskusi dan berkali-kali juga hati kecil saya selalu menginginkan untuk merawatnya sendiri.

Di lain waktu, kami mencoba mencari lagi siapa orang yang tepat dan dapat dipercaya untuk merawat anak kami, dan lagi-lagi hati kecil saya mengatakan bahwa saya adalah orang yang paling tepat dan bisa dipercaya.

Your Heart Know Things that Your Mind Can’t Explain.

Untuk lebih meyakinkan diri, saya meminta pandangan temen-temen yang memilih bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Temen-temen memiliki alasan dan pertimbangan yang sangat personal, sesuai dengan kondisi keluarga masing-masing. Akhirnya saya mencoba merenungi lagi kebutuhan saya dan keluarga dengan berdiskusi bersama suami.

Dalam proses perenungan itu, saya mencoba mencari dari sudut pandang agama mengenai peran wanita dalam keluarga. Entah kenapa, bahasan ini membuat hati saya berdebar-debar dan tertampar. Intinya, sebagai wanita saya harus bisa mengenali peran saya sebagai individu, istri, ibu, dan anak.

Saat ini, saya bekerja sebagai karyawan swasta yang akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, sehingga waktu yang saya miliki untuk berinteraksi dengan anak sangatlah terbatas. Selain itu, bidang pekerjaan saya bukanlah yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Saya bukan seorang tenaga medis, pendidik, bekerja di pemerintahan, dsb sehingga anak saya lebih membutuhkan kehadiran saya. Selain itu, jika saya bekerja semata-mata bukan untuk mencari nafkah, karena Insha Alloh sudah dicukupkan melalui suami saya.

Menohok ya?

Memang,

Saat itupun saya masih denial, sedikit menyesal kenapa gak jadi dosen aja atau bekerja di layanan masyarakat, dsb. Namun, akhirnya suami mengingatkan saya untuk sholat istikharah (sholat untuk meminta petunjuk kepada Alloh SWT agar dituntun pada pilihan terbaik).

Maha besar Alloh SWT, Dia memberikan jawaban atas keraguan saya melalui mimpi dengan gambaran yang sangat jelas. Dalam mimpi itu, anak saya sedang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi sarang laba-laba sendirian dengan pandangan kosong. Sepulang kerja, saya menghampirinya dan dia langsung menangis tersedu-sedu, memeluk saya erat sekali seakan merindukan kasih sayang. Tanpa sadar, saya menangis tersedu-sedu hingga suami saya membangunkan saya karena mendengar saya menangis.

Saat itu juga, saya langsung berkata kepada suami kalau saya ingin merawat anak saya sendiri.

Entah kenapa, mimpi yang sama selalu datang ketika saya kembali ragu.

Karena mimpi itu, saya mejadi yakin bahwa saat ini pilihan yang terbaik adalah: Berhenti bekerja dan belajar menjalankan peran sebagai istri dan ibu yang baik.

4 bulan menjadi Ibu Rumah Tangga

Jenuh gak?

Iya, pastinya.

Menyesal gak?

Insha Alloh enggak.

Rasa jenuh memang menjadi salah satu negative effect, sampai saat ini saya masih terus menyusun manajemen waktu yang tepat agar peran ini bisa dijalani dengan lebih produktif dan menyenangkan. Saya juga masih mencari ruang agar tetap bisa aktualisasi diri.

Kalau boleh melihat rumput tetangga, saya sangat mengagumi temen-temen yang sudah mempunyai passion/kesibukan (yang menghasilkan), namun tetap bisa memprioritaskan sang buah hati. Semoga suatu saat saya bisa segera menyusul. Amin YRA.

Salam,

amuyassa