Untitled, 20 September 2015

Jakarta, 00.00 WIB

Ketika pikiran menari tanpa jeda

Kesempatan yang datang dan muncul di depan mata itu memang selalu tidak pernah bisa diduga: kapan, melalui siapa, dan bagaimana datangnya. Terkadang, kesempatan datang saat kita sudah berada pada titik keputus asaan atas segala usaha dan doa yang sudah dilakukan. Tapi, satu hal yang selalu saya yakini adalah bahwa kesempatan datang dengan alasan.

Kesempatan dan tantangan itu terkadang datang beriringan. Bisa jadi mereka datang saat kita belum siap. Belum siap atas segala resiko, konsekuensi, ataupun komitmen yang harus dijalani. Akan tetapi, jika kita menghindari kesempatan yang datang, bisa jadi kita menghindari kesempatan untuk berkembang dan berproses menjadi diri yang lebih berkualitas. Terkadang memang menjadi dilema ketika kesempatan yang datang di depan mata itu bukanlah sebuah kesempatan yang sejalan dengan apa yang kita rencanakan. Kemudian, muncullah dilema atau keraguan dalam menentukan prioritas hidup. Apakah mendahulukan yang sudah di depan mata atau yang menjadi keinginan?

Semakin dewasa, kita memang tidak akan terlepas dari sebuah proses yang menyulitkan. Entah itu masalah keluarga, pekerjaan dan tanggung jawab yang semakin berat, pertemanan yang semakin menguatkan pada problema ego, hubungan dua insan manusia yang seakan dikejar oleh waktu dan tuntutan untuk segera menikah, ataupun interaksi sosial yang semakin tak terbatasi oleh segala dimensi. Kembali lagi, semua membutuhkan karakter yang kuat dari masing-masing individu. Semua itu adalah proses pendewasaan dan proses penguatan karakter agar pijakan kita sebagai sebuah individu dapat semakin kuat, dan tentunya semakin bijak.

Kesempatan yang datang itu pasti akan membuat tidur tidak nyenyak, membuat hati selalu dipenuhi keresahan, membuat waktu menjadi kian sempit karena terbagi oleh kewajiban dan berhadapan dengan konsekuensi itu sendiri, membuat tenaga menjadi lebih terkuras, membuat kecewa saat tidak sejalan dengan yang diharapkan. Namun, menaruh harapan tertinggi pada Sang Pencipta akan menjadi sebuah pilihan yang menenangkan.

Semua yang terjadi dalam hidup ini merupakan rangkaian dari sebuah pilihan. Kesempatan yang datang pun adalah hasil dari sebuah pilihan. Saat sudah menjatuhkan pilihan, artinya kita siap dengan segala konsekuensinya. Saat kita memilih berhenti bekerja untuk pekerjaan lain yang lebih baik, sebaiknya tidak mengeluh saat ternyata konsekuensi yang diterima lebih besar. Saat kita sudah memilih untuk menikah muda sehingga waktu yang dimiliki untuk bersosialisasi menjadi berkurang, sebaiknya kita tidak mengeluh terhadap pilihan yang sudah diputuskan. Saat kita tidak memulai untuk membuka diri dalam sebuah interaksi sosial, ya sebaiknya tidak iri saat melihat orang lain memiliki lingkaran interaksi sosial yang lebih besar.

Memilih memiliki kesempatan adalah tanda bahwa hidup kita bernyawa. Ya, bernyawa untuk menjadi berkembang dan siap memiliki karakter yang lebih kuat. Dengan itu semua, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk memilih untuk berbuat banyak bagi orang lain.

Salam,

At Tachriirotul M.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s