Bukan hanya sekedar “aku ingin menikah”…

Saturday, 14 February 2015

LOVE

Di tengah mencari ide dan menyusun draft speech untuk contest di Toastmasters club dua minggu lagi, tiba-tiba tangan saya ingin sekali menulis tentang hal yang tiba-tiba muncul di kepala saya malam ini.

Beberapa hari yang lalu, sahabat terdekat saya resmi menjadi seorang Ibu. Dia baru saja melahirkan putri pertamanya, namun hari ini putrinya harus dirawat di rumah sakit karena kadar bilirubinnya tinggi. Saya sangat terharu saat membaca chat darinya:

“Dedek di rumah sakit dan aku di rumah karena harus makan dan pumping ASI setiap 2 jam sekali, sedangkan suamiku harus bolak balik rumah dan rumah sakit setiap 2 jam untuk mengantar ASI”

Saya percaya, mereka pasangan yang hebat!

Cerita ini menempel terus di pikiran saya dan membuat saya menyadari satu hal: Ini lebih dari sekedar kata-kata “Aku ingin menikah” seperti yang selalu diucapkan oleh saya dan teman-teman lainnya. Saya menjadi semakin ingin belajar untuk memaknai arti “pernikahan” itu sendiri.

Berbicara tentang pernikahan, saya teringat kalimat dari Ayu Utami dalam bukunya “Parasit Lajang” :

“Berkeluarga itu kan tidak boleh main-main, sekali kamu menikah sebaiknya kamu tidak cerai. Sekali kamu punya anak, kamu tidak bisa memasukkannya lagi ke dalam perut dan mengurainya kembali kepada sperma dan sel telur. Berkeluarga adalah kontrak seumur hidup. Artinya, yang mampu silahkan melakukannya”

Mungkin kita bisa menyadari satu hal bahwa memutuskan menikah dan berkeluarga itu memerlukan tanggung jawab yang besar. Lantas, memilih untuk menikah sepertinya tidak boleh main-main karena kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Maka dari itu, yang dibutuhkan adalah kesadaran, bukan paksaan. That’s true, bukan paksaan keluarga apalagi lingkungan sosial.

Saat memutuskan berkeluarga, kita harus siap belajar. Saya percaya bahwa tingkat pendidikan dan kesalehan seseorang tidak linear dengan tingkat keberhasilannya dalam membina rumah tangga. Kita sama-sama menjadi pemain baru dalam fase kehidupan ini, untuk itu kita harus bisa menurunkan ego untuk sama-sama belajar bertanggung jawab.

Sebetulnya, membicarakan tentang pernikahan sepertinya memang agak tricky ya, apalagi yang menulis adalah orang yang belum pernah menikah, hehe. Namun, hari ini saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri apakah sebetulnya saya sudah siap menikah atau belum. Dan, sepertinya perkataan “aku ingin menikah” tidak sama dengan “aku siap menikah”. Menikah itu tentang kesiapan dan niat, bukan tentang status sosial.

Mungkin selama ini kita hanya fokus pada keinginan menikah itu sendiri, sedangkan tanpa disadari kita belum mempersiapkan apapun. Atau mungkin, selama ini kita terlalu fokus mencari pasangan, sedangkan kita lupa mempersiapkan diri dan lupa meminta kepada Tuhan agar dipantaskan. Ohya, mempersiapkan diri itu bukan hanya tentang mempersiapkan materi seperti rumah, kendaraan, penghasilan, dsb., namun juga mempersiapkan batin.

Sangat klise memang ketika banyak motivator mengatakan tentang teori “memantaskan diri”. Awalnya saya sering mengatakan “sedang memantaskan diri” setiap membahas tentang pasangan, menikah, dsb. Namun, yang saya lakukan sebetulnya belum benar-benar berusaha “memantaskan diri” dan sepertinya Tuhan pun melihat saya seperti itu, belum siap untuk menikah.

Coba deh kita pikirkan, sebetulnya mempersiapkan diri itu bisa dilakukan dengan banyak hal, misalnya: Kita mencoba lebih aware dengan lingkungan sekitar, karena awareness harus dilatih agar nantinya kita bisa lebih aware dengan pasangan dan keluarga. Untuk hal ini, saya sedang berusaha keras karena pada dasarnya saya orang yang cukup cuek. Saya belajar untuk lebih aware dengan sahabat-sahabat saya, memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sekitar, dan berusaha untuk tidak mudah melupakan sesuatu. Bagi orang-orang yang memiliki kesulitan untuk mengatakan hal apapun (seperti ketidaknyamanan, dsb), kita harus belajar untuk mengkomunikasikan hal tersebut dengan memulainya dari lingkungan sekitar kita. Komunikasi itu sangat penting dan kurangnya komunikasi menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan rumah tangga.

Di samping itu, kita juga bisa belajar untuk hidup sehat. Kita bisa memulai dari menjaga kesehatan diri kita dengan mengatur pola makan, masak masakan yang sehat, dsb. Sebetulnya banyak sekali proses belajar yang bisa dilakukan. Sebagai wanita muslim misalnya, kita bisa belajar tentang fiqih wanita dan mempelajari bagaimana peran wanita dalam keluarga. Ingat ya, wanita itu berperan penting dalam melahirkan generasi-generasi yang baik dan wanita juga berperan penting dalam keberhasilan seorang laki-laki. Seorang laki-laki juga bisa mempelajari perannya sebagai “pemimpin” dalam keluarga. Because, you will lead your family !

Hmm, it is just my personal opinion tentang proses mempersiapkan diri yang bisa kita lakukan di tengah-tengah usaha mencari pasangan itu sendiri. Kita jangan lupa untuk melibatkanNya dalam setiap usaha yang kita lakukan dengan tidak pernah putus berdoa dan meminta. Percaya, Tuhan pasti akan melihat usaha yang kita lakukan dan melihat bahwa kita sudah “siap” menikah.

Saya sangat suka sekali dengan kutipan kalimat dari salah satu penulis favorite saya, Tere Liye dalam novelnya: RINDU:

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika pun kau akhirnya tidak memiliki, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik”

Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak akan memutus jalan bagi umatNya untuk menikah, karena ini adalah salah satu bentuk ibadah. Kenapa islam sangat menganjurkan umatnya untuk hidup berpasang-pasangan dan memiliki keturunan? Ya, karena dari situlah akan lahir generasi-generasi baru yang akan menjaga bumi ini, masih ingat kan kenapa manusia diciptakan? Karena kita memiliki peran sebagai khalifah di bumi untuk menjaga ciptaanNya, termasuk menjalankan roda pemerintahan, menciptakan inovasi dan kemudahan-kemudahan bagi manusia, menjalankan roda perekonomian, dsb. Wow, ternyata tanggung jawab tersebut tidak main-main kan?

Percayalah,

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah namanya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau tidak bertemu, berarti bukan jodoh. Sederhana sekali.” [Kau, Aku, & Sepucuk Angpau Merah, Tere Liye]

Lantas, mari mempersiapkan diri dengan belajar apapun, sembari menanti kejutan apa yang akan Tuhan hadiahkan untuk orang-orang yang bersabar, yakin, dan optimis!

Salam,

[At Tachriirotul M.]

Advertisements

5 thoughts on “Bukan hanya sekedar “aku ingin menikah”…

  1. Ndan says:

    soal kesehatan, bolehkan aku coba menambahi. begini, ndak sedikit orang muda bergaya hidup kurang sehat. biasanya karena aktivitas kerja dengan mobilitas tinggi. makan dan tidur kurang teratur, konsumsi bahan pangan kurang sehat (instan), membiarkan gejala-gejala ringan penyakit; pokoknya “luweh”.

    aku pikir ini persoalan penting. menikah biasanya pada usia sekitar 30. dengan asumsi usia kita cuma 60an tahun, maka almost separuh usia kita sudah habis sebelum menikah–maka kita punya hanya separuh usia hidup untuk berkeluarga. lantas, dengan asumsi bahwa setelah usia 40an stamina (tenaga dan pikiran) mulai menurun, kita punya hanya 10an tahun usia efektif menikmati karunia Tuhan hidup berkeluarga–sex (ini soal lahir-batin, ya), berkarya dan bekerja bersama, mengasuh anak, dsb.

    sebulan lalu, aku ngobrol dengan karib yang hendak menikah bulan depan. ia orang yang rajin olahraga, makan dan tidur teratur, pekerjaan rutin terpola (kantoran). aku menanyainya, apakah sudah melakukan check-up semua kondisi faal tubuh, ia jawab belum dan ndak kepikiran sebelumnya. setelah ngobrol, ia lantas menandai kalender untuk menjadwalkan check-up. se-enggaknya, kalau kita punya bibit penyakit tertentu, kita bisa mencegahna tumbuh; kalau kita mengidap gejala-gejala penyakit tertentu, kita bisa membasminya. karena menikah memang bukan perkara sepasang kekasih, tetapi juga anak-anak kita kelak.

    🙂

  2. widyandani says:

    Well..menurut q,memutuskan menikah itu suatu pilihan.ktika menjadi seorg istri dan ibu,kita hrs siap atas apa pun,trmsk mengubur mimpi dan cita2 sementara waktu.krn peran ibu akan mnghabiskan wktu utk menggapai mimpi.g hny itu,kuat hati juga suatu hal yg wajib.stahun ini aq mrasa kekuatan hati q melemah seiring dgn penyakit yg datang pergi dr tubuh anak q.aq yg dinilai wanita kuat,trnyt runtuh saat mjd ibu.menurut q,smua hal hrs dpersiapkan dgn matang memang tp bukan brarti trll matang.krn kematangan lahir dan batin akan terbentuj seiring dgn berjalannya wkt dan tgs serta peran yg berbeda..

    • attachriirotulm says:

      Kiki,
      Thanks for reading and giving your thoughts from married woman side. Semoga comment kamu semakin memotivasi temen2 untuk terus berusaha mempersiapkan diri daripada galau menunggu jodoh aja, ckck. Thank you kiki,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s