The holy Mecca

???????????????????????????????

Sudah lama sekali saya ingin bercerita tentang perjalanan menakjubkan yang pernah saya alami awal tahun 2014 lalu. Saya simpan cerita ini sampai saya benar-benar siap menceritakannya, dan selama bulan Ramadhan ini memori itu seringkali bermunculan, membuka kenangan indah yang saya miliki ketika bertamu ke rumahNya.

Saya selalu merinding dan terharu jika mengingat bagaimana perasaan saya ketika melangkahkan kaki menuju masjidil haram di Mekah. Sabtu, 19 Januari 2014 dini hari, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maha besar Allah, saya begitu kagum melihat salah satu kota di Saudi Arabia ini yang tidak pernah tidur. Umat muslim yang datang ke Baitullah seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya. Bagaimana tidak, rumahNya terdapat di kota ini, kota yang menjadi tujuan umat muslim untuk menabung pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Malam itu, doa talbiyah yang dilafadzkan umat muslim yang berjalan beriringan menuju masjid Al-Haram semakin membuat hati saya bergetar. Tanpa terasa, air mata pun mengalir. Alunan doa itu membuat langkah kaki saya semakin bertenaga dan tak sabar ingin segera menjalani ibadah umroh yang harus saya laksanakan malam itu juga begitu tiba di Mekah.

“Labbaikallohumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka laa syarika lak” [Doa Talbiyah]

Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, Aku datang memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu

“Aku datang memenuhi panggilanMu,”

Kalimat itu yang membuat airmata ini mengalir semakin deras. Apakah benar saya datang memenuhi undanganNya? Apakah benar Ia telah mengundangku untuk pulang, ya untuk pulang ke rumah yang pertama diciptakanNya bagi umat manusia untuk beribadah, seperti yang Ia sampaikan dalam surat Ali ‘imran:96

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”

Ya Alloh, begitu besar ni’mat yang Engkau beri. Masih terekam dalam ingatan apa yang saya rasakan ketika memasuki masjid Al Haram. Hati ini menangis seperti seorang anak yang baru saja bertemu orang tuanya setelah sekian lama terpisah, bahkan lebih dari itu. Sebuah bangunan berbentuk kubus, berlapiskan jubah hitam sudah mulai tampak, semakin dekat, semakin dekat…

???????????????????????????????

[Caption: Anggunnya Ka’bah di Masjid Al Haram]

Allohu Akbar!

Betapa agungnya ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia ini. “Maha suci Alloh, Maha besar Alloh, begitu agung rumahMu, begitu cantiknya rumah kami, rumah umat muslim yang dijaga langsung olehMu”.

“Allohumma zid haadzal baita tasyriifan wata’dziiman watakriiman wamahaabatan wazid man syarroffahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasriifan wata’dzhiiman watakriiman wabirran” [doa ketika melihat ka’bah]

Ya Alloh, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran, dan kebaikan.

Hati ini terasa begitu dekat denganNya ketika mata ini dipertemukan dengan ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia. Bismillah, saya memulai melaksanakan ibadah umroh dengan melaksanakan rukun-rukunnya yang diawali dengan ber-thawaf (mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran, dimulai dari hajar aswad). Beberapa hal yang langsung terlintas ketika melebur dalam lautan umat muslim dan melaksanakan thawaf adalah kesetaraan, persatuan, dan persaudaraan.

Doa dalam bahasa Al-qur’an (arab) itulah yang mempersatukan kami ketika sama-sama menjadi tamu Alloh. Dari negara manapun kami berasal, bahasa yang sama-sama kami ucapkan adalah bahasa Al-qur’an. Kami mengelilingi ka’bah berlawanan dengan arah jarum jam, malafadzkan tasbih, tahmid, takbir, sholawat nabi, dan doa keselamatan dunia dan akhirat. Energi itu terpusat di satu titik yang membuat kami seakan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Esa, Sang Maha Agung, Alloh SWT.

Saat putaran keempat, tanpa terasa saya terbawa arus ke arah ka’bah. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa melihatnya dari dekat dan menyentuhnya. Malam itu, saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencium kiswah (kain hitam yang menutupi ka’bah). Halus, harum, dan cantik sekali. “Allohu Akbar, Allohu Akbar” Ya Tuhan, bibir ini tak kuasa berhenti mengagungkan asmaMu dan mengucap syukur. Momen itu kembali menggetarkan hati saya, membuat saya seakan-akan sedang dipelukNya erat dan membuat saya terasa begitu dekat denganNya. Maha besar Alloh!

???????????????????????????????[Caption: Foto di depan Ka’bah setelah melaksanakan ibadah thawaf]

Salah satu rukun umroh sudah selesai saya jalani, dilanjutkan dengan sholat sunnah dua rakaat di belakang maqam Ibrahim (sebuah prasasti yang berisi jejak Nabi Ibrahim ketika membangun ka’bah). Anjuran ini pun sudah disampaikanNya melalui QS. Al-Baqarah:125

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat untuk sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku umtuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”

Menikmati sholat sunnah di belakang maqam Ibrahim mendatangkan ketenangan dan kekhusyukan tersendiri untuk berdialog denganNya, berdoa untuk orang-orang yang dicintai seraya memandangi ka’bah yang begitu indah. Subhanalloh, maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Salah satu rukun umroh yang harus saya laksanakan adalah melakukan sa’i (berlari-lari kecil dari bukit shafa ke bukit Marwah) sebanyak 7 kali. Setelah sa’I, rukun umroh yang terakhir adalah tahalul (mencukur rambut) yang harus dilakukan oleh jama’ah yang sudah selesai menyelesaikan seluruh rukun umroh.

???????????????????????????????[Caption: Suasana setelah melaksanakan ibadah sa’i]

Sebetulnya inti dari ibadah umroh adalah melaksanakan rukun-rukunnya begitu sampai di kota Mekah. Sebelum memasuki kota Mekah, kita harus mengenakan pakaian ihrom dan mengambil niat dari luar kota Mekah. Selebihnya adalah melaksanakan ibadah sehari-hari di kota Mekah dan Madinah. Disinilah umat muslim memiliki keutamaan untuk menabung pahala, karena sholat di masjid Nabawi di kota Madinah memiliki keutamaan 1000 kali dibanding sholat di masjid lainnya, kecuali masjidil haram dan sholat di masjidil haram memiliki keutamaan 100.000 kali dibanding sholat di masjid lainnya. Maha besar Alloh!

Menjalani hari-hari di kota Mekah seakan berada pada zona waktu yang begitu cepat. Empat-lima hari tinggal disana rasanya tidaklah cukup. Waktu yang ada banyak dihabiskan di dalam masjid. Bahkan, hal-hal yang berkaitan dengan persoalan duniawi tidak terlintas sedikit pun dalam benak. Bagaimana tidak, sebelum subuh saya sudah berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat malam hingga waktu subuh dan matahari terbit untuk sholat dhuha. Setelah itu di waktu dzuhur saya kembali ke masjid hingga waktu isya’ tiba, begitu seterusnya. Terkadang, saya melakukan ibadah thawaf.

Memegang Hajar Aswad dan rukun Yamani, dan berdoa di Hijr Ismail adalah kesempatan yang sangat diimpikan bagi seluruh umat muslim ketika datang ke masjidil haram, begitu pun dengan saya. Hajar Aswad adalah sebuah batu yang berasal dari surga. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Hajar Aswad diturunkan dari surga, saat itu warnanya lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa keturunan Adam membuatnya berubah menjadi hitam”

Nantinya, Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian Alloh akan memberinya mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara, memberikan persaksian terhadap orang yang menyentuhnya dengan kebenaran. Itulah keutamaanya yang mendorong umat muslim berlomba-lomba untuk dapat menciumnya. Sayangnya, setelah berusaha semaksimal mungkin saya belum diberi kesempatan olehNya.

Hajar Aswad terletak di salah satu sudut ka’bah, dan sudut itu selalu dipadati oleh umat muslim yang ingin memiliki kesempatan menciumnya. Bisa dibayangkan bukan? Secara logika, akan sulit untuk mencium Hajar Aswad dengan tenang, karena bisa jadi kepala kita didorong dan terluka. Namun, kenyataannya tidak. Beberapa teman yang berhasil mencium Hajar Aswad bercerita bahwa saat kepala mereka masuk dan mencium Hajar Aswad, mereka merasakan kelonggaran dan ketenangan karena tidak ada yang mengganggu sedikit pun. Ketika kepala keluar, barulah harus berjuang kembali untuk menyingkir dari keramaian. Subhanalloh!

Ada hal menarik yang saya alami ketika mencoba kembali untuk mencium Hajar Aswad. Saat itu, saya menyempatkan thawaf sebelum sholat subuh dan kembali mencoba menerobos kerumunan untuk mencium Hajar Aswad. Namun, saya dan sahabat saya-Ita terjepit di antara umat muslim yang juga ingin mencium Hajar Aswad. Kami tidak dapat bergerak sama sekali hingga tiba-tiba kami menyadari bahwa kami berada di antara Hajar Aswad dan pintu ka’bah yang dikenal dengan Multazam. Tempat itu sangat baik untuk berdoa. Alhamdulillah, meski tidak dapat mencium Hajar Aswad, namun kami dapat berdoa apapun di Multazam. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak berhasil mencium Hajar Aswad, Alhamdulillah saya bisa sholat di dalam Hijr Ismail, yaitu tempat dimana Nabi Ibrahim meletakkan istrinya Hajar dan putranya Ismail, ketika ia membawa mereka ke Mekah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Jika engkau ingin masuk ke Baitullah, maka sholatlah di sini (Hijr) karena ini adalah bagian dari Baitullah, karena kaummu menguranginya di saat membangunnya kembali”

Inilah keutamaannya, sholat di dalam Hijr Ismail sama dengan kita sholat di dalam ka’bah. Lagi-lagi, butuh perjuangan untuk dapat sholat di dalamnya karena selurum umat muslim berebut ingin memperoleh keutamaan sholat di Hijr Ismail. Setelah berusaha, Alhamdulillah saya sempat mengecap indahnya sholat di dalam ka’bah dan berdoa sambil menatap ka’bah dari dekat.

???????????????????????????????[Caption: Hijr Ismail (pondasi setengah lingkaran)]

Hari demi hari saya jalani dengan penuh suka cita. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk terus mengenali Alloh SWT, Tuhan yang Maha Esa, tunggal, dan tidak ada sekutu bagiNya. Perjalanan ini membuat saya semakin yakin terhadap agama yang menjadi tuntunan hidup saya saat ini, agama Islam dan meyakini bahwa Alloh SWT adalah Tuhan satu-satunya di dunia dan akhirat.

Saya menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan pembaharuan iman yang akan dirasakan oleh umat muslim setelah menjalani ibadah Haji dan Umroh. Ya, Pembaharuan Iman yang juga saya rasakan, yang membuat saya ingin belajar untuk mengusahakan apapun dalam mengutamakanNya. Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

???????????????????????????????[Caption: Pelataran masjidil Haram]

???????????????????????????????

[Caption: Foto di depan pintu masuk utama Masjidil Haram: King Abdul Aziz]

???????????????????????????????

[Caption: Suasana di dalam Masjidil Haram]

Salam,

At tachriirotul M.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s