Menjadi Ibu,

Those kind of feeling that only YOU who can feel it when someone call you “ibu”

Setelah memiliki peran sebagai ibu, saya kian mengerti kenapa Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menghormati ibu, ibu, dan ibu, baru kemudian ayah. Kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang yang tak terbatas seakan-akan menjadi hal magic yang tumbuh dalam diri kita tanpa kita sadari.

Terharu rasanya ketika teringat bagaimana tangisan itu memecahkan ketegangan yang menghantui saya beberapa hari sebelum persalinan. Lega rasanya ketika makhluk kecil yang tumbuh di dalam rahim saya akhirnya lahir di dunia ini diiringi dengan sapaan tangisan yang menggetarkan hati dan membuat air mata ini mengalir. Masya Allah, Allahu Akbar. Akhirnya tiba saatnya kita saling menatap tanpa kata, mewakili segala rasa cinta yang selama ini tumbuh dalam hati kita masing-masing. Dan sejak saat itu, saya jatuh cinta setiap hari dengannya.

Melihat ada seorang makhluk hidup yang lahir dari rahim saya menyadarkan saya bahwa Tuhan itu ada. He does really exist. He creates human being through our body and He has chosen us to taking care of his creation. Amanah ini luar biasa besar, karena diberikan langsung oleh Sang Maha Pencipta.

“You will learn to lower your expectations about what you can accomplish in a day. Some days, it will be all you can do to keep BABY safe, warm, and fed. And that will be enough” [Google]

“Everything changed”

Menjadi Ibu berarti segala hal menjadi berubah dan terbatasi. It sounds scare at the first time, and of course at next! Hahaha.

Menjadi Ibu berarti harus siap berperang dengan sisi egosentris kita. That’s really hard. To me, battle with pleasure become the hardest part. Karena, waktu yang kita punya sudah diakuisisi oleh baby.

Menjadi Ibu berarti harus belajar menata hati. Karena rasa capek, stres, emosi, dan segala bentuk tegangan tinggi yang lainnya hanya bisa diatasi dengan hati yang kita tata.

Menjadi Ibu berarti harus siap mengalokasikan sebagian besar waktu kita untuk sang buah hati. Biasanya, perubahan ini yang membuat tingkat stres, emosi, dan rasa bosan meningkat. Anggap saja kita sedang rehat sejenak dari kebebasan yang pernah kita punya dan sedang mengerjakan project baru (D:).

Begitulah wanita berproses menjadi wanita seutuhnya sebagaimana ibu kita mengalaminya lebih dulu.

Namun,

Menjadi Ibu berarti akan ada seseorang yang kelak akan memberikan doa terbaiknya untuk kita.

Menjadi Ibu berarti akan ada seseorang yang tumbuh dengan karakter yang kita bangun, yang akan mengamalkan apa yang kita tanamkan dan ajarkan kepadanya.

Menjadi Ibu berarti akan ada seseorang yang kelak akan menghampiri kita, hanyut dalam pelukan kita, dan merindukan segala nasehat kita.

Menjadi Ibu membuat kita menjadi seseorang yang memiliki arti dan peran.

Menjadi Ibu membuat kita memiliki investasi pahala yang tak terhenti.

Dan disinilah surga kita bermuara, yang akan terus mengaliri dan menerangi kita kelak.

Amin YRA.

[At Tachriirotul M.,]

 

 

 

Advertisements

Wow, Digital Services Mulai Menyasar Segmen Kesehatan!

Di bulan Oktober ini, profesi Apoteker di Indonesia sempat dikejutkan oleh peluncuran aplikasi digital Go-Med, layanan penghubung pasien dan jaringan apotek di beberapa wilayah di Indonesia. Perusahaan yang menelurkan layanan digital Go-Med adalah perusahaan teknologi besar di Indonesia yang mengklaim sebagai perusahaan teknologi berjiwa sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja di berbagai sektor informal di Indonesia, GO-JEK.

Perkembangan aplikasi digital di Indonesia saat ini bisa dikatakan mulai bersifat segmented, bahkan mulai menjalari bidang kesehatan. Sebelumnya, GO-JEK dikabarkan baru saja mengakuisisi healthcare startup asal India, Pianta, dimana startup tersebut menyediakan layanan pencarian tenaga kesehatan dan pengaturan jadwal home visit, termasuk layanan terapi, perawatan, dan pengumpulan sampel laboratorium. Tidak hanya itu, keputusan GO-JEK untuk melebarkan bisnisnya di bidang kesehatan pun tak lepas dari investasi yang dilakukannya pada startup healthcare di Indonesia, yaitu HaloDoc. Wow, I think, there will so many surprises from GO-JEK in expanding their business into healthcare.

Berbicara mengenai Go-Med, perlu ditekankan bahwa layanan ini bukan merupakan Apotek online seperti medicastore dan goapotik yang ditelurkan oleh dua perusahaan farmasi besar di Indonesia. Go-Med merupakan on-demand services yang menggunakan jasa layanan transportasinya untuk menghubungkan pengguna yang memerlukan akses pada apotek/obat. Aplikasi Go-Med menawarkan kemudahan layanan bagi pengguna untuk membeli obat-obatan, vitamin, dan kebutuhan medis lainnya dari Apotek berlisensi terdekat. Go-Med bisa dikatakan merupakan transformasi dari layanan Apotik Antar yang berada di bawah payung yang sama dengan HaloDoc. Keduanya masih berkaitan dengan salah satu distributor farmasi besar di Indonesia, yaitu PT. Mensa. Hmm, There is strong networking, right?

Ada dua nilai positif yang dapat kita lihat dari aplikasi digital ini:

  • Penggolongan kategori obat pada menu Go-Med memiliki nilai plus, karena dapat membantu meminimalisir penyerahan obat golongan keras tanpa resep dokter.
  • Layanan ini akan membantu Apotek kecil berlisensi untuk memperluas jangkauan pasien, karena Go-Med dapat menghubungkan pengguna dengan Apotek terdekat.

Sayangnya, kemudahan layanan ini tidak senada dengan upaya yang dilakukan profesi Apoteker untuk mengaktivasi perannya dalam memberikan edukasi pada pasien. Jika melihat pada undang-undang, aturan bakunya adalah: Penyerahan dan pelayanan obat dengan resep dokter harus dilakukan oleh Apoteker dengan menerapkan standard pelayanan kefarmasian. Dimana, pelayanan harus dilakukan secara langsung dan bertanggung jawab kepada pasien. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien termasuk melindungi pasien dari penggunaan obat yang tidak rasional demi keselamatan pasien itu sendiri.

Jika Go-Med hanya menyediakan layanan on demand services, salah satu startup healthcare, mClinica membuat saya berdecak kagum. Startup yang didirikan oleh Faraouk Meralli, lulusan health policy-Harvard ini mencoba membidik nilai sosial dengan memanfaatkan jaringan perusahaan farmasi melalui sistem supply chain digital. Melalui jaringan tersebut, masyarakat ekonomi menengah ke bawah dapat memperoleh obat dengan harga yang lebih murah. Menariknya, apotek yang terdaftar pada jaringan tersebut harus mendaftarkan pasien dalam program konsultasi agar pasien tersebut lebih memahami perkembangan kondisi kesehatannya. Faktanya, mClinica pun sudah mulai memasuki pasar di Indonesia.

Melihat hal tersebut, harus diakui bahwa kita tidak dapat menutup mata terhadap perkembangan teknologi yang mulai tersegmentasi dan menyasar bidang kesehatan. Sebagai profesi yang merasa ranahnya mulai terusik dengan inovasi teknologi, sebaiknya kita turut berbenah dan tidak hanya berteriak mengkritisi. Pemerintah pun harus mempersiapkan diri untuk dapat mengimbangi inovasi teknologi yang mulai menyasar bidang kesehatan. Sehingga, diharapkan terdapat kebijakan yang jelas agar perlindungan terhadap pasien dan kemudahan yang ditawarkan melalui inovasi ini dapat berjalan beriringan. So, menurut teman-teman Apoteker, kira-kira kebijakan apa ya yang sebaiknya dibuat? Lets give a thought!

 

Salam,

[At Tachriirotul M.]

Untitled, 20 September 2015

Jakarta, 00.00 WIB

Ketika pikiran menari tanpa jeda

Kesempatan yang datang dan muncul di depan mata itu memang selalu tidak pernah bisa diduga: kapan, melalui siapa, dan bagaimana datangnya. Terkadang, kesempatan datang saat kita sudah berada pada titik keputus asaan atas segala usaha dan doa yang sudah dilakukan. Tapi, satu hal yang selalu saya yakini adalah bahwa kesempatan datang dengan alasan.

Kesempatan dan tantangan itu terkadang datang beriringan. Bisa jadi mereka datang saat kita belum siap. Belum siap atas segala resiko, konsekuensi, ataupun komitmen yang harus dijalani. Akan tetapi, jika kita menghindari kesempatan yang datang, bisa jadi kita menghindari kesempatan untuk berkembang dan berproses menjadi diri yang lebih berkualitas. Terkadang memang menjadi dilema ketika kesempatan yang datang di depan mata itu bukanlah sebuah kesempatan yang sejalan dengan apa yang kita rencanakan. Kemudian, muncullah dilema atau keraguan dalam menentukan prioritas hidup. Apakah mendahulukan yang sudah di depan mata atau yang menjadi keinginan?

Semakin dewasa, kita memang tidak akan terlepas dari sebuah proses yang menyulitkan. Entah itu masalah keluarga, pekerjaan dan tanggung jawab yang semakin berat, pertemanan yang semakin menguatkan pada problema ego, hubungan dua insan manusia yang seakan dikejar oleh waktu dan tuntutan untuk segera menikah, ataupun interaksi sosial yang semakin tak terbatasi oleh segala dimensi. Kembali lagi, semua membutuhkan karakter yang kuat dari masing-masing individu. Semua itu adalah proses pendewasaan dan proses penguatan karakter agar pijakan kita sebagai sebuah individu dapat semakin kuat, dan tentunya semakin bijak.

Kesempatan yang datang itu pasti akan membuat tidur tidak nyenyak, membuat hati selalu dipenuhi keresahan, membuat waktu menjadi kian sempit karena terbagi oleh kewajiban dan berhadapan dengan konsekuensi itu sendiri, membuat tenaga menjadi lebih terkuras, membuat kecewa saat tidak sejalan dengan yang diharapkan. Namun, menaruh harapan tertinggi pada Sang Pencipta akan menjadi sebuah pilihan yang menenangkan.

Semua yang terjadi dalam hidup ini merupakan rangkaian dari sebuah pilihan. Kesempatan yang datang pun adalah hasil dari sebuah pilihan. Saat sudah menjatuhkan pilihan, artinya kita siap dengan segala konsekuensinya. Saat kita memilih berhenti bekerja untuk pekerjaan lain yang lebih baik, sebaiknya tidak mengeluh saat ternyata konsekuensi yang diterima lebih besar. Saat kita sudah memilih untuk menikah muda sehingga waktu yang dimiliki untuk bersosialisasi menjadi berkurang, sebaiknya kita tidak mengeluh terhadap pilihan yang sudah diputuskan. Saat kita tidak memulai untuk membuka diri dalam sebuah interaksi sosial, ya sebaiknya tidak iri saat melihat orang lain memiliki lingkaran interaksi sosial yang lebih besar.

Memilih memiliki kesempatan adalah tanda bahwa hidup kita bernyawa. Ya, bernyawa untuk menjadi berkembang dan siap memiliki karakter yang lebih kuat. Dengan itu semua, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk memilih untuk berbuat banyak bagi orang lain.

Salam,

At Tachriirotul M.

The miracle of 21st Chromosome

It’s an extra chromosome, it’s extra ordinary.

Karena tanggal 21 Maret bertepatan dengan hari Down Syndrome (DS) sedunia, maka saya ingin berbagi sedikit cerita tentang latar belakang DS yang membuat saya tertarik untuk menggali informasinya.

Pernahkah temen-temen mendengar istilah Kromosom ke-21?

Kromosom merupakan sepaket material genetik yang dimiliki oleh setiap individu. Secara normal, manusia memiliki 23 pasang kromosom (46 kromosom) yang diturunkan dari sel telur ibu dan sel sperma ayah, dimana masing-masing sel tersebut memiliki 23 kromosom. Pada case down syndrome, terdapat gangguan proses pembentukan sel reproduksi (sel telur atau sel sperma) sebelum pembuahan. Gangguan tersebut berupa kelebihan pembentukan kromosom ke-21, sehingga menyebabkan jumlah kromosom pada anak down syndrome berjumlah 47 kromosom.

Kromosom tersebut akan berperan dalam proses pembentukan sel yang kemudian akan berkembang menjadi jaringan dan organ-organ vital di dalam tubuh seperti: jantung, paru-paru, hati, otak, dsb. Material genetik akan terus berperan dalam proses perkembangan tubuh manusia seumur hidupnya. Adanya ekstra kromosom di dalam tubuh anak down syndrome menyebabkan proses perkembangan sel dan organ tubuh menjadi terhambat. Oleh karena itu, sebagian besar anak down syndrome mengalami gangguan pada beberapa aspek kesehatan seperti: (1) terhambatnya perkembangan otak, sehingga berpengaruh pada intellectual ability (2) gangguan pendengaran (3) gangguan pada saluran pencernaan, termasuk intoleransi terhadap gluten (4) karakteristik fisik seperti: flat face, eyes slanting up, dsb.

Hal yang sangat menarik adalah tidak adanya bukti ilmiah atau hasil penelitian yang dapat menjelaskan penyebab Down Syndrome, baik faktor resiko maupun penyebab khusus seperti faktor lingkungan. Gangguan pembentukan sel reproduksi (sel telur atau sel sperma) terjadi secara acak, namun sebagian besar terjadi pada pembentukan sel telur ibu (95%). Hal ini merupakan sebuah keajaiban Tuhan yang dapat terjadi pada 1 dari 1000 angka kelahiran di dunia (sumber: WHO).

Pada tahun 1900-an, anak down syndrome diprediksi hanya akan hidup selama kurang dari 10 tahun. Sekarang, lebih dari 50% anak down syndrome hidup hingga umur 50 tahun atau lebih. Kondisi down syndrome memang irreversible, namun hal terpenting bagi mereka adalah pendampingan dan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, learning environment yang memfasilitasi mereka untuk berkembang, serta penerimaan sosial. Selain itu, mereka harus melakukan monitor kesehatan fisik dan mental secara rutin.

Salam,

At Tachriirotul M.

Anak di atas rata-rata

DSCF1898[Dari kiri: Mayang, Nesa, Stephanie, Indra, Yofan]

Satu per satu aku bertemu dengan anak-anak yang namanya sudah kukenal melalui email, itupun aku terima dari seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Memang seringkali seperti ini, ketika aku mendapat kesempatan untuk melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Siklusnya selalu sama: networking-virtual meeting-direct communication-take an action-maintain relationship, dan aku selalu suka.

***

Sore itu, di tengah pekerjaan yang cukup membosankan, notifikasi email pribadi yang aku terima cukup membuatku kembali bergairah. Email itu memang lebih menarik daripada pekerjaan yang sedang aku selesaikan sore itu dan tentunya membuat naluri analisaku berfungsi (red: stalking). Email yang aku terima adalah email yang menjelaskan peran yang akan aku lakukan di kegiatan sosial pada sebuah organisasi non profit di Jakarta. “Spesial Olympics” itulah kata-kata yang sering aku temui di email yang sedang kubaca dan sayangnya kata itu tidak familiar buatku. Cukup lama aku mencerna isi dari email tersebut karena banyak hal yang belum aku ketahui dan aku sangat terbantu dengan search engine yang memberiku banyak informasi tentang Special Olympics.

Informasi yang aku peroleh dari hasil stalking melalui search engine tidak hanya membuatku menjadi tahu apa itu Special Olympics, namun mendatangkan kekaguman tersendiri pada nama anak-anak yang nantinya akan aku temui selama kurang lebih satu bulan. Hmm, aku mulai merinding membaca prestasi mereka dalam membanggakan Indonesia tercinta di ranah Internasional melalui ajang olimpiade olahraga khusus ini.

Kenapa khusus?

Special Olympics adalah sebuah organisasi internasional di bidang olahraga khusus untuk anak-anak dengan keterbatasan intelektual yang berarti memiliki keterbatasan secara fungsi intelektual dan kemampuan beradaptasi. Secara fungsi intelektual, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam penalaran, pemahaman, dan problem solving. Fungsi ini dapat diukur melalui IQ test, dimana anak-anak dengan keterbatasan fungsi intelektual memiliki IQ 70-75. Sedangkan, keterbatasan kemampuan beradaptasi terdiri dari beberapa kondisi seperti: kemampuan berfikir (keterbatasan dalam penggunaan bahasa, tulisan, waktu, dan arah), kemampuan sosial (keterbatasan dalam hubungan antar personal, tanggung jawab sosial, penerimaan diri, kemampuan dalam mengikuti aturan), serta kemampuan praktik (keterbatasan dalam melakukan rutinitas/daily activity, menjaga kesehatan, melakukan perjalanan, penggunaan uang). [Source : AAIDD – American Association on Intellectual Developmental Disabilities]

Jika tuna rungu memiliki alat bantu pendengaran, tuna netra memiliki alat bantu baca dengan huruf Braille, sedangkan anak berkebutuhan khusus (tuna grahita) hanya perlu pendampingan. That’s the point! PENDAMPINGAN. Dan, dari sinilah organisasi ini bermula.

Sejak tahun 1962, organisasi ini didirikan oleh Eunice Kennedy Shriver, adik dari Presiden Amerika Serikat ke-35 – John F. Kennedy. Saat itu, shriver melihat tidak adanya kesempatan untuk berkembang yang dimiliki oleh adiknya, Rosemary Kennedy yang memiliki keterbatasan intelektual. Keduanya sering melakukan olahraga bersama-sama dan Shriver menyadari bahwa olahraga adalah cara mudah untuk mempersatukan bermacam-macam orang, termasuk memberi ruang bagi adiknya Rosemary untuk berkembang.

Organisasi ini kian berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang dikenal dengan “Special Olympics Indonesia (SOINA),” tempat dimana aku pernah memiliki kesempatan untuk melibatkan diri. Bagiku, organisasi ini begitu mengagumkan karena memberikan wadah kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk tetap berkembang, bersosialisasi, bahkan berprestasi. SOINA memberikan perhatian khusus kepada kelompok minoritas yang terkadang kita tidak menyadari keberadaan mereka. Terkadang, kita tidak pernah peduli atau bahkan memikirkan kelompok minoritas ini di lingkungan sekitar kita. Aku pun demikian, sebelum aku mengenal organisasi ini.

***

Kembali pada cerita bagaimana aku pada akhirnya bertemu dengan mereka. Aku lebih suka menyebutnya sebagai teman baruku. Meski kami baru bertemu dua bulan terakhir ini, namun sikap mereka yang begitu natural membuat kami menjadi begitu dekat. Aku masih ingat betul saat pertama kali bertemu dengan mereka. Sapaan dan senyuman ramahnya seakan melunturkan rasa nervous yang sedang aku alami saat itu karena aku akan bertemu dengan para atlit yang sudah memberikan kontribusinya untuk negeri tercinta ini.

Nesa, Yofan, Indra, Mayang, dan Stephanie

Pertemuanku dengan mereka mematahkan stereotype yang berkembang di masyarakat dalam memandang kelompok minoritas ini. Mereka memiliki karakteristik masing-masing.

Nesa: ia aktif dalam berdiskusi dan selalu antusias untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Ia responsif sekali terhadap hal baru yang membuatnya tertarik untuk menyampaikan pendapatnya. Ia sangat percaya diri. Ia memiliki keinginan yang besar untuk diterima di masyarakat, tidak dipandang berbeda, dan memiliki kesempatan untuk bekerja. Ia selalu bersemangat untuk menyuarakan haknya.

11054424_10203964864138039_6628629361485233258_o[Nesa bersama salah satu mentor dari Pakistan]

Yofan: ia memiliki potensi yang besar dalam berbagai hal. He is a good story teller, and he dream to inspire people through his words. He always good in delivering idea. Ia juga bagus dalam berpidato. Semangatnya selalu tinggi untuk maju, dan ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di tingkat perguruan tinggi.

10988292_10203964928739654_5357316672277976858_o[Yofan saat berpidato di Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Indra: ia adalah seorang laki-laki yang pendiam, memang agak sulit untuk membaca dan menyampaikan pendapatnya. Namun, ia sangat bertanggung jawab. He is a good athlete! Saat dia sudah memegang raket bulu tangkis, kemampuannya mengalahkan kepribadiannya yang sangat pendiam. Guest what? Indra akan membawa nama Indonesia pada ajang Special Olympics World Games 2015 di Los Angeles, California pada 25 Juli – 2 Agustus mendatang. Dan, ia akan terbang ke Amerika untuk mempertaruhkan nama negeri tercinta ini pada ajang World Games pada cabang olahraga Bulu Tangkis. Good Luck Indra!

10321729_10203964889698678_988203864097122666_o[Indra bersama tamu undangan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga]

Mayang: ia seperti kakak untuk anak-anak yang lain. Ia bagus dalam presentasi dan memiliki ide yang cukup bagus dalam menyampaikan gagasan. Ia sangat ramah dan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ia saat ini berkeja di sebuah sekolah sebagai staff administrasi.

10830485_10203964833137264_5668392920281100947_o[Mayang bersama salah satu board members]

Stephanie: siapa tidak mengenal Stephanie Handojo? Wajahnya beberapa kali menghiasi media Indonesia karena prestasinya sebagai peraih medali emas dalam ajang Special Olympics World Games 2011 di Athens, Greece pada cabang olahraga renang. Gadis 24 tahun ini adalah seorang pejuang tangguh, ia sangat bagus dalam berpidato, bahkan dalam bahasa Inggris. Saat ini, ia memegang peran sebagai International Global Messenger periode 2015-2019 bersama 12 atlit lain dari 12 negara. Ia berhasil melewati tes dan mengalahkan 73 partisipan dari 22 negara bagian dan 39 negara di seluruh dunia (sumber: specialolympics.org). Ia tidak hanya membawa nama Special Olympics, namun juga membawa negara Indonesia. So proud of you Stephanie! Yang lebih membanggakan lagi adalah, She is nice, care and still humble! I adore it!

DSCF2039[Stephanie saat berpidato pada acara Asia Pacific Conference]

Aku belajar dari mereka bahwa Tuhan memang tidak pernah salah. Terkadang kitalah yang secara tidak sadar menyalahkan Tuhan atas hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kitalah yang menjalankan peran untuk memilih apakah kita hanya akan berhenti menatap ketidaksempurnaan yang ada dan meminta orang lain untuk mengerti keterbatasan yang kita milki. Atau, kita mulai bertindak untuk berubah dan menunjukkan pada orang lain bahwa ketidaksempurnaan fisik bukan tiket menuju kegagalan.

Masih ingat bukan dengan international speaker Nick Vujicic? Meskipun ia hidup tanpa lengan dan kaki, tapi semangatnya mengalahkan ketidaksempurnaannya. Because, your potential is limited only by your excuses!

This is song from Avril Lavigne that dedicated to Special Olympics. The song tittle: “FLY”

Salam,

[At Tachriirotul M.]

Bukan hanya sekedar “aku ingin menikah”…

Saturday, 14 February 2015

LOVE

Di tengah mencari ide dan menyusun draft speech untuk contest di Toastmasters club dua minggu lagi, tiba-tiba tangan saya ingin sekali menulis tentang hal yang tiba-tiba muncul di kepala saya malam ini.

Beberapa hari yang lalu, sahabat terdekat saya resmi menjadi seorang Ibu. Dia baru saja melahirkan putri pertamanya, namun hari ini putrinya harus dirawat di rumah sakit karena kadar bilirubinnya tinggi. Saya sangat terharu saat membaca chat darinya:

“Dedek di rumah sakit dan aku di rumah karena harus makan dan pumping ASI setiap 2 jam sekali, sedangkan suamiku harus bolak balik rumah dan rumah sakit setiap 2 jam untuk mengantar ASI”

Saya percaya, mereka pasangan yang hebat!

Cerita ini menempel terus di pikiran saya dan membuat saya menyadari satu hal: Ini lebih dari sekedar kata-kata “Aku ingin menikah” seperti yang selalu diucapkan oleh saya dan teman-teman lainnya. Saya menjadi semakin ingin belajar untuk memaknai arti “pernikahan” itu sendiri.

Berbicara tentang pernikahan, saya teringat kalimat dari Ayu Utami dalam bukunya “Parasit Lajang” :

“Berkeluarga itu kan tidak boleh main-main, sekali kamu menikah sebaiknya kamu tidak cerai. Sekali kamu punya anak, kamu tidak bisa memasukkannya lagi ke dalam perut dan mengurainya kembali kepada sperma dan sel telur. Berkeluarga adalah kontrak seumur hidup. Artinya, yang mampu silahkan melakukannya”

Mungkin kita bisa menyadari satu hal bahwa memutuskan menikah dan berkeluarga itu memerlukan tanggung jawab yang besar. Lantas, memilih untuk menikah sepertinya tidak boleh main-main karena kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Maka dari itu, yang dibutuhkan adalah kesadaran, bukan paksaan. That’s true, bukan paksaan keluarga apalagi lingkungan sosial.

Saat memutuskan berkeluarga, kita harus siap belajar. Saya percaya bahwa tingkat pendidikan dan kesalehan seseorang tidak linear dengan tingkat keberhasilannya dalam membina rumah tangga. Kita sama-sama menjadi pemain baru dalam fase kehidupan ini, untuk itu kita harus bisa menurunkan ego untuk sama-sama belajar bertanggung jawab.

Sebetulnya, membicarakan tentang pernikahan sepertinya memang agak tricky ya, apalagi yang menulis adalah orang yang belum pernah menikah, hehe. Namun, hari ini saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri apakah sebetulnya saya sudah siap menikah atau belum. Dan, sepertinya perkataan “aku ingin menikah” tidak sama dengan “aku siap menikah”. Menikah itu tentang kesiapan dan niat, bukan tentang status sosial.

Mungkin selama ini kita hanya fokus pada keinginan menikah itu sendiri, sedangkan tanpa disadari kita belum mempersiapkan apapun. Atau mungkin, selama ini kita terlalu fokus mencari pasangan, sedangkan kita lupa mempersiapkan diri dan lupa meminta kepada Tuhan agar dipantaskan. Ohya, mempersiapkan diri itu bukan hanya tentang mempersiapkan materi seperti rumah, kendaraan, penghasilan, dsb., namun juga mempersiapkan batin.

Sangat klise memang ketika banyak motivator mengatakan tentang teori “memantaskan diri”. Awalnya saya sering mengatakan “sedang memantaskan diri” setiap membahas tentang pasangan, menikah, dsb. Namun, yang saya lakukan sebetulnya belum benar-benar berusaha “memantaskan diri” dan sepertinya Tuhan pun melihat saya seperti itu, belum siap untuk menikah.

Coba deh kita pikirkan, sebetulnya mempersiapkan diri itu bisa dilakukan dengan banyak hal, misalnya: Kita mencoba lebih aware dengan lingkungan sekitar, karena awareness harus dilatih agar nantinya kita bisa lebih aware dengan pasangan dan keluarga. Untuk hal ini, saya sedang berusaha keras karena pada dasarnya saya orang yang cukup cuek. Saya belajar untuk lebih aware dengan sahabat-sahabat saya, memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sekitar, dan berusaha untuk tidak mudah melupakan sesuatu. Bagi orang-orang yang memiliki kesulitan untuk mengatakan hal apapun (seperti ketidaknyamanan, dsb), kita harus belajar untuk mengkomunikasikan hal tersebut dengan memulainya dari lingkungan sekitar kita. Komunikasi itu sangat penting dan kurangnya komunikasi menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan rumah tangga.

Di samping itu, kita juga bisa belajar untuk hidup sehat. Kita bisa memulai dari menjaga kesehatan diri kita dengan mengatur pola makan, masak masakan yang sehat, dsb. Sebetulnya banyak sekali proses belajar yang bisa dilakukan. Sebagai wanita muslim misalnya, kita bisa belajar tentang fiqih wanita dan mempelajari bagaimana peran wanita dalam keluarga. Ingat ya, wanita itu berperan penting dalam melahirkan generasi-generasi yang baik dan wanita juga berperan penting dalam keberhasilan seorang laki-laki. Seorang laki-laki juga bisa mempelajari perannya sebagai “pemimpin” dalam keluarga. Because, you will lead your family !

Hmm, it is just my personal opinion tentang proses mempersiapkan diri yang bisa kita lakukan di tengah-tengah usaha mencari pasangan itu sendiri. Kita jangan lupa untuk melibatkanNya dalam setiap usaha yang kita lakukan dengan tidak pernah putus berdoa dan meminta. Percaya, Tuhan pasti akan melihat usaha yang kita lakukan dan melihat bahwa kita sudah “siap” menikah.

Saya sangat suka sekali dengan kutipan kalimat dari salah satu penulis favorite saya, Tere Liye dalam novelnya: RINDU:

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika pun kau akhirnya tidak memiliki, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik”

Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak akan memutus jalan bagi umatNya untuk menikah, karena ini adalah salah satu bentuk ibadah. Kenapa islam sangat menganjurkan umatnya untuk hidup berpasang-pasangan dan memiliki keturunan? Ya, karena dari situlah akan lahir generasi-generasi baru yang akan menjaga bumi ini, masih ingat kan kenapa manusia diciptakan? Karena kita memiliki peran sebagai khalifah di bumi untuk menjaga ciptaanNya, termasuk menjalankan roda pemerintahan, menciptakan inovasi dan kemudahan-kemudahan bagi manusia, menjalankan roda perekonomian, dsb. Wow, ternyata tanggung jawab tersebut tidak main-main kan?

Percayalah,

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah namanya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau tidak bertemu, berarti bukan jodoh. Sederhana sekali.” [Kau, Aku, & Sepucuk Angpau Merah, Tere Liye]

Lantas, mari mempersiapkan diri dengan belajar apapun, sembari menanti kejutan apa yang akan Tuhan hadiahkan untuk orang-orang yang bersabar, yakin, dan optimis!

Salam,

[At Tachriirotul M.]

Why do I Love Toastmasters [?]

Sunday, 26 October 2014….

HAPPY BIRTHDAY, Toastmasters International !
Breaking the Ice Since 1924!

???????????????????????????????

It has been 90 years, Toastmasters International was borned in this world. Ralph C. Smedley, founder of Toastmasters International said that In Toastmasters, we learn best in moments of enjoyment and I proved that. It was about a year I joined in this fabulous club and at that time I didn’t realized that Toastmasters will influence my life in a lot of aspect.

When I decided to join in this club last year, I only think that Toastmasters is the place that will help me to improve my English and help me to sharpening my public speaking skill. But, my journey in Toastmasters proved that I got more than my expectation in this learning environment. Yeay, I fall in love with this club and I proud to be part of this big Toastmasters family, especially in Jakarta and in my club, Essential Toastmasters Club.

I just remembered when the first time I came to Essential Toastmasters Club and participated in table topic session, the topic master was TM Ratu Gumelar. She asked me to give my opinion about zombie, but I can not move my tongue and only said “I am sorry, I can not speak anything”. But, all the members were encouraged me to try and made me didn’t felt intimidated.

In Toastmasters, it is not only about public speaking, we learn how to be a good communicator and a good leader. That’s why the tagline of Toastmasters International is : Where leaders are made. The former of Toastmasters International President said that leaders have many important attributes, but the two fundamental and universal are confidence and communication. Toastmasters help us to elevate our communication skill.

So, how we can learn to be a competent communicator in Toastmasters?
In Toastmasters, there are ten projects in basic manual competent communication. Each project has the different objective. It is start from the Ice breaker project that will help us to conquer the fear and nervousness when speak in public. In next project, we learn how to organize our speech from the opening, the body, and the conclusion. Then, we also learn how to deliver speech using body language, vocal variety, and visual aid. In 7th project, we have to research the topic and speech materials and in the end of this project we learn how to inspire the audience. Actually, in the process of completing basic manual project, our confidence will be increased naturally. After completing all the project in basic manual competent communication, we will declared as Competent Communicator from Toastmasters International. And the next journey to be more competent in communication is the journey in completing the advance communication project.

How about the leadership project in Toastmasters?
Beside communication skill, we also learn how to be a good leader by completing Competent Leadership project.
We have to take a part in the Toastmasters organization whether in a club level, area level, or division level. To completing leadership project, I participated in a club organization as a Vice President of Public Relation. My duty is to make an invitation of the meeting, build relationship inside and outside Toastmasters and also to manage all social media of my club. Yeay, I am the person behind my club’s social media on Facebook (Essential Toastmasters), Twitter (@essentialtmc) and Web (essentialtmc.wordpress.com). In this role, I learned how to manage social media to promote my club, because most of people get the information from the website. Beside Vice President of Public Relation, there are some position in club organization like : Club President, Vice President of Education (manage the education program of the club), Vice President of Membership (kind of Human Resource Development, manage the existing and new members), Treasurer, and Secretary.

Honestly, since joining Toastmasters in October 2013, I knew the essence of Competent Leadership Project after conducting the contest. It was about a month ago, I pointed as a Contest Chair of Humorous Speech and Evaluation Contests in Area Level (each area consists of about 5 clubs). At that time, I learned how to conducted the event from finding the venue and contest officers, budgeting, and running the contest itself. It was an unforgettable moment that I had! I learned a lot on how to build a good communication and relationship with people.

Both Communication and Leadership project are the main benefit that we can get in Toastmasters. As I mentioned before, I got a lot of positive things in Toastmasters that influenced a lot of aspect in my life. As a person and as a professional, Toastmasters helped me in developing my self. I learned how to be more responsible in any aspect, even it only small responsibility. I learned how to accept the input from other people and how to delivering the input to other people in a constructive way. I learned how to appreciate people. I learned how to build relationship. And the precious things that I got in Toastmasters are Networking and Family.

20141025_151719 20141025_103601

20141025_103801[With my best friends in Essential, the great speaker Stephen Fernando, and our beloved mom Ibu Mien]

20141025_152850[Essential Toastmasters Family]

HAPPY BIRTHDAY, my beloved Toastmasters !You helped people to grow for 90 years.

Cheers,
At Tachriirotul M.