Parenting dan Filosofi Teras

https://www.pexels.com/photo/lemonade-juice-filled-white-ceramic-cup-with-saucer-877701/

Sebagai seorang ibu, pernah gak sih mom bertanya-tanya, ingin menjadi ibu seperti apa sih kita?

Sampai saat ini, saya masih terus bertanya dan mencari tipe ibu seperti apa yang paling nyaman untuk diri saya. Dan jawaban itu mulai tercerahkan ketika tanpa sengaja saya membaca caption dari @Ingetumiwa_bachren tentang dinamika parenting yang dialaminya.

Long story short, Inge sangat kecewa ketika anaknya (12 tahun) mendapat nilai rendah pada aspek: integrity, compassion, respect, dan excellence (C dan D). Baginya, keempat aspek itu adalah nilai kehidupan yang selalu diterapkan di rumahnya. Gurunya pun memberi catatan baik, sehingga dia terus bertanya sebenarnya apa sih standar penilaian keempat aspek itu dan siapa yang melakukan penilaian?

Akhirnya, Inge memutuskan untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah dan memilih homeschooling (HS). Ia mengambil peran sentral dalam menyusun program HS putrinya day by day. Baginya, HS tidak hanya memanggil guru untuk mengajarkan mata pelajaran di rumah, tapi untuk memberi putrinya kesempatan belajar dan mengasah minat, bakat, soft skills, life skills, dan karakter. Sehingga, Inge dan suaminya mengambil peran sebagai guru utama. Untuk memberi added value pada hal yang disukai putrinya, ia menyediakan sesi ekstra baik itu coach atau kursus.

Saya suka sekali menyimak perjalanan putrinya yang kini mulai fokus berkiprah di seni peran. Dari ceritanya, saya mulai memiliki gambaran ingin menjadi ibu yang…

Menjadi tempat bersandar

Saya ingin menjadi tempat yang tidak akan memberi “judgement” apapun ke anak, apalagi menyalahkannya saat mereka sedang jatuh, bermasalah, ataupun gagal. Saya ingin menjadi pendengar yang baik, sebagai sumber kekuatan baginya dan membimbingnya menemukan jalan keluar. Namun, saya akan memilih berjalan 2 langkah di belakangnya untuk memberi arahan dan dukungan agar mereka tetap belajar berhadapan dengan tantangan dan masalah. Saya ingin mereka belajar bahwa kita tidak boleh menghindari kegagalan karena ini adalah bagian dari proses perjalanan.

Tidak berorientasi pada hasil

Saya sedang membiasakan diri untuk berani berproses. Jujur, saya termasuk orang yang takut memulai karena takut gagal. Selama ini saya cenderung menghindari kegagalan sehingga kurang bertumbuh. Mungkin mindset ini sudah tertanam sejak kecil karena dulu orang tua saya sangat mementingkan peringkat atau prestasi. Ketika dulu saya mendapat nilai pelajaran 8, orang tua saya masih menuntut mendapat nilai 9. Sampai akhirnya saya pernah berbohong saat kelas 3 SD karena mendapat peringkat di bawah 5. Saya berbohong bahwa sebetulnya saya peringkat 3 tapi wali kelas tidak bisa merubahnya karena sudah tertandatangi kepala sekolah. Orang tua saya percaya dan kebohongan itu baru terungkap setelah saya punya anak, hahaha.

Hal-hal seperti itu sebetulnya dapat menumbuhkan fixed mindset (mental yang tetap) pada anak, sehingga anak akan terus berjuang mempertahankan label “anak pintar” dan menghindari kegagalan. Jika gagal, mereka akan cenderung menganggap dirinya bodoh dan bisa jadi kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.

Sampai sekarang pun saya masih merasa terjebak dengan mindset itu. Saya akan memilih menghindar ketika harus melakukan sesuatu yang membuat saya tidak tampak pintar, jika itu terjadi saya bisa blaming myself berhari-hari.  

Kebalikan dari fixed mindset, kita perlu membuat anak kita memiliki growth mindset (mental yang bertumbuh). Kita perlu menanamkan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi lebih baik.

Salah satu kebiasaan yang bisa ditanamkan adalah dengan tidak hanya memuji hasil yang dicapai sang buah hati, melainkan usaha yang telah dilakukannya. Misal, ketika anak menjadi juara kelas, sebaiknya kita memujinya dengan kata “Hore, akhirnya usaha dan perjuangan kamu belajar membuahkan hasil ya”, bukan hanya dengan “Wah, kamu pintar dan hebat sekali!”. Sehingga anak memahami bahwa sebuah usaha, kerja keras, dan pengorbanan dapat mengantarkan pada keberhasilan.

Mempersiapkan anak berhadapan dengan ketidaknyaman

Apa sih yang membuat kita tidak nyaman?

Perlakuan buruk? Kegagalan?

Ternyata mental ini perlu dipersiapkan. Menanamkan kepada anak bahwa di dunia ini hanya diisi oleh orang yang baik ternyata tidak tepat.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengenalkan buku cerita sad ending. Anak-anak perlu belajar bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita dan kita perlu berdamai dengannya.

Di Denmark (salah satu negara paling bahagia di dunia), film atau cerita TV dengan akhir cerita tidak bahagia dikenalkan kepada anak-anak agar mereka belajar bahwa hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bahwa ada dua sisi kehidupan dan berbagai ekspresi emosi manusia.

Tidak menuntut

Saya masih belajar.

Tanpa disadari, mungkin saya menuntut anak menjadi sempurna. Saya sering kawatir berlebihan ketika anak saya belum mencapai milestone tertentu, padahal sudah distimulasi. Ternyata parenting itu adalah bagaimana berdamai dengan hal yang tidak bisa dikendalikan. Jika anak belum mau melakukannya (selagi masih dalam range usia perkembangannya), berarti memang belum mencapai milestone tersebut. Jangan sampai kita memaksa sedemikian rupa dan membuat anak trauma.

Saya akan berupaya untuk tidak menuntutnya. Jangan sampai mereka menjalankan obsesi orang tua dengan terpaksa. Untuk apa sukses jika perjalanannya dilakukan dengan terpaksa? Saya ingin anak saya mengenali apa yang diminatinya dan memperjuangkan mimpinya dengan sukarela dan bahagia.

Menertawakan diri sendiri

Last but not least,

Saya ingin anak saya bisa menertawakan dirinya sendiri, terutama saat dia berbuat salah. Menurut saya, ini adalah hal sehat yang patut ditularkan.

We are human, right?

Daripada menertawakan orang lain lebih baik menertawakan diri sendiri karena ini adalah bentuk penerimaan diri yang paling sederhana, namun penuh makna.

*Cerita ini terinspirasi dari salah satu bab di Filosofi Teras karya Henry Manampiring “Menjadi Orang Tua”

Salam,

amuyassa

Advertisements

Nak, Ibu masih belajar

Siapa yang merasa kalau perkembangan anak itu terasa cepat sekali?

Bulan lalu, anak saya berumur 18 bulan. Sebagai ibu yang bisa dibilang available hampir 7/24, saya gak menyangka kalau angka itu bertambah secepat ini. Beberapa bulan lagi anak saya sudah mau 2 tahun aja. Saya agak menyesal kenapa banyak cerita yang tidak saya tuangkan disini, padahal nanti bisa dipakai untuk bahan nostalgia. Mungkin saat itu saya masih struggle berdamai dengan emosi internal yang nano-nano ini.

Bisa dibilang, 18 bulan adalah milestone yang penting untuk perkembangan anak. Di umur ini kita harus mengevaluasi tumbuh kembang anak, apakah sudah sesuai dengan grafik pertumbuhannya dan apakah ada tahap yang perlu stimulasi lebih intensif.

Buat anak saya, perkembangan bahasanya perlu mendapat porsi lebih banyak lagi. Sejauh ini, perkembangan bahasa responsifnya lebih dominan. Dia sudah mengerti perintah-perintah sederhana yang diberikan. Dia pun beberapa kali melakukan aksi spontan tanpa diminta, seperti membuang sampah yang dilihatnya di taman, mengambil sendok saat saya menyiapkan makan, menutup hidung saat truk sampah lewat di depan rumah, dsb.

Perkembangan bahasa ekspresifnya masih terus distimulasi, namun beberapa kali tampak belum antusias dan konsisten. Di suatu waktu dia bilang mobil, kereta, roda, cicak, kerja, dsb. Tapi, di suatu waktu dia gak tertarik menjawab waktu ditanya. Hahahaha. Oke nak, kita harus terus berusaha. Ganbate!

Nah, salah satu tantangan yang cukup berat dalam membersamai anak adalah “mengelola ekspektasi”. Kenapa?

Di era sosial media, pernah gak sih merasa parenting terkadang melelahkan.

Eh, melelahkan buat siapa ya, jangan-jangan cuma saya aja nih, hahaha.

Melelahkan buat kita yang tidak bisa mengontrol diri dan emosi. Apalagi ketika melihat anak-anak lucu, menggemaskan, pintar, gemuk, sehat, dan viral di sosial media. Hmm, bisa jadi memunculkan “standar” kelucuan dan kepintaran anak, menjadi obsesi kita, dan membuat kita membandingkan dengan sang buah hati. Biasanya, hati menjadi cemas, memandang sang buah hati dengan cara yang berbeda, kemudian menyalahkan diri sendiri.

Belum lagi, banyaknya teori dan metode parenting yang terus berseliweran di Instagram. Lalu menjadi kelimpungan memilih sekolah yang bagus dan merasa galau kalau tidak bisa mengikuti trend.

That was me!

Saya merasa perlu membentengi mental saya yang mudah ter-influence (cie, influencer-nya berhasil nih). Saya terus berupaya mengelola ekspektasi dan tidak mudah membandingkan anak saya dengan yang lain. Jangan sampai, tanpa disadari saya menjadikan ini sebagai sebuah kompetisi. Padahal, anak kan dilahirkan bersama dengan fitrahnya masing-masing.

Saya jadi teringat kata Agstried Piethers, salah satu co-founder Rumah Dandelion. Katanya, tugas kita sebagai orang tua adalah terus melakukan stimulasi. Jika sudah dilakukan, kita hanya bisa menunggu. Parenting itu adalah memilih untuk berdamai dengan hal-hal yang bisa kita kontrol atau tidak.

Well said.

Saya pun akhirnya menyadari bahwa visi dan misi keluarga itu perlu dikuatkan dan terus divalidasi. Jangan sampai, anak menjadi korban ke-labil-an orang tuanya. Nah, visi misi ini dapat mendorong kita memilih metode parenting yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Begitupun saat kita memilih sekolah. Kita perlu menyesuaikan visi misi keluarga dan potensi anak agar tidak tergiur dengan berbagai program unggulan yang ditawarkan setiap sekolah. Aapalagi, sekolah sekarang mahal buibu (apa kabar tahun anak saya nanti ya T.T), jangan sampai sudah bayar mahal ternyata kurikulumnya tidak sesuai dengan yang kita butuhkan.

Salam,

amuyassa

BookTalk: Genduk

Nostalgia.

Itu yang saya rasakan saat membaca buku “Genduk”, karya Sundari Mardjuki. Buku ini mengangkat isu sosial tentang kehidupan petani tembakau di Desa Ringinsari yang terletak di lereng gunung Sindoro, Parakan.

Sebagai penikmat isu sosial, saya menikmati bagaimana penulis membangun konflik tokoh utamanya. Saya tidak bisa menebak alur cerita hanya dengan membaca beberapa bab di awal, sehingga buku ini membuat saya penasaran.

Genduk dikisahkan sebagai seorang anak perempuan berusia Sekolah Dasar (SD) yang tinggal berdua bersama Yung/Biyung (Ibu). Salah satu impian terbesarnya adalah bertemu dengan Pak’e, ayah kandung yang tak pernah ia kenali. Yung pun selalu menghindar ketika Genduk bertanya tentang ayahnya, seakan ada amarah yang membuncah tapi tak mampu diluapkannya. Akhirnya, hubungan Ibu-anak itu pun sangat kaku.

Bagi Genduk, mbakon (musim tembakau) menyimpan banyak cerita. Hubungannya dengan Yung memanas dan membaik di musim ini. Segala emosi dirasakannya. Seluruh petani di desa Ringinsari menggantungkan hidupnya di musim ini. Seluruh usaha diupayakan untuk menghasilkan tembakau yang berkualitas, dan tembakau srintil menjadi primadona yang dinantikan. Namun, seringkali nasib mereka tak mujur karena ulah Gaok/Gali/Makelar tembakau. Tak jarang ada yang memilih bunuh diri karena tak sanggup menanggung rugi.

Konflik tokoh utama yang dibangun oleh penulis berhasil mengaduk perasaan saya, membayangkan anak SD berkelana di kota yang asing demi mencari Pak’e. Saya juga membayangkan amarah yang genduk rasakan ketika dia dan Yung dipermainkan oleh Gaok yang membuat mbakon Yung merugi, padahal genduk sudah kehilangan harga dirinya. Dan, bagaimana genduk merasa puas karena bisa membalas kejahatan Gaok dan menyelamatkan hasil panen mereka dan petani lainnya.

Secara personal buku ini memiliki ikatan emosional, karena saya pernah tinggal di Parakan hingga tamat SD. Banyak plot cerita, diksi, latar, dan celotehan khas Parakan-Temanggung yang membawa imajinasi saya berkelana menyapa masa lalu. Beberapa tempat seperti klenteng, pasar kayu, kali galeh, pasar legi, dan kauman tergambar jelas di ingatan saya dan mengusik diri untuk tersenyum mengenangnya. Saya rindu.

Di kota kecil itu, roda ekonomi berjalan begitu dinamis saat musim tembakau tiba. Seluruh masyarakat menyambut musim ini dengan penuh gairah, mulai dari petani tembakau, buruh rajang, kuli angkut, dan segala pedagang di sekitar Pasar Legi. Hampir seluruh trotoar dipenuhi oleh dagangan keranjang tembakau yang terbuat dari pelepah pisang yang dikeringkan. Kegembiraan itu juga dirasakan oleh anak-anak. Kami pun sering memanfaatkan keranjang tembakau untuk bermain petak umpet.

Melalui genduk saya belajar bagaimana melupakan dan memaafkan masa lalu, dan tetap membuka lembaran waktu yang sudah menanti esok hari.

Salam,

amuyassa

Memberi MPASI Instan bukan Kesalahan

Bisa dibilang, idealisme menjadi ibu baru yang ingin ideal membuat saya pernah anti dengan makanan bayi instan. Bagi saya, MPASI homemade is the best serve for my son. Sejujurnya, itu hanya dampak dari ketidaktahuan yang haqiqi. *facepalm

Nyatanya, makanan bayi instan atau terfortifikasi telah diatur oleh WHO (World Health Organization) dan FAO (Food and Agricultural Organization), which mean seluruh produsen makanan bayi harus mengikuti konsensus yang telah ditetapkan. Selain itu, produk yang beredar di pasaran harus lolos perizinan lembaga pemerintah terkait seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan. Indonesia) dan FDA (Food and Drug Administration, US).

Seluruh proses mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, quality control, dan perhitungan angka kebutuhan gizi (AKG) harus mengikuti peraturan yang ditetapkan. Sehingga, kandungan gizi dan keamanannya sudah tidak diragukan lagi.

Seandainya bisa mengulang waktu, saya pasti akan memberi MPASI anak saya dengan makanan bayi instan sampai dia bosan, haha. Pastinya dengan selingan MPASI rumahan agar anak saya mengenal variasi makanan mulai dari bentuk, rasa, dan teksturnya. Sayangnya, saya baru mengenal makanan bayi instan saat anak saya berumur 8,5 bulan T.T.

Padahal, masa kritis MPASI adalah saat bayi berusia 6-9 bulan. Pada masa tersebut, kita harus memastikan proses pengenalan MPASI berjalan lancar, dari tekstur, jenis, dan kebutuhan gizi. Jika pada usia tersebut proses pemberian MPASI bermasalah, dapat berdampak pada tumbuh kembang bayi di usia berikutnya (gagal tumbuh, stunting, dsb).

Kenapa makanan bayi instan ada?

Ternyata, ini adalah salah satu strategi yang dipilih WHO untuk mengatasi malnutrisi micronutrient (ex. Zn, Iodine, Zat Besi, dan Vitamin A, Zn, Kalsium) yang terus meningkat di dunia saat itu (est. 2000). Malnutrisi micronutrient pada bayi menjadi faktor resiko bagi banyak penyakit, termasuk dikaitkan dengan meningkatnya penyakit HIV/AIDS, malaria, TBC, dan penyakit kronis lainnya yang berkaitan dengan asupan makanan.

WHO menilai, pemberian makanan bayi instan menjadi strategi paling efektif dibandingkan strategi lain seperti: meningkatkan variasi makanan rumahan dan suplementasi vitamin. Hasil trial yang dilakukan menunjukkan bahwa pemberian makanan bayi instan menunjukkan peningkatan status micronutrient loh. No doubt.

Memang apa kelebihannya?

Bagi ibu-ibu yang suka ragu dengan asupan gizi sang buah hati saat memulai MPASI, makanan bayi instan menjadi solusi terbaik. Kenapa? Karena nilai gizinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan bayi di usia tertentu.

Menurut WHO, sumber makanan hewani yang dikonsumsi oleh bayi berumur 6-12 bulan tidak dapat memenuhi kebutuhan Zat besi, Zn, Calcium. Dimana, ketiga kandungan mikronutrien tersebut sangat penting bagi pertumbuhan bayi, termasuk mencegah stunting.

Apakah aman?

Melalui Peraturan BPOM No. 1, tahun 2018 tentang Pengawasan Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus pembuatan bubur bayi instan harus mengikuti standar yang ditetapkan, mulai dari komposisi, kualitas, dan keamanannya. FAO pun juga menetapkan standarnya melalui CODEX STAN 074-1981, Rev. 1-2006 tentang Standard for Processed Cereal-Based Foods for Infants and Young Children. Artinya, jika tidak sesuai standar, maka BPOM tidak akan memberi nomor izin edar.

Jadi, makanan bayi instan sangat aman dikonsumsi ya bu.

Apa yang tidak terpenuhi oleh makanan bayi instan?

Makanan bayi terfortifikasi dapat membatasi anak mengenal berbagai variasi rasa, bentuk dan tekstur makanan asli. Sebaiknya, selingi dengan MPASI rumahan untuk melengkapi kebutuhan macronutrient (karbohidrat, protein, lemak, serat).

Nah, sebagai ibu masa kini yang gampang tergiur iklan makanan bayi dengan harga yang fantastis di Instagram, kita tetap harus cermat ya untuk memastikan kualitas, keamanan, dan kandungan gizinya. Kalau saya lebih memilih makanan bayi terfortifikasi yang berada di pasaran, karena sudah pasti aman dan memiliki ijin edar dari BPOM. Dan yang pasti, lebih bersahabat (harganya), hahaha.

Referensi:

Codex Standard for Processed Cereal-Based Foods for Infants and Young Children – CODEX STAN 074-1981, Rev. 1-2006, FAO, 2006

Guidlines on Food Fortifications with Micronutrients, Joint WHO/FAO, 2006

Guiding Principles for Complementary Feeding of the Breastfed Child, Washington, DC, Pan American Health Organization, 2003

Kepmenkes No. 224/Menkes/SK/II/2007 tentang Spesifikasi Teknis MPASI, Jakarta,Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2007

Peraturan BPOM No. 1, 2018 tentang Pengawasan Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus, Jakarta,Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2018

Makan yang Menantang (Part 1)

Berawal dari obrolan di sela makan siang saat ngantor dulu, ada yang bilang kalau anak adalah satu-satunya orang yang akan menerima apapun hasil masakan kita. Dari situ saya percaya kalau urusan makan anak adalah sesuatu yang gampang. Akhirnya, saya terlalu nyantai saat anak mulai memasuki fase makan. Saya minim persiapan, hanya berbekal buku MPASI (Menu Pendamping ASI) dari IDAI, buku MPASI best seller dari salah satu dokter anak yang cukup terkenal, dan perlengkapan MPASI yang saya dapat dari kado.

Ternyata,

I am totally wrong.

MPASI berhasil membuat level stres dan depresi saya meningkat di beberapa minggu pertama. Bagi saya, MPASI itu too complicated. Di saat banyak ibu membuat jadwal menu MPASI dan food journal, saya tidak pernah membuatnya.  Saya ibu yang malas T.T.

Akhirnya, proses MPASI anak saya sangat berantakan. Sedih loh kalau inget masa-masa itu T.T. Perjalanan makan anak saya seperti roller coaster.

Minggu pertama yang, ya….gitu deh

Sebetulnya, saya sudah membaca beberapa panduan MPASI seperti jumlah kalori yang dibutuhkan, asupan gizi seimbang dan takarannya, dsb. Nah, entah kenapa saya merasa nge-blank. Informasi itu hilang tak berbekas, LoL

Saya memulai MPASI dengan memberikan bubur beras+ASIP selama seminggu. Di awal MPASI, semua berjalan lancar. Ketika mulai memasuki menu berbintang, drama pun dimulai. Saya akui, saya terlalu kaku dan gak kreatif. Bayangkan, menu MPASI yang saya berikan diolah dengan cara yang benar-benar sederhana. Semua menu berbintang itu saya kukus dan blender dengan perlengkapan steamer and blender kekinian. Hasilnya? Anak saya langsung mau muntah, hiks.

Segala teori makanan berbintang, no gulgar, not too much process gagal di minggu kedua. Sejak saat itu anak saya selalu menolak untuk disuapi, T.T. Saya langsung spaneng, bingung dan gak bisa berpikir.

Saat itu saya sama sekali tidak terpikir untuk membuat nasi tim, padahal punya slow cooker dan sudah membaca beberapa resep. Bubur instan? That was out of my list. Satu-satunya solusi yang ada di jangkauan saya hanya mengganti menu. Tapi, penolakan terus dilakukan. Drama merasa menjadi ibu yang gagal pun dimulai.

Beralih ke self feeding (a.k.a BLW)

Salah satu buku MPASI yang juga saya baca adalah Baby Led Weaning karya Gill Rapley, sebagai antisipasi jika anak saya tidak mau disuapi. Setelah mengalami drama makan selama sebulan, akhirnya saya memutuskan untuk menerapkan BLW sejak anak saya berumur 7 bulan.

Saya menyemangati diri sendiri untuk rajin memasak dan mengumpulkan resep menu BLW. Jujur, membuat menu BLW itu ribet dan harus kreatif agar asupan menu berbintang tetap terpenuhi. Alhamdulillah, anak saya memberikan respon yang baik. Setidaknya dia tidak menolak dan tidak muntah.

Beberapa minggu berjalan dengan baik meski saya ragu dengan asupan gizinya. Sedihnya, anak saya sering bosan dan menolak menu yang sama dalam sehari. Saya jadi kelimpungan menyiapkan menu harian yang berbeda.

Suatu ketika, anak saya mengalami batpil dan gak mau makan sama sekali. Drama pun kembali dimulai. Angka di timbangan tidak berpihak, grafik berat badan mulai menurun. Dokter menyarankan untuk memberi makan double protein di setiap waktu makan. Saya kembali spaneng membayangkan rumitnya menu BLW double protein yang harus dimasak. Dengan niatan tidak ingin membuat hidup semakin rumit, saya mencoba membuat bubur tim berbintang. Tapi, ditolak. Bahkan, menu baby food yang saya pesan lewat go food pun ditolak.

Beralih ke bubur instan

Di tengah kegalauan berat badan dan penolakan MPASI, ibu menyarankan untuk mencoba makanan instan. Akhirnya, di umur 8,5 bulan saya beralih ke makanan instan.

Surprisingly,

Anak saya doyan dong!

Saya pun berspekulasi bahwa selama ini yang bermasalah adalah “rasa” makanannya. Buktinya, anak saya lahap makan bubur instan. Sejak mengenal makanan instan, saya mengalami fase capek dan tidak berminat masak. Anak saya makan bubur instan setiap hari selama 2 bulan. Untungnya, berat badan kembali naik signifikan. I am happier than ever.

Masakan rumahan

Setelah merasa bosan dengan bubur instan, saya kembali aktif memasak MPASI. Ternyata anak saya ingin naik tekstur dan mulai makan nasi di umur 11 bulan. Saya memutuskan untuk menambahakn gula dan garam dan mencoba menu masakan rumahan. Dari mulai diblender, dicincang, dan disaring. Alhamdulillah, urusan makan semakin membaik, meski kadang diselingi mogok makan dan bosan dengan menu makanannya.

Semua berjalan lancar hingga,

Anak saya berumur 1 tahun.

*to be continue

Makna Ulang

Tiga Puluh Tahun

Angka yang membuatku sedikit takut.

Aku menyapa kembali waktu yang sudah tak bisa kupegang, bertanya kepada masa lalu apa yang sudah kulewatkan selama ini?

Aku juga berdialog dengan bayangan masa depan, bayangan yang beragam. Ada yang jelas, dan ada juga yang samar. Ternyata impianku belum memudar, masih terlihat jelas dan terus memanggilku untuk mencapainya.

Buatku, hanya ada 1 perubahan besar yang kualami, yaitu tanggung jawab yang tidak lagi sederhana.

Menjadi istri dan ibu membuatku melakukan hal-hal magic yang sebelumnya tidak bisa dan tidak pernah aku lakukan. Aku menjadi bergairah untuk berproses menjadi individu yang lebih baik. Sejauh ini masih didominasi oleh hal-hal yang positif, semoga seterusnya.

Tujuan hidup lebih mengerucut

Buatku, berkeluarga membuat tujuan hidup semakin mengerucut. Apapun yang kita lakukan, keluarga pasti menjadi prioritas utama. Apalagi setelah memutuskan beraktivitas di ranah domestik. Prioritas utamaku saat ini adalah suami dan anak. Aktivitas lainnya adalah bonus.

Memilih menjadi ibu domestik memberiku banyak momen untuk menggali emosi diri lebih dalam. Bagiku, berdamai dengan diri sendiri adalah kunci utama untuk bisa menjalankan peran ini dengan lebih maksimal dan professional. Sehingga, peranku dapat dirasakan oleh Customer utamaku yaitu suami dan anak.

Being present

Kebiasaan suami yang selalu memberikan jiwa dan raganya di setiap momen mulai membuatku tertarik. Dia selalu menikmati momen tanpa memedulikan feeds sosial media. Mengambil foto pun seperlunya untuk dokumentasi pribadi.

Akhirnya, aku tertular dan aku sangat mengapresiasi perubahanku ini.

Di setiap momen, aku menjadi enggan menyibukkan diri dengan berfoto dan lebih ingin “hadir” dalam momen itu. Entah saat pergi ke suatu tempat atau ketika bercengkrama dengan teman. Satu hal yang bisa membuatku kecewa adalah ketika sedang mengobrol dengan teman dan mereka malah sibuk dengan gadget.

Menghargai kualitas pertemanan.

Siapa yang setuju kalau menjadi ibu domestik membuat lingkar pertemanan berkurang?

Aku sih sangat setuju. Untuk itu, aku belajar menjaga kualitas pertemanan yang aku punya. Meski temanku menjadi sangat sedikit, aku akan berupaya untuk menjaga kualitasnya.

Birthday is only a matter of time

Salah satu tanda menua yang aku alami adalah tidak menganggap ulang tahun sebagai sesuatu yang “wah” lagi.

Sepertinya aku yang terlalu apatis, entah kenapa aku tidak sebaper itu lagi dengan selebrasinya. Bagiku, momen ini adalah pengingat untuk merefleksikan diri, apakah waktu yang kita gunakan sudah cukup berkualitas? Sekaligus mengingatkan, bekal apa yang sudah aku persiapkan untuk bertemu batas akhir tugasku di dunia ini?

My wish in my 30s

Bisa terus memperkaya diri dengan hal baru dan positif, menggunakan waktu dengan produktif, dan terus berkarya!

Dan pastinya ingin hidup lebih sehat.

Salam,

amuyassa

Nostalgia Keluarga Cemara

whatsapp image 2019-01-24 at 2.27.44 pm

Suatu pagi di tahun 2002,

Hari itu adalah hari yang spesial buatku, hari pertama libur kenaikan kelas. Akhirnya aku bisa kembali ke pelukan keluarga setelah terpisah selama kurang lebih enam bulan. Maklum, aku hanya punya jatah libur 2x setahun karena bersekolah di pondok pesantren. Sisanya aku menghabiskan hariku di dalam pondok yang berjarak sekitar 125 km dari rumah.

Setiap liburan, saudaraku selalu datang ke rumah dan mengajakku membeli lupis, makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dan dibungkus daun pisang. Sepanjang jalan kami asik bercerita dan bertukar tawa. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa selepas ini, apalagi sambil menikmati jajanan kesukaanku.

Bercerita dengan saudara perempuan yang hanya berbeda 1 tahun membuat kami lupa waktu. Setibanya di rumah, ternyata ibuku sedang menunggu di ruang tv. Aku melihat ekspresi wajahnya yang tak biasa. Ada kekhawatiran yang turut menyapaku lewat senyumnya yang dipaksakan.

“Minggu depan kita akan ke Jogja ya,” tuturnya.

Tanpa menghiraukan nada suaranya, aku terlanjur merasa senang. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke rumah kakek di Jogja.

“Kita akan tinggal di Jogja,” Imbuhnya.

Anak berumur 13 tahun itu masih berusaha mencerna kalimat yang disampaikan ibu.

Tak kuasa membiarkan putrinya terdiam dengan tanda tanya, ia pun memeluknya.

“Bapak dan Ibu harus berpisah,” tuturnya dengan getaran suara yang tak stabil.

Aku melepaskan pelukannya. Air mataku mengalir, dadaku sesak. Aku hanya membenturkan kepalaku terus menerus di dinding. Aku kembali teringat dua kata yang terus kuucapkan saat itu.

“Kalian jahat, kalian jahat”

Dengan perasaan yang berkecamuk aku pergi dari rumah, lari kencang dengan tangis yang tak mampu kuhentikan. Aku tak peduli dengan banyaknya mata yang memandangku heran ketika kami berpapasan.

Semua bayangan keluarga ideal yang kurasakan selama ini seketika memudar.

Aku benci orang tuaku.

***

Yogyakarta, seminggu kemudian  

Di sinilah aku sekarang. Meski tempat ini tidak begitu asing, aku belum mengenalnya dengan baik. Kami mulai membereskan barang-barang yang kami bawa dari tempat lama. Aku belum bisa berdamai dengan luka yang digoreskan kedua orang tuaku. Namun, aku tidak ingin menambah beban ibu. Sekarang tidak ada lagi frasa “keluarga harmonis” dalam kamusku. Frasa itu telah tergantikan oleh frasa yang baru, yaitu “broken home”.

Di Jogja kami harus memulai kehidupan baru. Dulu, keluarga kami sangat berkecukupan. Orangtuaku memiliki usaha yang berkembang dengan jumlah karyawan sekitar 15 orang. Sekarang kami harus berdamai dengan keadaan. Tidak ada kendaraan, tidak ada orang yang membantu, dan ibu belum memiliki sumber penghasilan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu saat itu. Meski dalam keadaan rapuh, ia harus menguatkan mental anak-anaknya. Mengembalikan mental “ada” menjadi “tidak ada” bukan perkara mudah, butuh waktu yang tak sebentar.

Ibu harus membesarkan 3 anak sendirian, usia 13 tahun, 7 tahun, dan 3 tahun. Aku masih harus tinggal di pesantren selama satu tahun. Di situlah masa-masa yang paling sulit untukku. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku kembali dengan cerita yang berbeda, certia yang tak lagi kumiliki.

Selama di pesantren, hari Jumat menjadi hari yang selalu ingin kuhindari. Bagi teman-temanku, hari Jumat adalah hari yang ditunggu karena libur sekolah dan keluarga boleh datang menjenguk. Aku tak pernah sanggup melihat teman-temanku bercengkrama bersama seluruh keluarga yang datang. Aku hanya bisa berandai-andai, berharap aku bisa duduk bersama keluargaku yang utuh. Nyatanya, itu tak pernah terjadi. Aku memilih menyendiri di masjid, berdoa dan menangis.

Semua masa sulit itu terekam utuh di ingatan, meninggalkan jejak trauma yang sangat dalam. Aku pernah menjadi orang yang membenci laki-laki dan tidak ingin menikah. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menghapus kebencian itu dari dalam hati.

Ayahku seorang tokoh masyarakat. Ia pendiri sekolah Muhammadiyah dan ketua organisasi Muhammadiyah di daerah tempat tinggal kami. Aku sampai pada kesimpulan bahwa kesalehan seseorang bukan jaminan memiliki keluarga yang sempurna. Bahkan, aku pernah berucap tidak ingin mencari imam keluarga yang memiliki pengetahuan agama mendalam karena itu hanya akan menyakiti.

Setiap kebencian itu datang lagi, Ibu selalu mengingatkan. “Dinamika keluarga itu macam-macam. Ada yang diuji melalui harta, penyakit, anak, ataupun keutuhan keluarga. Semua mendapat jatah masing-masing. Yang membedakan adalah iman. Jika kita menyikapi dengan taqwa, Insha Alloh akan menjadi pahala,” katanya.

Sejak kejadian itu, ibu tak pernah luput menguatkanku dengan nasehat. Ibu selalu berusaha menjaga mentalku, karena aku anak tertua. Setelah lulus sekolah dan kembali ke Jogja, aku dan ibu berbagi peran. Aku mengambil peran dalam pengasuhan dan pendidikan adek, sedangkan ibu mengambil peran mencari nafkah. Saat SMA dan kuliah, aku memutuskan untuk membatasi pergaulan, karena waktuku telah terbagi dengan sebuah tanggung jawab di rumah. Dan itu tidak mudah.

Akhirnya ibu memiliki sumber penghasilan yang tetap. Kami melewati hari dengan saling menguatkan. Semua dikondisikan tercukupi. Ibu selalu menanamkan kepada kami untuk terus bermimpi dan menjadi anak yang tetap percaya diri.

“Ibu tidak bisa membekali kamu dengan harta, ibu hanya bisa menyekolahkan. Orang kaya, orang pandai bisa sama nasibnya dengan orang beruntung. Kamu tidak kaya, kamu juga mungkin tidak pandai, tapi keberuntungan itu bisa ditanam dan pupuknya adalah kebaikan,” ujarnya menasehati.

***

Setelah dewasa, kebencian itu semakin hilang. Ibu selalu memintaku untuk tetap menghormati ayah. Akupun berusana berdamai dengan masa lalu dan menjadikannya bekal di masa depan.

Kejadian yang menimpa kedua orang tuaku membuatku lebih belajar. Ternyata berkeluarga itu membutuhkan peran “saling”. Harus ada dua kepala yang saling melibatkan diri. Aku juga semakin percaya bahwa komunikasi adalah faktor utama yang wajib dibangun. Keterbukaan harus dibiasakan. Sekecil apapun rasa tidak nyaman harus diungkapkan, karena memendamnya akan meninggalkan penyakit hati yang tak berkesudahan.

Ternyata berkeluarga itu harus diimbangi dengan saling mengisi ilmu dan saling ridha. Jika tujuan kita adalah pahala, Insha Alloh akan menambah nilai ibadah.

“Harta itu jangan hanya disimpan. Kalau saatnya harus dikeluarkan, keluarkanlah. Jika harus dibagi, dibagilah. Jika tidak, Alloh akan mengeluarkan secara terpaksa entah melalui penyakit atau musibah. Nikmatilah harta itu, jangan pelit. Bagi dengan orang lain yang membutuhkan. Harta itu tidak abadi, pahala yang kelak akan memberi kemudahan dalam hidupmu,” Pesan ibu yang selalu kuingat.

Salam,

amuyassa

Belajar dari Denmark: BERMAIN

boy-child-dry-leaves-36965 (2)

Siang itu sinar matahari tampak begitu terik, membuat tubuh memproduksi keringat dengan bau yang khas.

Bau matahari.

Bau yang seringkali tercium dari tubuh anak-anak yang suka bermain di siang bolong.

Seperti siang itu, sekelompok anak-anak tampak sedang asik bermain bersama di halaman masjid yang sangat luas. Ada yang bermain petak umpet dan ada yang bermain benthik atau gatrik, permainan tradisional yang dimainkan oleh dua kelompok menggunakan potongan bambu.

Sekitar 10 anak berusia sekolah dasar dan menengah pertama memilih bermain benthik, mungkin karena permainan ini lebih menantang. Mereka menentukan kelompok dengan melakukan pingsut. Anak yang menang berkumpul menjadi satu kelompok, begitupun dengan yang kalah. Kedua tim sudah terbentuk yang terdiri dari tim pemain dan penjaga.

Setiap tim sudah berada di posisi masing-masing, permainan pun siap dimulai. Dua batu bata ditata berjarak, membentuk sebuah lubang. Stik kayu pendek berukuran sekitar 10 cm ditempatkan di atas batu bata layaknya sebuah jembatan. Si pemain pertama bertugas melemparnya menggunakan stik kayu panjang berukuran 20-30 cm dengan posisi tegak lurus. Setelah stik pendek terlempar, stik panjang diletakkan di atas batu bata dengan posisi yang sama.

Tim penjaga bertugas menangkap stik kayu yang dilempar. Jika berhasil menangkap, maka mereka berhak menggantikan posisi tim pemain.

Dalam permainan ini setiap kelompok mengumpulkan poin dari tiga tahap permainan. Tim penjaga dapat mengumpulkan poin dengan menangkap stik kayu pendek yang dilempar. Tim pemain dapat mengumpulkan poin dengan melempar stik kayu pendek sejauh mungkin di akhir permainan. Jumlah poin akan dikumpulkan sampai permainan selesai.

***

Dulu, pulang sekolah menjadi waktu yang paling aku tunggu karena bisa bermain bersama teman-teman di rumah. Aku masih bisa membayangkan rasanya bermain engklek, petak umpet, lompat tali, masak-masakan, lempar sandal, dan benthik. Bahagia sekali rasanya. Sebagai anak yang tak mau kalah, aku sering bermain curang, ngotot sekali membuat aturan permainan yang menguntungkan, tapi nyatanya selalu kalah.

Sayangnya itu dulu ya.

Sekarang rasanya banyak waktu bermain anak yang kita interupsi.

Di kota besar seperti Jakarta misalnya, pergaulan di luar rumah menjadi hal yang sangat dikhawatirkan. Akhirnya pergaulan anak-anak terseleksi oleh lingkungan. Atau malah kita yang telah menginterupsinya dengan memberi segudang kegiatan ekstra yang menuntut mereka berprestasi di usia dini, tanpa memedulikan emosinya.

Karena terkadang kita merasa sudah menjadi orang tua yang bertanggung jawab ketika mendaftarkan anak-anak di berbagai kelas edukasi. Dan, kita akan merasa bangga ketika anak-anak memiliki segudang prestasi di usia dini.

***

Baru-baru ini aku membaca buku “The Danish Way of Parenting” karya Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah latar belakang penulisnya, Jessica. Ia adalah orang Amerika yang menikah dengan orang Denmark. Ia sangat mengagumi sikap suaminya dalam menghadapi masalah, terutama dalam pengasuhan anak. Kekaguman itulah yang membuatnya tertarik untuk mencari tahu rahasia negara Denmark, yang dinobatkan oleh World Happiness Report (WHR) sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia selama bertahun-tahun.

Ternyata pola pengasuhan anak menjadi faktor yang sangat berperan di Denmark untuk menciptakan negara yang bahagia. Dan pola pengasuhan anak paling sederhana yang diterapkan adalah memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain bebas. Sesederhana itu.

Kenapa harus bermain?

Bagi Dane (orang Denmark), bermain adalah kegiatan belajar yang sesungguhnya untuk anak-anak. Tanpa kita sadari, permainan adalah wadah yang sangat efektif bagi anak-anak untuk belajar keterampilan hidup. Dengan bermain, mereka akan berinteaksi dengan teman-teman seusianya, berhadapan dengan masalah, dan belajar bagaimana menyelesaikan masalahnya sendiri. Nah, terkadang orang tua suka gatal ingin ikut campur ke dalam dunia mereka. Padahal, ada baiknya kita harus memberi ruang kepada anak-anak untuk tumbuh, berhadapan dengan ketidaknyamanan dan berdamai dengan situasi itu.

Kenapa bukan mengikutsertakan anak pada banyak kegiatan ekstra yang menunjang prestasi?

Dane melihat jika anak-anak selalu mengerjakan sesuatu karena dorongan lingkungan (external factor) seperti mendapatkan nilai yang baik, penghargaan, atau pujian dari guru maupun orang tua, mereka tidak bisa mengembangkan dorongan pribadi (internal control). Kelak, mereka akan mudah kecewa, cemas, dan depresi sebagaimana yang banyak terjadi di Amerika.

Mereka percaya bahwa anak-anak membutuhkan ruang dan kepercayaan untuk menguasai banyak hal yang berguna saat membuat dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kepercayaan ini akan menumbuhkan harga diri dan ketangguhan sejati, karena dukungannya berasal dari diri mereka sendiri, bukan orang lain.

Banyak hal ataupun konsep yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh orang tua kita dulu. Dimana, saat kecil kita hanya mengenal bermain. Sekolah formal pun baru dimulai dari taman kanak-kanak, bahkan banyak juga yang langsung lompat ke sekolah dasar.

Jangan sampai persaingan pendidikan yang saat ini begitu kompetitif membuat kita mengabaikan pendidikan sosial-emosional anak yang tak kalah penting. Semoga kita bukan menjadi orang tua yang menginterupsi hak anak-anak untuk bermain.

Biarkan mereka bermain bebas bersama teman-temannya,

Biarkan mereka berlarian, balap sepeda, sepak bola, naik ke atas pohon, dan hal membahagiakan lainnya yang kita rasakan dulu.

Karena bermain itu, Membahagiakan.

Salam,

amuyassa

FRI-YAY

blank.jpg

Satu jam sudah aku disini, duduk di meja yang sama dengan yang kupilih kemaren. Seperti biasa aku memesan minuman green tea latte dingin. Aku memilih menu baru untuk makanan pendampingnya, termakan promosi waiter yang tak bisa kutolak. Rasanya tak ada yang spesial, seperti roti yang biasa kubeli di convenient store. Aku lebih suka muffin double choco yang kupesan sebelumnya, rasanya sama sekali tak mengecewakan. Lava coklatnya membuat mulutku tergoda untuk melahapnya habis.

Bisa jadi mood-ku berubah karena itu. Entahlah. Hari ini rasanya sulit sekali memberi ruang imajinasiku untuk berkarya. Sejak tadi hanya tombol delete yang terus kupakai, membuat kalimat di layarku tak jua bertambah. Kucoba menyalakan instrumen gitar yang biasa kudengarkan, namun sinaps di otakku rasanya belum ingin memberi ruang bagi imajinasiku untuk beranjak. Sepertinya pikiranku membutuhkan jeda sejenak. Kuberi waktu untuk jariku saja, biarkan dia menari tanpa irama.

Untukku, hari Jumat selalu memiliki nyawa yang berbeda. Sejak memutuskan menjadi ibu domestik, aku suka sekali dengan hari Jumat. Pertama, hari Jumat adalah hari antara yang akan menghadirkan waktu ekstra di hari berikutnya. Kedua, karena aku memiliki waktu untuk memposisikan diri sebagai individu. Di hari itu aku akan beraktivitas di luar rumah sendirian, berpakaian sesuai mood, dan melakukan apapun yang kuinginkan.

Berperan sejenak sebagai seorang individu ternyata memiliki dampak yang sangat besar untuk mentalku. Biasanya aku memilih pergi ke coffee shop, mendengarkan musik jazz sambil berselancar di lini masa atau menulis. Dua sampai tiga jam sudah cukup untukku. Sesampainya di rumah, energi itu sudah kembali terisi, hatiku pun rasanya lebih ringan untuk berhadapan kembali dengan sang buah hati.

Ah, tanpa terasa aku sudah menghabiskan hampir tiga jam disini. Aku harus memejamkan mata, menarik nafas, dan kembali pada peranku sebagai ibu domestik. Sampai jumpa!

Salam,

amuyassa

Dunia Kita

Slide1

“Posisi miom ibu bersebelahan dengan kepala bayi. Ada dua kemungkinan, bisa dilahirkan secara spontan atau sc,”

Kalimat dokter itu membuatku dan suami saling bertatapan. Sebenarnya kemungkinan ini sudah kami persiapkan sejak melihat hasil USG pertamaku. Tanpa adanya gejala apapun yang kualami sebelumnya, ternyata ada miom yang bersarang di tubuhku. Untungnya, miom ini tidak tumbuh di dalam rahim melainkan di luar dinding rahim sehingga resiko menghambat pertumbuhan bayi sangat kecil.

“Pertimbangan lainnya apa dok,” tanya suamiku.

“Jika memilih secara spontan, ada resiko miom menghambat keluarnya kepala bayi karena ukurannya yang cukup besar. Jika terjadi, akan langsung dilakukan tindakan operasi. Jika tidak menghambat, miom ibu akan tetap di dalam tubuh. Jika memilih sc, miom dan bayi dapat dikeluarkan dalam waktu yang bersamaan sehingga proses pemulihan menjadi lebih efektif. Ibu pun akan lebih sehat dan tidak ada resiko di kehamilan berikutnya. Silahkan dipertimbangkan secara matang, diskusikan berdua dengan suami,” jawabnya.

***

29 Desember 2017

Hari itu adalah hari terpanjang buatku. Wajahku mulai memanas, jantungku seakan memaksakan diri bekerja terlalu keras dan membuat detaknya semakin tak berirama. Kulirik wajah di sampingku, ada kecemasan yang hinggap.

“Aku ingin yang terbaik untuk kamu, aku ingin kamu sehat,” katanya lirih.

Sejenak aku merasa luruh. Segala konsep melahirkan ideal secara normal yang selama ini kuinginkan harus kuredam perlahan. Aku tak siap menyiarkan kabar ini kepada orang-orang terdekat yang selalu berpesan agar aku melahirkan secara normal. Entah kenapa mentalku menjadi lemah. Aku ingin menutupi kabar ini dari siapapun.

Sesampainya di rumah, kami hanya memberi kabar kepada orang tua kami. Meski ada tanya yang harus dijawab, aku tak ingin menjelaskannya. Biar suamiku saja. Aku teringat pesan dari sahabatku. “Tugasmu hanya fokus pada diri sendiri dan bayi, biarkan suami yang mengurus hal lainnya.’

Rasa yang singgah hari itu sama seperti yang kurasakan ketika dokter menyatakan aku Tokso IGM positif. Aku tak kuasa membayangkan resiko keguguran dan hidrosefalus yang dapat terjadi. Bahagia hari itu berubah seketika menjadi rasa bersalah yang tak berkesudahan yang telah mengambil alih rasa syukur yang seharusnya aku rasakan.

“Tuhan, kuatkanlah janinku.”

***

03 Januari 2018

Tak pernah kusangka, aku akan bertemu dengan makhluk kecil ini dalam hitungan jam. Rasanya tak terdefinisikan.

Pagi itu Jakarta tampak masih sepi. Udara segar tak berpolusi masih kurasakan, seolah mengingatkanku untuk menarik nafas panjang. Semalam aku tak bisa tidur nyenyak membayangkan apa yang akan kuhadapi nanti. Aku berusaha menampikkan segala kekhawatiran dengan doa. Hanya satu harapan yang selalu kuminta kepada Sang Pencipta.

Semoga bayiku sehat.

“Jam 8 pagi mulai puasa ya bu,” pesan bidan yang bertugas hari itu.

Karena adanya indikasi medis, memutuskan proses persalinan sc memang berdampak positif pada mentalku. Setidaknya aku memiliki waktu empat hari untuk berdamai dengan diri sendiri. Aku menyadari bahwa yang melelahkan itu adalah bersikeras dengan idealisme dan persepsi orang lain.

“Sekeras apapun kemauan kita, Tuhan akan tetap memiliki cara terbaikNya,” ujar ibu menenangkan.

Pukul 3 sore, bidan, dan dokter mulai bergantian masuk ke ruang inap. Detak jantungku mulai terganggu membuat kalimat yang mereka lontarkan lewat begitu saja. Kurasakan wajahku mulai menghangat, tanganku mulai dingin. Seorang perawat membuyarkan pikiranku, ia meminta persetujuan untuk memasang selang infus di punggung tangan. Aku tak menyangka bahwa serangkaian prosedur operasi ini begitu mendebarkan.

Kucoba berdialog dengan rasa takut yang mendominasi. Hanya doa satu satunya kekuatan yang kupunya. Aku akan menghadapinya seorang diri, bersama makhluk kecil yang masih bersembunyi dalam rahimku. Aku yakin, ia pun sedang menanti pertemuan ini. Semoga kamu tidak trauma ya nak, kita terpaksa bertemu pada waktu yang bukan menjadi pilihanmu.

Pukul 4 sore, aku dibawa menuju ruang operasi. Aku ingin sekali ditemani oleh genggaman tangan suamiku. Namun apa daya, ia hanya bisa menemani lewat doa dan kekhawatiran yang harus ia tenangkan sendiri. Sore itu, berbekal restu ibu dan suami aku masuk ke dalam ruang operasi seorang diri.

Di dalam rasanya dingin sekali. Suara monitor elektrokardiogram yang terdengar jelas membuat nyali ini menciut. Perawat mulai memasang selang oksigen di hidungku, elektroda di dada, dan memasukkan ilarutan infus ke dalam tubuhku. Aku pasrah tak berdaya. Setelah semua alat pendukung selesai dipasang, dokter anestesi menghampiriku menjelaskan prosedur anestesi yang akan dilakukan. Dengan meyakinkan, dokter memintaku duduk sambil memeluk bantal dan mengambil nafas panjang. “Kita kerjasama ya bu. Ibu hanya perlu rileks,” ujarnya.

Aku merasakan tusukan di tulang belakangku, diikuti rasa mual yang menjalar ke tenggorokan. Rasanya aku ingin muntah. Aku memberi tau kepada perawat apa yang aku rasakan dan sepertinya mereka memberiku anti mual seiring rasa mual itu kian mereda. Separuh tubuhku mati rasa. Aku kembali berpasrah.

Keteganganku mulai buyar ketika seseorang mengusap wajahku. “Saya dokter anak yang bertugas ya bu,” ujar dokter Mira. “Everything gonna be okay,” tambahnya. Tiba-tiba air mataku meluap ketika kudengar suara tangis menyapa duniaku sore itu.

***

Hai anakku,

Tepat satu tahun yang lalu mata kita bertemu pertama kali. Ibu masih ingat, tangismu terjeda sejenak tatkala semesta memberi waktu kita bertatapan mata.

Hanya ada “cinta” yang tumbuh kala itu. Tatapanmu masih terekam utuh dalam memori dan hati ibu hingga hari ini dan sampai kapanpun.

Hai anakku,

Ibu ingin bercerita bagaimana kamu bisa hadir di dunia ini, dunia bapak dan ibu. Kamu lahir dari sebuah harapan yang kita pinta dalam bentuk doa kepada Sang Pencipta. Cinta kami telah tumbuh bahkan sebelum benihmu tercipta. Cinta itu yang memupuk harapan dan menumbuhkannya menjadi nyata.

Hai anakku,

Saat benih cinta mulai tertanam di tubuh ibu, banyak doa baik yang menyambutmu. Sebelum Tuhan membuatmu bernyawa, ibu panjatkan segala doa terbaik untukmu. Ibu meminta agar usia, rezeki, dan jodoh yang ditetapkan kepadamu selalu mendapat ridha dan keberkahan. Semoga Alloh mendengarnya dan mencatatakan doa ibu dalam Lauh Mahfudz untukmu.

Hai anakku,

Tuhan begitu baik karena kamu diberikan kepada Ibu dalam keadaan sehat. Itu lebih dari cukup untuk Ibu. Bersyukurlah selalu kepadaNya, semoga kamu senang berada di dunia Bapak dan Ibu.

Hai anakku,

Hanya satu pesan Bapak dan Ibu.

Jagalah agama fitrahmu sampai mati ya nak, karena itulah tugas utama bapak dan ibu dari Sang Pencipta.

I love You,